مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِع
Artinya : Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia di dalam sabilillah sehinggalah dia pulang. (HR At-Tirmizi)
***
Sina kembali lagi ke Mesjid Agung Nurul Iman. Tujuan nya ingin menanyakan alamat Zain kepada marbot mesjid yang barang kali tahu dimana pria itu tinggal.
Kali ini Sina tidak memakai jilbab. Hanya saja bajunya lumayan tertutup dari biasanya. Entah kenapa ada rasa risih saat menggenakan pakaian terbuka itu lagi. Alhasil Sina memilih mengenakan baju terusan berlengan panjang.
"Permisi, Pak." Sapa Sina pada pria paruh baya yang sedang mengepel lantai teras mesjid.
"Iya, ada apa ya neng?" Si Bapak menghentikan pekerjaannya lalu menghampiri Sina.
"Saya mau tanya, Pak. Apa Bapak tahu dimana rumah Ustadz Zain?"
Sang Bapak menatap Sina curiga. Pasalnya banyak wanita yang datang menanyakan rumah Zain dengan tujuan taaruf. Siapa yang tak mengagumi sosok Nazaindra Akbar, telah banyak yang memimpikan menjadi pendamping sang Ustadz.
"Saya ingin bertemu dengan beliau. Ada yang ingin saya tanyakan, Pak."
"Neng, mau ajuin taaruf ke Ustadz tampan ya?"
Sina menggeleng kuat. Bagaimana ceritanya ia melamar Zain yang notabenenya seorang Ustadz sedang ia hanya seorang w************n.
"Ada yang ingin saya tanyakan sama beliau Pak. Penting banget. Mohon kasih tahu saya Pak." Sina memelas, berharap pria paruh baya dihadapannya ini mau dengan senang hati memberi tahu alamat Zain.
"Kirain mau ngajak taaruf Neng kayak yang udah-udah."
"Jadi Bapak tahu gak?"
"Tahu neng. Sebentar ya."
Si Bapak beranjak ke bagian samping mesjid. Sina tidak tahu pria paruh baya itu mau apa. Yang jelas ia disuruh menunggu dan tentu dengan sabar ia melakukannya.
Tak selang lama si Bapak kembali. Terlihat beliau membawa secarik kertas yang Sina yakini berisikan alamat Zain.
"Ini Neng, alamat Ustadz Zain. Sudah saya tulis dikertas ini."
Sina mengambil kertas itu. "Wah, terima kasih banyak ya, Pak. Kalau begitu Saya permisi dulu."
"Iya Neng, hati-hati. Semoga tujuan nya sukses. Kalo berjodoh InsyaAllah Allah mudahkan."
Sina hanya membalas dengan senyum sekenannya. Jadi si Bapak masih mengira dia mencari Ustadz Zain karena ingin mengajukan taaruf. Haduh, kalau ada hal yang paling mustahil di dunia ini, maka inilah yang paling mustahil.
***
Rumah sederhana, namun terasa begitu nyaman. Berbagai kembang dengan berbagai jenis bermekaran di halaman.
Rumah yang Sina tatap terlihat begitu asri. Ia juga dapat merasakan aura positif di dalamnya. Seperti ini kah suasana rumah hamba yang dekat dengan Allah? Hanya ada ketentraman yang terlihat.
Tak selang lama, sebuah mobil memasuki perkarangan rumah menuju Garasi. Mobil yang sama yang pernah Sina naiki. Buru-buru ia melangkah kesana.
Dia bisa melihat Zain turun dari mobil. Laki-laki itu tak sendirian, da wanita paruh baya dan seorang gadis bersamanya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam." Ketiganya memandang Sina dengan pandangan yang berbeda. Zain terkejut, sedang wanita paruh baya dan gadis cantik itu memandang Sina seolah bertanya siapa dia.
"Loh Anti kok bisa ada disini?"
Sina tak menjawab. Ia bingung ingin mulai dari mana. Kalimat yang sedari tadi ia susun rapi hilang entah kemana.
"Siapa Zain? Kamu kenal?"
"Oh ini Umi, jamaah kajian ba'da subuh tadi."
"Lah, tahu ama jamaah nya? Tumben." celetuk gadis cantik berkerudung biru itu. Dia Diba, anak bungsu dikeluarga Akbar. Wajar Diba bertanya seperti itu , karena biasanya Zain tak pernah mengenali para akhwat kajiannya yang bertamu kerumah.
"Ada perlu apa?" Tanya Zain lagi. Namun Sina masih diam. Ia terus saja menunduk, sungguh berat menyampaikan niatan nya datang kemari. Ia harus mulai dari mana.
"Mbak mau melamar Bang Zain ya? Mending pulang aja mbak. Gak bakal diterima sama Abang saya. Yang berhijab aja di tolak lo mbak."
"Diba!" Tegur Umi. Sedang Zain memberikan delikan tajam pada sang adik.
"Maaf Mbak." Untung gadis itu masih sadar dimana letak kesalahan nya. Sungguh ia tak pantas berkata seperti itu. Ya Allah, maafkan Diba yang sering ceplas ceplos!
"Kenapa diam saja, Nak? Ada apa?"
Sina mengangkat kepalanya. Suara lembut wanita itu mengingatkan nya pada Ibu. Wajah teduh beliau juga sarat akan kasih sayang, seperti Ibu.
"Saya ingin tobat." Bersamaan dengan kalimat itu, air mata Sina jatuh.
***
Kedatangan nya di sambut baik oleh keluarga Zain. Umi bukan orang yang suka menghakami. Beliau tak sedikitpun merendahkan Sina meski wanita paruh baya itu sudah tahu siapa ia sebenarnya.
Adik bungsu Zain juga begitu baik. Meski ceplas ceplos dan rada menyebalkan, Diba tipikal cewek yang humble dan periang. Ia juga tidak memandang Sina sebelah mata.
Dirumah ini tak ada lagi sosok Ayah. Dari cerita Umi, Ayah Zain telah meninggal 5 tahun yang lalu saat Zain masih menyelesaikan program masternya di Kairo.
Sejak saat itu Zain dan Abang sulung nyalah yang menjadi tulang punggung keluarga. Mereka saling bahu membahu membahagiakan dua wanita dalam hidup mereka, Umi dan sang adik.
"Alhamdulillah, Allah mengetuk pintu hati mu untuk kembali ke jalan-Nya, Nak."
Sina tersenyum dan mengiyakan ucapan Umi. Sungguh ia bersyukur subuh tadi di pertemuan dengan pria baik seperti Zain. Laki-laki yang tak mengusir dirinya meski tahu apa pekerjaannya. Zain justru membawa dirinya kejalan yang benar, untuk menjemput hidayah sang ilahi.
"Umi, apa Allah akan memaafkan dosa-dosa Sina? Setiap malam...."
Sina tak dapat melanjutkan ucapan nya. Ia tak kuasa mengingat betapa durjananya ia selama ini.
"Ukhti, ketahuilah bahwa Allah SWT mengampuni dosa hamba-hamba Nya meski dosa mereka sebanyak buih di lautan." Ucap Zain yang baru saja muncul setelah berganti pakaian.
"Dengan taubat nasuha, Allah akan ampuni seluruh dosa-dosa Anti." Ucapnya lagi seraya mendudukan diri.
"Termasuk dosa Zina?"
"Semuanya."
Perkataan pria itu membuat hati Sina tenang. Perasaan yang tadinya mengganjalpun seketika lenyap.
"Saya ingin belajar ilmu agama sama ustadz. Saya buta akan Islam."
"Alhamdulillah kalo anti ingin belajar. Tapi bukan ana yang akan ngajarin anti. InsyaAllah teman ana yang akan menuntun anti untuk belajar ilmu agama. karena akan lebih nyaman jika dengan sesama wanita kan?"
"Pasti Ustadzah Nafisa kan Bang?" Tebak Diba yang duduk disamping Umi.
"Tahu aja kamu, Dek."
"Diba gitu lo."
Umi geleng-geleng kepala melihat tingkah Diba yang tak ada kalem-kalemnya.
"Kalo anti mau, kita kesana sekarang."
"Mau Ustadz, mau!"
"Ya sudah mari. Adek ayok ikut."
"Gak mau ah! Kata abang jika ada yang berduaan, maka yang ketiga nya setan."
Kini giliran Zain yang geleng-geleng kepala.
"Adek setan bukan?"
Lantas saja Diba menggeleng kuat. Ya kali bidadari di bilang setan. Bisa jatuh harkat dan martabat nya sebagai wanita tercantik dirumah ini. Eh nomor 2 tercantik deng, karena yang pertama kan umi.
"Kalo adek bukan setan, berarti bukan berduaan namanya, tapi bertigaan."
"Makanya besok-besok abang ngasih tahunya yang jelas jadi Diba gak salah paham kek gini." Diba masih mencoba membela diri.
"Adek sekali lagi pura-pura bodoh gitu uang jajan abang potong loh. "
"Hehehe, jangan Bang. Diba kan bercanda."
Gadis itu cengengesan. Tak rela dirinya kalau uang jajan yang tak sebarapa itu di potong. Masa iya 20 ribu mau di potong juga sama abang super perhitungan nya ini?
"Sudah Zain, jangan buang-buang waktu. Kasihan Nak Sina lama menunggu."
"Astagfirullah, iya Umi. Kalo gitu Zain pamit ya umi. Assalamualaikum."
"Wa'ailaikumussalam."
Zain mencium tangan Umi, pun dengan Sina dan Diba sebelum mereka beranjak pergi dari sana.
***
Dia wanita terjaga. Sekujur tubuh nya dibaluti dengan pakaian takwa. Tutur kata nya lembut menenangkan. Tatapan matanya teduh lagi menjaga.
Kesan pertama yang Sina dapat terhadap sosok Nafisa Husein ialah... dia wanita yang luar biasa.
Jika ia membandingkan dirinya dengan Nafisa, maka tentu mereka bagaikan bumi dan langit. Bagaikan kaktus dan mawar, sama-sama berduri namun mawar terlihat jauh lebih indah dan cantik.
"Ana minta bantuan Anti untuk mengajari Ukhti Sina tentang islam. Jika anti tidak keberatan."
"Tentu aku gak keberatan, Zain. Dengan senang hati aku akan ngajarin Sina."
"Ustadz Nafiisa memang da best! Luar biasa! Istimewa!" Seru Diba heboh sendiri.
"Dek jaga sikap."
"Iya bang." Diba cemberut, selalu saja ada yang salah dari sikapnya. Huft abangnya itu memang menyebalkan.
"Apa Ustadzah benar-benar mau mengajari saya? Saya kan..."
"Allah saja tidak pernah menghakimi hamba nya yang bertaubat. Lantas siapa aku?"
Zain tersenyum. Selalu saja wanita itu membuatnya terkagum. Nafisa begitu dewasa dengan pemikiran nya.
"Jangan pernah merendahkan diri mu lagi, Sina. Setiap orang punya masa lalu buruk. Dan setiap orang punya kesempatan untuk berubah. Kita itu sama dimata Allah."
"MasyaAllah. Diba jadi terharu Ustadzah." Gadis itu kagum sendiri sampai-sampai menangkup kedua pipinya seraya menatap Nafisa bagai melihat sosok sang idola. Memang sejak lama ia mengagumi Nafisa, berharap kelak wanita itu menjadi bagian keluarga nya.
Disisi lain Sina terdiam, mencerna perkataan Nafisa bait demi bait. Jadi, langkah awal untuk hijrah ialah jangan merendahkan diri sendiri. Masa lalu kita boleh saja kelam, tapi untuk sekarang dan masa depan harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Kamu tinggal sama siapa Sina?" Tanya Nafisa.
"Sendiri Ustadzah."
"Kalo kamu mau, kamu tinggal disini aja. Kebetulan disini hanya ada aku sama Umi. Umi pasti senang punya temen ngobrol."
"Iya kak Sina, tinggal disini aja. Biar belajar nya makin maksimal pake banget!"
"Iya. Sebaiknya anti tinggal di sini saja. Untuk menghindari lingkungan yang buruk juga." Zain ikut mendukung ajakan Nafisa. Akan lebih baik jika Sina keluar dari zona kelam yang pernah ia tinggali itu.
"Jika Ustadzah tidak repot..."
"Kan aku aku yang nawarin. Kamu jangan sungkan."
Benar juga. Akhirnya Sina mengangguk menyetujui. Mungkin untuk beberapa waktu ia akan tinggal disini. Lagi pula, tak enak hati rasanya menolak. Sina justru bersyukur Allah seperti memudahkan jalan nya untuk kembali kejalan-Nya.
"Ana berdoa, agar anti memperoleh ilmu yang bermanfaat. Juga dapat berubah menjadi pribadi yang lebih taat."
Mereka kompak meng-Aamiin kan, sama-sama berharap Sina berubah sepenuhnya. Tak hanya Sina dihadapan mereka ini, tapi juga Sina-Sina lain di luar sana.