07 - Our Story

1177 Words
Suasana malam yang cenderung sepi membuat Malvin bebas memakai kecepatannya. Alify yang berada dibelakangnya tertawa lepas. Ini sesuai dengan kesukaannya. Naik motor dan kebut-kebutan. Walaupun pengalaman pertama, tapi Alify suka. "Mau makan gak?" Malvin sedikit berteriak karena ia menggunakan helm fullface. "Mau mau!" "Nasi goreng ya." Alify hanya mengiyakan ketika Malvin kembali menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tak peduli jika besoknya ia akan masuk angin atau apa. Yang penting dirinya senang sekarang. Keduanya berhenti tepat di tenda nasi goreng dipinggir jalan. Tempatnya lesehan, namun bersih dan cukup luas. Malvin membiarkan Alify memilih tempat, sedangkan ia memesan makanan. "Lo sering makan kesini?" Tanya Alify ketika Malvin sudah duduk dihadapannya. "Lumayan, kalau keluar malem aja." Alify menganggukkan kepalanya. "Sering-sering ajak gue dong. Gue suka yang beginian." Malvin tertawa. "Iya." "Gimana temen-temen gue? Santuy kan?" "Hm, not bad." "Mereka temen lo sekarang juga. Saat lo kenalan dengan mereka tadi, saat itu pula mereka menjadikan lo temen mereka. Jadi kalau ada apa-apa, lo jangan sungkan minta bantuan sama mereka." Alify mengangguk lagi. "Seneng gue, berasa banyak yang jagain. Hehe." Malvin mengulurkan tangannya untuk menggusak puncak kepala Alify. "Gemes gue." Iya, Alify menunjukkan sisi remajanya untuk pertama kali semenjak Bundanya tiada. Tak lama pesanan mereka datang. Alify yang memang tidak punya attitude, tetap membuka mulutnya untuk berbicara. "Cerita dong. Kenapa lo bisa gak suka sama Nyokap lo." Malvin diam sejenak, mengunyah nasi gorengnya lalu menelannya. "Sebenernya gue gak tau sih orangtua gue ada masalah apa. Kenapa mereka bisa sampai bercerai dan begonya lagi, mereka cerai dihari kelulusan gue." Malvin tersenyum sinis ketika mengingat memori itu. "Kalau saat itu gue lupa kalau gue cowok, mungkin gue udah nangis di kamar mandi. Tapi gak mungkin kan? Cupu banget itu." Malvin terkekeh. "Dan keselnya, waktu gue sampe rumah. Ibu malah sibuk marah-marah. Nunjukkin kertas dimana hak asuh jatuh ditangan Ibu semua. Gue kesel. Papa juga sama emosinya. Tapi seemosinya beliau, Papa masih lirik gue yang saat itu pake setelah jas rapih. Kayaknya disitu Papa sadar kalau gue baru pulang dari kelulusan. Tapi karena gue keburu emosi, gue langsung lari masuk kamar. Ngunci diri. Masuk kamar mandi dan dengerin musik lewat headsheat sambil tiduran di bathup." "Dan ketiduran?" Alify bertanya dan diangguki oleh Malvin. "Bangun-bangun, Ibu udah gak ada. Riel sama Cakka juga." "Cakka?" Alify memotong ucapan Malvin. "Abang gue yang kedua." Alify mengangguk-anggukkan kepalanya. "Trus trus?" "Gue nemuin Papa di kamarnya, sendirian. Lagi ngerokok di balkon. Tapi beliau gak lupa sama anaknya. Papa senyum ke gue, terus ngucapin selamat dan maaf gak bisa datang ke acara kelulusan. Habis itu, Papa bilang kalau gue harus ikutin kemuan Ibu untuk saat itu. Karena Papa mau balik ke Bali dan menetap disana. Tapi gue keras kepala. Jadi gue bilang ke Papa untuk beliin Apartemen aja, gue mau tinggal sendiri. Dan gitu deh. Gue tinggal di apartemen walau kadang balik juga ke rumah Ibu." "Tapi sampai sekarang Ibu gak tau kalau Papa beliin gue apartemen. Jadi lo orang pertama yang tau hal ini." Ucap Malvin sambil menunjuk Alify yang sedang mengunyah. "Iya iya, gak ember kok gue." "Sekarang giliran lo. Cepet cerita!" Ujar Malvin setengah memaksa. "Cerita gue panjang kayaknya. Hehe. Dari mana dulu nih?" "Dari Bunda lo dulu." "Mm..." Alify berhenti makan sejenak. Berpikir sambil mengunyah makanannya. "Kalau yang gue denger dari cerita orang, Bunda emang udah sakit sejak nikah sama Ayah. Waktu hamil gue, makin parah. Bunda lemah, kandungannya juga. Makanya gue lahir prematur dan Bunda sempet koma karena itu." "Beberapa tahun kemudian, Bunda emang sehat. Mungkin karena seneng juga liat gue lahir dengan cantik dan sehat. Makanya Bunda jarang kambuh saat itu." Alify mengembangkan senyumnya jika mengingat dimana ia sempat bermain bersama Bundanya. "Tapi itu gak berlangsung lama. Waktu gue SD kelas lima, Bunda mulai sakit lagi. Gue masuk SMP makin parah. Bahkan gue kalau pulang sekolah langsung ke rumah sakit, bukan ke rumah. Ayah yang saat itu harus kerja, cuma bisa temenin Bunda di malam hari. Jadi selama siang sampai sore, gue yang temenin. Banyak banget yang gue ataupun Bunda ceritain. Sampai gue lupa apa aja." "Kelas 3 SMP, Bunda makin parah. Sering banget koma atau ngedrop. Gue juga jadi jarang temenin Bunda, karena gue ada les tambahan untuk persiapan UN. Sampai waktu gue pamit minta restu di Ujian Nasional hari pertama, Bunda genggam tangan gue erat banget. Senyumnya juga nenangin banget, bikin siapapun yang liat senyum itu pasti ikutan senyum." Lagi-lagi Alify tersenyum. Matanya berkaca-kaca saat mengingat bagaimana kondisi Bundanya saat itu. "Bunda selalu senyum setiap liat gue pulang sekolah. Bikin gue tenang liatnya walau ternyata itu cuma senyum palsu. Gak ada yang ngasih tau gue kalau ternyata kondisi Bunda makin parah saat itu." "Maklum, Fy. Lo lagi ujian nasional kan?" Malvin memotong ketika melihat Alify yang mulai mengepalkan tangannya diatas meja. "Iya, gue maklumi. Tapi lo gak ngerasain, gimana di hari terakhir Ujian Nasional itu. Disaat temen-temen gue pada seneng-seneng. Coret-coret bahkan touring. Gue malah dapet kabar kalau Bunda gue udah gak ada. Disitu dunia gue hancur. Gue udah gak tau lagi mau gimana. Waktu gue sampe rumah sakit pun, Bunda udah diurusin." Alify menyeka air matanya yang tiba-tiba keluar merebes. Tangan Malvin tidak tinggal diam, ia menggenggam tangan Alify yang berada diatas meja. "Anjir gue cengeng banget dah." Ujar Alify kepada dirinya sendiri sambil menyeka air matanya. "Gak apa-apa. Lo cuma boleh nangis didepan gue. Apa jadinya kalau orang-orang tau anggota bonek selemah ini?" Malvin masih sempat-sempatnya bercanda. "Lanjut gak nih?" Tanya Alify ketika selesai mengeringkan air matanya. "Lanjut aja kalau lo kuat." "Eh, tapi btw, Bunda lo sakit apa?" "Kanker Darah sama Kista." "Oh.. Lanjut deh." Alify meminum teh hangatnya dulu. "Habis Bunda meninggal, gue diurus bibi. Pembantu yang selama ini ngurusin gue. Ayah mana ada waktu. Makanya gue marah sama Ayah saat itu juga." "Tapi waktu gue ulang tahun yang ke 15, Ayah ngasih surat ke gue. Surat wasiat dari Bunda. Ya berupa harta dan beberapa pesan yang sampai saat ini harus gue pegang. Makanya gue bertahan harus tinggal sama Ayah walau kadang gak kuat." "Semenjak masuk SMA, gue ketemu Gibran. Ah engga, gue ketemu dia waktu mos. Dia nolongin gue waktu kita dihukum karena atribut yang kurang. Eh ternyata kita cocok. Nyambung aja gitu kalau ngobrol sama dia. Tapi dia brandalan ternyata, karena gue males cari temen jadi temenan aja sama dia. Kebawa deh sampai sekarang." "Gibran sebenernya ngajarin banyak hal. Positif sama negatifnya sebanding lah. Tapi tetep aja gue nyaman bergaul sama mereka. Lo juga pasti ngerasa kayak gitu kan?" Malvin mengangguk. "Hampir persis kayak lo. Tapi emang sih, temenan sama anak kayak gitu lebih enak. Gue sakit demam aja mereka langsung nengok. Haha." Alify mengangguk setuju. "Apalagi Gibran. Dia pasti langsung nanya gue mau dibawain apa. Ck, anak-anak itu." Malvin meminum tehnya setelah selesai tertawa kecil. Ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. "Ayo pulang. Besok sekolah." "Lo niat sekolah besok?" Malvin menatap Alify. "Mau bolos lu?" Alify mengangguk. "Ayoklah, gue ajak ke tempat lain besok. Bawa baju ganti ya." Alify tersenyum senang. "Oke!!" "Ayo pulang!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD