BAB 2 hujan mengguyur deras

1150 Words
Malam itu, hujan masih mengguyur deras saat Alya membereskan dokumen terakhirnya. Kantor sudah sepi, hanya suara tetesan air dari luar jendela yang menemani. Ia baru saja hendak meraih tasnya ketika pintu ruangannya terbuka pelan. Arsenio berdiri di sana, jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang melekat sempurna di tubuhnya. Lengan kemeja yang digulung hingga siku memperlihatkan otot-otot lengan yang tegas. Rambutnya sedikit berantakan, membuatnya terlihat lebih santai namun tetap memikat. *"Kau masih di sini,"* suaranya dalam, nyaris seperti gumaman. Alya menegakkan punggungnya, mencoba tetap tenang meski jantungnya berdebar liar. *"Ada beberapa laporan yang harus saya selesaikan, Pak."* Arsenio melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Suara *klik* dari pintu yang terkunci membuat Alya menelan ludah. *"Berhenti memanggilku 'Pak' saat kita berdua saja,"* bisiknya pelan, matanya menelusuri wajah Alya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas. Alya mengerjap, mencoba mencari kata-kata. *"Kita masih di kantor, Pak Arsenio,"* ucapnya dengan nada datar, meski suaranya sedikit bergetar. Arsenio tersenyum miring, mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter. *"Dan siapa yang bilang kantor bukan tempat untuk... sedikit relaksasi?"* Alya menatap pria itu, mencoba menahan diri. *"Saya pikir Anda tidak mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan."* Arsenio mengangkat satu alis, jarinya dengan lembut menyusuri garis rahang Alya. *"Mungkin kau membuatku berpikir ulang tentang prinsip itu."* Alya merasakan tubuhnya merespons sentuhan halus itu, tapi ia berusaha keras untuk tetap tenang. *"Kalau begitu, saya harus pergi sebelum Anda berpikir lebih jauh."* Saat Alya berdiri, Arsenio menarik pergelangan tangannya, membuatnya berbalik menghadap pria itu. *"Kenapa kau selalu lari, Alya?"* bisiknya di telinga wanita itu. *"Apa kau takut... jatuh?"* Alya menatapnya, mata mereka terkunci dalam ketegangan yang hampir meledak. *"Saya tidak takut jatuh, Arsenio. Saya hanya tahu... bermain api denganmu bisa membakar lebih dari sekadar hati."* Arsenio tersenyum pelan, senyum yang penuh godaan. *"Mungkin aku ingin kau terbakar, Alya. Dan mungkin... aku ingin terbakar bersamamu."* --- Malam itu menjadi titik balik bagi mereka. Sejak saat itu, setiap pertemuan dipenuhi percakapan yang menggoda dan tatapan yang tak bisa dihindari. Di ruang rapat, saat semua orang sibuk dengan presentasi, Arsenio selalu menemukan cara untuk membuat Alya gugup. *"Alya,"* suaranya terdengar di tengah rapat, membuat semua mata tertuju padanya. *"Bisa kau bantu aku setelah ini? Ada sesuatu... yang sangat penting."* Alya mengangguk pelan, mencoba terlihat profesional. *"Tentu, Pak Arsenio."* Setelah rapat selesai, Arsenio menarik Alya ke ruangannya. *"Kau tahu apa yang penting?"* tanyanya dengan nada rendah, matanya menatap Alya seolah menelannya bulat-bulat. Alya mengangkat dagunya, menolak mundur. *"Pekerjaan ini, saya harap."* Arsenio tertawa pelan, mendekat hingga mereka hanya dipisahkan oleh meja. *"Pekerjaan ini... atau mungkin kau?"* bisiknya, membuat tubuh Alya merespons tanpa bisa dicegah. --- Suatu malam, saat keduanya terjebak dalam situasi yang tak bisa dihindari, Alya akhirnya menyerah pada ketegangan yang selama ini mereka bangun. *"Kau tak bisa terus menghindar, Alya,"* Arsenio berbisik di telinganya, tangannya menarik pinggang Alya mendekat. *"Aku tahu kau merasakannya juga."* Alya menutup mata, napasnya memburu. *"Dan kalau aku memang merasakannya... apa yang akan kau lakukan, Arsenio?"* Arsenio menarik wajah Alya hingga mereka hanya terpisah oleh napas. *"Aku akan menunjukkan padamu... bagaimana rasanya terjebak dalam pelukanku."* Dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, semua logika runtuh. Mereka terbakar dalam hasrat yang selama ini mereka tahan, membiarkan diri mereka larut dalam permainan yang tak ada jalan keluarnya. --- Tapi di balik semua itu, masa lalu Arsenio perlahan menghantui. Sebuah rahasia yang bisa menghancurkan hubungan mereka yang baru saja dimulai. Saat rahasia itu terungkap, Alya harus memilih—tetap terjebak dalam pelukan Arsenio, atau meninggalkan pria yang telah mengubah hidupnya selamanya. Namun, bagaimana jika satu-satunya tempat yang membuatnya merasa hidup adalah di pelukan pria yang seharusnya ia tinggalkan? --- Hujan turun deras malam itu, membasahi kaca jendela apartemen Alya. Dia berdiri di depan cermin, memandangi bayangannya sendiri. Bibirnya masih merasakan jejak ciuman Arsenio, dan tubuhnya masih mengingat setiap sentuhan yang membakar kulitnya. Tapi pikiran Alya kacau. Rahasia tentang masa lalu Arsenio yang baru saja terungkap menghantamnya lebih keras dari yang ia kira. Ponselnya bergetar di meja. Nama Arsenio tertera di layar. Alya menatapnya sejenak sebelum mengangkat. *"Ada apa?"* Suaranya dingin, berusaha menutupi gemuruh di dadanya. *"Kita perlu bicara,"* suara Arsenio terdengar serius, lebih berat dari biasanya. *"Aku di depan apartemenmu."* Jantung Alya berdebar keras. Ia berjalan ke jendela, dan benar saja, di bawah sana, Arsenio berdiri di bawah hujan tanpa payung, kemejanya basah menempel di tubuhnya, membuatnya terlihat semakin... memikat. Tapi Alya tahu, dia tak boleh membiarkan hatinya goyah. Beberapa detik kemudian, bunyi ketukan terdengar dari pintu. Alya menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya. Dan di sana, Arsenio berdiri, basah kuyup, mata tajamnya menatap Alya seolah dia satu-satunya yang ada di dunia ini. *"Kau gila,"* bisik Alya, setengah marah, setengah tergoda. *"Kenapa kau di sini dalam keadaan seperti ini?"* Arsenio melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu di belakangnya. *"Karena aku tak bisa membiarkanmu pergi tanpa penjelasan."* Alya memutar matanya, berusaha menjaga jarak. *"Penjelasan? Tentang wanita itu? Tentang rahasia yang kau sembunyikan dariku?"* Arsenio mendekat, jaraknya semakin menipis. *"Itu bukan seperti yang kau pikirkan."* Alya mengangkat dagunya, menantang. *"Lalu seperti apa? Kau pikir aku akan terus terjebak dalam permainan ini, Arsenio?"* Arsenio tersenyum miring, senyum yang selalu membuat Alya kehilangan pijakan. *"Kau memang sudah terjebak, Alya. Dan aku tahu, kau tak ingin keluar dari pelukan ini."* Alya tertawa pelan, pahit. *"Kau terlalu percaya diri."* Tapi sebelum Alya bisa melanjutkan, Arsenio menariknya mendekat, membuat tubuh mereka bersentuhan. Suhu tubuhnya yang hangat, kontras dengan dinginnya udara, membuat Alya kehilangan kata-kata. *"Aku percaya pada apa yang kurasakan... dan aku tahu kau merasakannya juga."* Suara Arsenio rendah, nyaris seperti bisikan, tapi begitu kuat menggema di kepala Alya. Alya ingin melawan, ingin menolak. Tapi saat Arsenio mencium bibirnya dengan lembut, semua pertahanan runtuh. Ciuman itu bukan sekadar hasrat, tapi juga penyesalan, pengakuan, dan rasa yang tak bisa mereka tolak. Mereka terjatuh di sofa, napas memburu, tangan saling menjelajahi, mencari jawaban di tengah kekacauan emosi. *"Arsenio..."* Alya berbisik di antara ciuman mereka, suaranya bergetar. *"Ini salah..."* Arsenio menghentikan ciumannya sejenak, menatap dalam ke mata Alya. *"Mungkin... tapi rasanya terlalu benar untuk dihindari."* Dan malam itu, mereka membiarkan diri mereka tenggelam dalam hasrat, membiarkan takdir bermain dengan hati mereka. --- Namun pagi tak selalu membawa kehangatan. Saat matahari terbit, kenyataan kembali menyapa. Alya terbangun lebih dulu, menatap wajah Arsenio yang tertidur di sampingnya. Ada damai di sana, tapi juga rasa takut yang menghantui. Ia tahu, hubungan ini lebih dari sekadar gairah. Tapi bisakah ia benar-benar mempercayai pria yang telah mengguncang dunianya? Saat Arsenio membuka matanya dan menatap Alya, seolah membaca pikirannya, ia berbisik pelan, *"Aku tak akan membiarkanmu pergi, Alya. Apa pun yang terjadi."* Tapi takdir memiliki caranya sendiri. Dan ketika masa lalu Arsenio kembali mengetuk pintu kehidupan mereka, mereka harus memutuskan: Apakah pelukan ini cukup kuat untuk menahan badai, atau justru akan menjadi penjara yang tak bisa mereka lepaskan? --- *Terjebak di Pelukan CEO* bukan hanya tentang hasrat yang membara, tapi juga tentang bagaimana dua hati yang terluka mencari makna di tengah kebohongan, rahasia, dan cinta yang tak pernah mereka duga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD