08 - Senang dan Kecewa

957 Words
Besoknya, mereka benar-benar melakukan rencana mereka. Malvin menjemput Alify didepan rumahnya. Ia menatap Alify yang sudah siap memakai seragam sekolah dengan senyum yang merekah kala melihatnya datang. "Cerah banget itu muka." Ujar Malvin sambil memberikan helmnya. "Iya dong, harus seneng. Mau bolos, kan?" Malvin ikut tertawa. "Eh, Bokap lo belum berangkat?" "Belum, lagi sarapan. Ayo cepet berangkat, nanti dia keburu keluar rumah." Ujar Alify sambil naik ke motor Malvin. "Pegangan. Nanti kita ganti baju di apart gue aja." Malvin langsung menjalankan motornya menuju apartement dia yang ternyata tak jauh dari sekolah. Hanya sekitar dua kilometer setelah sekolah. "Lo tadi otw dari mana emangnya?" Tanya Alify ketika mereka tengah jalan beriringan menuju lift. "Rumah Ibu." "Bisa masuk emangnya? Kita kan pulang tengah malem?" "Bisa lah! Riel kan nungguin di ruang tamu. Ibu juga belum tidur. Jadi ya tinggal jawab aja 'biasa' kalau ditanya. Habis itu masuk kamar." Alify tertawa. "Untung semalem Ayah udah tidur. Emang sih gue juga sempat nutupin guling gue pake selimut. Biar dikira Ayah gue udah tidur." "Gak dikunci emang?" "Ada kunci cadangan." Kini giliran Malvin yang tertawa dan tangannya terulur untuk menggusak puncak kepala Alify. "Pinter emang." Mereka akhirnya berhenti dilantai 9 dan Malvin membuka pintu Apartnya itu. "Lo ganti di kamar mandi. Kamar mandinya ada disana." Malvin menunjukkan kamar mandi yang ada tepat disebelah kamarnya. Sementara dirinya memasuki kamar untuk mengganti pakaiannya sendiri. Alify melihat sekeliling apartemen Malvin yang bersih dan sederhana. Tidak ada barang-barang pajangan atau sekedar koleksi. Semuanya nampak polos dan tidak multifungsi. Alify segera masuk ke kamar mandi setelah selesai melihat suasana apart Malvin itu. Dan benar sesuai dugaannya. Kamar mandinya bersih, bahkan lantainya kering. Tak ingin ambil pusing, Ia segera mengganti bajunya agar hari tidak terlalu siang. *** Motor Malvin sudah terjajar rapih diparkiran. Keduanya turun dari motor dan melepas helmnya. "Pantai?" Tanya Alify ketika melihat air laut yang berwarna biru itu tepat ada didepan matanya. Malvin mengangguk. "Ayo cari tempat." Ia berjalan lebih dulu membuat mau tak mau Alify harus mengekorinya. Malvin mengajaknya untuk duduk disalah satu tempat yang sudah disediakan. Hanya beratap payung besar khas pantai. "Ngapain sih ke pantai? Panas tau." Malvin tertawa. "Gak apa dong. Panas-panas gini cuma bule yang ada di pantai." Benar sih, ada beberapa warga asing yang pakai bikini atau bertelanjang d**a untuk pria yang sedang berjemur. Alify mendengus melihatnya. "Dasar cowok!" Keduanya terdiam cukup lama menikmati air laut yang membentang luas. Alify sebenarnya tidak tau dimana mereka berada sekarang. Tapi sesuai perjanjian mereka kemarin, memang Malvin yang menentukan tempatnya. "Sebenernya pantai ini punya kisah untuk gue pribadi." Malvin mulai membuka suaranya setelah mereka terdiam cukup lama. "Disini, Ayah ngajak gue ketemuan dua tahun yang lalu." "Ngapain?" Malvin tidak langsung menjawab. Melainkan tersenyum mengingat peristiwa dua tahun itu. "Ngasih kabar kalau beliau mau menikah." Alify menatap Malvin yang masih menatap lurus ke laut. "Lo pasti sedih saat itu." Malvin mengangguk. "Tapi kesedihan gue gak terlalu lama sebelum Ayah bilang dengan siapa dia nikah." "Ayah nikah dengan lelaki pilihannya." "Hah?" "Iya, Ayah gay. Dan itu benar-benar menampar gue." "Jangan dilanjut kalau lo gakuat, Vin." Malvin menggeleng. "Gue gak sakit hati sebenernya, cuma sedikit kecewa aja kenapa orientasi seksual bokap gue begitu. Tapi semakin gue dewasa, mindset gue mulai berubah." "Lo tau kan Bali kayak gimana. Jadi gue maklumi karena kehidupan Ayah disana memang begitu." "Tapi kan itu tabu banget disini, Vin." "Ayah nikah di luar negeri. Di negara pasangannya. Tapi sekarang mereka menetap disini." "Ayah lo blasteran, ya?" "Hm, Indonesia-Rusia. Makanya gue cakep, kan" Alify melayangkan pukulannya tepat dipunggung Malvin. "Enyah lah!" Malvin hanya tertawa melihatnya. "Lo sadar gak sih, Fy? Kalau lo manggil gue dan abang-abang gue langsung nama? Gak pake embel-embel kakak?" "Sadar lah! Emang sengaja kok. Kalian kan belum resmi jadi kakak gue." Malvin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti 3 minggu lagi lo panggil gue Kakak Malvin?" Alify menatap Malvin yang berada disampingnya. "Gak pentes lu mah. Tetep gue panggil Malvin aja." "Yeh bocah." Ketus Malvin ketika mendengar nada tertawa Alify yang terlihat puas. "Eh tapi bentar lagi kan lo lulus. Mau lanjut kuliah?" "Hm. Mau ambil pelayaran gue. Keren kan?" Alify mengangguk mengiyakan. "Dimana?" "Bali." *** Tepat pukul 10 malam, Alify baru sampai rumahnya. Ia turun dari motor lalu memberikan helmnya itu pada Malvin. "Besok gue jemput." Alify mengerutkan dahinya. "Mau kemana?" "Ya ke sekolah lah. Mabal mulu." "Hehe, dikirain. Emang lo gak ada pacar gitu?" "Justru itu gue mau manas-manasin mantan." Alify mengangguk. "Oke deh. Sana pulang." "Gak ada ucapan makasih?" "Ngapain?! Lo kan kakak gue." Malvin gemas. Lalu menggusak puncak kepala Alify. "Kebiasaan ih!" Marahnya. "Gemes sih liat lo. Haha. Sana masuk. Nanti ada singa marah." "Iya, lo juga. Awas macan sama harimau ngamuk." Malvin hanya mengacungkan jempolnya sebelum benar-benar pamit dan melaju. Alify masih menyunggingkan senyumnya sampai ia berbalik badan menuju rumahnya yang sudah gelap. "Bagus banget seharian gak pulang, gak sekolah. Ternyata pergi pacaran?!" Alify menoleh malas ke Ayahnya. "Apa sih, Yah?! Itu Malvin, anaknya tante Sarah juga. Bakal jadi kakak aku, kan? Salah juga aku mau deket sama calon keluarga aku?!" "Tapi bukan sama Malvin juga, Alify. Dia belum dewasa, otak dan emosinya masih sama seperti kamu. Tidak akan ada yang menghentikan kalian jika sesuatu terjadi." "Maksud Ayah apa?! Ayah nuduh aku w************n, atau nuduh Malvin cowok gak bener?!" "Asal Ayah tau, aku bukan orang pemilih dalam bergaul. Aku bukan orang yang menjunjung tinggi rasa gengsi. Aku orang yang melupakan keburukan hanya karena kenyamanan." "Dan Ayah adalah orang yang paling gak nyaman untukku." Plakk Satu tamparan mendarat di pipi kiri Alify. "Jaga ucapan kamu!" Alify memegang pipi kirinya yang terasa panas. Air matanya sudah tak terbendung lagi. Ia menatap Ayahnya dengan mata yang berlinang. "Bunuh aja aku, Yah! Bunuh! Biar aku cepet ketemu Bunda dan Ayah bahagia!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD