12 - Seatap Semalam

1129 Words
MALVIN •Malviiiiiiin •Kapan jemputttttt •Udah malemmmm •Gaenak gue sama si Rio •WOYY ○Nanti ○Bokap lo masih sama gue ini ○Ada di rumah gue •Lah?? •Terus gue gimana? •Ke Apart juga aman kali? ○Nginep aja deh ○Besok lo ga masuk aja •Dih? Ga bener. ○Lo juga ga bener. ○Udah nurut. •Kata Rio besok ada remedial •Gue harus masuk. •Bilang aja lah ke Ayah kalau gue nginep kali ya? ○Bego. ○Dia pasti jemput lo lah! •Bilangnya tengah malemm •Eh tapi gue boleh gak ya nginep di Rio? ○Boleh. ○Nanti gue telpon nyokapnya kalau gak dibolehin. •Lo beneran gak bisa jemput gue? •Portalnya ditutup jam 11 katanyaa ○Nanti deh kalau bisa keluar gue jemput. ○Tapi malem banget kayaknya. ○Bilang dulu sama si Rio tapi. •Okee Alify menoleh kepada Rio yang duduk disampingnya. Mereka kini sedang menonton film thriller di kamar Rio atas ajakan sang pemilik. "Yo, gue boleh nginep gak?" Rio menoleh dengan tatapan terkejut. "Ngapain?! Lo cewek, masa nginep di rumah cowok!" "Kata Malvin gue nginep di rumah lo. Dia bisa jemputnya tengah malem palingan katanya." "Bilang dulu deh ke nyokap gue. Kalau dibolehin ya silahkan." "Lo dong yang bilang..." "Males ah! Kan lo yang butuh." "Tapikan itu nyokap lo?" "Ish! Rese banget sih jadi tamu." Setelah berucap demikian Rio bangkit dan pergi keluar kamar. Diikuti Alify dibelakangnya. Terlihat Mama Rio yang sedang duduk menonton televisi dengan sang suami. "Ma, si Alif mau nginep nih." Ujar Rio yang langsung duduk ditengah Papa dan Mamanya di sofa. Sedangkan Alify tetap berdiri disamping sofa. "Ih kamu mah udah gede juga masih aja ngeganggu!" Marah Papa Rio sambil mendorong kepala Rio dengan pelan. "Biarin." Balasnya malah meledek. Alify tersenyum dibuatnya. Ada sedikit perasaan iri melihat Rio yang bisa begitu dekat dengan kedua orangtuanya. Bahkan memiliki waktu untuk berkumpul atau bercanda. "Udah-udah. Sini Alify duduk aja, jangan berdiri gitu." Intrupsi Mama Rio membuat Alify tersadar dari lamunannya dan mematuhi apa yang dikatakan Mama Rio. "Emang belum dijemput, Fy?" "Belum, Ma. Bisanya tengah malem katanya." Jawab Alify. "Loh, tengah malam bisa tapi sekarang gak bisa? Kakak kamu kerja apa memangnya?" Alify berfikir sejenak mencari alasan, sedangkan Rio yang melihatnya hanya menahan tawa, meledek. "Dia dari luar kota, terus katanya macet di Tol. Jadi minta aku untuk nginep dulu. Boleh?" "Oh boleh dong. Gak apa, nginep aja. Ada kamar tamu kok. Besok biar si Rio yang antar kamu subuh-subuh." Ujar Papa Rio yang langsung diprotes oleh anaknya. "Kok aku, Pah?" "Ya masa Papa? Papa mah kerja siang, mau langsung tidur lagi." "Mah?" Rio merajuk. "Udah, nanti sekalian kamu berangkat bareng juga. Susah banget sih nolong temen sendiri." Mama Rio beralih ke Alify. "Ayo tante antar ke kamar kamu. Kayaknya perlu dibereskan dulu." Alify mengangguk, lalu mengikuti Mama Rio menuju kamar yang ada di dekat tangga. Kamarnya terlihat rapih dan dingin, tanda jarang ada yang menempatinya. Semuanya tertutup kain putih agar tak terkena debu. Mama Rio perlahan membuka kain-kain yang menutupi. Dan debu-debu mulai bertebaran karena itu. "Hatchii!!" Alify tidak dapat menahan bersinnya. "Debu ya? Maaf ya, jarang banget ditempatin soalnya." "Eh iya, gak apa Ma, aku cuma sedikit sensitif aja." "Oh kamu alergi debu?" Alify mengangguk. "Tau gitu biar Rio aja yang tidur disini. Kamu biar di kamar Rio." "Eh gak usah, Ma. Kasian Rio nanti." "Gak apa, biarin anak itu. Cuma semalam doang kan?" Alify hanya bisa terdiam ketika Mama Rio yang sudah keluar memanggil anak satu-satunya itu. "Rio.." "Kamu tidur di kamar tamu ya. Alify alergi debu, nanti dia sesak kalau tidur disana." "Lah kok Rio lagi yang kena?" "Ya kan dia teman kamu juga. Kali-kali, Yo." "Gak mau, ah. Kasur di kamar tamu keras." Plakk "Kamu mah komen terus. Udah Alify tidur di kamar Rio, biar Rio di kamar tamu." Ujar Papa Rio setelah memukul tangan anaknya. "Sakit, Pah! Pukul-pukul terus ah!" "Biarin. Biar tau rasa!" "Sana ke kamar tamu, Alify harus istirahat." Alify menatap sungkan sekaligus tak enak kepada Rio yang berjalan dengan menghentakkan kakinya disetiap langkah. Ia segera mengikuti Rio yang berjalan menuju kamarnya dan mengambil beberapa barang untuk dibawa ke kamar tamu. Namun sebelumnya ia membawa bantal dan guling yang ada di kamar tamu. "Lo cuma boleh pake kasur sama kamar mandi. Jangan sentuh atau buka-buka yang lain. Lo juga boleh ke balkon, tapi jangan lupa ditutup lagi pintunya." Alify mengangguk sebelum Rio membawa bantal serta gulingnya keluar dan meninggalkannya sendirian. *** Alify terbangun tengah malam saat mendengar suara ribut di luar. Ia terpaksa bangun dan berjalan menuju lantai satu yang memang terlihat terang dari lantai dua. "Ada apa, Ma?" Alify bertanya ketika melihat Mama dan Papa Rio sudah bersiap dan memakai mantel. Bahkan Mama Rio sudah membawa tasnya. Rio sendiri sedang duduk di sofa dengan muka bantalnya, khas sekali ia juga terbangun dengan keributan ini. "Aduh, maaf ya, Fy. Kami berisik ya? Ini tantenya Rio mau lahiran, suaminya lagi ada kerja ke luar kota. Jadi kami buru-buru mau kesana." Alify mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya gak apa, gak masalah kok, Ma." "Ya sudah kami pergi dulu ya. Kamu baik-baik berdua sama Rio. Rio juga, awas macem-macem sama Alify!" Rio mendelik ke Papanya. "Papa mah Rio terus ah!" Papa Rio tertawa. "Bercanda, Yo. Kamu mah serius mulu." "Sudah ya kami berangkat. Kalian jangan kesiangan besok." Alify dan Rio sama-sama mengangguk. Alify inisiatif mengantarkan mereka sampai luar sedangkan Rio malah melanjutkan tidurnya di sofa. "Nanti tolong tutup pagarnya ya, Fy. Maaf nih." Pinta Mama Rio. "Eh iya gak apa, Ma. Mama sama Papa juga hati-hati, sudah malam." Setelah berpamitan, mobil yang membawa kedua orangtua Rio mulai pergi dari pekarangan rumah. Hari yang masih dini membuat angin malam yang menusuk. Alify segera masuk ke rumah Rio setelah mengunci kembali pagar rumah. Ia melihat Rio yang tertidur meringkuk di sofa. Ia mengunci dulu pintu rumah sebelum berjalan mendekati Rio. "Yo, pindah gih. Nanti lo pegel." Ujar Alify sambil mengguncangkan badan Rio. "Ngghh~" Rio hanya mengerang sambil menyamankan posisinya tanpda berniat bangun. "Rio! Ih! Kebo ya lu?" "Yooo Riooo..." "Anjir gimana ini banguninnya? Pake air gitu ya?" Alify berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air. "Maaf, Yo. Tapi lo gak bangun-bangun." Byurrr "ANJIRR SIAPA SIH!!" Rio langsung membentak saat ia merasakan dingin di bajunya. Iya, Alify malah menyiram air tersebut di punggung Rio, bukan di wajahnya. "So- sorry. Abisnya lo gak bangun-bangun." Rio berdecak kesal dan menatal Alify dengan marah. "Sumpah ya, kalau lo bukan perempuan udah gue tonjok lu!" Rio langsung pergi menuju kamarnya -yang beberapa menit yang lalu dipakai Alify untuk tidur. Lalu menutup pintu kamar itu dengan keras. Alify hanya menatap nanar pintu kamar Rio yang memang terlihat dari lantai satu. "Salah lagi kan gue." "Rio keliatan marah banget tadi. Dia beneran marah gak ya?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD