10 - Ada

1058 Words
MALVIN ○Udah makan? •Udah. Tadi pesen online •Lo belum tidur? ○Anak malem masa tidur jam segini ? •Bener juga haha ○Btw bokap lo nyariin. •Hah?? Tau dari mana? ○Nyokap gue lah. •Oh.. Nomernya gue block sih wkwk ○Dasar. ○Besok berangkat bareng. ○Tunggu gue. •Oke! ○Night. •Apasih kayak orang pacaran aja ?? •Tapi •Night too wkwk ○Lah wkwk Alify mau bersyukur rasanya setelah bertemu dengan Malvin. Calon kakak tirinya itu sangat perhatian dibalik sifat garangnya. Wajahnya yang tampan membuat beberapa wanita di sekolah menjadi semakin membencinya menyadari bahwa ia dekat dengan Malvin. But who cares? Sejak kapan Alify peduli? Alify menatap langit-langit kamar sementaranya ini. Ia sekarang berada di apartment Malvin untuk menghindari Ayahnya. Biarin Ayahnya mencarinya. Kali-kali buat orangtuanya itu susah. "Kalau sepi gini jadi kangen Bunda." Alify tersenyum kecut. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang masih saja lemah dan emosional. Ia membuang pikiran sedihnya jauh-jauh. Beralih dengan ponselnya dan menyalakan lagu bergenre hiphop yang setidaknya mampu membuat beberapa anggota tubuhnya bergerak. *** Alify menatap jenuh Rio yang selalu terlihat sedang membaca komik disetiap pagi. Kapan sih anak itu tidak membawa komik ke sekolahnya? Dan berapa banyak juga komik yang dipunya olehnya? "Ngewibu mulu. Masih pagi." Ujar Alify dengan nada yang datar. "Tumben ngomong. Biasanya langsung duduk." Balas Rio gak mau kalah, tapi posisinya tak berubah. Alify memisuh dihadapan Rio. "Lagi baik nih gue. Jangan nyari masalah dong." "Gak kok, lo aja yang baperan." Plakk Lagi-lagi paha Rio jadi sasaran. "Perih anjir!" Marahnya sambil menatap kesal kearah Alify. "Salah sendiri bikin gue kesel." "Gabut ya lo! Sana pergi ke pacar lo, ada banyak juga." Alify menatap heran Rio. Tangannya menahan tangan pemuda itu yang ingin membuka komiknya lagi. "Pacar yang mana sih? Emang pacar gue banyak?" "Kok lo nanya gue? Kan lo yang jalanin hubungan." "Gue gak ngerasa punya pacar tuh. Siapa sih? Ada yang gibahin gue ya?" Rio berdecak malas. "Gibran sama Kak Malvin! Lo itu lagi jadi trending di sekolah ini. Update makanya!" "Lah? Hahahahaha." Alify malah tertawa yang membuat Rio semakin kesal. Ia akan kembali membaca komiknya lagi sebelum tangan Alify lagi-lagi menahannya. "Gue sama Gibran cuma temen, Yo. Sama Malvin juga sebatas kakak-adik. Jangan cemburu." "Dih? Siapa yang cemburu?" "Lo lah. Buktinya ambil kesimpulan gitu aja." "Gue cuma baca di grup angkatan doang yang gibahin lo. Ngapain cemburu. Gue sukanya yang semacam Hinata atau Ran Mouri ya!" "Dih jiwa halu wibunya keluar. Tipe lo yang ada di hentai juga." Alify tertawa meledek Rio yang sudah menatapnya kesal. "Lo kali! Tau hentai segala." "Geng gue cowok semua kalau lo lupa." "Pantes." Rio menggantungkan ucapannya. "Pantes apaan?" "Jiwa lo setengah laki." Plakk "Astaga, Lif! Hobi banget sih mukul paha gue!!" *** "Alify pulang sekolah jam berapa?" Gunawan menggeleng. Ia tentu saja tidak tau karena biasanya ia pulang larut yang pastinya anaknya itu sudah berada di rumah. Sarah menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan calon suaminya yang malah menelantarkan anak gadisnya sendiri. "Sesibuk-sibuknya aku kerja, aku pasti sempatkan nanya keadaan anak-anakku. Sudah makan apa belum? Sedang apa? Pulang jam berapa? Padahal mereka adalah lelaki yang aku yakin bisa menjaga dirinya sendiri." "Aku tau kau laki-laki yang tidak bisa mengurus anak. Tapi setidaknya hanya perhatian dan sedikit mengalah, apa sulit?" Gunawan terdiam. Ia sadar ucapan calon istrinya itu seratus persen benar. "Kita jemput Alify ke sekolahnya hari ini. Biasanya Malvin bilang ia pulang jam 3 sore." "Iya, nanti aku minta kosongkan jadwal sore ini." Jawab Gunawan sebelum Sarah meminta kembali ke mejanya sendiri. *** MALVIN ○Jangan dulu keluar kelas. ○Diem disitu sama Rio kalau bisa. •Kenapa Vin? ○Ada Bokap lo sama Nyokap gue. ○Kayaknya mau jemput lo. •Lah tumben banget? ○Disuruh pawangnya paling. ○Lo jangan keluar dulu pokoknya. ○Kalau bisa balik lewat pintu belakang aja sama Rio. •Lo mau nyamperin mereka? ○Iya lah ○Kelas gue pas depan parkiran ini. •Yaudah gue balik sama Rio. ○Oke ○Ke rumah si Rio aja kalau bisa. ○Gue takut mereka curiga. •Kan gak ada yang tau apart lo. ○Jaga-jaga. •Ih! •Oke deh gue ke rumah Rio •Tapi kalau dibolehin ya! ○Iya. ○Hati-hati. Nanti gue jemput kalau udah aman. •Hm Alify memasukkan ponselnya ke saku jaketnya. "Boleh gak Yo gue ke rumah lo?" "Hah lo ngapain mau ke rumah Rio, Fy?" Dio bertanya, pasalnya Alify ini baru pertama kali seperti ini. "Mau main lah, dia kan chairmate gue." "Gue gak diajak?" Dio menunjuk dirinya sendiri. "Lo siapanya gue, gue tanya?" "Gue ngejar lo dari awal semester loh, Fy. Lo gak ngerasa gitu?" "Oh? Gue baru tau." "Sayang~ kok jahat??" Rio bergidim ngeri. "Najis Yo, si Alify mau ngungsi doang ke rumah gue. Sana lo balik aja, katanya beasiswa cair?" Dio cemberut. "Kalau beasiswa gak cair hari ini pengen deh gue ikut kalian berdua." Alify tertawa. "Besok aja lo traktir kita." Ujarnya dengan nada bercanda. "Yah, habis lah uang bulanan gue." "Bercanda ih. Sana pulang, nanti kena potongan." Canda Alify yang sukses Dio turuti. "Dadah Sayang~ Jagain sayang gue ya, Mario maurer! Awas aja kalau lecet!" Pesan Dio sebelum ia beranjak keluar kelas. "Bukan nama gue anjir!" Alify sudah tertawa mendengar perkataan Dio yang entah mengapa sangat lucu baginya. "Sana lo duluan ke pintu belakang. Gue ambil motor dulu di parkiran." "Eh? Boleh?" Alify sedikit terkejut ketika Rio mengijinkannya untuk 'mengungsi' di rumahnya. "Boleh lah, lagian mama gue baik kok." Alify tersenyum. "Makasih, Yo. Gue tunggu di pintu belakang ya. Hehe." Alify langsung berlari keluar menuju pintu belakang yang jaraknya memang lumayan jauh untuk kelas mereka yang berada dipojok dan sekolah yang luas. Rio ikut keluar tak lama setelah Alify. Ia mengirim pesan ke Mamanya sebelum menuju parkiran yang tepat berada di samping gedung kelas mereka. Mama ❤ •Rio pulang bawa temen ke rumah. •Perempuan. •Mama jangan macem-macem ya. ○Ya ampun, Yo! ○Kok dadakan sih? Gak ada makanan di rumah. ○Mama bingung kan mau masak apa! •Jangan berlebihan Ma. •Temen doang, mau ngungsi dia ○Berlebihan gimana? ○Temen pertamamu ini ○Udah ah Mama mau belanja dulu. ○Hati-hati di jalan. Rio berdecak kesal melihat pesan Mamanya itu. Selalu saja ribet jika ada temannya datang ke rumah. Jadi menyesal ia memberitahukannya terlebih dahulu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD