Alify sudah menceritakan semua yang ia alami kemarin dan Gunawan berusaha untuk memaklumi itu mengingat keluarga teman anaknya sangat menjamu Alify dengan baik. Bagaimanapun ia ingat jika ini salah satu akibat dari kemarahannya yang sangat melukai hati putri semata wayangnya itu.
Kini keduanya ada didalam mobil. Menuju suatu tempat yang sepertinya masih asing menurut Alify.
"Kita makan di rumah tante Sarah ya?"
Alify mendelik kesal. "Kenapa gak bilang dulu? Kita baru baikan loh?!"
Gunawan tersenyum menanggapi protes anaknya. "Tante Sarah yang ajak, Ayah lupa bilang. Lagipula didalamnya ada Malvin juga kok."
Mendengar hal itu, Alify mengangguk. "Ya sudah, oke."
Keduanya turun dari mobil ketika mesin itu telah berhenti tepat depan garasi. Sarah tersenyum menyambut mereka. Bercipika-cipiki dengan Ayahnya sebelum memeluk dan merangkulnya.
"Ayo masuk, Tante masak banyak untuk kamu." Ujarnya dengan senyum seperti biasa.
Alify hanya bisa diam menurut walau ekspresinya masih sedikit kesal.
Ruang makan itu sudah diisi oleh tiga pria yang wajahnya tidak asing untuk Alify. Gunawan langsung menyapa ketiganya dan dibalas oleh mereka, kecuali Malvin yang malah melemparkan senyum akrabnya ke Alify.
"Sini, Fy." Malvin menunjuk kursi kosong yang ada disampingnya.
Dengan senang hati, Alify langsung berjalan menuju Malvin dan duduk tepat disamping pria itu. Membuat empat pasang mata menatap kearah mereka. Pasalnya, Alify menyunggingkan senyum bahagia diwajahnya yang selama ini -Gunawan pun baru melihatnya.
"Gimana tadi?" Tanya Malvin.
"Nanti gue ceritain deh, habis makan."
"Oke, ke kamar gue ya."
Alify mengangguk.
"Kalian akrab banget. Sejak kapan?" Riel bertanya kepada adik bungsunya itu. Ia baru saja pulang setelah beberapa hari pergi keluar kota dan terakhir bertemu mereka saat ia dikeroyok saat itu.
"Semenjak pertama ketemu. Langsung klop aja, gitu." Jawab Alify mewakili.
Riel masih memandang keduanya penuh curiga. Pasalnya, kedua adiknya ini memiliki sifat yang sama dan akan celaka jika di satukan.
"Kalian jangan macam-macam ya! Ingat, Kakak kalian itu Polisi dan pengacara!" Ujar Riel memperingati.
"Sudah sudah, kamu ini terlalu protektif ke adik kamu. Biarin, asal kita percaya ke mereka, pasti mereka gak akan mengecewakan kita." Tante Sarah itu menengahi.
"Ayo makan, nanti lauknya keburu dingin." Lanjutnya sambil mengambilkan nasi untuk Gunawan.
"Lo mau apa? Biar gue ambilin." Ucapan Malvin yang ditujukan untuk Alify membuat keempat pasang mata itu menatap kearah mereka.
"Sayur dong."
"Mau diet lu? Halah, badan cungkring mau diet. Biar jadi apa? Lidi?" Ejek Malvin namun tetap menuruti permintaan calon adiknya itu.
"Apaan sih! Gue belum selesai ngomong. Gue mau sayur sama ikan asam manisnya." Lanjut Alify dengan nada bercanda.
Malvin tertawa menanggapi. Entah mengapa keduanya menjadi tertawa bersama dan sesekali bercanda. Memberikan rasa heran kepada empat pasang mata yang memperhatikan keduanya.
"Cakka hari ini gak ada sidang?" Gunawan sengaja membuka pembicaraan agar yang lain tidak terlalu fokus terhadap Alify.
Cakka menggeleng. "Kan memang sudah sengaja, Yah. Khusus hari ini minta kosongkan jadwal."
Gunawan mengangguk. "Ayah kemarin sempat lihat kamu loh di tv. Keren kamu bisa memenangkan kasus itu."
Cakka tertawa. "Biasa kalau yang itu, Yah. Kebetulan pernah nanganin yang serupa, jadi tau titik lemahnya kayak gimana."
"Hebat nih anak Ayah." Ujar Gunawan dengan senyum bangganya.
"Kalau Riel? Kemarin lancar aja di luar kota?"
Riel mengangguk. "Sempat ricuh sih, tapi karena personil polisi makin banyak jadi bisa diredakan."
"Sempat lempar gas air mata?"
"Iya, tapi gak banyak kok. Cuma mancing biar sedikit menjauh dari lokasi aja. Bahaya soalnya, banyak yang bawa benda tajam."
"Banyak dong yang diringkus?" Tanya Gunawan masih penasaran.
"Sekitar 11 orang. Tapi itu kan tugas polisi setempat, jadi Riel langsung boleh pulang." Jelas Riel yang diangguki oleh yang lain kecuali kedua adik bungsunya.
Sarah yang lebih dulu sadar, menyenggol lengan Gunawan yang ada disampingnya. Ia memberi kode untuk melihat kearah Malvin dan Alify yang sedari tadi asik sendiri.
Disitu, Malvin tengah memisahkan duri-duri ikan di piringnya. Hal biasa memang, tapi yang luar biasanya adalah Malvin tidak menyukai ikan.
Disampingnya, Alify ikut fokus memperhatikan tangan Malvin yang melepaskan duri ikan satu-persatu. Setelah dirasa bersih, Malvin memindahkan ikan itu kepada piring Alify.
"So sweet banget, dek." Celetuk Cakka yang membuat keduanya mengangkat kepala.
"Kenapa?" Tanya Alify dengan ekspresi bingungnya.
"Kalian kayak orang pacaran, bukan adik-kakak." Jelas Cakka.
"Ya kalau Ayah sama tante Sarah gak jadi nikah, kita pacaran ya, Vin?"
Malvin mengangguk. "Tapi dalam mimpi."
Plakk
"Aduh! Sakit!" Ringis Malvin ketika Alify memukul lengannya.
"Gak rame lo mah!" Rajuk Alify yang malah ditertawai Malvin dan yang lainnya.
"Oh ya, habis makan kalian ikut kita ya. Kita fitting baju." Ujar Gunawan namun matanya menatap Alify yang masih fokus makan.
"Kamu bisa kan, Fy?"
Alify mengangguk sekedarnya. Mulutnya masih penuh makanan dan tangannya sibuk dengan ikan dipiringnya.
"Tapi gak lama. Aku ada janji sama Gibran, Yah."
"Mau kemana?" Malvin, Riel dan Gunawan kompak bertanya.
"Nonton bola, temen gue tanding."
"Yaudah nanti gue anterin habis fitting." Ujar Malvin cepat.
"Gak ada, biar abang yang antar Alify. Nanti abang bawa mobil sendiri." Riel memotong ucapan mereka.
"Gue aja, Bang. Lagian temen Alify tanding sama temen gue kok. Di lapangan pusaka kan?"
Alify lagi lagi mengangguk. Riel hanya bisa mengalah. Bagaimanapun ia masih ingat ucapan gurunya yang menyuruhnya untuk membuat Alify nyaman. Dan Malvin adalah contoh telak untuknya yang berhasil membuat Alify nyaman.
***
"Gimana?" Alify memperlihatkan gaunnya yang model terbuka. Belahan d**a yang rendah dan bahu yang terbuka membuat keempat pria dihadapannya menggeleng kompak.
"Gak cocok."
"Terlalu terbuka."
"Terlalu pressbody."
"Terlalu enak dilihat."
Yang terakhir itu perkataan Malvin yang langsung dijitak oleh Cakka.
Alify mendengus, lalu kembali masuk ke fitting room. Disana ada Sarah yang masih mencoba gaun pernikahannya.
"Ditolak ya?" Tanyanya ditengah para pegawak yang sibuk mengepaskan gaun untuknya.
Alify mengangguk. "Ribet banget punya empat cowok."
Sarah tertawa. "Sabar ya sayang." Ujarnya dengan lembut.
Alify hanya mengiyakan. Lalu mencoba baju selanjutnya.
"Kali ini gimana? Gak pressbody kan?" Tanya Alify dengan senyum yang mengembang. Ia cukup suka dengan gaun kali ini karena bawahnya yang bermodel lebar.
"Bahu sama punggung kamu keliatan gitu."
"Iya, setuju sama Ayah."
"Gak jauh beda dari yang pertama rasanya."
"Belahan d**a lu terlalu keliatan, Fy."
Alify lagi-lagi mendengus. "Ganti lagi, nih?"
Keempatnya mengangguk serempak.
Alify memutar tubuhnya dan berganti pakaian lagi.
"Gimana? Belahan dadanya udah ketutup nih." Ujar Alify sambil memamerkan gaunnya.
Ayahnya menggeleng. "Belahan pahanya terlalu tinggi."
"Ganti!"
Malvin hanya bisa tertawa melihat adiknya itu dengan muka yang seperti tersiksa.
Alify kembali mengganti pakaiannya di fitting room. Ini sudah gaun ke-empatnya. Bayangkan saja kakinya sudah lelah bolak-balik.
Alify keluar dari fitting room berbarengan dengan Sarah yang memakai gaun pengantin berwarna putih. Keempat lelaki dihadapan mereka sama-sama memandang takjub.
"Kalian berdua cantik, kayak bidadari dari khayangan." Ujar Riel yang membuat Sarah tersenyum sedangkan Alify mengangkat dagunya sombong.
"Emang gue cantik dari lahir. Jadi setuju kan sama gaun yang ini?"
"Setuju dong. Kasihan Alify dari tadi gonta-ganti terus." Ujar Sarah membela calon putrinya.
Alify menatap keempatnya penuh harap. Gaunnya memang sangat bagus dan terlihat elegan. Terbukti dari harganya yang lumayan mahal. Tapi tak apa, dia putri dari orang terkaya ke-10 di Indonesia.
"Bagus-bagus. Terlihat elegan. Ayah setuju."
"Abang juga. Gak terlalu terbuka kayak yang sebelumnya."
"Kakak juga setuju aja. Keliatan mewah gaunnya."
Pandangan Alify beralih pada Malvin yang masih memperhatikannya. "Gimana, Vin?"
"Mm... Bagus sih. Tapi gue baru inget deh."
"Apa?" Tanya yang lainnya kompak.
"Bukannya nuansa pernikahannya nanti warna biru ya? Dekorasi dan baju kita juga warna biru, kan?"
Alify hampir melemparkan vas bunga yang ada disampingnya jika saja salah satu pegawai disitu tidak melihatnya. Ayahnya, Riel dan Cakka hanya tersenyum bodoh meminta maaf. Sedangkan Malvin sibuk menertawainya habis-habisan.
"Kalian tuh ya!! Awas aja! Nanti di hari pernikahan, gue pakai kemeja biru! Liat aja!! Yang komen gue tampar sampai memar!!"
***
Alify duduk memojok dari Malvin yang ada disebelahnya. Ia masih kesal dengan perihal gaun tadi. Sudah cape-cape ganti ternyata ia salah warna?! g****k! Ingin sekali Alify memaki itu didepan Ayah dan Kakak-kakaknya.
"Masih marah, Fy?" Tanya Malvin yang mulai merujuk Alify untuk tidak marah.
"Diem deh! Gue dorong lo sampe kaca mobil pecah! Mau?!" Jawabnya ganas.
"Jangan gitu dong, Fy. Abang lo itu polisi loh. Mau dipenjara?"
"Bodo amat." Alify kembali memalingkan wajahnya menatap keluar jendela mobil.
"Maafin Ayah dong, sayang. Kamu deh yang ngatur kita mau kemana habis ini. Sekalian kamu juga yang pilih restoran." Tawar Ayahnya yang berhasil membuat Alify menoleh.
"Bener?"
"Iya, sayang. Yang lain setuju, kan?"
Sarah, Riel, Cakka dan malvin mengangguk setuju. "Iya, sebagai permintaan maaf kita."
Alify berfikir sejenak. "Oke. Puter balik, aku mau beli bunga dulu."
***