13 - Ayah dan Anaknya

1262 Words
Rio terbangun saat alarm di ponselnya berbunyi. Ia segera mematikannya dan melihat kearah jam yang ada di dinding kamarnya. Selagi ia mengumpulkan nyawa, otaknya mengingat-ngingat apa yang sebelumnya terjadi. "Anjir gue harus nganterin si Alif ya." Gumamnya sebelum berangkat menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti ketika ia hendak mengambil handuk yang tergantung di dinding. "Eh harusnya kan si Alif tidur disini." Rio baru sadar kalau ia tidur di kamarnya. Bukan di kamar tamu. Ingatan Rio seketika terkumpul sempurna saat mengingat terakhir kali apa yang ia lakukan. Ia segera berlari keluar kamarnya dan menuju lantai bawah. "Lif? Alify??" Rio membuka kamar tamunya, namun isinya kosong. Ia melihat ke sofa yang semalam ia tiduri sebentar, namun sepi dan rapih. Langkahnya membawanya ke dapur, tapi tetap saja tidak ada siapa-siapa. Rio kembali berlari menuju kamarnya dan membuka ponselnya. Disana ia mendapat beberapa pesan dari teman sebangkunya itu. Alif y ○Yo? ○Lo marah ya? Maaf ya kalau gue gak sopan. ○Gue gak tau harus gimana bangunin lo saat itu, jadi milih guyur lo pake air hehe. ○Gue balik duluan ya. ○Sorry lagi nih gak pamit. ○Makasih tumpangannya, ortu lo baik banget. Perut gue juga kenyang hehe. ○Sorry sekali lagi. ○Nanti ketemu deh di sekolah. Rio tersenyum membaca pesan Alify yang entah lucunya darimana. Setidaknya pesan itu membuatnya lega dan bisa kembali melangkah ke kamar mandi dengan ringan. *** Alify duduk dibangku samping Gibran untuk melihat keadaan temannya itu. Memang benar, pipi Gibran terlihat lebam tanda bahwa yang ia katakan kemarin tidak bohong. Namun pemuda itu justru menganggapnya enteng seolah itu hal yang biasa. "Gue denger-denger lo makin deket sama kakak tiri lu?" Gibran bertanya ketika keduanya cukup lama terdiam. "Yang mana? Calon kakak tiri gue ada tiga masalahnya." Gibran tertawa. "Kak Malvin, kakak kelas." "Oh, Malvin. Dia emang yang paling deket. Tapi sama yang lainnya gak pernah kontakan lagi. Pada sibuk kerja mungkin?" Gibran mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh ya, besok anak-anak mau sparing katanya." "Dimana?" "Lapangan indoor pusaka. Pulang sekolah. Mau ikut? Kalau mau besok gue bawa helm kuning." Alify tertawa sesaat ketika mengingat helm kuning Gibran yang selalu dipakainya. "Pengen ikut, tapi gimana besok deh. Bokap gue kan nikah bentar lagi. Terus Malvin juga sering nganter pulang gue terus. Nanti deh gue kabarin lagi." "Oke, paling lambat ntar malem ye." Alify mengangguk. "Gue balik kelas deh ya. Kalau bokap gue macem-macem lagi bilang gue aja. Oke?" Gibran hanya mengacungkan jempolnya sampai Alify beranjak meninggalkan kelasnya. Setelah itu, Alify pergi menuju kelas Malvin yang hanya berbeda beberapa kelas dari kelas Gibran. Namun langkahnya terhenti ketika menemukan Malvin yang memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa ia artikan. Baru selangkah Alify mendekat, Ayahnya muncul dari dalam kelas. "Alify!" Panggil Ayahnya yang sukses membuat para siswa yang berada diluar menoleh padanya. Alify mendecak kesal. Malu. Ayahnya memalukan. "Apa? Kalau Ayah mau tanya aku kemana jangan disini deh, malu." Jawab Alify tak kalah nyaring. "Masuk mobil. Kamu ijin hari ini." Ujar Ayahnya telak sebelum beranjak menarik tangan Alify menuju parkiran. *** "Alif belum datang?" Rio bertanya kepada Dio tepat saat dirinya sampai di kelas. Dio menggeleng sebagai jawaban membuat Rio mendesah kecewa sekaligus khawatir. "Emang kenapa? Bukannya kemarin balik ke rumah lo?" "Iya, tapi kan dia pulang ke rumahnya untuk berangkat sekolah." Dio membenarkan lalu wajahnya berubah menjadi santai. "Ah paling mabal dia. Udah biasa Alify gitu. Santai aja, Yo. Jangan khawatir." "Bukan khawatir sih, tapi ada yang mau gue ucapin. Tapi emang kemarin dia ada niat mabal sih." "Tuh kan, santuy Alify mah. Makanya gue suka." Balas Dio yang langsung membuat perut Rio terasa mual. "Pengen muntah gue dengernya." Ujarnya lalu duduk dibangkunya. "Guys guys guys guys ada berita HOT paling HOT yang baru terjadi beberapa menit yang lalu!!!" Seorang siswi masuk kelas membuat semua teman sekelasnya menatapnya. "Guys, kalian harus tau. Kalau teman kita, ALIFY GUNAWAN. Confirmed putri tunggal dari GNW Corp! Anjirr kita punya temen holkay!!" Ujarnya heboh. Semua murid sontak bertanya dan tak percaya. Namun ada beberapa yang ikut heboh dan mulai merencanakan pertemanan. Dio memutar badannya menghadap Rio yang juga menatapnya. "Lo udah tau?" Rio menggeleng. "Lo?" "Sama." "ANJIR GUE SUKA SAMA PENERUS GNW CORP?! ORANG TERKAYA NOMER 10 DI INDONESIA?!" Dio berteriak heboh ketika menyadari hal itu. "Anjir bener. Kita sekelas sama putri dari orang terkaya nomer 10 di Indonesia. Harus tumpengan ini." "Baik-baikin si Alify woy mulai dari sekarang. Siapa tau dia niat jajanin kita di kantin setaun full." "Anjir bangkrut yang ada. Gue aja gak pernah liat dia ke kantin." "Bener, dia kalau istirahat ke kelas si Gibran doang." "Gak level kali holkay ke kantin wkwk." "Bener kan kata gue waktu itu. Kalau dia anak GNW Corp." "Yoi, cenayang ya lu?!" "Besok-besok uang kas si Alify gue naikin ah, jadi 50 ribu." "Minta beliin AC aja kalau dia gak piket." "Yoi, kalau bisa minta beliin karpet atau sofa ke dia." "Tapi nyadar gak sih dia aja handphonenya bukan Iphone?" "Yoi, hp dia cuma samsung J anjir." "Merendah untuk meroket dia mah." Ditengah keributan dan kehebohan itu, hanya Rio yang terdiam. Ia termenung, memutar kembali ingatan-ingatannya bersama putri pemilik GNW Corp itu. "Gue yang paling unggul berarti." "Rumah gue pernah ditinggalin anak holkay no 10 di Indonesia. Motor gue pernah didudukin dia juga. Gue duduk sebangku sama dia. Tapi yang paling penting-" "Gue pernah dicium sama dia." Rio menggumamkan kata-kata tersebut diantara kehebohan yang masih menyeruak di kelasnya. *** Alify dibawa ke salah satu restaurant ternama yang ada di kotanya. Ia masih menggunakan seragam yang kini telah dilapisi jaket. Ayahnya benar-benar tidak membiarkannya pergi dan terus memperhatikannya bahkan saat ia meminta ijin ke wali kelasnya terlebih dahulu. "Ayah mau ngomong apa?" Alify membuka pembicaraan mereka dengan nada yang dingin. Dihadapannya sudah tersaji secangkir kopi dan segelas s**u. Keduanya sama-sama dingin, takut-takut mereka kembali tersulut emosi. "Ayah minta maaf. Ayah mengaku salah sudah menampar kamu." "Salah Ayah bukan nampar aku doang." Alify memotong pembicaraan mereka. "Iya, Ayah salah banyak. Makanya Ayah minta maaf untuk semua kesalahan yang pernah Ayah perbuat. Ayah sudah lalai menjaga kamu dan mengingkari janji kecil kita. Kamu mau maafin Ayah?" Alify tersenyum sinis. "Ayah masih inget janji kecil kita?" "Tentu. Kita keluarga dan akan selalu bersama disaat susah maupun senang. Bahkan disaat salah satu diantara kita pergi, tak akan ada yang menggantikan." Gunawan dengan lancar mengungkapkan janji itu. "Tapi Ayah menemukan pengganti Bunda, kan?" Ujar Alify dengan suara yang gemetar. Ia menahan tangisnya lagi. Ia begitu lemah jika harus mengungkun tentang Bundanya. Gunawan mengangguk. "Walau tidak sepenuhnya benar." Gunawan meraih kedua tangan putrinya itu dan menggenggamnya erat saat Alify sudah akan memberontak. "Kamu dan almarhum Bunda, punya tempat yang special di hati Ayah. Tempat yang kokoh dan megah seperti istana kerajaan." "Tante Sarah, Riel, Cakka ataupun Malvin, tidak akan bisa masuk kesana. Mereka juga punya tempatnya sendiri, Fy. Semua sudah Ayah letakkan ditempatnya masing-masing. Kamu mengerti?" Gunawan menjelaskan hal itu dengan hati-hati dan suara yang lembut. Membuat air mata Alify semakin deras. "Jangan nangis. Kamu katanya nakal di sekolah?" Alify menggelengkan kepalanya lalu menghapus air matanya dengan cepat. "Aku terharu Ayah masih inget Bunda." Gunawa tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menggeserkan kursinya lalu memeluk anaknya dengan hangat. Menenggelamkan wajah putrinya kedadanya dan sesekali mengecup puncak kepalanya. "Ayah selalu ingat Bunda, nak. Kamu sangat mirip dengan Bundamu, bagaimana Ayah bisa lupa?" Hari itu, keduanya menghabiskan waktu untuk kembali bersama. Meluruskan kembali benang-benang kusut yang menjadi penghubung diantara kedua hati mereka menjadi benang yang lurus. Tidak akan pernah ada yang tau memisahkan lagi. Karena sejatinya, mereka memiliki darah yang sama. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD