Bab 03

1060 Words
03 Dilara memandangi deretan baju perempuan di lemari kamar kedua, yang bersebelahan dengan kamar tamu. Dia memilih setelan tunik hijau muda, lalu menarik benda itu. Dilara menutup pintu lemari, sebelum berpindah ke depan cermin. Dilara bergegas berpakaian, kemudian menyisiri rambutnya. Dilara bersyukur dalam hati, karena Mirai telah mengizinkan Dilara meminjam bajunya. Tadashi Mirai Shiori adalah Adik bungsu Yasuo. Usianya sama dengan Dilara dan hanya berbeda bulan. Mirai sudah beberapa kali ikut Yasuo dinas ke Jakarta, karena gadis itu tengah dipersiapkan untuk menggantikan tugas Kakak tertuanya tersebut. Sebab itu Mirai meninggalkan puluhan pakaiannya di kamar itu. Yasuo dan tim Eropa, akan melakukan proyek besar di salah satu kota indah di Inggris. Yasuo yang menjadi pimpinan proyek, akan menetap di sana hingga proyek tuntas dikerjakan. Yasuo tergabung di grup 4 PG, alias Perusahaan Gabungan buatan Artio Laksamana Pramudya, yang akrab dipanggil Tio. PG beranggotakan 50 pengusaha keturunan Indonesia, yang berada di dalam dan luar negeri. Selain PG, Tio juga membuat perkumpulan pengusaha cabang PG, yang disebut PC, PCD, dan PCT. Ketiga perkumpulan itu beranggotakan 100 orang pebisnis muda. Direktur PG adalah Hamid Awaluddin. Sedangkan Zafran Behzad merupakan direktur PC. Andri Kaushal diserahkan tugas sebagai direktur PCD. Sementara PCT dipimpin Aswin Heryandi. Selain keempat perkumpulan itu, Tio juga membangun PCE yang dipimpin Mardi Yudianta. Anggota PCE baru 20 orang dan tengah dikumpulkan anggota baru, untuk grup selanjutnya. Dilara keluar dari kamar tamu. Dia celingukan mencari Yasuo, yang ternyata tengah berada di balkon. Dilara mendatangi pria berkaus putih yang sedang terlibat perbincangan dengan seseorang, melalui sambungan telepon. Dilara duduk di kursi panjang. Dia memerhatikan sekeliling yang terlihat cukup indah. Sang surya tengah beranjak ke ufuk barat. Pendar lembayungnya tampak elok dan menyebabkan Dilara terpana. "Ra, jadi berangkat sekarang?" tanya Yasuo yang sukses mengagetkan sang gadis. "Jadi," sahut Dilara. "Ayo." "Om nggak ganti baju?" Yasuo menunduk untuk memandangi kausnya. "Aku baru ganti baju. Gini juga nggak apa-apa," balasnya sembari menengadah. "Ehm, kupikir Om akan pakai kemeja. Biar lebih rapi, gitu." "Enggak. Aku bosan berpakaian resmi. Enakan kayak gini." Dilara tidak kuasa membantah, dan terpaksa menurut. Dia bangkit berdiri dan menyusul Yasuo yang telah melenggang ke ruangan dalam. Tiba-tiba Yasuo berhenti dan ditabrak Dilara dari belakang. Gadis itu refleks menarik baju Yasuo untuk berpegangan, agar tidak terjatuh. "Om, nih, berhentinya nggak ngasih kode dulu. Main ngerem aja," keluh Dilara sembari menjauh sedikit. "Sorry. Aku baru ingat, dompetku di kamar," kilah Yasuo. "Bentar, kuambil dulu," lanjutnya sebelum menjauh. Tidak berselang lama, kedua orang tersebut telah berada di mobil Yasuo. Jalanan yang cukup ramai menjelang malam itu, menjadikan Yasuo tidak bisa mengebut. Setibanya di tempat tujuan, Yasuo memarkirkan mobil di dekat pintu lobi utama. Keduanya keluar dan jalan memasuki gedung puluhan lantai. Mereka mendatangi petugas pam lobi dan berbincang sesaat, sebelum bergerak memasuki lift. Pintu elevator terbuka di lantai 17. Mereka keluar dan melintasi lorong, hingga tiba di depan unit milik Dilara. Gadis itu terlihat ragu-ragu saat membuka kunci dan mendorong pintu agar terbuka lebih lebar. "Assalamualaikum," sapa Dilara sembari memasuki unitnya. "Waalaikumsalam," jawab Yasuo. "Om fasih juga nyebutnya," seloroh Dilara. "Teman-temanku kebanyakan muslim. Aku mesti belajar beberapa hal umum tentang Islam, supaya nggak bengong saat mereka membahas agama." "Kalian sering diskusi tentang Islam?" "Bukan hanya Islam, Ra, tapi semua agama." Dilara berhenti di depan pintu kamar. Seketika dia takut untuk membuka pintu, hingga Yasuo yang maju dan melakukan hal itu. "Jangan takut, ada Om di sini," bisik Yasuo. "Ehm, ya," cicit Dilara. "Kamu pilih barang-barang yang mau dibawa. Om yang masukin ke koper." "Oke." Selama hampir setengah jam, keduanya berjibaku mengemasi barang-barang Dilara yang akan dipindahkan ke mansiom Yasuo. Pria tersebut tidak berani melepas Dilara sendirian, karena khawatir jika Vasant akan kembali datang dan mengganggu Dilara. Selain barang-barang di kamar, mereka juga mengangkut aneka buah dan makanan beku dari lemari pendingin. Sebab Dilara belum tahu kapan akan kembali menempati unitnya, Dilara memutuskan untuk mengangkut benda-benda itu. Setelahnya, mereka keluar dari unit tersebut. Yasuo menyeret kedua koper besar, sedangkan Dilara menjinjing dua tas belanja sarat barang. Sekian menit berlalu. Mereka telah kembali berada di mobil. Yasuo memacu kendaraan dengan kecepatan sedang, menuju restoran favoritnya. Setibanya di tempat tujuan, Dilara kaget, karena ternyata banyak teman-teman Yasuo yang telah datang terlebih dahulu, bersama keluarga masing-masing. Dilara menyalami semua orang, sebelum berpindah ke area belakang lantai dua, yang merupakan musala. Dilara menunaikan salat Magrib bersama beberapa orang lainnya, kemudian mereka kembali ke hall. "Duduk sini, Ra," pinta Falea Zaneetha, istri Benigno Griffin Janitra, sahabat terdekat Yasuo. "Kakak, di sini udah lama?" tanya Dilara sesaat setelah duduk di kursi samping kanan Falea. "Belum. Cuma beda belasan menit denganmu," jelas Falea. "Ehm, kata Mas Ben, ada yang nyerang kamu di apartemen. Siapa?" desaknya. "Vasant, mantan pacarku." "Dia nerobos masuk?" "Hu um. Terus dia nyeret aku ke kamar. Mulutku dibekap dan aku nggak bisa teriak." Falea membulatkan matanya. "Itu sudah kelewatan. Mesti dihajar!" "Sudah, Kak. Aku tendang anunya." "Bagus!" seru para perempuan itu, yang menyebabkan pengunjung lainnya memandangi mereka. "Terus, gimana?" desak Sabrina Adhitama, istri Zulfi Hamizhan, direktur utama BPAGK dan ZAMRUD. "Dia jatuh ke lantai. Aku ambil kunci kamar, tas dan hape. Lalu kabur ke rumah Om Yasuo," cakap Dilara. "Nyetir sendiri?" sela Edelweiss Indira, istri Axelle Dante Adhitama, presiden direktur Adhitama Grup. "Enggak, Teh. Mobil kutinggal di kantor dan cuma dipake di hari kerja," cetus Dilara. "Kamu ke rumah Mas Yasuo, pakai taksi?" celetuk Liu Yuwen Vanetta Zeline, istri Wirya Arudji Kartawinata, presiden direktur GUNZ dan komisaris 6 PB serta PBK. Dilara menggeleng. "Aku nggak sempat mesan taksi. Aku dianterin satpam apartemen, pake motor, sampai depan gedungnya Om." "Hebat kamu, Ra. Gerak cepat dan nggak panik," puji Irshava Kartawinata, istri Hendri Danantya, sekaligus Adik bungsu Wirya. "Aku deg-degan," celoteh Renata Anandita, istri Baskara Gardapati Ganendra, komisaris utama Ganendra Grup. "Dilara keren," ujar Natasha, istri Tristan Cyrus, presiden direktur Cyrus Grup. "Kalau aku, pasti udah syok," imbuh Jewel Jessany Narapati, istri Trevor Aryeswara, Adik sepupu Benigno. "Apalagi aku. Paling cuma bisa nangis," timpal Zaara Yumna Latief, istri Hadrian Danadyaksha, sekaligus Adik bungsu Arrivan Qaiz Latief, sahabat Yasuo. "Itu juga aku gemetaran, Kak," rengek Dilara. "Wajar itu. Namanya nahan panik, karena diserang tiba-tiba. Pasti begitu," tutur Vlorin Pearce, istri Jourell Cyrus, Adik Tristan. "Aku jadi pengen ketemu vas bunga bangkai itu. Mau tak sleding!" geram Sekar Prameswari Dewawarman, istri Bryan Chavas Arvasathya, presiden direktur HKB dan BROTHERS. "Vasant, Mbak," seloroh Falea. "Ganti aja namanya jadi vas bunga bangkai. Lebih bagus," canda Sekar seraya tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD