21 - Baikan

1129 Words
"Umi!" Dio memanggil Uminya yang tengah duduk disalah satu warung dipinggir jalan. Melihat anaknya telah sampai, Uminya Dio beranjak mendekati anaknya setelah berpamitan dengan pemilik warung serta mengucapkan terimakasih. "Umi nunggu lama?" Tanya Dio ketika sang Umi sudah ada didekatnya. "Lumayan. Kamu belum balikin motor Rio?" Dio menggeleng. "Belum, Mi. Kata Rio pakai dulu aja." "Haduh, kamu ini. Nanti isikan bensinnya sebelum dikembalikan." "Iya, Mi." Jawab Dio. Lalu tangannya mengulurkan helm kepada sang Umi untuk dipakai. "Nanti mampir ke panti dulu ya, Umi mau ketemu Umi Aisyah." Pesan Umi sebelum naik ke boncengan anaknya. "Siap, Bu Bos!" Umi hanya dapat tertawa mendengar jawaban anaknya itu. Diboncengan anaknya itu, Umi tersenyum miris. Ia menatap punggung anaknya yang sudah dewasa ini. Ia tau jika anaknya pasti memegang banyak tanggung jawab dibahunya yang mulai lebar. Abi Dio hanya seorang buruh pabrik yang gajinya tidak cukup untuk mencukupi kehidupan keluarganya yang beranggotakan enam orang. Dio adalah putra sulung mereka. Umi tau jika Dio belakangan ini mengambil kerja part time di dekat sekolahnya. Namun putranya ini tidak pernah bercerita hal itu padanya. Umi melingkarkan lengannya pada pinggang anaknya. Kepalanya berpindah sedikit condong ke bahu Dio. "Dio, kalau butuh uang bilang Umi ya. Jangan pendam sendiri." Dio hanya mengangguk. Dibalik helmnya, Dio menggigit bibirnya. Menahan agar ia tak keceplosan berkata yang sejujur-jujurnya kepada sang Umi. *** Tok tok tok Suara ketukan pintu menghentikan aktivitas Alify yang hendak mengambil ponselnya yang sedang di charger. Ia berjalan menuju pintu kamarnya setelah berkata untuk menunggu sejenak. "Malvin?" Alify sedikit tak menyangka jika orang yang berada dihadapannya justru Malvin. Hubungan mereka masih terasa dingin untuk saat ini walaupun bisa Alify sadari jika Malvin berusaha untuk mendekatinya. Malvin memamerkan cengirannya sambil menunjuk sekantung plastik yang ia bawa. "Kita ngobrol yuk? Gue udah pesen McD." Ujarnya. Alify menatap Malvin yang masih menyunggingkan cengiran bodohnya itu. Lalu memundurkan langkahnya, kode bahwa ia menyuruh Malvin masuk. Malvin langsung menyimpan bawaannya di meja depan tv yang terpasang di kamar Alify. Ia langsung mengkode adiknya itu untuk duduk disampingnya. "Sini!" Alify duduk, menurut. "Niat banget." "Gak apa, jarang kan kita kayak gini." Alify mengangguk. Ia hanya memperhatikan Malvin yang mulai mengeluarkan seluruh pesanannya yang ternyata cukup banyak. Alify inisiatif menyalakan televisinya yang jarang terpakai. Ia memilih saluran luar negeri yang menampilkan acara Master Chef. "Sini duduk. Kita harus selesaikan masalah kita hari ini." "Kenapa sih? Kangen ya lo?" Alify berusaha mencairkan suasana diantara mereka dengan melayangkan pertanyaan lebih dulu. Malvin tertawa. "Iya. Banget." Alify mengambil satu burger yang ada dihadapannya. "Ya udah. Lo dulu yang minta maaf secara resmi ke gue. Jelasin juga alasan lo yang kemarin-kemarin." Perintahnya lalu memakan burger yang ada ditangannya. "Oke." "Dari awal berarti ya?" Pikir Malvin. Ia mengambil posisi agar dapat menatap adiknya itu dari samping. "Hari itu, kalau gak salah sebelum hari pernikahan Ibu sama Ayah. Temen gue ngasih tau katanya liat lo berdua sama Rio di rumahnya Rio. Gue awalnya biasa aja, karena gue tau kalau lo nginep di rumah Rio. Tapi, waktu temen gue bilang lo cuma berdua di rumahnya, bener-bener cuma berdua dan malem-malem. Gue marah." "Gue sebenernya takut lo diapa-apain. Sumpah, gue gak mau orang yang gue sayang dirusak atau disakitin sama lelaki b*****t kayak gitu-" "Rio gak b*****t kok, Vin." Potong Alify dengan mulut yang penuh burger. Malvin hanya memutar matanya jengah. "Iya iya gak b*****t, tapi gue pengen aja ngomong gitu. Pokoknya gitu deh, dari situ gue mulai curiga sebenernya. Lebih ke waswas sih." "Setelah itu, belakangan ini gue ngerasa lo ngehindar dari gue. Makanya waktu di pernikahan Ibu kemarin gue murka denger lo dengan gampang manggil nyokapnya Rio dengan sebutan 'Mama', sedangkan ke nyokap gue aja susah." "Gak sampai disitu, lo juga sering dianter-jemput sama Rio. Bener-bener kayak gak butuh gue lagi. Dan puncaknya waktu gue liat lo sama Rio berdua di parkiran." "Angle yang gue ambil pas banget. Seakan lo sama Rio lagi ciuman. b**o banget gue gak mikir kalau disekitar kita itu ada orang juga. Emang guenya aja yang lagi sensitif waktu itu. Gue bener-bener minta maaf." "Waktu lo sakit gara-gara gue, gue bener-bener ngerasa bersalah. Gue ikut sakit juga. Mungkin kalau Ibu gak ngajak gue ngobrol, gue gak akan sadar." Malvin meraih tangan Alify untuk digenggamnya. "Gue minta maaf ya, Fy. Gimanapun gue udah keterlaluan sama adik gue sendiri. Gue minta maaf.." Alify melepas genggaman Malvin lalu menyimpan burgernya yang belum habis. "Sini peluk." Ujarnya sambil membuka tangannya lebar. Malvin langsung memeluk adiknya itu. Menyimpan kepalanya dibahu sang adik. Begitu pula yang dilakukan Alify. Alify lebih dulu melepaskan pelukan mereka. Ia lalu meminun soda yang Malvin beli sebelum kembali berbicara. "Berarti giliran gue." Alify terdiam dulu sejenak. Sedikit bingung ingin mulai bercerita dari mana. "Kenapa?" Tanya Malvin menyadari mimik wajah adiknya itu. "Gatau mau mulai dari mana." "Gimana kalau gue tanya dan lo jawab aja?" Alify mengangguk cepat. "Bener, mending gitu aja." "Oke pertanyaan pertama, kenapa lo jauhin gue?" Alify terdiam, lalu menyengir. "Sebenernya gue mau terbiasa tanpa lo. Lo sebentar lagi kan pergi kuliah. Selama ini gue ketergantungan banget sama lo. Jadi gue takut disaat lo pergi nanti, gue ngerasa kehilangan banget." "Terus kenapa harus sama Rio?" Alify menggeleng. "Gue gak deket banget sebenernya sama dia. Tapi karena ada tugas kelompok aja jadi bareng dia mulu. Terus waktu nginep itu juga lo nyuruhnya di rumah Rio, kan?" "Bener juga. Pertanyaan selanjutnya, bener lo cuma berdua di rumah Rio waktu itu?" "Setengah bener setengah salah sih." Malvin mengernyit. "Maksudnya?" "Jadi orangtua Rio itu pergi waktu malam karena saudaranya ada yang lahiran. Jadi mau gak mau kita ditinggal deh. Gue lupa gak sempat cerita ke lo masalah ini, soalnya gue kesel banget sama si Rio habis itu." Malvin kembali mengangguk. "Oke jawaban diterima." Alify menaikkan sebelah alisnya. "Cuma itu doang?" "Iya, emang apa lagi? Mau gue ungkit masalah kita berantem?" "Jangan! Jangan pernah ungkit itu lagi!" Marah Alify dengan cepat. Malvin tertawa. Ia mengerti jika adiknya ini menyesali kelakuannya sendiri. Setelah itu, keduanya bertatapan. Memandang penuh arti dan kembali tertawa bersama. "Jadi sekarang kita baikan, kan?" Alify mengangguk. "Janji gak akan ngulangin lagi?" Malvin menjulurkan jari kelingkingnya. Pinky promise. Alify memalingkan muka untuk menahan tawanya. "Apa sih? Kayak bocah aja." "Biarin! Cepet janji dulu!" Tak ada pilihan lain, Alify ikut mengaitkan kelingkingnya di jari Malvin. "Janji." "Lo juga janji jangan lupain gue nanti." "Iya iya, lagian gue masih lama kali kuliahnya. UN aja baru mulai." "Terus kenapa sekarang gak belajar?" Malvin menggedikkan bahunya. "Males lah, udah pinter." "Cih! Sombong!" Desis Alify. Malvin terkekeh. "Iya iya, habis ini belajar. Ayo abisin dulu makanannya, sayang mubazir." Alify mengangguk. Keduanya melanjutkan kegiatan makan mereka dengan sesekali diselingi obrolan tak masuk akal keduanya. *** Juna IPS 3 ○Fy ○Gibran masuk rumah sakit. ○Ada yang jebak dia sampai keracunan. ○Sekarang masih di IGD. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD