Tertampar

1398 Words
Wanita itu dimuliakan dalam islam, oleh karenanya Allah meminta mereka untuk menjulurkan jilbab keseluruh tubuh agar mereka senantiasa terjaga. Saat Allah sendiri ingin memuliakan mu, lantas kenapa engkau justru merendahkan dirimu sendiri? Berhijab itu bukan saat akhlak kita sudah benar. Namun, hijablah yang akan memperbaiki akhlak kita. *** Ada rasa tenang menyelinap kedalam hatinya kala mengenakan jilbab. Seperti sesuatu yang lama hilang telah kembali. Matanya memerah menahan haru. Allah, apa ia pantas mengenakan jilbab ini? Sina termenenung usai menghapus make up. Mata yang tadi nya dihiasi warna-warni tak jelas sudah lenyap, meninggalkan mata sayu nan indah. Bibir yang tadi nya di hiasi gincu merah berganti dengan bibir pink alamai. Sina cantik, tapi ia memperburuk diri dengan make up menor yang membuatnya tampak mengerikan. Tok tok Ia terperajat lantaran mendengar ketukan beberapa kali dikaca mobil. Astaga, Sina tidak sadar bahwa sholat subuh telah usai. Alhasil Zain menyusulnya ke mobil, barangkali Pria itu berpikir ia akan kabur. Sina membuka pintu mobil perlahan. Ada sedikit keraguan melandanya. "Anti tidak sholat subuh?" Sina menggeleng lemah. Ia tebak pasti si ustadz akan menceramahi nya dengan berbagai firman Allah dan hadis Rasullulah yang akan membuat Sina semakin terlihat sebagai pendosa. "Belajarlah untuk taat perlahan. Berubah itu ada prosesnya. InsyaAllah Anti mampu." Sina mengangkat wajah. Ternyata dirinya salah. Zain tak menceramahinya sama sekali. Pria itu justru memberi pengertian padanya dengan bait kata sederhana. Belajarlah untuk taat perlahan. "Ya sudah mari ikut kedalam. Kajian sebentar lagi akan di mulai." Entah kenapa kali ini kaki Sina begitu ringan melangkah. Ia seakan ditarik oleh magnet tak kasat mata dari dalam mesjid. "Anti lewat sana." Zain memberi tahu pintu masuk para akhwat pada Sina. Lantas saja wanita itu beranjak kearah yang di tunjuk. *** Para ibu-ibu berbisik saat Sina masuk. Sina jadi risih, apa ia sama sekali tak pantas memakai pakaian ini. Apa pakaian ini tak bisa menyembunyikan jati dirinya? "MasyaAllah, istri ustadz Zain cantik ya Buk." "Bukan cantik lagi Buk. Cantik banget ini. Sholehah pula. MasyaAllah Beruntung nya Ustadz." Sina tersenyum miris. Ternyata mereka menganggap dirinya istri Zain. Mungkin karena mereka melihat ia berjalan beriringan dengan pria itu. Dan apa tadi? Beruntung? Yang benar saja, mana ada laki-laki beruntung bila memiliki wanita pezina sepertinya. "Nama nya siapa, Neng?" Sina menoleh kesamping, pada seorang wanita yang baru saja bertanya. "Saya buk?" "Iya atuh." "Saya Si... Kania." Tidak. Sina nama yang kotor. Nama yang sering di teriaki lelaki hidung belang di tengah malam. Ia tak ingin nama itu di sebut di rumah Allah yang suci ini. "MasyaAllah namanya bagus Neng." Sina hanya tersenyum kikuk. Tak ingin memperpanjang obrolan dengan si Ibu karena Zain sendiri telah bersiap di atas mimbar. "Assalamualaikum warahmahtullahi wabarokatuh." Pria itu membuka kajian nya dengan salam. "Wa'alaikumussalam warahmahtullahi wabarokatuh." Jawab semua jemaah, termasuk juga Sina yang untung nya masih tahu bagaimana menjawab salam. - - - Sina mengantuk luar biasa. 15 menit sudah berlalu sejak Zain memulai ceramah tapi tak ada satupun yang nyangkut di otaknya. Pria itu membahas kitab ini dan kitab itu yang tak dimengerti olehnya sama sekali. "Antum yakin besok masih hidup? Jangan kan besok deh, 1 detik lagi antum bisa mastiin?" Sina mulai tertarik. Matanya yang tadinya menyipit kembali terbuka sempurna. Kini ia fokuskan dirinya untuk mendengar kelanjutan ceramah Zain. "Kalo gak bisa memastikan jangan pernah menyia-nyiakan waktu untuk hal yang tidak bermanfaat. Jangan betah dalam maksiat. Coba antum bayangin. Saat Kita maksiat, trus seketika nyawa kita di cabut. Itu Kita ke surga apa ke neraka?" "Ke nereka!" Jawab jamaah kompak. "Betul! Masuk neraka tanpa hisab." Semua tertawa pelan, kecuali Sina. "Imam Hasan Al bashri pernah berkata. Wahai anak adam! Kalian tidak lain hanya kumpulan hari. Setiap hari berlalu maka sebagian dari diri kalian ikut pergi. Artinya apa bapak-bapak? Ibu-ibu? Artinya jangan sampai kita menyia-nyiakan satu hari saja dalam hidup ini. Misalnya sholat tahajud. Kita gak Sholat tahajud gak dosa. Tapi rugi! Catatan amal kita dihari itu gak ada Sholat tahajud. Dan sayang nya kita gak bakal bisa mengisi catatan amal kemarin. Sekarang bayangkan betapa meruginya Kita tiap harinya. Sholat wajib molor! Sholat tahajud enggak! Dhuha susah! Sedekah hitung-hitungan. Terus mau masuk surga tanpa hisab." Kali ini semua jamaah terdiam, begitupula dengan Sina. Ia merasa tertampar. Jangankan Sholat tahajud, Dhuha, maupun sedekah. Sholat wajib saja Sina lupa bagaimana caranya, bacaannya mungkin ia tak begitu ingat lagi. Allah, di mana tempatnya di akhirat kelak? Ya Allah, bagaimana jika ia mati dalam keadaan hina ini. "Dunia ini sementara wahai saudaraku. Saat kita mati kelak kita akan menganggap dunia ini hanya mimpi yang lewat begitu saja. Pertanyaan nya antum mau lalai di dalam mimpi ini dan kelak masuk neraka tanpa hisab? Tidak ingin kah antum mencapai derajat mulia? Tidak inginkah antum dicintai Allah, masuk surga tanpa hisab, bersama Rasullulah SAW di sana dan melihat wajah Sang Pencipta kelak?" "Mau Ustadz!" "Maka dari itu jangan pernah menyia-nyiakan waktu dalam hidup kita. Kembali. kembalilah kejalan Allah. Bertaubat lah kepada Dia yang Maha Pengampun." Jeda sesaat sebelum Zain menutup ceramahnya, "sekian kajian kita hari ini. Semoga perkumpulan kita di mesjid ini diridhoi Allah dan dicatat sebagai ladang amal. Aamiin. Wassalamualaikum warahmahtullahi wabarokatuh." "Wa'alaikumussalam Warahmahtullahi wabarokatuh." Satu tetes bulir air mata jatuh di pipi Sina. Bagian hatinya remuk. Ya Rabb Betapa durhakanya ia selama ini. Allah menciptakannya dengan mulia tapi ia merendahkan diri sendiri dengan berzina, dosa yang sangat berat. *** "Berhenti disani saja Pak Ujang. Rumah saya ada didalam gang itu." Pak ujang menepikan mobil sesuai permintaan Sina. "Baiklah. hati-hati Ukhti." "Terimakasih Ustadz, terima kasih pak ujang." Sina lekas turun setelah dua pria beda usia itu menjawab ungkapan rasa terima kasihnya. Ia menatap mobil Zain yang kian menjauh membelah jalanan. Sina menarik nafas dalam. Ia melangkah kedalam gang tempat tinggal nya dengan pikiran berkecamuk tak karuan. Tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah ini. Pelan Sina berjalan. Melewati orang-orang yang memandang nya bagai alien turun ke bumi. "Kesambet malaikat dimana kamu Sina?" Sina mengabaikan pertanyaan wanita yang tengah menjempur pakaian itu. Nyawa nya kini seolah tidak bersama raganya. Bayangan tentang kematian, surga, neraka terus berputar di kepala Sina. "Waduh, di rukiyah sama siapa tu p*****r? Pulang-pulang sudah pakai hijab." Lagi Sina abai. Ia terus berjalan menuju rumah petakannya. Ia tak ingin menggubris orang-orang yang membencinya. *** Sesampai dikontrakan, setelah menutup pintu rapat-rapat, Sina terduduk lesu di lantai kamar. Ia menangis sejadi-jadinya. "Ya Rabb. Apa hamba pantas menyebut namamu?" "Ya Allah hamba durhaka. Hamba seorang pezina. Apa hamba pantas mendapat ampunan mu?" Sina kian sesak mengingat hari-hari yang ia lewatkan dengan bermaksiat. Tak ada sedikitpun ia mengingat sang pencipta. Tak pernah terbesit dihatinya tentang kehidupan setelah mati. Ia berbuat maksiat seolah-olah ia akan aman. Padahal nyatanya, hari pembalasan itu akan datang. Dan adai Sina mati ketika tengah bermaksiat, ia pasti akan menjadi salah satu hamba Allah yang paling menyesal. Demi Allah, ia akan menyesal. - - - "Kembali lah Kania, taati perintah Allah. Jauhi maksiat yang Ia larang. Jangan sakiti ibu di sini karena dosa mu, Nak." Sina mengejar Ibu nya yang melangkah mundur. Perempuan berkerudung putih itu tampaknya tak ingin di dekati olehnya. Kenapa? Kenapa Ibu menjauhi Sina? "Ibu, Kania ingin peluk. Kania rindu Ibu." "Kania, sampai kan rindu mu melalui doa. Jadilah anak sholeh penghantar Ibu kesurga. Jangan dorong Ibu perlahan ke neraka, Nak." Sina menggeleng kuat. Ia tak ingin itu terjadi pada Ibu. Ia ingin Ibu bahagia dikeabadian sana. "Ibu Kania akan berubah. Jangan tingggal kan Kania Bu. Ibuuuuu!" Sina terduduk dari pembaringan. Barusan ia memimpikan almarhum sang Ibu. Sudah lama Sina tak memimpikan sosok beliau hingga rindu sesekali menghampiri. Kalau sudah begitu, ia berharap bisa bertemu dengan wanita terhebat itu didalam mimpinya, walau sebentar. Namun saat Ibu muncul di mimpi Sina, beliau justru merasa kecewa. Maaf kan kania Bu. Sina bangkit dari dingin nya ubin. Ia berjalan menuju meja rias. Sontak Sina meringis menelisik penampilannya yang tampak kusut. Jilbabnya miring dengan anak-anak rambut yang keluar. Sina membetulkan letak jilbab itu. Lalu ia pandang lamat-lamat wajahnya sekali lagi. Sebuah senyum simpul terukir menyadari betapa anggunnya dia di baluti hijab seperti ini. Bagaimana jika ia memakai hijab seterusnya? Tapi apa yang akan di katakan orang-orang? Tunggu, bukankah Sina selama ini tidak pernah ambil pusing akan penilaian orang lain. Lantas kenapa kali ini ia harus memikirkan itu? Namun Memakai hijab tak semudah itu bukan? Ia butuh ilmu dan kemantapan hati lebih dari ini. Ia butuh seseorang untuk membimbing langkahnya yang sudah jauh hilang arah. Satu mama terlintas dibenaknya. Zain... Ustadz Zain. Sina perlu bertemu lagi dengan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD