Bab 5

918 Words
*** Mereka mampir kesebuah restoran Jepang atas rekomendasi Sofia. Dia sudah lama tidak memakan ramen dan sangat ingin memakannya sekarang. Beruntung Alvaro juga memiliki selera yang sama dengannya. “Jadi, kamu Sofia Davis yang sedang ramai di televisi beberapa bulan belakangan?” Alvaro memulai percakapan. Sofia terkekeh. “Ah, bukan hal yang bisa dibanggakan,” katanya sambil mengambil ramennya dengan sumpit. “Justru gue malu kalau bahas itu.” Cowok didepannya hanya tersenyum. Senyum yang sama, yang mampu membuat Sofia tidak bisa tidur selama beberapa malam. “Semua orang punya kesalahan. Selama kamu menyadari kesalahan kamu dan berjanji nggak mengulanginya lagi, itu nggak masalah.” Sofia mengangguk setuju. “Gue juga nggak nyesel masuk penjara dan jadi mantan napi. Justru gue bersyukur karena gue bisa introspeksi diri dan menyadari kesalahan gue.” “Saya ... Lumayan ngikutin berita kamu, loh.” “Oh ya?” Gadis itu pura-pura terkejut sambil menggigit sumpitnya. Mengetahui itu, Alvaro justru terkekeh. “Saya nggak nyangka bakal kenal kamu kayak gini.“ Gue lebih nggak nyangka ketemu cowok ganteng kayak elooo .... Meringis, Sofia benar-benar tidak mengerti dengan isi kepalanya. Demi menyembunyikan salah tingkahnya, Sofia mengisi mulutnya dengan ramen hingga penuh. Alvaro terkekeh mengamati perubahan gadis itu, mengamati Sofia yang menyelipkan rambut sebahunya dibelakang telinga dengan pipi menggembung. “Nggak perlu buru-buru makannya, saya masih punya banyak waktu.” Sungguh Alvaro menyesal mengatakan itu kalau membuat Sofia bisa tersedak seperti ini. Buru-buru, dia menuangkan air putih dan memberikannya kepada Sofia. “Kalau gue lagi makan, jangan diajak ngobrol!” protesnya setelah batuknya mereda. Alvaro menanggapi dengan senyum simpul, dilanjutkan dengan menyumpit hidangan didepannya. Sofia menegakkan tubuh, seolah lampu besar tiba-tiba menyala diatas kepalanya saat dikegelapan. Dia melupakan Jahe! Bagaimana bisa dia santai-santai kekenyangan disini sementara dirinya meninggalkan Jahe yang mungkin saja sedang kelaparan sekarang. Peliharaan yang malang. Sofia segera bangkit dari duduknya sampai Alvaro terperanjat dan refleks ikut berdiri, meninggalkan ramennya yang masih sisa setengah. “Mau kemana?” tanyanya kebingungan. “Mau pulang. Gue udah ninggalin Jahe terlalu lama.“ Mendengar nama asing disebut, dahi Alvaro berkerut. “Jahe?” “Kucing gue.” Sofia mengangkat kantong plastik berisi sereal khusus kucing dan s**u. Alvaro langsung mengerti. Pria itu mengeluarkan dompet, hendak membayar makanan mereka berdua. “Nooo!” Sofia menahannya. Dia mengambil dompetnya dan membayar makanan sendiri. Sofia paling anti ditraktir orang lain yang bukan merupakan orang terdekatnya. Untung Alvaro tidak banyak protes sehingga memudahkan Sofia untuk cepat pergi dari sini dan memberi makan Jahe. “Saya antar.” Alvaro menyahut saat dirinya sudah menoleh kanan kiri demi mendapat taksi. Berhubung benda berwarna biru itu belum ada yang lewat didepannya, Sofia menurut saja ditebengi Alvaro. Karena yang utama sekarang adalah keselamatan Jahe. Kucingnya yang paling imut. *** Setelah membuka pintu apartemen, akhirnya Sofia menghembuskan napas lega begitu melihat Jahe yang masih melingkar diatas sofa. Masih nyenyak dalam tidurnya. Ini pertama kali bagi kucing kesayangannya itu melakukan perjalanan jauh seperti Semarang-Jakarta. Mungkin dia begitu kelelahan sampai tidak bangun setelah beberapa jam dia tinggal. Meski Jahe sedang tidur, lebih baik dia langsung ke dapur saja untuk menyiapkan makanannya. Siapa yang tahu kalau Jahe akan bangun tiba-tiba dan mengeong minta makan. Saat hendak ke dapur Sofia melihat papa yang membetulkan kancing kemeja pergelangan tangannya didepan pintu kamar. “Papa mau kemana?” Davis menoleh mendengar pertanyaan sang putri. Dia mengangguk. “Kerjaan di Semarang nggak bisa Papa tinggal lama-lama. Meskipun bisa di handle dari sini, tetep hasilnya nggak maksimal.“ “Jadi, papa bakal pulang?” “Mungkin cuma beberapa minggu. Habis itu papa kesini lagi.” Sofia lantas tersenyum mendengar itu. “Papa bakal ngajak Mama, kan?” Senyumnya meredup melihat sang papa justru mendesah keras. “Papa ngurus kerjaan, Sof. Bukan pulang ke rumah. Lagipula, papa nggak yakin Mamamu sudah nggak marah.” “Pasti marah lah! Papa udah hampir lima bulan nggak pulang.” “Kamu tahu situasinya.” “Tapi papa nggak bisa kabur terus.” “Papa lagi nggak mau bahas ini, oke?” Dia mencium kening Sofia dengan cepat. “Papa pergi dulu.” Sofia memandangi kepergian Papa dengan mata sayu. “Papa ... Selalu aja begitu.” Sentuhan lembut bola bulu dikakinya membuat Sofia tersadar dari lamunan. Dia menunduk, melihat Jahe yang mengeong dengan ekor yang bergoyang-goyang. Sofia meraihnya dengan cepat. “Mpus Mama udah laper, ya? Kalau gitu, ayo kita makan.” *** Gadis berambut biru gelap itu menatap tajam wanita lain yang berambut pendek. Tatapannya mengintimidasi. Sambil menyesap rokoknya dan bertopang kaki, Safira menyipitkan mata. “Jadi, alasan lo mau sama bokap gue? Duit?” Dia bertanya to the poin. Rasanya malas sekali berbasa-basi dengan wanita yang menurutnya sedang memeras uang sang papa. Diluar dugaan, perempuan itu justru menggeleng tegas. Wajahnya yang anggun sedikit mendongak. “Saya nggak ada maksud apa-apa.” Jelas itu bohong. “Nggak ada yang mau sama kakek-kakek selain dia kaya!” “Sepertinya kamu harus belajar cara menghormati calon Mama kamu, kan?” Mendengar itu, Safira meludah. Beruntung dia memesan meja yang berada di teras kafe, sehingga tidak ada petugas yang memarahinya karena meludah sembarangan. “Jangan banyak ngarep lo! Yang boleh nerima duit dari papa itu cuma gue!” Emosinya membludak begitu saja. Bagaimana cara wanita itu menanggapi kemarahannya terlihat begitu memuakkan. Tidak akan dia biarkan wanita kadal seperti dia menikah dengan papanya. Menggeram, Safira benar-benar berniat membalikkan meja saat wanita itu dengan tenang berdiri, merapikan rok selututnya dan memandangnya dengan mata super tajam. “Saya harap, kamu nggak menghalangi jalan saya sebelum semuanya selesai.” Lalu pergi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD