Bab 04

1029 Words
04 Dilara memindai sekitar kamar tamu yang telah diubah sedikit letak kasurnya. Gadis bersetelan piama merah muda itu tersenyum tipis. Dia cukup puas dengan pengaturan tempat tidur yang sudah sesuai dengan keinginannya. Dilara mengalihkan pandangan ke lemari. Baju dan banyak aksesorisnya telah tersusun rapi. Demikian pula dengan beberapa tas dan sepatu, yang diatur berdempetan di bagian bawah. Tatapan Dilara beralih ke jam dinding. Dia membulatkan mata, karena baru menyadari bila waktu sudah bergeser ke tengah malam. Dilara keluar dari kamar terkecil di mansion itu. Dia menuju pantry untuk mengambil botol minumannya di kulkas. Dilara hendak kembali ke kamar, kala mendengar suara Yasuo. Dilara berpindah ke dekat pintu balkon. Dia mengamati lelaki tersebut yang tengah berdiri di dekat tembok, sembari berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon. "Aku nggak tahu, besok bisa atau nggak ke sana, Wid," cakap Yasuo. "Aku tahu, Mas memang sengaja menghindariku," balas Widya Mahavira, kekasih Yasuo. "Enggak begitu." "Jangan bohong! Dari bulan lalu, Mas selalu membatalkan janji. Padahal waktuku di sini juga terbatas." Yasuo mendengkus. "Kan, kamu yang minta kita break dulu? Kenapa jadi nyalahin aku?" "Aku nggak nyalahin. Cuma pengen ketemu. Nggak boleh?" "Aku benar-benar nggak bisa. Ada hal yang mesti diurus." Helaan napas Widya terdengar dari seberang telepon. Yasuo tetap diam sembari memandangi pendaran lampu, dari banyak gedung lainnya di sekeliling. "Mas memang nggak pernah mau nyisihin waktu buatku, dan itu jadi alasan terkuatku buat menjeda hubungan kita," tukas Widya. "Sekarang, lebih baik diakhiri saja semuanya. Sebelum hatiku tambah sakit, karena disia-siakan," lanjutnya. "Oke, aku setuju," jawab Yasuo. "Aku juga capek, harus selalu ngertiin kamu. Sedangkan kamu nggak pernah paham dengan kehidupanku," sambungnya. "Sudah tepat keputusanku untuk berpisah, karena Mas nggak pernah mau mengalah dan menimpakan kesalahan padaku." "Stop! Aku capek dan mau tidur!" Yasuo memutuskan panggilan telepon. Dia menggertakkan gigi, karena kesal dengan ucapan Widya. Yasuo berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat, tetapi deretan kata itu akhirnya terlontar dari bibirnya. Dilara termangu. Baru kali itu dia mendengar Yasuo memaki. Sebab biasanya pria tersebut berlaku tenang dan bertutur kata cukup sopan. Dilara tidak berani mendatangi sang om yang masih mengomel. Dia berbalik dan jalan ke kamarnya, tanpa menyadari bila Yasuo telah melihatnya. Pria tersebut melengos. Yasuo meremas-remas rambutnya sembari menggerutu dalam hati, karena Dilara mungkin telah mendengar makiannya. Yasuo berpindah duduk ke kursi balkon. Dia memandangi langit malam yang dipenuhi jutaan bintang. Embusan angin kencang tidak dihiraukan Yasuo. Dia tetap di tempat hingga merasa lelah dan ingin beristirahat. *** Matahari telah naik sepenggalah ketika Yasuo keluar dari kamar utama. Dia tertegun menyaksikan Dilara yang tampak sibuk di pantry. Pekikan gadis itu menjadikan Yasuo segera mendekat. Dia menahan diri untuk tidak tertawa, menyaksikan Dilara memegangi tutup wajan, sembari menjauh dari kompor. Tanpa mengatakan apa pun, Yasuo mengambil tutup kaca itu dari tangan Dilara, dan segera menutup wajan yang meletup-letup akibat gorengan ayam di sana. "Kalau ngegoreng ayam atau ikan, wajannya ditutup, supaya nggak nyiprat," tutur Yasuo. "Lebih bagus lagi, sebelum digoreng itu, kamu taburin tepung terigu dikit. Dijamin nggak nyiprat," terangnya. "Ehm, aku nggak tahu tentang itu," kilah Dilara sambil merapikan rambutnya dengan jemari. "Kamu beli ayam di mana?" "Di bawah. Pas joging tadi, ada mobil sayur lewat. Aku beli ayam, bumbunya, sama kemangi, timun, dan perlengkapan bikin sambal." "Kedengarannya enak. Aku jadi lapar." "Chopper di mana, Om?" "Buat apa chopper?" "Ngalusin cabe dan kawan-kawannya. Buat sambal." "Diulek aja, Ra." "Aku nggak bisa ngulek." "Geser. Biar aku yang bikin sambel. Kamu cuci aja timun dan kemanginya." "Oke." "Di kulkas kayaknya ada tahu. Nanti sekalian digoreng." Dilara tidak menyahut, melainkan langsung membuka pintu kulkas. Dia berjongkok untuk mengecek bagian bawah dan mengambil sebungkus tahu. "Om, ini kimchi, kan?" tanya Dilara sembari menatap kotak bening persegi panjang. "Ya," sahut Yasuo yang tengah mengupas duo bawang. "Aku mau." "Keluarin, taruh di meja." Belasan menit terlewati. Keduanya telah berada di meja makan. Mereka bersantap sambil sekali-sekali mendesis kepedasan. Dilara menyambar tisu dari meja dan mengusapkannya ke atas bibir. Dia menengadah dan seketika tersenyum, menyaksikan pipi Yasuo yang memerah, akibat kepedasan. "Om, nih, aneh. Dia yang nyambel, tapi malah kepedasan," ledek Dilara. "Kupikir cabe rawitnya nggak terlalu pedas. Makanya kumasukin 10 biji. Tahunya, jeletot," jawab Yasuo, sebelum meraih mug dan meminum airnya sampai habis. "Pantesan pedas banget. Cabenya banyak." Dilara menyendok sambal dan dipindahkan ke piringnya. "Tapi, enak banget ini. Suka aku," pujinya. "Hmm, nanti kita belanja dan beli banyak cabe sama tomat. Om bikin sambal banyak dan simpan buat stok." "Ya, aku mau." Matahari bergerak cepat menuju siang. Yasuo dan Dilara telah berada di pusat perbelanjaan. Keduanya sedang berdiskusi untuk menentukan daging yang hendak dibeli, ketika seseorang menepuk pundak Yasuo dari belakang. "Mas, lagi belanja?" tanya Naomi Lucia Smith, mantan istri Yasuo. "Ya," balas pria berkemeja biru pas badan. "Kamu, belanja juga?" tanyanya basa-basi. "Hu um." Naomi menunjuk troli di belakang. Kemudian dia mengamati kedua orang di hadapannya. "Dilara, betul?" desaknya sembari menatap perempuan berkulit putih. "Ya, Tante. Apa kabar?" Dilara bersalaman dengan perempuan yang pernah membuatnya patah hati, dulu. "Kabarku, baik." Naomi memindai sekitar. "Aku nggak lihat ketiga adikmu," lanjutnya. "Mereka nggak ikut." "Ehm, sorry. Kami mau ke kasir," sela Yasuo. "Oh, sudah selesai belanja?" tanya Naomi. "Ya." Yasuo mengangkat kemasan daging yang menjadi pilihannya. "Duluan, Mi," sambungnya, sebelum mendorong trolinya menjauh. Naomi terus mengamati pasangan yang tengah menjauh. Dia mengernyitkan dahi, saat menyadari jika Dilara menggamit lengan kiri Yasuo. Naomi mendengkus kesal. Dia tidak suka jika ada perempuan yang dekat dengan Yasuo, seperti yang sudah-sudah. Naomi penasaran dan ingin menyelidiki kedua orang tersebut. Puluhan menit terlewati. Yasuo dan Dilara tengah memasukkan belanjaan ke mobil, kala ponsel gadis itu berbunyi dan menampilkan nama sang mama. Dilara bergegas menjawab panggilan itu dan mengucapkan salam. "Waalaikumsalam. Di mana, Kak?" tanya Mega Surinala. "Di tempat parkir, Ma. Baru beres belanja," jelas Dilara. "Sama siapa?" "Alia." "Langsung pulang ke apartemen. Jangan keluyuran terus." "Iya." "Jumat depan, ada undangan. Anaknya Om Erwin nikah. Kamu yang gantiin Papa sama Mama." "Tempatnya?" "Nanti Mama share lokasinya." "Oke." "Sabtunya, pulang. Keluarga Vasant mau berkunjung." "Ehm, ya." "Mama tutup dulu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Dilara masih memegangi ponsel, meskipun Mega telah mengakhiri pembicaraan. Dilara menengadah ketika dipanggil Yasuo, yang mengajaknya menaiki mobil. "Om, Sabtu depan, keluarga Vasant mau ke rumah Papa. Aku mesti gimana?" tanya Dilara yang menjadikan Yasuo terhenyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD