"Bagaimana kabar Sina, Zain? Lancar belajar nya?"
Umi bertanya di sela-sela menyantap makan malam. Zain yang sedang menyendokan nasi kepiring menatap sang Umi sekilas.
"Gak tahu Umi. Nanti deh Zain tanya sama Nafisa di kampus." Umi mengangguk dan memakan makanannya kembali.
Wanita paruh baya itu memang penasaran dengan kondisi Sina saat ini. Bagaimanapun ia sangat berharap bahwa Sina benar-benar berubah dan tak kembali lagi ke jalan yang salah.
"Bang, titip salam ke Ustadzah Nafisa ya." Ujar Diba tiba-tiba dengan makanan penuh di mulut.
"Makan yang benar dek. Kunyah dulu baru ngomong."
Tuh kan selalu saja ada yang salah dari diri Diba.
"Iya Pak Ustadz."
***
Dengan sedikit berlari, Zain mengejar Nafisa yang baru saja datang dari arah parkiran. Pria itu tak lupa untuk sesekali tersenyum pada para mahasiswa yang menyapa dirinya.
"Ukhti Nafisa!"
Nafisa menoleh kebelakang, tepat dimana Zain tengah berjalan cepat ke arahnya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Ada apa Zain?"
"Tidak ada, cuma mau nanya apa Ukhti Sina belajar nya lancar?"
Gadis itu tersenyum. Ia pikir ada apa sampai-sampai Zain bergegas menghampirinya.
"Alhamdulillah, dia cepat belajar. Sholatnya pun juga rajin."
"Syukurlah. Semoga dia selalu diberi semangat untuk belajar agama."
"Aamiin. Ada yang mau disampein lagi?"
Zain menggeleng.
"Kalo gitu aku duluan ya. Ada kelas soalnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Lelaki itu menjawab salam Nafisa setelah melepas kepergian wanita itu dari hadapannya.
Ia menatap punggung Nafisa, punggung wanita yang selalu membangkitkan rasa kagum dalam dirinya.
Tak lama, hanya sepersekian detik, setelah sadar ia kembali memalingkan pandangan. Astagfirullah! Sungguh tak pantas jika ia menatap wanita lama seperti itu. Zain mengucap istigfar berkali-kali.
"Kalo suka tuh halalin, Zain."
Dia tersentak saat tiba-tiba sebuah suara terdengar dekat di telinganya. Rizwan tengah tersenyum penuh arti.
"Antum ngapain?"
"Memperhatikan seorang pria yang tengah mengagumi seorang wanita."
Ucap pria berjenggot tipis itu dramatis. Zain mengabaikan ucapan Rizwan, berlalu saja dari sana sebelum mendengar ocehan tidak jelas pria itu lebih banyak.
"Buruan halalin Zain. Ntar antum keduluan loh."
Belum selesai juga rupanya. Lelaki itu berusaha mengejar langkah Zain. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mempengaruhi sang sahabat. Lagi pula mau sampai kapan Zain akan hidup sendiri. Rizwan saja udah menikah dan punya anak satu. Tak hayal pria satu ini begitu gencar mendesak Zain segera mempersunting Nafisa.
"Nunggu saat yang tepat Riz."
"Saat yang tepat itu antum yang nentuin. Lama-lama Ustadzah Nafisa di khitbah duluan. Baru deh keder sendiri."
Mendadak Zan berhenti. Rizwan ada benarnya juga. Mau sampai kapan ia menunggu waktu yang tepat? Mereka sama-sama sudah matang. Dan InsyaAllah sama-sama mapan.
"Ana pikir-pikir lagi deh."
"Jangan kebanyakan mikir untuk sesuatu yang baik. Ustadzah Nafisa udah cocok untuk antum."
Zain mengangguk. Semoga saja memang begitu. Pria itu sungguh berharap Nafisa lah yang akan menjadi pelengkap hidupnya. Sebagai partner nya dalam menyempurnakan agama Allah.
***
Ia belajar perlahan menjalankan perintah Allah. Ia yang tadinya tak pernah sholat sudah mulai membiasakan diri mendirikan shalat. Ia yang tadinya tak pernah menyentuh mushaf sudah mulai membaca isinya.
Seminggu sudah Sina mantap untuk hijrah. Selama itu pula ia berusaha mendalami Islam, dan menjalankan amalan-amalan shalih.
Sina begitu bersemangat. Tak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun sehingga ia mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. Sesuatu yang dapat mengingatkannya pada Allah.
Seperti saat ini. Sina tengah menghadap kan wajahnya kepada Sang pencipta di waktu Duha. Ia berusaha khusuk dalam sholatnya. Mencoba menghadirkan diri pada setiap bacaan sholat karena dari situ ia bisa merasakan kehadiran Allah.
Saat sujud, Sina membayangkan Allah mengusap lembut kepalanya. Air mata terkumpul di mata Sina kala menyatukan kening pada sajadah. Ada nikmat tersendiri yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Ya Rab. Ampuni doso-dosa hamba. Tuntunlah hamba kejalan mu. Ringan kan lah hamba untuk menjemput hidayah mu."
Sina mengangkat tangannya usai sholat, berdoa.
"Mati kan lah hamba dalam keadaan husnul khatimah ya Rahman. Matikan hamba sebelum dajal keluar. Ringankanlah sakaratul maut hamba. Lindungi hamba dari azab kubur. Dan masukanlah hamba ke surgamu tanpa hisab."
Itulah Doa yang diajarkan Nafisa pada Sina. Doa-doa penting yang sudah sepatutnya dipanjatkan pada sang khalik. Jangan urusan Dunia yang di dahulukan tapi mintalah sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan setelah mati. Kehidupan kekal di akhirat kelak. Itu yang Nafisa katakana padanya.
***
"Sina, mulai subuh besok kamu mulai menghapal Al-quran ya?"
"Ha?!"
Sina kaget, tentu saja. Mana mungkin ia bisa menghapalkan ayat suci Al-quran. Menghapal surat pendek saja ia membutuhkam waktu yang lama. Apalagi jika harus menghapal keseluruhan.
"Kenapa? Kamu gak yakin?"
Sina menggeleng kuat. Ia rasanya tak sanggup jika di minta menghapal Al-quran. Kalo untuk membaca Sina masih sanggup dan akan berusaha khatam setiap bulannya.
"Allah telah mengatakan bahwa Al-quran itu mudah di hapal. Bahkan anak-anak kecil saja bisa."
"Anak kecil kan ingatannya masih kuat Sa." kilah Sina. Setau nya memang begitu.
"Iya benar. Tapi kamu tahu gak, Al-quran itu turun saat umur Rasullulah berapa?"
Sina menggeleng.
"Saat umur beliau 40 tahunan dan tak lagi muda. Dan baginda Nabi SAW mampu menghapalkan nya. Lah kita aja belum sampe umur 30. Masa gak bisa."
"Ya itu kan Rasullulah Sa. Beliau kan di anugrahi kelebihan oleh Allah." Ujar Sina lagi mencari pembenaran.
Ia masih belum sepenuhnya yakin jika ia mampu menghapalkan Al-quran.
Nafisa tampak berpikir dan menumpukan dagunya pada meja.
Memang tak mudah memberi pengertian pada Sina. Mungkin banyak juga orang lain yang berpikiran sama seperti Sina.
"Hmm coba dengerin ayat ini.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِر
ٍwa laqod yassarnal-qur'aana liz-zikri fa hal mim muddakir
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Sina masih menunggu penjelasan dari Nafisa.
"Allah menyebutkan ayat itu 4 kali dalam surat Al-qamar. Saat Allah sendiri yang berfirman seperti itu apa kamu masih ragu Sina?"
Seketika Sina menggeleng kuat. Tentu tak kan mungkin ia menepis firman Allah. Apapun yang Allah katakan pasti benar. Tiada keraguan didalamnya. Jika Allah berkata mudah untuk menghafal dan mempelajari al-quran, maka memang sudah seharusnya begitu.
"Tapi Sa, kemarin aku menghapal surat Al-falaq lumayan lama. Tiga hari mungkin. Sedangkan ada yang hapal cepat sekali. Apa itu tergantung pada niat atau bagaimana?"
Nafisa tersenyum. Ia sudah menduga Sina akan menanyakan ini. Mungkin juga banyak orang-orang di luar sana yang bertanya sama.
"Ini lah kabar gembiranya Sin. Ada orang-orang yang mana Al-quran itu sudah seperti di luar kepala. Tapi ada orang-orang yang lama menghapal, bukan karena sulit. Bukan. Tapi Allah ingin dia mendapat pahala yang berlipat-lipat dari sana. Bayangkan saja Sin, satu huruf al-quran bernilai 10 kebaikan. Jika kamu ulang-ulang terus berapa kebaikan yang akan kamu capai? "
Sina mulai antusias mendengar penjelasan Nafisa. Sampai Ia memperbaiki duduknya untuk menghadap wanita itu.
"Dan kamu tahu, dia yang menghafal al-quran akan memberikan jubah kemulian untuk kedua orang tuanya di hari kiamat kelak."
Benarkah? Sina jadi teringat mimpinya tentang ibu tempo lalu. Ia sudah berjanji pada beliau bahwa dirinya akan berubah. Sina ingin membuat ibu bahagia dan bangga padannya. Dan kini ia jadi ingin memberikan jubah mulia untuk ayah dan ibunya. Apa mungkin?
"Aku ingin hapal Qur'an Sa."
"Memang harus begitu Sin."
"Dan satu lagi. Menghapal Qur'an jangan didasari niat untuk mengejar gelar hafidz atau hafidzah. Jangan pula dilihat seberapa banyak ayat yang kamu hafal. Tapi lihatlah bagaimana amalan ini bisa lebih mendekatkan mu pada Allah."
Sina kembali mengangguk. Ia paham maksud Nafisa, intinya niatkan semuanya karena Allah dan untuk meggapai janji-janji Allah.
***
"Astagfirullah. Aku ngantuk banget Sa. Hafal Qur'an nya subuh besok aja ya ?"
Sina mencoba bernego. Tapi hal itu tentu di tolak mentah-mentah oleh Nafisa. Ia kembali menarik gadis itu untuk berdiri dari ranjang.
"Ayo dong Sin. Itu hanya was was setan. Pas udah buka mushaf kantuk nya pasti hilang."
"Tapi ini beneran ngantuk."
Sina kembali menarik selimut tapi segera di tepis Nafisa. Wanita itu juga tak mau kalah, apalagi dengan setan yang tengah menggoda Sina.
"Gak boleh tidur habis subuh. Sina bangun dong!"
Gadis itu bergeming. Ia justru semakin memejamkan matanya. Serasa ada lem yang lengket dimata Sina. Badannya pun seolah berat untuk di gerakan.
"Kalo kamu gak duduk aku siram pake air nih."
Masih diam bergeming. Ia juga tak mendengar suara Nafisa lagi. Agaknya Nafisa tak main-main dengan niatannya menyiram Sina jika wanita itu tak kunjung bangun.
"Aku serius Sin. Aku siram nih. Satu...
Dua...
Ti..."
"Iya iya aku bangun."
Nafisa tersenyum puas. Memang harus tegas dalam menjalankan tugas, seperti ini. Pokonya ia takkan kalah sampe Sina bangkit dari tempat tidur.
"Sana wudhu lagi. Aku tunggu di ruang tamu ya."
Sina mengangguk dan berjalan ke kamar mandi dengan mata setengah terbuka. Nafisa geleng-geleng kepala sendiri.