22 - Serangan

1095 Words
Alify berlari ketika ia melihat beberapa temannya didepan sebuah ruangan di rumah sakit. Ia langsung ikut bergabung dengan wajah paniknya sejak ia membaca pesan yang dikirim oleh Juna. "Gimana Gibran?" Tanyanya. "Kata dokter dia keracunan. Tapi hasil tesnya baru keluar besok." Alify mengurut keningnya. "Kok bisa?" Juna menjelaskan, "Tadi kita lagi nongkrong di salah satu club. Terus waktu Gibran minum, dia langsung jatuh gitu aja. Sedangkan yang lain belum sempat minum, kita baru ngerokok doang. Makanya cuma Gibran yang kena." "Terus? Kenapa lo bisa nuduh anak Bima?" "Tadi yang lain cek cctv yang ada disana. Dan bener aja ada yang masukin sesuatu ke minuman kita. Waktu gue liat wajahnya, ternyata itu anak Bima yang nyerang kita kemarin." Alify berdecak kesal. "Anjing emang!" Juna menepuk pundak Alify sekedar menenangkan. "Sabar, Fy. Anak-anak lagi pada datengin mereka kok. Kita disini fokus sama Gibran aja." Alify mengangguk setuju. Kemudian ia berjalan untuk duduk di salah satu kursi tunggu yang ada disana. Kepalanya ia sandarkan pada tembok yang ada dibelakangnya. Dalam hati ia merapalkan doa untuk kesembuhan teman terdekatnya itu. "Nih, Fy. Minum dulu." Juna menyodorkan sebotol air mineral kepadanya. Alify membuka matanya lalu menerima itu. "Makasih, Jun." Juna mengangguk. "Udah lo jangan khawatir, gue yakin itu bukan sianida kok. Gak mungkin mereka nekat sampai bunuh orang." Alify hanya mengangguk dan mengaminkan dalam hati. Semoga ucapan Juna benar adanya. *** Malvin mengetuk pintu kamar adiknya yang terkunci itu. Ia mengernyit heran, sudah hampir satu menit ia mengetuk namun tidak ada tanggapan. Malvin turun menemui Ibunya yang berada di dapur. "Alify mana, Bu?" Sarah mendongak kearah Malvin yang tiba-tiba berada di kursi makan. "Loh kamu sudah pulang?" "Iya, tadi salam cuma Ibu gak denger kayaknya." Jawab Malvin. "Terus Alify mana?" "Tadi sih bilangnya ada temannya yang masuk rumah sakit. Dia buru-buru banget tadi, khawatir banget sampai lari." Malvin mengernyit. "Beneran?" "Iya, Malvin. Masa Ibu bohong?" Iya juga sih, Malvin jadi bingung. Ia mencoba menelfon adiknya itu, namun tak diangkat. Ia juga sudah mengirimnya beberapa pesan, namun belum dibaca. "Alify sudah lama perginya?" Sarah mengingat sejenak. "Lumayan. Sekitar jam 10an." Malvin menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu berjalan gontai menuju sofa di ruang TV. Sarah yang melihat anaknya lesu seperti itu hanya menggelengkan kepalanya. Tak habis fikir jika anaknya yang selama ini selalu keras kepala mampu bertingkah demikian. *** Hari sudah berganti malam saat Alify memasuki rumahnya dengan rambut yang basah. Ia sempat kehujanan saat perjalanan menuju kemari. Bahkan jaket yang ia pakai pun dipinjamkan oleh Juna yang masih berada di rumah sakit. "Loh? Alify sudah pulang? Sudah makan?" Tanya Sarah beruntun ketika melihat satu-satunya anak gadis yang ia miliki itu telah menunjukkan batang hidungnya. Alify melepas jaket tebal yang melindunginya selepas diperjalanan menuju rumah. "Malvin mana, Bu?" Tanya balik Alify yang menghiraukan pertanyaan milik Sarah. "Ada di kamarnya. Sana gih susulin, tadi sepulang ujian dia nanyain kamu." Alify mengangguk lalu berpamitan. "Ya udah, aku kesana dulu." Sarah menganggukkan kepalanya. Ia segera balik menuju dapur untuk menyiapkan makan malam mereka. Alify mengetuk pintu kamar Malvin walau pintunya memang tak tertutup rapat. "Masuk." Perintah dari didalamnya. "Vin?" Malvin yang sedang belajar di meja belajarnya seketika mendongak. "Alify? Akhirnya lo pulang.." Malvin mendesah lega. Alify tersenyum kecil lalu menghampiri kasur Malvin dan duduk diatasnya. "Dari mana?" Tanyanya. "Rumah sakit." "Siapa yang sakit?" "Gibran. Diracun sama anak Bima, Vin." Ujar Alify yang membuat Malvin mengernyit heran. "Anak Bima? Terus gimana kondisinya? Mau lapor polisi?" Alify menggeleng tak tahu. "Tadi sudah sadar sih, kata dokter gak terlalu parah." "Tadi ada yang ngejar, tapi gak dapet. Gue gatau mau lapor atau engga. Kita semua nyerahin ini ke keluarganya Gibran." Malvin menganggukkan kepalanya. Lalu menepuk bahu Alify. "Ya udah ga perlu khawatir. Gibran pasti sembuh, lo sendiri pasti tau dia gimana." Alify mengangguk, mengiyakan. "Inget, Fy. Abang lo itu Polisi sama Lawyer, manfaatkan itu." Alify terkekeh. "Iya iya, tinggal lo doang nih yang belum sukses." "Lo juga belum. Gue mah tinggal selangkah lagi." "Maksud gue untuk kakak-kakak gue. Gue mah ya terserah gue." Balas Alify santai yang langsung diberi pukulan pelan pada kepalanya. "Yeh, dasar!" Sarah yang telah memperhatikan keduanya sedari tadi hanya bisa tersenyum di balik pintu. Setelah melihat Malvin dan Alify yang mulai bertengkar mengacak rambut satu sama lain, ia baru mengetuk pintunya. "Makan malam yuk, Ayah sudah nunggu." Ucapnya ketika kedua anak bungsunya itu telah mengalihkan perhatian kepadanya. *** "Gimana? Mati?" Tanya seorang pemuda dengan seragam sekolahnya yang berwarna putih abu. Seorang lagi yang memakai baju hitam menggeleng. "Gak lah, Bos. Gak berani. Yang penting dia masuk rumah sakit dulu." Si Bos yang merupakan siswa SMA itu mendengus. "Kalau dia mati juga gak masalah." "Inget rencana kita selanjutnya? Target kita si Juna." "Yang tinggi ganteng, Bos?" Si Bos mendelik. "Gak sudi ada yang lebih ganteng dari gue." "Eh iya, Bos. Maaf." "Pake cara halus untuk dia. Pelan-pelan aja, tapi nusuk. Kita harus main rapih, karna ini yang kedua kalinya. Mereka pasti sudah naruh curiga." "Siap, Bos! Akan saya pikirkan rencananya." Si Bos mengangguk. "Jangan lupa, selidiki juga keluarga dia. Gue gak mau kita kena masalah besar dan berujung dipenjara." *** "Alif?" Alify menghentikan langkahnya ketika merasa namanya dipanggil oleh suara yang cukup familiar. Ia membalikan badannya dan menatap sosok jangkung yang tak jauh dari tempatnya berada. "Rio?" "Lo ngapain disini?" "Habis ambil obat Mama. Lo sendiri?" Tanya Rio balik. "Habis nengok Gibran." "Eh, Mama lo sakit?" Tanya Alify lagi. "Biasa, sakit orang berumur. Emang harus minum vitamin mulu." Alify mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lo mau pulang?" Tanya Rio. "Hm, mau nawarin tumpangan?" Rio menyipit. "Percaya diri sekali, Alify?" "Ya jelas! Harus! Ayo anterin gue pulang!" Perintah Alify yang langsung menggaet tangan Rio. "Cih, najis. Tapi bayar ya! Di dunia ini gak ada yang gratis." Alify mendecak. "Ck, iya iya. Nanti gue bayar. Biasanya 20 ribu kalau naik ojol." "Aih? Gue gak semurah itu ya! Gue bawa mobil. Tarifnya beda!" "Iya iya, terserah lu deh. Mana mobil lo?" Tanya Alify saat keduanya sudah berada di parkiran mobil. Rio tak menjawab, melainkan berjalan menuju mobil putih yang terparkir rapih disana. Alify segera mengikuti Rio dan mengambil duduk disamping kemudi. "Ayo jalan!" Perintah Alify seenaknya. Rio berdecak. Badannya ia condongkan kearah Alify sehingga membuat jarak keduanya begitu dekat. "Ng- ngapain?" Tanya Alify panik. "Seatbelt." Jawab Rio singkat lalu menarik Seatbelt yang ada di samping Alify itu. Alify tersenyum ketika menyadari perlakuan manis Rio. Tapi Alify tetaplah Alify. Tangannya yang menganggur malah ia kalungkan di leher Rio. Rio yang baru saja mengunci seatbelt Alify seketika menegang. Namun ia masih bisa untuk mengatur ekspresinya. Alify tersenyum manis dengan tatapan lembut yang belum pernah Rio lihat sebelumnya. "Makasih, Rio." Cup ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD