Malvin sudah menunggu selama 15 menit didepan rumah Alify. Namun calon adiknya itu tidak kunjung keluar. Ia sudah mencoba menghubungi adiknya itu, namun ponselnya tidak aktif.
Gunawan baru saja keluar dari rumahnya dan langsung disuguhkan Malvin yang duduk diatas motornya. Kakinya melangkah mendekati calon anak tirinya itu.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Jemput Alify, Om." Jawab Malvin berani.
"Sudah pergi. Sana kamu ke sekolah."
Setelah berucap demikian, Gunawan langsung balik badan menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
Malvin yang mendengar hal tersebut segera menjalankan motornya dan menuju ke sekolah. Pasti ada yang tidak beres, pikirnya.
Sesesampainya di sekolah, Malvin langsung berjalan menuju kelas Alify yang berada gedung B. Tatapan penuh tanya ditunjukkan para murid kelas 11 saat ia melewati wilayah mereka.
Malvin langsung masuk kedalam kelas Alify saat ia tiba dan menemukan adiknya itu tengah menyembunyikan kepalanya dilipatan tangan yang ditaruh diatas meja. Ia melangkah mendekati bangku Alify yang sudah ditempati Rio dan Dio yang ada didepannya.
"Minggir." Malvin berucap demikian kepada Rio yang duduk disamping adiknya itu.
Rio yang tau Malvin kakak kelasnya segera bangkit dan duduk disamping Dio.
"Siapanya Alif?" Tanya Rio kepada Dio yang dibalas angkatan bahu olehnya.
Malvin menyentuh pundak Alify. "Fy? Tidur?"
Alify menggeleng.
"Terus kenapa lo pergi duluan? Kan gue bilang kita berangkat bareng."
"Gue lupa." Jawab Alify dengan suara yang tertahan.
"Ponsel lo?"
"Lowbat dan ketinggalan." Jawabnya lagi masih dengan posisi yang sama.
Malvin menghembuskan nafasnya. Lalu ia melihat ke teman sekelas Alify yang kini menatapnya semua.
"Siapa yang datang paling awal disini?"
Dio tunjuk tangan. "Waktu gue datang, Alify udah diposisi kayak gitu. Dan di kelas cuma ada dia doang."
"Lo Ketua kelas kan?"
Dio mengangguk.
"Lo juga, temen sebangkunya kan?" Kini Malvin menatap kepada Rio.
"Iya."
"Jagain Alify."
Malvin sudah siap beranjak berdiri sebelum sebuah tangan menahannya.
Alify mengangkat kepalanya dan menatap mata Malvin. "Gue bisa sendiri, gak perlu dijagain."
Semua teman sekelas Alify bisa melihat ada memar dipipi kiri wanita itu. Malvin langsung memegang dagu Alify yang membuatnya mau tak mau harus menengadah.
"Siapa yang lakuin ini ke lo?" Suara Malvin terdengar berat dan dingin.
Alify melepaskan tangan Malvin yang ada di dagunya. "Udahlah, Vin. Ini biasa."
"Bokap lo?"
"Hm."
"Anjing. Harusnya gue tonjok dulu tadi waktu ketemu."
"Udah sana ke kelas. Males gue dijadiin pusat perhatian gini." Alify mendorong Malvin agar pergi dari kelasnya.
"Nanti istirahat bareng gue. Awas kalau kabur."
Alify hanya berdehem untuk mengiyakan.
Tatapan Malvin beralih ke Rio. "Obatin, Alify!" Ujarnya memerintah sebelum beranjak keluar kelas.
"Kok gue?" Rio bertanya kepada Dio.
"Udah sana minta es ke ibu kantin. Perintah kak Malvin tadi."
Dengan malas Rio bangkit dan berjalan ke kantin. Males dia tuh. Kenapa gak Dio aja yang disuruh. Dio kan bucinnya Alify!
***
"Makasih, Yo."
Alify menerima es yang sudah terbungkus lap tangan dari Rio.
Rio hanya berdehem, mengiyakan. Ia juga ngilu sebenarnya melihat pipi kiri Alify yang memar.
"Kenapa gak langsung lu obatin?" Tanya Rio sambil memperhatikan Alify yang sedang menempelkan es itu ke pipinya.
"Males, capek, Gak ada waktu juga. Kagok mending langsung tidur."
"Ibu lo?"
"Gak ada. Diculik tuhan."
"Oh, sorry.."
"Hm."
Rio mengalihkan pandangannya dari Alify sejenak. Ia tidak bisa memandang teman sebangkunya itu terlalu lama. Bayang-bayang ciuman dikemarin hari itu masih ada.
"Dio kemana?" Rio baru menyadari jika Dio tidak ada ditempat.
"Disuruh kumpulan Ketua kelas sama anak Osis."
"Eh, btw mantan lu gimana?" Tanya Alify masih dengan tangan yang mengompres pipinya.
"Ya gitu. Semua kontak gue dia block."
Alify tertawa ringan. "Sorry ya. Tapi emang gak pantes sih cewe kayak gitu dipertahanin."
"Yang pantes dipertahanin yang kayak gimana emangnya? Kayak lu?"
Plakk
Alify memukul paha Rio tanpa perasaan. "Anjing lu!"
"Bu nih bu Alif ngomong kasar!"
***
Suasana rumah yang sepi dan gelap membuat Gunawan berjalan dengan hati-hati. Tak biasanya rumahnya masih gelap disaat jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Anaknya itu pasti sudah pulang dan akan menyalakan semua lampu rumah. Tapi hari ini tampaknya ada yang berbeda.
Kakinya melangkah menuju lantai dua, tempat kamar anaknya berada. Perlahan ia membuka pintu kamar yang tertutup itu. Berusaha agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Hah?"
Kamar itu kosong. Dan lantainya tampak dingin menandakan tidak terinjak dengan waktu yang lama.
"Alify?"
Kini ia berteriak, barangkali anaknya bukan berada di kamar.
Namun, nihil. Suaranya malah menggema.
Gunawan meraih ponselnya yang berada di saku. Ia berusaha menelepon anaknya, namun nomornya justru tidak dapat dihubungi.
Ia beralih menelepon Sarah. Mengingat jika salah satu calon anak tirinya itu cukup dekat dengan anaknya.
"Halo, Mas? Ada apa?"
"Malvin ada di rumah?"
"Ada, tadi kita makan malam bareng."
"Apa dia sudah tidur?"
"Tidak tau sih, mau aku cek? Memangnya ada apa, Mas?"
"Alify belum pulang. Malvin yang belakangan ini dekat dengan dia. Siapa tau Malvin tau dimana Alify."
"Sebentar aku ke kamar anaknya dulu."
Gunawan dapat mendengar suara Sarah yang beranjak menuju kamar anak bungsunya itu.
"Malvin? Sudah tidur?"
'Belum, Bu.'
"Kamu tau dimana Alify?"
'Engga, emang dia belum pulang?'
"Kata Ayahnya belum."
"Kamu beneran gak tau dia dimana?"
'Bener, Bu. Tadi aku ada kumpulan basket dulu jadi gak bisa anter dia.'
"Yaudah kalau gitu. Jangan begadang, besok masih sekolah."
'Hm..'
'Eh, Ibu lagi telfonan sama Om Gun?'
"Iya."
'Bilangin ke Om Gun, jangan kasarin perempuan kalau mau jadi Ayah tiri aku.'
"Hush! Apa sih kamu, gak sopan. Ini telfonnya masih nyambung dari tadi."
'Biarin, sana ibu keluar. Aku mau tidur.'
Suara pintu tertutup menandakan Sarah telah keluar dari kamar Malvin.
"Maafin Malvin ya, Mas. Omongan dia memang beda jauh dengan kedua kakaknya."
"Gak apa, lagipula dia benar. Semalam aku kelewat batas nampar Alify."
"Mas! Pantas saja Alify gak pulang! Kamu kelewatan tau gak!"
"Aku khilaf, dia pulang larut banget kemarin soalnya."
"Ya tapi gak gitu juga! Pokoknya besok kita harus bicara!"
"Iya iya, sana kamu tidur. Sudah malam."
"Hm."
Tutt...
Telepon dimatikan sepihak oleh Sarah. Gunawan tau pasti Sarah marah kepadanya. Bagaimanapun juga Sarah sangat menyayangi Alify karena ia sangat menginginkan anak perempuan. Semua anaknya yang laki-laki membuat Sarah langsung jatuh cinta dan menyayangi Alify. Gunawan sudah mengecewakan kedua wanitanya.
Ah tidak, tapi tiga.
Yaitu mendiang istrinya.
***