20 - Diawasi

1103 Words
○I love you ? •Najis jijik, Lif. •Ragu gue kalau yang ilang itu otak lo bukan suara lo.. ○Hahaha Gue kira lu bakal baper •Cih! ○Wkwk, yaudah sana lanjut main. Maaf ganggu ? •Sekali lagi pake emot itu, gue coret lo dari daftar kelompok. --- Alify tertawa tanpa suara melihat obrolannya dan Rio yang tampil di layar ponselnya. Andai saja suaranya ada, mungkin ia sudah tertawa terbahak-bahak sampai semua orang yang ada di rumah inj mendengarnya. Alay memang. Ketukan pintu di kamarnya membuat Alify mengalihkan pandangan dari ponselnya. Pintu kamarnya yang memang tidak tertutup, memunculkan Malvin yang datang dengan buku ditangannya. Alify membenarkan posisinya ketika Malvin jalan mendekat. "Gue belajar disini ya, sekalian jagain lo." Izinnya walau sudah meletakkan buku diatas karpet yang ada dibawah kasur Alify. Alify tak menjawab, namun kepalanya mengangguk. Keduanya sama-sama terdiam canggung. Padahal sebelum kesini, Malvin sudah menyiapkan beberapa topik untuk dijadikan bahan obrolan dengan adiknya itu. Namun ketika melihat kondisi Alify yang tak bisa mengeluarkan suara membuat niatnya diurungkan. "Gue bakal diem aja kok. Biar lo gak perlu ngomong. Ibu udah cerita kalau suara lo hilang." Alify memilih diam kali ini. Ia membiarkan Malvin yang- terserah akan berbicara apa lagi. Suasananya sangat canggung untuk Alify yang seharusnya bisa koar-koar jika bersama Malvin. "Tapi gue tetep mau minta maaf sama kejadian kemarin. Gue yang salah. Gak percaya sama adik sendiri. Seharusnya sih, lo pantes marah ke gue. Tapi guenya yang gak siap didiemin sama lo." "Jangan diemin gue ya, Fy?" Alify mengangguk. Walau mulutnya tampak enggan membuka sedikitpun. Padahal ia masih bisa berbisik untuk sekedar menjawab satu kalimat. Malvin tersenyum, lalu kembali memposisikan diri menghadap buku latihan Ujian Nasional miliknya. Bagaimanapun ia sudah berjanji jika ia tidak akan mengganggu Alify lagi. Sebuah sticky note berwarna hijau tiba-tiba menempel pada halaman yang tengah ia baca. Malvin menolehkan kepalanya kearah Alify yang ternyata telah pindah hingga berada dibelakangnya. Malvin tersenyum ketika melihat tulisan itu yang hanya berisikan satu kata. Semangat !!! Ia mengangguk mengiyakan dan memindahkan sticky note itu ke halaman depan. "Makasih. Gue pasti semangat untuk ujian nasional besok." "Lo juga cepet sembuh ya. Makan yang banyak dan istirahat yang bener. Ini semua pasti salah gue yang buat lo begini." Alify menggeleng. Alisnya mengerut memperlihatkan bahwa ia marah atau kesal. Ia menggeleng dengan tegas. "Iya iya, sana tidur lagi. Gue jagain disini." Alify menurut. Walaupun sebenarnya ia ingin sekali beranjak dari tempat tidur, tapi ia urungkan ketika Malvin menyuruhnya untuk berbaring. Padahal kepalanya sudah pusing karena tertidur cukup lama. Alify memilih untuk kembali memainkan ponselnya. Selagi menemani Malvin yang sedang belajar dan menunggu Ayah dan Mamanya yang kungjung belum pulang. *** Rio, Dio maupun Alify telah kumpul di kamar Alify sejak beberapa menit yang lalu. Dio masih sibuk mengagumi kamar seseorang yang disukainya itu. Katanya kamar Alify itu seluas rumahnya. Tak jauh dari mereka ada Malvin menatap ketiganya, mengawasi. Namun pandangan mata kakak tiri Alify ini terus menyorot kepada Rio. Seakan ia mempunyai dendam tersendiri kepada pria itu. "Halo, Mi?" Dio tiba-tiba mengangkat panggilan yang masuk kedalam ponselnya. Rio maupun Alify yang sedang mengerjakan tugas mereka seketika mengalihkan perhatiannya pada Dio. "Dio lagi kerkom. Umi perlu bantuan?" "...." "Oh yaudah Dio pulang. Umi tunggu disitu ya." "...." "Iya, Mi. Tunggu Dio ya. Assalamualaikum.." Dio memutuskan sambungan teleponnya lalu menatap ke kedua temannya itu. "Kayaknya gue gak bisa lanjut deh. Umi minta dijemput di terminal. Gak apa, kan?" Tanya Dio. "Iy-" "Yaudah sana, kasian Umi lo." Potong Rio ketika Alify ingin mengeluarkan suaranya. Bukannya ia ada dendam atau apa, tapi mendengar suara Alify yang masih hilang bahkan menjadi serak jika dipaksakan membuatnya tak tega. Alify memukul paha Rio yang ada disampingnya. "Gue belum selesai ngomong." "Ssstt. Lo jangan ngomong, ga tega gue denger suara lo." Ujarnya. "Iya, Fy. Lo cepet sembuh ya, biar gue bisa denger suara indah lo lagi." Plukk.. Sebuah botol minuman kosong tepat mengenai belakang kepala Dio setelah ia menyelesaikan ucapannya. Malvin menatapnya dengan tajam dan penuh intimidasi. "Jangan godain adek gue." Desisnya dingin. "Eh iya, Kak. Maap maap." "Gue pamit dulu ya, kasian Umi takut nunggu lama." Pamit Dio dengan terburu-buru merapihkan buku dan peralatannya. "Duluan, Fy, Yo. Mari, kak...." Ujarnya pamit kepada Alify, Rio dan Malvin yang hanya diangguki oleh pria itu. Rio tertawa melihat mimik wajah Dio yang nyaris sekut. "Komuk anjir." "Ssstt!" Tegur Alify yang membuat Rio otomatis menatap kearah belakangnya. Malvin tidak melakukan apa-apa memang, namun di tangan kanannya itu ada kaleng minuman yang sepertinya isinya sudah habis. Wajahnya menunjukkan ekspresi biasa saja, namun menatap kearah Rio. Seolah sedikit saja ia bertingkah, botol itu siap melayang kearahnya. *** Rio terpaksa ikut makan malam di rumah Alify. Ia kini sudah duduk bersama ke-enam anggota keluarga tersebut di ruang makan. Sedari tadi ia hanya tersenyum kikuk ketika para abang Alify yang menatapnya dengan intens. "Rio mau apa?" Tanya Alify masih dengan suara seraknya, menanyakan lauk yang Rio mau. Rio memfokuskan dirinya sejenak sebelum menjawab. "Apa aja, Lif. Gue suka semua kok." Alify berdiri untuk mengambilkan nasi setelah sendok nasi itu selesai dipakai ibunya. Ia menaruh nasi kepada piring Rio dan piringnya. Setelah itu beralih dengan mengambil lauk yang ada satu persatu. "Ayahmu kerja apa, Yo?" Tanya Gunawan tiba-tiba. Alify yang baru duduk pun seketika menoleh kearah Ayahnya dan memberi tatapan menegur. Untuk apa Ayahnya bertanya hal yang menurutnya tidak sopan itu? "Gausah dijawab." Bisik Alify disampingnya. "Gak apa." "Papa saya cuma karyawan, Om." Jawab Rio dengan sopan. "Kerja dimana? Siapa tau kerja sama dengan perusahaan saya." Rio berfikir sejenak. Sedikit tidak yakin untuk mengatakannya. Ditambah semua mata yang ada di satu meja dengannya itu menatap kearahnya. "Di Royer Corp, Om." Uhukk "Kamu kenapa, Kka? Minum dulu." Ujar Sarah seraya memberikan segelas air minum kepada anak keduanya itu. "Kenapa?" Alify bertanya kepada Cakka yang masih minum air putihnya. Cakka bernafas sejenak, menelan air minum yang baru saja diberikan. "Saya pengacara hukum Royer Corp. Sering juga kesana. Papa kamu bagian apa?" Rio menggedikkan bahunya. "Jarang ngobrol tentang pekerjaan sih sebenarnya. Tapi cuma taunya Papa kerja di lantai 7." "Lantai 7 itu bukannya bagian direktur?" "Mungkin? Gak tau juga." Kini giliran Gunawan yang bertanya. "Nama Papamu siapa?" "Yuda, Om. Yuda Putra Witama Lee." "Itu perusahaan punya keluargamu?" "Iya, turun temurun." Gunawan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bilang Papamu, kalau ingin kerjasama dengan GNW Corp pasti langsung saya Acc." Rio terkejut, begitu juga Alify yang disampingnya. "Eh bener, Om? Makasih, Om. Nanti saya sampaikan ke Papa." Rio tersenyum dengan sopan walaupun ada rasa kaku didalamnya. Bagaimana tidak, seseorang dari ujung sana terus menatapnya dengan tajam. Apalagi saat Alify malah menyimpan tangannya diatas tangan Rio. Iya kalian benar, Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Malvin. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD