15 - Berkunjung

1103 Words
Gunawan menelan ludahnya ketika Alify menyuruhnya untuk berhenti tepat didepan pemakaman. Ia tidak bodoh untuk menerka maksud dan tujuan anaknya itu membawa mereka kesini. "Ayo turun!" Alify membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu. Sarah yang melihat calon suaminya itu terdiam dan tampak berkeringat mencoba menyentuh tangannya. Ia menatap ke anaknya yang masih terduduk dibelakang. "Kalian keluar duluan ya." Ujarnya dengan senyuman. Setelah dirasa ketiga anaknya sudah turun, Sarah mulai membuka suaranya. "Mungkin sudah waktunya aku dikenalkan, Mas. Kamu gak perlu takut. Gak ada yang perlu ditakutkan disini." Gunawan menunduk. "Maaf kalau nanti kamu sakit hati." Sarah menggeleng. "Aku paham bagaimana rasa dari seseorang yang dipisah maut dan dipisah perceraian." "Ayo, turun. Lihat, Alify sudah masuk ke area pemakaman." Sarah menggandeng lengan calon suaminya itu. Ia sesekali meremas tangan Gunawan, bermaksud menguatkan bahwa ia terus berada disisinya. "Bunda, Alify datang. Sama Ayah dan Calon-calonnya." Perkataan Alify semakin menohok untuk Gunawan. Jika ia boleh memilih, ia ingin pergi dari situ. Pertahanannya sangat tipis kali ini. Malvin berjongkok disamping Alify yang menunduk memainkan buket bunga yang telah diletakkannya. Ia ikut menaburkan bunga dan mencabut rerumputan. "Yang bersihin tempat Bunda ini namanya, Malvin. Dia baik banget sama aku. Kalau yang berdiri disana namanya Riel sama Cakka. Mereka polisi dan Pengacara loh, Bun. Hebat kan kakak-kakak aku?" "Ada Ayah juga sama Tante Sarah. Tapi aku yakin Ayah pasti gak akan kuat kalau harus bicara dihadapan Bunda gini." Alify mendongak, menatap Ayahnya dan Sarah yang sudah ada didepannya. "Maafin aku ya, Yah, Tante. Tapi aku fikir kapan lagi aku bisa kenalin kalian?" "Gak apa, sayang." Balas Sarah masih dengan kelembutannya. Alify ikut tersenyum dibuatnya. "Bunda bisa lihat kan gimana Tante Sarah? Tante Sarah bentar lagi akan jadi ibu aku. Kata Ayah sih, kita tetap punya ruang sendiri dihati Ayah. Hebat ya, Ayah hatinya pasti besar banget bisa punya banyak ruang untuk anggota keluarganya." Alify terdiam sejenak. Berusaha menahan air matanya sebelum akan tumpah. Ia tidak ingin kelemahannya terlihat. "Aku udah restuin Ayah sama Tante Sarah." "Aku juga akan panggil tante Sarah 'Ibu' setelah kalian resmi." Malvin mengelus pundak Alify ketika adiknya itu menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan tangaisannya. Ia membisikkan kata-kata penenang agar isakan Alify sedikut mereda. Gunawan? Jangan ditanya. Ia juga sudah menangis. "Maaf. Maafin Ayah, Bun." Sarah mengelus punggung calon suaminya itu. Ini kali pertamanya melihat Gunawan menangis setelah mereka menjalin hubungan hampir setahun. "Ayah gak nempatin janji, Ayah ke Bunda. Ayah jarang ngunjungin, Bunda. Bahkan Ayah gak tau kalau anak kita masih sering kesini. Maaf.. hiks." "Mas.." Sarah terus menenangkan Gunawan yang masih terisak. Matanya juga ikut berkaca-kaca, terbawa kesedihan keluarga calon suaminya itu. Gunawan berusaha meredakan tangisnya sebelum melanjutkan ucapannya kembali. Ia mengelus nisan istrinya itu dengan sayang. Tangan kirinya menggenggam tangan Sarah dengan erat. "Ayah mau ngenalin Sarah ke Bunda. Dia baik, sama kayak Bunda. Ayah yakin kalau Sarah bisa jagain Alify. Bisa didik Alify lebih daripada Ayah. Ayah minta restu Bunda ya." Gunawan menatap Sarah yang juga menatapnya sambil tersenyum. Alify yang melihatnya kembali mengeluarkan air matanya. Entah mengapa masih ada rasa tak rela walaupun itu hanya sedikit. Sarah dan anak-anaknya bergantian untuk mendoakan Bunda Alify serta menaburkan bunga. Alify masih terisak, namun kini gadis itu berada dirangkulan Ayahnya. Setidaknya ia sudah lega. Ia berhasil membawa Ayah dan calon keluarganya bertemu dengan Bundanya. *** Suasana di mobil tentu akan canggung mengingat moment menyentuh tadi. Alify duduk dengan kepala yang menoleh keluar jendela. Matanya sembab. Disampingnya masih setia Malvin yang terkadang mengelus rambutnya atau menggenggam tangannya. Sedangkan Gunawan kembali fokus menyetir. Sarah juga terkadang membuka obrolan agar Gunawan terus fokus menyetir. Padahal tadi Riel telah menawarkan dirinya untuk menyetir, namun Gunawan tolak. Riel dan Cakka hanya sama-sama bungkam. Keduanya cukup dewasa untuk mengerti situasi ini. Keadaan yang hening atau ibunya yang terkadang membuka pembicaraan. "Aku mau makan seafood." Ucapan Alify membuat yang lainnya menoleh. Namun Alify masih memalingkan pandangannya keluar jendela. "Oke, kita makan seafood yang deket hotel ya." Jawab Sarah masih berusaha mencairkan suasana. Yang lainnya hanya mengangguk menyetujui. Ini adalah perjalanan tertegang mereka sejauh ini. *** Malvin terlihat lebih diam kali ini. Ia masih menghargai Alify yang mungkin masih sedih setelah bertemu Bundanya. Bagaimanapun ia paham jika kelemahan Alify adalah Bundanya. Sebuah tangan mengamit lengannya ketika mereka sedang berjalan memasuki restaurant. Alify menatap Malvin yang menatapnya dengab tatapan terkejut. "Bantu cairin suasana lagi. Gue udah gak sedih kok." Ujarnya pelan. Hati Malvin sedikit lebih lega mendengarnya. Ia tersenyum dan menggisak puncak kepala Alify. "Siap, princess!" Malvin benar-benar mengabulkan permintaannya. Buktinya saat mereka duduk meja restaurant, pria itu kini sedang bertanya-tanya hal tak penting bahkan kadang melayangkan lelucon. "Yah, habis ini boleh ke timezone?" Pertanyaan Malvin membuat semuanya menoleh. "Inget umur, Vin. Kamu hampir lulus sekolah loh!" Tegur Cakka yang disetujui Riel. "Timezone gak ada batasan usia kali. Kalian juga masih boleh. Ayok kita duel basket nanti disana." "Lo mau kan, Fy?" Tanya Malvin memastikan. Alify mengangguk. "Boleh-boleh. Udah lama juga gak kesana." "Gue jago basket loh. Gimana kalau taruhan?" Usul Alify. "Gak ada taruhan taruhan. Kamu memangnya punya uang dari mana?" Ujar Ayahnya membuka suara. "Yang kalah jajanin eskrim, Yah. Gak perlu yang mahal." Tambah Alify. "Setuju! Awas ya gue kalahin kalian semua!" Tekad Malvin yang dibalas tatapan meremehkan dari Alify. "Silahkan!" "Hush! udah udah kalian makan dulu. Biar ada tenaga untuk main nanti." Lerai Sarah yang tumben dituruti semuanya. *** Riel, Cakka, Malvin dan Alify duduk berdampingan disalah satu kursi yang ditempatkan ditengah mall. Dimasing-masing tangan mereka sudah ada es krim yang tengah mereka nikmati. Sedangkan kedua orang tua mereka tengah pergi berbelanja entah kemana. Katanya ingin membeli hantaran atau keperluan nanti. "Fy." Panggil Malvin yang hanya dibalas dehaman oleh Alify. "Lo kan udah restuin Bokap lo, nih. Berarti lo bakal manggil kita-kita Abang sama Kakak dong?" Tanya Malvin. Alify terdiam sejenak. Lalu menolehkan perhatiannya ketiga abang yang berada disampingnya. "Nanti kalau udah resmi. Gue panggil Riel, Abang. Panggil Cakka, Kakak. Tapi kalau lo tetep Malvin." Jawab Alify santai dikalimat terakhirnya. "Gitu ya lo. Gue lebih tua anjir!" "Malvin..." Alify memeletkan lidahnya ketika Riel menegur Malvin karena umpatannya. "Biarin lah. Hak gue." Malvin berpura-pura ngambek. Ia menyenggol adiknya itu dan melanjutkan ucapannya. "Gue dari dulu pengen punya adik sebenernya. Pengen dipanggil Kakak atau Abang. Eh sekalinya punya malah yang kayak lo. Senengin gue kek sebelum gue sibuk kuliah nanti." Dan perkataan Malvin membuat Alify tersadar jika waktunya dan Malvin akan terbatas. "Bisa gak lo gak kuliah di Bali aja?" Malvin tertawa tanpa melihat perubahan raut adiknya itu. "Gak bisa lah! Orang gue udah keterima disana." Alify langsung mengalihkan pandangannya. Entah kenapa perkataan Malvin barusan sangat menusuk hatinya hingga pertahanannya hampir hancur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD