Bab 2. Kebusukan Kevin dan Clara

1424 Words
Chelsea tidak mendapatkan jawaban apa pun atas protesnya pada sang papi. Chelsea menatap sang mami dan maminya hanya menundukkan kepala. Chelsea kemudian melirik pada Ben yang juga sedang menundukkan kepalanya. Otaknya dipenuhi banyak pertanyaan, tetapi orang yang diharapkan bisa menjawab pertanyaan itu tidak memberikan jawaban. "Papi … please! jelasin ke, Chelsea. Apa yang sebenarnya terjadi? Nggak mungkin banget Papi bangkrut. Kenapa Papi nggak minta tolong sama Kak Glen dan Kak Andrew? Impossible, Pi, kalau Papi bangkrut, dan … dan nggak mungkin Chelsea menikah dengan Ben. Chelsea nggak kenal dia, apalagi kata Papi dia duda. Big no!" Nada yang lumayan tinggi membuat Pak Wilson menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu mau menikah dengan Ben atau ikut Papi dan Mami ke Italia? Cuma itu pilihannya." Begitulah tawaran yang diberikan Chelsea dan membuat gadis cantik itu membulatkan matanya karena terkejut dengan tawaran dari sang papi. Kedua pilihan itu tidak bisa Chelsea terima salah satunya. "Italia? Maksudnya Venesia? Papi bercanda? Papi tau itu hal yang mustahil, Pi. Menikah dengan Ben juga hal yang mustahil." Lagi-lagi Chelsea meninggikan suaranya seraya berdiri dan menoleh ke arah Ben. "Kalau begitu kamu harus menikah dengan Ben dan tinggal disini sampai Papi sembuh dan kembali. Papi tidak bisa mempercayai siapapun selain, Ben," sahut Pak Wilson tanpa expresi dan menatap langit-langit rumah sakit. "Hei Ben! Lu naksir gue sejak kapan, hah?" Chelsea mengarahkan jari telunjuknya tepat di depan wajan Ben. "Lu tu duda Ben, lu bekas orang, bekas wanita lain dan gue harus pakai sisa orang lain, hah? Gue nggak sudi. Lu ngomong apa sama Papi sampe nyuruh lu jadi suami gue? Dasar munafik." Amarah Chelsea kini tidak bisa dibendung lagi. "Chelsea! Jaga ucapanmu!" bentak Bu Laura tak kalah tinggi suaranya dengan sang anak. "Kenapa, Mi? Chelsea punya Kevin yang jelas asal usulnya dan juga kami saling mencintai. Sementara Ben, dia itu siapa, Mi? Dia duda dan bekas orang, terus nikahin Chelsea yang masih perawan ini? Enak banget dia." Chelsea kembali marah menatap bergantian kedua orang tuanya. "Pi? Chelsea mau Papi sembuh dan menunggu Papi disini tapi Chelsea nggak akan mau menikah dengan, Ben. Jika harus menikah, Chelsea hanya akan menikah dengan orang yang Chelsea cintai. Orang itu bukan Ben tapi Kevin." Chelsea pun membalikkan badan dan hendak keluar dari ruang rawat papinya, tetapi dihadang oleh Ben. "Minggir lu duda muka datar," Chelsea menatap sinis wajah Ben yang tanpa expresi. "Chelsea! kalau kamu nggak mau menikah dengan Ben, jangan pernah menganggap kami orang tuamu lagi. Silahkan pergi dan jangan kem-," ucapan Pak Wilson terhenti tiba-tiba. Pak Wilson memegang dadanya dengan expresi wajah kesakitan. "Pi … kenapa Pi? Apa yang sakit?" Bu Laura menggoyangkan tubuh suaminya seraya menangis. Chelsea kembali mendekati brankar sang papi dan ikut khawatir dengan keadaannya. "Lu kenapa diem aja Ben. Cepet panggil, Dokter!" teriak Chelsea pada Ben, dan dengan segera Ben keluar untuk memanggil Dokter. "Papi jangan bercanda Pi. Ini nggak lucu Pi. Please! Jangan kenapa-kenapa Pi!" Chelsea kini menitikkan air mata melihat sang papi kesulitan mengambil nafas. "Chelsea! Kamu mau jadi anak durhaka dengan menentang keputusan Papimu? Bahkan dalam kondisi begini kamu masih tega memihak pada pacarmu Kevin yang bajingann itu?" bentakan sang mami membuat Chelsea terkejut. "Mi … Kevin laki-laki yang baik. Chelsea mengenalnya sudah tiga tahun, Mi. Keluarganya juga baik pada Chelsea. Please! Jangan bahas itu dulu. Kita harus pastikan Papi sembuh biar Mami nggak jadi janda," Chelsea benar-benar kesal pada sang mami. "Chelsea!" Belum Bu Laura melajukan bicaranya, ada dua Dokter dan dua perawatan yang masuk untuk memeriksa Pak Wilson. "Silahkan keluar dulu, kami akan memeriksa pasien," ucap salah satu Dokter yang menangani Pak Wilson. Chelsea dan maminya pun keluar, lalu membiarkan Dokter memeriksa keadaan Pak Wilson. Bu Laura duduk dengan lemas di kursi tepat di sisi ruang rawat suaminya. Suara tangis Bu Laura mengganggu Chelsea. " Mam … please! Jangan menangis. Mami buat Chelsea makin kesal, Mam," seru Chelsea diiringi hentakan kaki. "Chelsea! Mami nangis karena khawatir dan sedih. Kenapa kamu nggak mau berubah. Kami merasa sudah cukup baik mendidikmu. Mami tau, pasti karena teman-teman yang kamu banggakan itu yang merubah sifatmu, Chel? Dulu kamu anak yang baik dan penurut. Bukan gadis pembangkang dan menghamburkan banyak uang seperti sekarang." "Please! Mam! Kita fokus buat kesembuhan Papi. Nggak usah bahas hal yang nggak penting dulu." "Nggak! Mami akan bawa Papi ke Italia dan minta bantuan Kakakmu disana. Kalau kamu nggak mau ikut ke Italia, kamu harus tinggal disini dengan menjadi istri Ben dan dengan begitu kami akan tenang meninggalkanmu dengannya. Cuma itu pilihanmu. Semua ini juga untuk kebaikanmu." "Mam!" "Chelsea, cukup. Menikah atau jangan anggap Mami sebagai Mamimu lagi. Keputusan Mami sama dengan keputusan Papi. " "Mam!" "Dengan keluarga pasien?" Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan seorang perawat memanggil. "Saya anaknya, Sus," jawab Chelsea. "Saya istrinya Sus. Dia bukan anak kami. Jangan biarkan dia masuk!" Bu Laura langsung masuk ke ruang rawat suaminya dan menutup pintu itu rapat-rapat. Chelsea melongo menatap pintu yang tertutup. Nafas Chelsea mulai tak beraturan karena perasaan yang bercampur aduk antara rasa marah pada Mami dan rasa khawatir pada papinya. Chelsea kemudian pergi dan keluar dari rumah sakit itu dengan sebuah taksi. Chelsea tahu apartemen Kevin jaraknya tidak jauh dari rumah sakit itu. Untungnya dalam saku celananya masih tersimpan selembar uang berwarna merah untuk ongkos naik taksi. Padahal di dalam tas Chelsea masih ada beberapa lembar uang juga, tetapi Chelsea melupakan itu di ruang rawatnya tadi. Chelsea juga melupakan ponselnya sehingga dia tidak bisa menghubungi Kevin terlebih dahulu. Perasaan yang begitu tak karuan membuat Chelsea beberapa kali menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Langkah yang cukup berat memaksa Chelsea terus berjalan menuju lift dan menekan angka tujuh. Hentakan kaki dan tangannya yang diremas, lalu dimasukkan ke dalam mulut untuk digigit kukunya menandakan bahwa dirinya sedang kesal. Tiba di depan pintu apartemen sang pacar, Chelsea langsung menekan tombol akses untuknya masuk ke dalam. Tanpa suara Chelsea langsung masuk dan dibuat heran karena cahaya lampu cukup remang-remang membuat Chelsea terus melangkah mendekati kamar Kevin. Saat tepat di depan kamar pacarnya itu, suara manja seorang perempuan terdengar sangat jelas di telinga Chelsea. "Kevin Sayang … bagaimana kalau kita mulai ke intinya." Chelsea membulatkan matanya dengan sempurna. Tangan dan kakinya bergetar mendengar suara laknat itu. Suara wanita yang tentu tidak asing baginya. Chelsea menahan diri sekuat mungkin untuk tidak membuka pintu kamar itu. "Kamu selalu bisa memuaskanku Clara … ah … ini nikmat, Sayang." Chelsea kembali melotot. Kali ini telinganya tidak salah dengar kalau wanita itu adalah salah satu dari tiga sahabatnya. Chelsea tidka ingin menangis, tetapi air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipinya. Kaki dan tangannya masih bergetar karena syok. Tatapan matanya hanya tertuju pada kenop pintu. Suara laknat itu kembali terdengar bersamaan, tetapi semakin terdengar menjijikkan di telinga Chelsea. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi di dalam kamar itu. Kevin memang pernah mengajak Chelsea untuk tidur bersama, tetapi Chelsea masih cukup waras untuk tidak melakukan hubungan intim itu sebelum menikah agar malam pertamanya terlewatkan dengan indah. Chelsea tidak habis pikir dengan kedua orang yang ada di dalam kamar itu. Mereka begitu Chelsea sayang, tetapi pada kenyataannya Kevin dan Clara telah menusuknya dari belakang. "Terima kasih Sayang …." Suara Kevin kembali terdengar dan itu membuat Chelsea semakin merasa jijik mendengarnya. "Malam ini sangatlah indah …," lanjut Kevin. "Bagaimana dengan Chelsea selanjutnya, Vin? Dia udah bangkrut. Nggak mungkin kan lu mau terus pura-pura cinta mati sama dia yang jelas-jelas nggak bisa kasih lu rasa nikmat yang gue kasih ini? Gue aja udah males pura-pura baik." "Gila kali gue masih mau sama cewek sok suci itu. Gue jelas pilih lu dari pada Chelsea yang udah jatuh miskin itu. Gue udah beberapa kali ngajak dia tidur dan selalu ditolak. Brengseek banget dia." "Terus rencana lu selanjutnya apa, Vin?" "Gue mau manfaatin kesempatan ini buat balas rasa sok sucinya itu. Gue tetep baikin dia atau jual mahal dulu dan bakal buat dia nangis darah, terus mohon hingga berlutut. Secara dia cinta banget sama gue. Setelah itu gue mau tiduri dia terus tinggalin dia." "Gila lu, kalau dia hamil dan minta tanggung jawab lu, gimana dengan gue, Vin? Gue nggak setuju dengan rencana terakhir." "Sayangku Clara. Gue nggak mungkinlah mau sama si miskin itu. Gue tetep suka itumu, Sayang. Emh … rasanya milik gue berdiri lagi kalau begini. Kita main lagi yuk?" "Dasar otak mesumm." "Lu juga nikmatin ini Clara, jadi bukan gue aja yang mesumm. Ayo Sayang … kita lakukan lagi dari pada kita bahas wanita miskin itu." Chelsea sudah tidak tahan lagi dengan obrolan kedua manusia laknat itu. Hatinya bergemuruh ingin membunuh Kevin dan Clara. "Kalian brengssek … gue akan bunuh kalian …."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD