Bisa saja ia yang punya masa lalu kelam menjadi penghuni surga yang paling dinanti
***
Sina menatap kagum pada bayangan nya di cermin. Ia begitu anggun dan tampak terjaga dalam balutan pakaian taat. Baju gamis warna hitam dipadu dengan jilbab pink bunga-bunga agaknya sangat pas pada tubuh Sina.
Ia berputar-putar layaknya princes di negeri dongeng yang sedang bahagia.
Memang benar, hari ini adalah hari yang paling membahagiakan bagi Sina. Ia seperti terlahir kembali dan menemukan dirinya yang baru.
"Ekhm. Udah cantik kok." Nafisa terkikik geli di ambang pintu melihat tingkah wanita itu. Sina hanya menoleh sekilas dan kembali fokus pada bayangannya di cermin.
"Aku pantas kan pakai baju ini, Ustadzah?" Tanya nya bersemangat.
"Tukan panggil Ustadzah lagi."
"Eh Iya. Nafisa maksudnya."
Nafisa memang melarang Sina memanggilnya dengan sebutan Ustadzah. Yang pertama karna ia memang belum pantas menerima gelar itu. Yang kedua ia ingin akrab denga Sina. Dengan saling menyebut nama tentu mereka akan lebih terasa akrab. Juga, Nafisa tak suka jika Sina bicara pakai saya-kamu, ia serasa bicara dengan orang asing.
"Kamu udah sangat pantas memakai baju ini. Cantik banget." Ujar Nafisa tulus.
"Makasih Sa."
-
-
"MasyaAllah, Sina cantik sekali."
Rita, Umi nafisa, adalah orang kedua yang memuji Sina cantik hari ini.
"Makasih Umi."
"Sama-sama sayang."
Sama seperti sang putri, Rita pun menyambut baik kedatangan Sina di rumah mereka. Ia juga sudah menganggap wanita itu sebagai putrinya sendiri.
Allah, sungguh Sina beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Umi Rita dan Nafisa. Sina jadi malu, disaat ia durhaka Allah justru tetap menuntunnya untuk kembali kejalan yang benar. Tidak membiarkan dirinya terjerumus ke dalam maksiat lebih lama lagi dan juga menghadirkan orang-orang yang luar biasa untuk membimbingnya.
Ternyata benar, Allah maha Pengasih lagi maha penyayang. Dia Sang pencipta akan selalu memberi sinyal hidayah pada setiap hamba-hambanya untuk bertaubat. Hanya saja segelintir dari manusia yang peka akan sinyal itu.
"Makan malam udah Umi siapkan. Ayo makan."
"Siap Umi." Jawab keduanya kompak bak prajurit. Rita jadi terhibur sendiri dengan tingkah dua wanita itu. Dan ya, kehadiran Sina memberi warna tersendiri di rumah mereka.
****
Selepas Sholat Isya, Nafisa segera menghampiri Sina yang sudah menunggu di ruang tamu. Pelajaran pertama Sina adalah sholat, ibadah utama yang menjadi tolak ukur keimanan seseorang.
"Udah siap Sin?"
"Udah dong buk guru."
Nafisa terkekeh geli apalagi melihat Sina yang telah rapi dengan mukenah dan sebuah buku dan pena dihadapannya.
"Niat banget buat belajar ya Sin."
"Harus dong Sa."
Nafisa tersenyum simpul begitu pun dengan Rita yang sedari tadi memang sudah ada disana. Beliau sedang membaca Al-Qur'an sekaligus menemani Sina.
"Ya udah kita mulai." Nafisa mendudukan diri.
Mereka memilih duduk dilantai Karena lebih leluasa dan nyaman apalagi meja ruang tamu memang tak terlalu tinggi.
Sebelum memulai ke tata cara sholat, Nafisa terlebih dulu menjelaskan pada sina hakikat sholat itu sendiri.
Yang sina pahami Sholat adalah tiang agama dan penyangga amalan-amalan lainnya. Sesuatu yang tiada penyangga sudah pasti akan mudah rubuh dan runtuh bahkan takan berarti apa-apa.
Itu sebabnya sholat itu penting. Bukan yang penting sholat.
Setiap manusia yang merasa masih punya iman sudah sepatutnya mempelajari bagaimana sifat sholat yang benar. Dan orang-orang yang berusaha untuk membenarkan Sholat mereka sama seperti tengah memperbaiki hidup. Karena mustahil orang yang sholat nya benar, maksiatnya lanjut.
"Aku menyesal karena tidak pernah sholat. Mungkin aku terakhir sholat waktu SD. Itupun dipaksa guru ngaji." Curhat Sina.
"Kamu masih tergolong beruntung tahu, Sin. Lebih baik menyesal di dunia dan lekas bertaubat. Ketimbang menyesal di akhirat dan tak ada gunanya sama sekali. Yang terpenting sekarang kamu mulai belajar lagi."
Sina mengangguk setuju. Nafisa benar, dirinya masih tergolong beruntung karena masih diberi kesempatan untuk belajar dan berubah.
"Kamu udah baca buku tata cara sholat nya kan?"
"Udah. Alhamdulillah aku masih hapal loh Sa. Aku kira aku benar-benar lupa. Eh pas aku buka bukunya ternyata masih inget."
"Alhamdulillah kalo gitu. Gimana kalo kita langsung praktek."
"Boleh."
Sina segera berdiri Sangking semangatnya. Umi yang melihat tingkah Sina hanya bisa tersenyum dan terharu di waktu yang sama. Beruntung sekali wanita itu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Ayo sa."
Nafisa mengangguk. Kini mereka beranjak kebagian lain dari ruang tamu, ketempat yang lebih lapang yang sekiranya dapat mereka gunakan untuk praktek sholat.
Nafisa membentangkan dua sajadah dan menuntun Sina untuk berdiri disampingnya. Sina pun dengan senang hati menuruti titah sang guru.
"Allahu akbar. Angkat tangan sampai ke d**a Sin." Nafisa mulai bertakbir.
Allah, hati sina bergetar. Darahnya pun seolah ikut berdesir.
Kapan terakhir kali ia bertakbir? Kapan terakhir kali ia menghadapkan wajahnya kepada Sang Khalik? Sina malu, ia sungguh malu.
"Sin, kamu baik-baik aja?"
Nafisa menoleh kesamping. Disana, Sina tiba-tiba terduduk dan menangis.
"Sin?" Nafisa menyentuh pundak perempuan itu.
Umi juga ikut menghampiri mereka Ditambah lagi suara tangis Sina yang tak bisa tertahankan.
"Kamu baik-baik saja, Nak?" Tanya Umi Rita lembut.
Sina mengangkat wajahnya dan menatap wanita paruh baya itu dengan air mata berlinang.
"A... a.. aku mengingat dosa-dosa ku Umi. Aku malu sama Allah. Aku takut Allah murka."
Rita memeluk Sina dan mengelus punggung wanita itu lembut.
"Allah tidak akan murka pada mu Nak. Justru sebaliknya Ia akan mencintaimu. Karena Allah mencintai hamba-hambanya yang bertaubat. Itu sudah janji Sang pencipta."
"Setiap malam aku bermaksiat dari Allah Umi." Lagi air mata Sina jatuh. Ia peluk Rita lebih erat untuk mendapatkan kekuatan.
"Malam itu sudah berakhir Sina."
"Iya Sin. Dia yang punya masa lalu buruk bisa saja yang paling dinanti di surga."
"Benarkah?" Sina menatap Nafisa penuh harap.
"Insya Allah Sin. Oleh karenanya, Jangan sia-siakan waktu di sisa umurmu ini. Lakukan yang terbaik untuk menggapai Ridho Allah."
Kini giliran Sina yang memeluk Nafisa erat.
"Selalu ingatkan aku Sa."
"Pasti Sin."