BAB 3 Penuh hasrat

1052 Words
--- Hari-hari berikutnya berubah menjadi medan pertempuran antara logika dan perasaan. Alya mencoba menjaga jarak, fokus pada pekerjaannya, tapi setiap sudut kantor terasa seperti jebakan. Setiap kali Arsenio masuk ke ruangannya, atmosfer langsung berubah. Tegangan di antara mereka terlalu tebal untuk diabaikan. Suatu sore, saat Alya sedang sibuk menata dokumen, suara pintu ruangannya tertutup pelan. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. *"Kau tahu, aku bisa saja melaporkanmu karena sering mengganggu waktu kerjaku,"* kata Alya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Arsenio hanya tertawa pelan, suara rendahnya membuat kulit Alya merinding. *"Kalau aku ingin mengganggumu, aku akan melakukannya dengan cara yang lebih… personal."* Alya mendongak, menatap pria itu dengan sorot mata menantang. *"Arsenio, kau tak bisa terus seperti ini. Kita harus bersikap profesional."* Arsenio berjalan mendekat, hingga jaraknya hanya beberapa sentimeter dari meja Alya. *"Aku tak pernah bermasalah dengan profesionalisme, Alya. Tapi masalahnya, kau yang membuat segalanya jadi rumit."* Alya menelan ludah, berusaha tetap tenang meski detak jantungnya berpacu liar. *"Aku tidak melakukan apa pun."* *"Oh, kau melakukan banyak hal, Alya,"* bisik Arsenio sambil menunduk, suaranya nyaris menyentuh telinganya. *"Tatapanmu, cara kau menyebut namaku… semuanya membuatku ingin melupakan bahwa aku adalah bosmu."* Alya menggigit bibir bawahnya, berusaha mengabaikan getaran di tubuhnya. *"Kau harus pergi sebelum aku benar-benar melaporkanmu."* Arsenio tersenyum, menarik diri perlahan, namun matanya tetap terkunci pada Alya. *"Lakukan saja. Tapi kita berdua tahu, kau tak ingin aku pergi."* Dan dengan itu, Arsenio keluar dari ruangan, meninggalkan Alya dengan jantung berdebar dan pikiran yang kacau. --- Malamnya, Alya mencoba melarikan diri dari kekacauan pikirannya dengan bertemu sahabatnya, Dina, di sebuah kafe. *"Jadi, kau benar-benar jatuh cinta pada si CEO dingin itu?"* tanya Dina sambil mengaduk kopinya, matanya penuh rasa ingin tahu. Alya mendesah, menyandarkan tubuhnya di kursi. *"Aku tidak tahu, Din. Dia membuatku gila. Satu detik dia membuatku marah, detik berikutnya dia membuatku… lemah."* Dina tertawa pelan. *"Itu artinya kau sudah terjebak, babe. Dan sepertinya dia juga begitu."* Alya menggeleng, mencoba menyangkal. *"Tidak semudah itu. Ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang dia. Masa lalunya, rahasia yang dia sembunyikan... Aku takut, Din."* Dina menepuk tangan Alya dengan lembut. *"Kalau kau tak pernah ambil risiko, kau tak akan pernah tahu seberapa dalam cinta itu bisa membawamu."* Kata-kata Dina terus terngiang di kepala Alya saat ia pulang ke apartemennya. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa risiko itu akan datang lebih cepat dari yang ia kira. --- Keesokan harinya, saat Alya masuk ke kantor, suasana terasa berbeda. Bisik-bisik di antara rekan kerja, tatapan aneh yang diarahkan padanya, membuat Alya merasa tak nyaman. Dan saat ia membuka emailnya, jantungnya serasa berhenti. Ada foto dirinya bersama Arsenio—mereka berdua tertangkap kamera saat keluar dari apartemen Alya malam itu. Judul emailnya jelas: *"Hubungan Terlarang Sekretaris dan CEO?"* Alya merasa dunia runtuh di sekitarnya. Tangannya gemetar saat mengambil ponsel dan menelepon Arsenio. *"Kita punya masalah besar,"* bisiknya panik saat Arsenio mengangkat. Di ujung telepon, suara Arsenio terdengar tenang, tapi penuh ketegasan. *"Tenang, Alya. Aku akan menyelesaikannya. Percayalah padaku."* Namun, Alya tahu ini lebih dari sekadar skandal kantor. Ada seseorang yang ingin menghancurkan mereka. Dan mereka harus bersiap menghadapi badai yang lebih besar—karena ini bukan hanya soal pekerjaan atau reputasi, tapi juga tentang cinta yang dipertaruhkan. --- *Terjebak di Pelukan CEO* semakin membara, dengan rahasia yang terkuak, hasrat yang tak bisa dibendung, dan keputusan yang harus diambil. Bisakah Alya dan Arsenio bertahan di tengah badai, ataukah mereka akan hancur oleh permainan yang tak pernah mereka mulai? --- Alya menutup telepon dengan tangan gemetar. Tubuhnya menegang saat memikirkan konsekuensi dari foto yang tersebar itu. Tapi sebelum ia bisa mencerna semuanya, pintu ruangannya terbuka dengan keras. Arsenio berdiri di ambang pintu, dengan tatapan tajam dan rahang mengeras. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan cepat. Alya hampir tak bisa bernapas saat melihat pria itu mendekat. Auranya begitu dominan, dan tatapannya membakar seperti bara api. *"Arsenio..."* suara Alya nyaris tak terdengar, tapi sebelum dia bisa melanjutkan, tangan besar Arsenio sudah menariknya bangkit dari kursi. *"Aku sudah bilang kau harus percaya padaku,"* bisiknya di telinga Alya, napasnya hangat di kulitnya. *"Tapi kau malah panik. Kau tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?"* Alya menelan ludah, jantungnya berdetak tak karuan. *"Apa?"* tanyanya dengan suara bergetar. Arsenio menariknya lebih dekat, hingga d**a mereka hampir bersentuhan. Tatapan matanya menusuk, seolah ingin menelanjangi pikiran Alya. *"Kita berhenti pura-pura. Aku lelah menahan diri."* Alya merasa tubuhnya memanas di bawah tatapan itu. Sebagian dirinya ingin mendorong Arsenio menjauh, menjaga batas profesionalisme yang selama ini ia pertahankan. Tapi bagian lain... bagian yang lebih jujur... menginginkan pria itu lebih dari apa pun. *"Arsenio, ini salah..."* bisik Alya, tapi kata-katanya terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri. Arsenio tersenyum miring, jemarinya mengusap pelan garis rahang Alya, membuatnya merinding. *"Salah? Mungkin. Tapi kau juga tahu, Alya... hal-hal yang salah seringkali terasa paling benar."* Detik berikutnya, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang penuh hasrat. Semua ketegangan, semua larangan, semua rasa bersalah melebur dalam panasnya sentuhan mereka. Arsenio mendorong Alya ke meja, membuat tumpukan dokumen berhamburan, tapi tak ada yang peduli. Dunia luar menghilang, hanya ada mereka berdua, terjebak dalam arus emosi yang tak bisa dihentikan. Alya menggigit bibir Arsenio pelan, membuat pria itu mengerang rendah. *"Kau gila,"* bisiknya di antara napas terengah. Arsenio menatapnya dengan mata yang membara. *"Gila karena kau membuatku seperti ini."* Tangannya menjelajahi punggung Alya, menariknya lebih dekat hingga tak ada lagi ruang di antara mereka. Namun sebelum semuanya lepas kendali sepenuhnya, Arsenio menarik diri, meski matanya masih dipenuhi api keinginan. *"Kita harus berhenti di sini... untuk sekarang."* Alya mengerang frustrasi, wajahnya memerah karena campuran hasrat dan kekecewaan. *"Kau tidak bisa membuatku seperti ini lalu berhenti begitu saja."* Arsenio hanya tertawa pelan, suaranya dalam dan menggoda. *"Anggap saja ini permainan, Alya. Dan aku suka melihatmu tak sabar."* Dengan satu kecupan singkat di kening Alya, Arsenio berbalik dan keluar dari ruangan, meninggalkan Alya berdiri dengan napas memburu dan hati yang berdebar kencang. --- Namun, permainan mereka baru saja dimulai. Dan ketika rahasia masa lalu Arsenio mulai terungkap—tentang pengkhianatan, dendam, dan cinta yang hilang—Alya menyadari bahwa dia telah terjebak lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Mereka bukan hanya melawan skandal yang mengancam karier mereka, tetapi juga melawan rasa yang semakin tak terbendung. Hasrat di antara mereka seperti api, membakar setiap rintangan, tapi juga bisa menghancurkan mereka jika tak hati-hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD