11 - Hide

1152 Words
Rio memberhentikan motornya tepat di garasi rumahnya. Alify turun lebih dulu dan membuka helm yang sebelumnya Rio ambil di motor Malvin. Matanya menatap rumah Rio yang sederhana namun asri. Dari luar saja Alify bisa lihat kalau rumah ini tipe-tipe rumah yang penuh kehangatan didalamnya. Sama seperti rumahnya dulu. "Ayo masuk." Rio berjalan lebih dulu memasuki rumahnya. "Ma! Rio pulang nih." Ujarnya dengan suara yang agak berteriak. "Oh? Sudah datang?" Seorang wanita paruh baya itu menghampiri Rio dan Alify yang baru memasuki rumah Rio. Ia menyambut mereka dengan senyuman yang hangat meskipun ada apron lusuh yang melekat di tubuhnya. "Sore, Tante." Ujar Alify sambil menyalami tangan Mama Rio. "Aduh, panggil Mama aja. Kamu cantik banget, kayak barbie. Mau maunya temenan sama Rio yang dekil gitu." Rio hampir memberikan tatapan protesnya jika saja suara Alify yang tertawa pelan tidak masuk ke telinganya. "Rio anak Mama, loh!" Ujarnya sambil berjalan menuju kamarnya. "Denger aja kamu, sana ganti baju!" Usir Mama Rio. "Aduh tante lupa lagi masak. Kamu duduk dulu gih, nanti kita makan bareng ya." Ujar Mama Rio sambil mengelus tangan Alify dengan lembut sebelum berjalan cepat menuju dapurnya. Alify menatap sekeliling ruang tamu Rio yang rata-rata penuh bingkai foto dan beberapa koleksi pribadi. Ada juga beberapa tanaman hidup yang sengaja disimpan didalam, membuat suasana rumah semakin asri dan sejuk. Alify menyimpan tas nya di kursi tamu Rio lalu berjalan ragu menuju dapur -arah dimana Mama Rio pergi meninggalkannya. "Tan- eh Mama mau aku bantu? Tapi aku gak bisa masak sih." Alify tersenyum malu menyadari dirinya yang bodoh dalam berbasa-basi. Mama Rio juga ikut tertawa mendengarnya. "Sini-sini. Nanti Mama ajarin dikit-dikit." Alify mendekati Mama Rio lalu melaksanakan apa yang disuruh beliau. "Potong-potong wortel sama kentang ini ya. Tapi dikupas dulu luarnya pakai alat ini. Tau kan caranya?" Alify menggeleng. Mama Rio hanya tersenyum lalu mencontohkannya sedikit. "Oh, paham." Setelah itu keduanya larut dalam pekerjaan masing-masing. Mama Rio yang sibuk memasukkan berbagai bumbu dalam masakannya sedangkan Alify sibuk mengupas wortel dan kentang. "Memangnya kamu di rumah tidak pernah bantu-bantu masak, Fy?" Mama Rio membuka obrolan mereka. Alify menggeleng. "Gak pernah, Ma. Bunda gak pernah masak. Bibi yang masak selama ini, tapi bibi udah berenti sejak aku masuk semester 2." "Oh ya? Kenapa?" "Kalau Bunda emang sakit dari sejak nikah sama Ayah. Makanya waktu ngelahirin aku makin parah. Jadi selama ini aku makan masakan bibi. Tapi gak lagi semenjak aku semester 2. Paling beli atau makan di kantin." "Terus Bundamu gimana keadaannya sekarang?" Alify tersenyum membuat obrolan mereka memiliki jeda beberapa detik. "Sehat, soalnya sudah jadi bidadari surga." Mama Rio refleks membalikkan badannya dan menghampiri Alify. "Maaf sayang, pasti itu berat untuk kamu." Ujarnya sambil memeluk Alify. Alify menggeleng. "Gak apa, Ma. Udah lama juga, ngapain berlarut-larut, kan? Nanti yang ada Bunda malah kepikiran." Mama Rio melepaskan pelukannya lalu kembali menuju kompornya yang masih menggoreng. "Sudah berapa lama, sayang?" "Dari SMP kelas 3. Hari terakhir ujian nasional. Masih inget banget padahal udah lama." "Gak lah, sayang. Itu masih baru, maklum kalau kamu masih kangen Bunda kamu." "Tapi Mama salut sama Alify. Diusia yang masih muda kamu sudah bisa mandiri dan dewasa. Gak kebayang kalau Rio ada di posisi kamu. Mama keluar kota 3 hari aja, dia ngerengek minta cepet pulang." Alify terkekeh pelan. "Mungkin aku karena terbiasa aja, Ma. Aku gak se-kuat itu kok." Ujar Alify sambil memberikan wortel dan kentangnya yang sudah berhasil ia potong. "Cuci dulu, Fy." Alify kembali berbalik menuju wastafel dan mencucinya sebelum kembali diberikan. "Kalau bibi kamu pergi sejak semester 2, berarti hampir setahun kamu makan fastfood doang?" Alify mengangguk. "Setahun lebih, Ma. Kadang beli makan lewat ojek online atau masak mie. Atau kalau pacar Ayah lagi main, dia suka masak." "Oh Ayah kamu mau nikah lagi?" "Rencananya gitu. Tapi gak tau deh, semoga aja engga." Mama Rio tersenyum. "Mama ngerti kok. Tapi kamu harus inget juga, kalau Ayah kamu butuh sosok pendamping untuk kehidupannya." "Mama pernah ada diposisi kamu saat itu. Kakeknya Rio nikah lagi. Tapi karena Nenek tirinya baik, ya kita bahagia-bahagia aja." "Karena Tuhan punya caranya sendiri untuk membuat ciptaannya bahagia." Alify terdiam, memilih untuk terus menatap masakan yang hampir matang itu. Perkataan Mama Rio benar. Tapi tetap saja egonya masih menguasai. "Lama banget masaknya." Suara tak sopan milik Rio membuat kedua wanita itu menoleh. "Enak banget kamu ngomong gitu. Coba sini berdiri depan kompor, makin gelap tau rasa!" Jawab Mama Rio dengan nada sarkas. "Alify temenin Rio aja, biar nanti Mama yang susun di meja makan." "Eh gak apa, Ma. Aku bantuin Mama aja." Alify menolak halus. "Gak usah, kamu ke taman belakang sana sama Rio. Ngobrol-ngobrol, siapa tau cocok." "Apa sih, Ma." Respon keduanya dengan kompak dan nada yang tersipu. *** Hujan deras serta angin kencang membuat Alify masih berada di rumah Rio. Padahal jam telah menunjukkan pukul 6 sore, ia telah meminta Malvin untuk menjemputnya tapi kakaknya itu berkata bahwa situasi belum aman. Mama Rio mendekati Alify yang sedang duduk didepan ruang TV sambil memainkan ponselnya. "Nginep aja, Fy. Hujannya lebat banget, pasti lama." Ujar Mama Rio sambil membawa tiga cangkir coklat panas dan meletakannya di meja. "Gak deh, Ma. Aku minta jemput aja, gak bawa baju juga. Besok kan masih sekolah." Tolak Alify halus. "Biasa mabal juga, Lif." Ujar Rio tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. "Kamu ini gak sopan banget ke perempuan! Pinjemin Alify hoodie kamu, kasian dia pasti kegerahan pake seragam." "Hoodie yang mana? Pada gede semua, Ma." "Pinjemin aja sih! Yang baru kalau bisa!" Rio beranjak ke kamarnya dengan malas. Sedangkan Alify hanya bisa tersenyum paksa, tak enak terus merepotkan keluarga Rio. Tak lama ponselnya getar. Ada notifikasi masuk. Gibran ○P ○Lo dimana sih??? ○Ngilang? ○Kabur? •Ngapa? •Kangen lu? ○Najis anjir ○Tadi gue ketemu bokap lu di sekolah. ○Tiba-tiba nonjok gue ○Dikira gue yang ngumpetin lu •BENERAN?? ○Iyalah! Yakali boong. •Sorry Bran.. •Kok bokap gue bisa tau lo?? ○Lo kan pernah disuruh pulang waktu lagi gue bonceng. ○Mungkin dia inget soalnya dia nyamperin gue di parkiran. •Ada Malvin gak disitunya? ○Kakak kelas itu ya? ○Ada. Tapi dia cuma datar aja mukanya •Eh anjir kok gue ngakak ya wkwk •Sorry ya, gue kabur juga disuruh Malvin. •Dia marah karna bokap gue kasar. ○Beneran pacaran lu sama dia? ○Semua orang ngomongin lu anjir. •Kagak lah. •Calon dia •Calon kakak tiri gue ○HAH? ○Yang bener anjing. ○Banyak amat kakak tiri lu. •Gatau, rajin dia bikin wkwk ○Anjir ○Trus lo dimana sekarang? •Dirumah temen gue ○Punya temen lu? •Ada lah, emang temen gue lu doang. •Temen sebangku gue, Rio. •Disuruh Malvin sih ini juga ○Oh yang anak wibu? ○Yaudah lu hati-hati ye ○Takut diapa-apain wkwk •Apa dah •Yoi, sekali lagi sorry ye. ○Santuy ○Jangan kemaleman lu di rumah laki. ○Gatau adab kan lu mah. Wkwk •Tai :) ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD