Bab 3. Keputusan Chelsea

1381 Words
Namun pada kenyataannya Chelsea hanya bisa berteriak dalam hatinya. Tubuhnya tak kuasa untuk membuka knop pintu kamar itu karena sudah tidak tahan dengan apa yang dia dengar. Bukannya melabrak pacar dan sahabat toxic itu, Chelsea memilih pergi diam-diam. Tangisnya pecah saat langkah kakinya sudah memasuki lift. Tiba di lobby, Chelsea terlebih dahulu pergi ke kamar mandi. Dia ingin menangis disana. Chelsea menatap dirinya dalam pantulan cermin. Air matanya terus mengalir tanpa hentinya. Chelsea mengutuk dirinya sendiri karena begitu tergila-gila dengan Kevin bahkan membela dan membanggakan namanya di hadapan kedua orang tuanya. Chelsea mendengar ada suara tawa dari luar dan segera masuk ke dalam toilet karena malu jika mereka tahu Chelsea sedang menangis. "Emang dasar cewek bodoh, haha …." Chelsea membulatkan matanya lagi. Chelsea tahu suara itu suara siapa. "Tapi gue nggak tega sama, Chelsea, La. Bagaimanapun dia itu baik selama ini sama kita. Dia tulus. Saat kayak gini kita malah buang dia." Chelsea kembali terkejut karena lagi-lagi suara itu bukan suara orang asing. Laudya dan Olla, itu sahabat Chelsea. "Please deh, lu nggak usah sok baik. Laudya cantik, lu mau temenan sama orang miskin? Lu mau tiap jalan lu yang bayarin? Bisa-bisanya lu mikir kasian. Lu nggak mikir lu juga bisa ketularan miskin kalau deket-deket sama Chelsea. Udah ah gue ngantuk banget." "Apa Clara masih di kamar Kevin?" "Ya iyalah. Emang dimana lagi. Udah nggak usah ikut campur urusan mereka." Akhirnya kedua gadis itu keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangan mereka dan memoleskan lipstik di bibir masing-masing. Chelsea kembali menangis dan membekap mulutnya, lalu keluar dari dalam toilet. Setelah keluar dari kawasan apartemen itu, Chelsea duduk lemas di pinggir jalan yang sedang hujan lebat. Teriak-teriak dalam hatinya tak kuasa dilepaskan karena takut menarik banyak perhatian. Bajunya mulai basah saat guyuran air hujan yang turun cukup deras itu. Chelsea mulai terisak layaknya gembel yang putus asa di pinggir jalan. Ada beberapa orang yang memperhatikannya, tetapi Chelsea tidak menghiraukan sama sekali, hingga akhirnya tubuh yang tadinya merasakan tetesan air hujan tiba-tiba terhenti. Chelsea mendongak karena heran hujan yang turun begitu lebat berhenti begitu saja. "Ben?" Suaranya pelan, tetapi masih bisa di dengar. Ben berdiri dengan payung besar yang membuat keduanya terlindungi dari basahnya air hujan. "Lu tau gue disini?" Chelsea kembali bersuara, tetapi Ben tidak menjawab. "Gue tahu Ben, sekarang gue tau kalau Kevin itu brengseek. Gue juga tau kalau sahabat gue nusuk gue hiks …." Chelsea tertunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Chelsea kembali terisak. "Ayo pulang, Non." Ben mengulurkan sebelah tangannya dan Chelsea menerima uluran tangan itu. Keduanya kini berdiri berhadapan. "Menikahlah dengan saya, Nona Chelsea. Paling tidak demi Tuan Wilson supaya keadaannya segera membaik. Saya tidak akan menyentuh Nona tanpa seizin Nona setelah menikah. Saya juga tidak akan mencampuri urusan Nona sekarang. Jika keadaan Tuan Wilson sudah membaik dan Nona ingin bercerai, saya akan menuruti permintaan Nona." Walaupun sangat kaku dan formal, ucapan Ben cukup membuat Chelsea merasa tenang. "Lu janji Ben kalau kita merid lu nggak akan nyentuh gue tanpa izin?" Chelsea menekankan lagi ucapan Ben. "Iya, Nona. Tuan Wilson telah berjasa untuk hidup saya. Jika ini keinginan Tuan, maka saya akan menuruti apa pun yang Tuan minta demi kebaikan dan demi keadaan Tuan," jawab Ben tanpa expresi. "Baiklah. Kita sepakat karena gue juga nggak mau tubuh yang udah dijajah wanita lain. Inget itu!" Ancam Chelsea dengan jari telunjuk yang mengarah pada Ben. Tanpa basa-basi Ben mengangguk dan menuntun Chelsea untuk masuk ke dalam mobil. Ben memberikan jas yang dia pakai pada Chelsea. Awalnya Chelsea ragu dan gengsi, tetapi karena dia kedinginan akhirnya jas itu pun diraihnya. Sepanjang perjalanan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut kedua lawan jenis itu. Mereka berdua sedang asik dengan pikirannya masing-masing. Namun ada rasa yang berbeda dengan Chelsea saat duduk berdua dengan Ben. Dia yang tadinya sangat marah dengan tingkah sang pacar dan sahabatnya, tiba-tiba rasa itu hilang dan kini ada suatu ketenangan dalam dirinya. "Ben, ini mobil siapa?" tanya Chelsea yang baru sadar dengan mobil yang belum pernah dia lihat karena mobil itu juga bukan koleksi mobil papinya. "Saya pinjam dari rental mobil, Non. Tuan meminta saya menjaga Nona setelah saya beritahu kalau Nona pergi dari rumah sakit," jelas Ben tanpa menoleh. "Jadi Papi benar-benar bangkrut, Ben?" tanya Chelsea lagi dengan nada pelan dan tatapan keluar jendela. Namun Ben tidak menjawab sama sekali. "Ben? Jawab!" bentak Chelsea menoleh menatap wajah Ben yang datar dan fokus dengan setir mobilnya. "Silahkan tanya pada Tuan langsung, Non. Saya hanya menjalankan apa yang Tuan saya perintahkan," jawab Ben kembali tanpa ekspresi. "Kenapa sih lu kaku banget, Ben. Makin kesel gue." Chelsea pun kembali menatap keluar jendela dengan bibir mengerucut. Mereka kembali ke rumah sakit karena Chelsea terkena flu akibat hujan-hujanan dan meminta untuk istirahat. *** Keesokan harinya, keadaan Chelsea mulai membaik dan sudah merasa bosan di ruang rawat. Chelsea masih ingat dengan suara laknat Kevin dan Clara serta ucapan Laudya dan Olla. Chelsea mulai sadar bahwa selama ini dia menghabiskan banyak uang untuk orang-orang yang salah. Chelsea pun memberanikan diri untuk bertemu dengan papi dan maminya yang sedang mengobrol asik. Awalnya Chelsea ragu dan hanya bisa melihat mereka dari balik kaca kecil di pintu ruang rawat itu, tetapi Chelsea sudah memutuskan untuk menyetujui keputusan sang papi daripada dia harus kembali ke Italia. "Pi … Mi … Chelsea mau bicara." Chelsea masih di ambang pintu menunggu persetujuan dari kedua orang tuanya untuk masuk. Wajahnya yang terlihat sedih, tetapi masih tetap cantik walau sudah dua hari di wajah itu tidak mendapatkan perawatan. "Masuk kalau menurutmu itu penting," jawab sang papi yang tiba-tiba merubah raut wajahnya dari tersenyum menjadi penuh kekesalan. Chelsea kemudian menutup pintu dan berjalan mendekati papi dan maminya. Sudah lima menit berlalu tetapi Chelsea masih belum membuka mulutnya untuk membicarakan maksud dan tujuannya. Akhirnya Pak Wilson yang tidak sabar pun membentak sang anak. "Cepat katakan!" "Itu Pi … em … Chel … em Chel …." Entah kenapa tiba-tiba lidah Chelsea jadi kaku karena bentakkan dari Pak Wilson. Padahal selama ini Chelsea tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari kedua orang tuanya. Chelsea berfikir sikap papinya itu pasti karena kondisinya yang sedang sakit dan belum lagi karena kebangkrutan perusahaan. "Kenapa kamu jadi gagap begitu. Cepet katakan atau keluar sekarang juga!" Pak Wilson kembali bernada tinggi dan membuat Chelsea tiba-tiba lancar berbicara. "Chelsea mau menikah dengan Ben." Matanya terpejam karena takut sekaligus malu. "Kamu yakin mau nikah sama duda itu?" Kini Bu Laura yang bersuara dan menekankan kata duda. "Iya Mi, Chelsea yakin mau menikah dengan Ben karena lebih baik dari pada Chelsea harus kembali ke Italia," jawab Chelsea kini terdengar serius walaupun lirih. "Lebih baik atau kamu udah tau kebusukan pacar yang kamu banggain itu?" Sindir sang mami membuat Chelsea terkejut. "Mami tau?" tanya Chelsea, tetapi tidak mendapatkan jawaban. "Baiklah, karena kamu setuju, hari ini juga kamu menikah dengan Ben dan besok Papi akan berangkat berobat ke Italia," sahut Pak Wilson dengan wajah datar. "Kamu pergilah ke rumah yang sudah Ben sediakan untukmu. Tunggu dan diam saja disana," titah sang papi tidak bisa Chelsea tolak. Wajahnya masih terdapat sebuah keraguan, tetapi langkah kakinya terus berlanjut hingga dirinya menabrak tubuh seseorang yang menurutnya wangi. "Nona! Hati-hati!" Suara Ben begitu lembut walaupun tanpa expresi. Suara itu mampu membius Chelsea. "Nona baik-baik saja?" tanya Ben dengan melambaikan tangannya di depan wajah Chelsea. "Ah iya …." Chelsea cukup terkejut. "Gue udah bilang Papi kalau gue mau nikah sama lu, Ben. Papi bilang gue harus nunggu di rumah yang udah lu siapin," ucap Chelsea sedikit canggung. "Baik Nona. Mari ikut saya. Saya permisi dulu, Tuan." Ben mengajak Chelsea berjalan ke luar rumah sakit dan Chelsea hanya mengekor. "Mobilnya beda lagi, Ben?" tanya Chelsea sebelum masuk ke dalam mobil. "Iya Non. Mobil ini cukup nyaman walaupun biaya sewanya murah," jawab Ben, lalu masuk dan bersiap untuk menyetir. Chelsea ikut masuk ke dalam mobil. "Bisakah kita mampir ke rumah sebentar, Ben? Gue mau ambil beberapa barang gue disana." Chelsea bertanya seraya memasang seatbelt. "Tidak bisa, Non. Rumah Tuan sudah disita bank beserta isinya. Kita tidak akan bisa masuk kesana," jawaban Ben lagi-lagi membuat Chelsea terkejut. "What's! Apa Papi bener-bener nggak menyisakan harta sedikitpun buat bertahan hidup?" "Tidak ada, Nona, tapi Nona jangan khawatir. Setelah jadi istri saya nanti, saya akan berusaha yang terbaik untuk, Nona. Asalkan Nona mau bersabar dan belajar hidup sederhana." "Astaga … hidup gue kenapa jadi begitu rumit."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD