Bukit Berbatu

2744 Words
Setelah membaca isi dari kertas itu Bear dan Sean buru-buru pergi dari kamar Larissa. Mereka tidak ingin menimbulkan banyak pembicaraan karena bermalam di kamar perempuan. Seperti pesan yang tertera, mereka harus menyiapkan perbekalan yang cukup. Bear membongkar isi lemari dan mendapati dua buah tas ransel berukuran besar, warnanya hitam. Dua-duanya milik Bear, tetapi ia akan meminjamkannya satu pada Sean. Sean hampir memasukkan buku-buku ke dalam tas itu dan langsung diperingatkan oleh Bear. “Bawa yang penting. Yang kira-kira kalau tidak membawa itu kamu bisa mati.” Sean ingin sekali menjawab, “Aku tidak bisa hidup dalam perasaan bosan tanpa buku-buku.” Namun, karena ia tahu kondisi sekarang tidak cocok untuk bercanda akhirnya ia hanya menjawab, “Baik, Bear.” Ia lalu memuat ulang tasnya. Bear merebus beberapa butir telur, juga membuat  telur mata sapi. “Kita butuh banyak asupan protein.” Sean menggumam, “Asal tidak bisul saja, Bear.” Mereka juga menanak nasi yang banyak, sekaligus untuk berbagi dengan Larissa. Larissa sendiri akan memasak masakan yang lebih komplet berisi sayur, bakso, jamur, dan bahan makanan lain yang memang ia stok di kamarnya. Jika disuruh membawa perbekalan yang cukup, maka yang paling penting tentu saja makanan. Untuk perbekalan lain seperti senter, handuk kecil, baju ganti, alat pembersih diri, dan apa pun yang terlintas di kepala mereka sudah dikumpulkan di samping tas. Asal tasnya muat maka semuanya dibawa. Mereka juga membawa rantang plastik hijau berisi makanan. “Aku membawa katapel, mungkin kita akan menghadapi musuh,” ujar Sean mengasal. Bahkan katapel besar miliknya tidak akan bisa digunakan untuk menghadapi apa pun. Saat semuanya selesai barulah mereka mandi dan berkemas. Setelah itu mereka berkumpul di pusat perbelanjaan LBS yang buka 24 jam untuk membeli beberapa keperluan lain. Larissa datang dengan pakaiannya yang santai dan nyaman. Baju kaos putih lengan panjang, celana karet longgar semata kaki, tas ransel khusus warna cokelat berbahan parasut seperti milik Bear dan Sean. Sean memakai kaos hijau dan celana pendek warna krim. Sedangkan Bear memakai kaos abu-abu dan celana panjang warna cokelat. Mereka sudah sangat siap untuk berpetualang hari ini. “Teman-teman kita akan usil saat tahu kita membolos.” Sean sebenarnya tidak perlu mengatakan hal itu. Apa yang mereka lakukan memang selalu terlihat salah. Bear memesan taksi online untuk membawa mereka ke arah timur. Entah jalan sebelah mana yang harus mereka tempuh. Surat itu hanya memberi tahu bahwa mereka harus bergerak ke arah matahari terbit. Saat taksi datang mereka lalu masuk ke dalamnya. Bear duduk di depan, di samping sopir. Adapun barang-barang bawaan mereka di simpan di bagian tengah. Sean hendak protes karena ia harus memangku tas besar milik Bear tetapi Larissa malah berkata, “Aku saja yang pegang.” Tentu saja Sean gengsi dan tidak mau memberikannya pada Larissa. Pukul delapan pagi, beberapa kendaraan ramai lancar membelah jalanan. Bear memberi instruksi kepada sopir sesuai arahan maps di ponselnya. Apa pun rutenya Bear hanya ingin taksi itu berjalan ke arah timur, tanpa peduli mereka akan tersesat. Matahari mulai naik. Jam sudah menunjukkan pukul 11.45. Sean jatuh terlelap di belakang Bear. “Ini sampai kapan, ya?” Sopir terlihat mulai resah. “Saya tidak menyangka akan sejauh ini.” Bear benar-benar bingung harus menjawab apa. Benar juga, mereka tidak bisa terus menerus menaiki taksi tanpa tujuan. Ini bisa saja termasuk mempermainkan sopir. Larissa yang mendengar pertanyaan sopir tadi jelas melihat kebingungan di wajah Bear. Ia lalu menepuk pundak Bear. Bear menoleh. “Ada apa, Larissa?” “Bagaimana kalau kita jalan kaki, Bear? Setidaknya kita bisa beristirahat, bisa mencari petunjuk di jalan, atau apa pun.” Saat ini mereka berada di jalan desa yang sepi. Hanya semak yang mengapit mereka, juga beberapa pondok kayu yang sudah reot. Jika mereka terus masuk ke dalam, mereka tidak bisa memastikan bahwa mobil ini akan bisa melanjutkan perjalanan. Di hadapan mereka pemandangan gunung berkabut menjadi bingkai perjalanan. Gunung tersebut terlihat suram dan gelap, berbanding terbalik dengan langit yang cerah. “Kita lanjutkan sedikit.” Bear menoleh ke sopir. “Pak, dilanjutkan sedikit lagi, ya.” Sopir itu mengembuskan napasnya. Kalau tahu seperti ini dia malas sekali menerima pesanan. Mobil abu-abu kembali melintasi jalanan yang mulai menanjak. Hentakan-hentakan yang disebabkan jalanan yang koreng membuat rute semakin berat, Sean bahkan terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba, sopir itu menghentikan kendaraannya. “Ada, Pak,” tanya Larissa. Sopir itu menunjuk ke depan. “Jalanannya terputus.” Benar, dari dalam mobil mereka bisa melihat beberapa puluh meter dari posisi mereka sekarang jalanan itu terputus, digantikan genangan lumpur. Mobil itu bisa ambles jika nekat melanjutkan perjalanan. Maka, di sinilah mereka berakhir. Bear memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. “Bagaimana kalau surat itu bohong? Bagaimana kalau kita tersesat dan tidak bisa kembali? Bagaimana kalau rute yang kita ambil salah?” “Sean, aku bisa melihat kebenaran di kertas itu.” “Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu? Kamu tidak memiliki intuisi untuk melihat kebenaran di dalam surat.” “Untuk kali ini percayakan padaku.” Sean tidak habis pikir dengan cara berpikir Bear. Membiarkan taksi tadi pergi begitu saja setelah mereka melakukan pembayaran digital. Di sini tidak siapa-siapa. Jika ada hewan buas atau bahaya lain mereka tidak bisa meminta bantuan siapa pun. “Aku percaya perkataan Bear. Sean, di sini kita bertiga. Sejauh ini kita baik-baik saja, kan? Yang penting kita bersama-sama.” Akhirnya Sean menyerah, dia mengangguk dan mengikuti langkah kaki Bear dengan gontai. Dia sadar selama ini dia yang paling banyak protes. Namun, itu murni karena kekhawatirannya. Itu sangat manusiawi. Mendadak, langit yang semula cerah berubah menjadi kelam. Awan-awan bergumul membentuk lapisan hitam yang membungkus langit. Bear menahan satu tetes air yang jatuh dengan telunjuknya. “Kita harus segera berteduh.” Bear mempercepat langkah, melompati genangan-genangan lumpur, mencari tanah yang agak keras, menginjak bebatuan. Beberapa detik berharga mereka telah habis. Hujan benar-benar turun tanpa pemberitahuan. Seketika mereka kuyup. Lelaki berkaca mata itu  membawa temannya untuk berteduh di salah satu pondok yang reot. “Mengapa mendadak sekali? Aku bahkan tidak bisa memprediksinya untuk hujan kali ini.” Larissa memandangi langit yang menumpahkan air deras bersama tiupan angin kencang yang membuat semak dan pepohonan di sekitar berkelempai. Sean ingin protes lagi, tetapi ia sadar bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk beruacap aneh-aneh. “Katakan saja, Sean. Jangan kamu simpan.” Bear berhasil membaca informasi di kepala Sean. “Maafkan aku sudah membawa kalian dalam perjalanan sulit ini.” Bear menatap kedua sahabatnya dengan tulus. Sudut matanya terlihat sayup dan itu membuat Sean dan Larissa merasa bersalah. “Ini keputusan kita. Bagaimana bisa menjadi kesalahanmu?” Sean mengatakan itu sambil menepuk pundak Bear. “Aku memang selalu cerewet, tetapi aku tidak akan menyesali ini. Aku justru akan sangat menyesal jika membiarkan kalian pergi tanpa aku.” Larissa memandangi setiap tetes air yang jatuh di hadapannya. “Aku rasa akan ada keajaiban lain yang akan kita terima. Mungkin kita tidak akan tiba di mana pun dengan usaha kita, tetapi ada entitas Tuhan yang selalu mengirimkan bantuan dengan cara-cara yang sangat berharga. Kita tunggu saja di sini, berdoa. Katanya, hujan adalah waktu yang baik untuk berdoa.” Bear dan Sean menyetujui perkataan Larissa. Mereka terdiam dalam waktu yang lama. Merenung hingga jiwa mereka berada pada titik yang sangat seimbang. Ketenangan, rasa damai, keikhlasan. Saat itu mereka kembali mendengar suara petikan jari, dan waktu seolah berhenti. Titik hujan tak lagi sampai ke bumi, pohon dan rumput mematung. Bear, Sean, dan Larissa saling tatap melihat keanehan itu. mereka kebingungan. “Aku ada di belakang kalian.” Seorang berpakaian hitam-hitam, menggunakan masker hitam, berbadan tegap dan sempurna, muncul di belakang pondok reot. Tiga remaja itu menelan liurnya yang mengental. Dari mana pria ini datang? Belum sempat mereka melontarkan pertanyaan apa pun, lelaki itu sudah menginterupsi mereka. “Simpang saja pertanyaan kalian.” Ia berucap datar dan dingin. Pria itu kemudian mengangkat tangan kanannya ke angkasa, menatap langit dengan lekat. Lalu ia menggeser tangannya seperti orang yang membuka kaca jendela. Mereka bisa melihat bahwa pemandangan langit yang berada di atas kepala mereka seolah digeser, berganti dengan langit yang lebih hitam dan pekat. Saking pekatnya mereka kembali buta dan tidak bisa melihat apa-apa. *** Kesadaran mereka seperti dicabut untuk sementara waktu. Dan, ketika kesadaran itu kembali mereka sudah terkapar di pondok kayu. Pondok kayu yang sekarang tampak lebih kuat daripada yang tadi. Namun, situasi sekitarnya berbeda. Mereka berada di lahan luas yang lapang. Langit hitam pekat dengan bulan purnama yang menyala. Pohon-pohon rimbun yang entah apa namanya mengelilingi mereka. Saat Larissa menurunkan kakinya, rerumputan lalang segera rebah jimpa, terasa menggelitik kaki. Di depan mereka ada sebuah gunung berbatu, di atasnya tampak ada sebuah tembok besar dari bebatuan gelap. Bear memandangi sekitar mereka yang gelap. “Kita di mana, ya?” Pertanyaannya jelas tidak bisa dijawab oleh Sean dan Larissa karena mereka pun tidak tahu. “Pria itu yang membawa kita ke sini,” simpul Sean. “Sama seperti waktu malam kemarin, kita juga mendengar suara petikan jari dan semuanya gelap. Saat sadar kita sudah di kamar Larissa. Satu-satunya pertanyaanku sekarang, kita harus pergi ke arah mana?” Larissa mengarahkan tangannya ke atas gunung. “Di situ ada tembok. Sepertinya kita akan mendapatkan sesuatu di sana.” “Baik, kita coba.” Bear mengenakan kembali tas ranselnya yang terlepas lalu mengencangkannya. Sepertinya dugaan Larissa benar karena perasaannya mengatakan demikian juga. Sean memanyunkan mulutnya, tetapi tak urung ia juga mengencangkan tasnya. Mereka bertiga segera beranjak menuju kegelapan yang lebih pekat, melintasi rumput lalang setinggi betis. Sean menyesal mengenakan celana pendek karena ia harus berkali-kali menggaruk kakinya. Pakaian mereka yang semula basah terkena hujan kini sudah mengering seolah-olah hujan itu tidak pernah turun. Begitu tiba di tepian gunung berbatu, mereka mencari rute yang paling landai. Mereka tidak membawa alat bantu untuk mendaki karena mereka tidak pernah berpikir untuk pergi ke dataran tinggi seperti ini. Bear memimpin rute, dia secara tak langsung direkrut menjadi ketua tim. Ia mengambil ancang-ancang untuk lompat ke pahatan batu terdekat. Selanjutnya ia mengulurkan tangan untuk membantu Larissa, sedangkan Sean menunggu di bawah untuk membantu gadis itu. Setelah Larissa naik barulah Sean yang naik dan dibantu oleh Bear. Maklum, kakinya tidak sejenjang milik Bear jadi dia masih butuh bantuan. Mereka melakukan hal yang sama untuk beberapa kali. Di percobaan terakhir Larissa nyaris terjengkang, beruntung Sean sigap menopangnya. “Larissa hati-hati. Jangan buru-buru.” Sean memperingatkan. “Maaf, Sean.” Bear lalu mengulurkan tangannya lagi dan hap Larissa berhasil melompat. Kini mereka sudah berada di puncak gunung. Jantung rasanya melompat dari tempatnya, mereka sangat kelelahan. Kaki sudah bergetar setelah berkali-kali mencoba mendaki bebatuan licin. Di depan mata mereka sebuah tembok setinggi delapan meter mencegat langkah mereka. Namun, bukan itu masalahnya. Di depan tembok puluhan bahkan ratusan anjing seperti terlelap. Anjing itu tampak ganas dan kekar dengan bulunya yang berwarna hitam. Di bagian tengah tembok terdapat satu celah yang memungkinkan mereka untuk masuk. “Kita tidak bisa masuk begitu saja, kalau kita ketahuan kita akan berada dalam berbahaya.” “Lalu kita harus bagaimana, Bear?” Bear bergumam, berpikir, meninjau situasi. “Aku yang akan mencoba masuk, Larissa.” “Eh! Kamu mau mati?” seru Sean spontan. “Bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu?” “Bear kita bisa melakukannya bersama.” Bear menggeleng. “Jika terjadi sesuatu kepada kita bertiga, maka perjuangan kita sia-sia. Aku akan memastikan kalau aku baik-baik saja.” Bear melepas tas ranselnya lalu menyerah benda itu kepada Sean yang melongo. “Jaga baik-baik, Sean. Ah ini rantang makanan juga.” “Bear jangan konyol. Ini bukan permainan. Aku dan Larissa tidak bisa melakukan apa-apa tanpamu.” “Aku akan baik-baik saja Sean. Jika nanti kalian melihat ada peluang untuk kalian menyelinap, lakukan saja tanpa aku. Aku akan membuat anjing ini fokus kepadaku dulu.” Bear mengeluarkan pemantik gas berukuran besar dan menyerahkan itu kepada Sean. Dia membisikkan sesuatu kepada kedua temannya. Baru lalu mengambil langkah pertama, kedua, dan seterusnya. Baru beberapa langkah Bear maju, anjing itu sudah menunjukkan gelagat aneh. Secara bersamaan binatang itu menegakkan kakinya, mereka terbangun. “Arrrrghhh, gukgukguk!”Anjing tadi membuka mulutnya dengan begitu lebar. Menyalak saat mencium aroma manusia. Anjing itu ukurannya tiga kali lebih besar dibanding anjing biasa, mulutnya bisa terbuka lebar hingga muat menelan manusia bulat-bulat. Bear kini terdiam di posisinya, mulai melakukan perhitungan. Jujur dia takut dengan hewan buas, tetapi dia tahu dua temannya juga takut. Dan, ketakutan hanya akan bisa dipadamkan dengan keberanian. Anjing-anjing itu tidak diikat, tetapi hingga sekarang belum ada satu tanda pun anjing itu akan menyerangnya. Ketika Bear masih berpikir, seekor anjing tiba-tiba melompat dan mendaratkan cakarnya ke wajah Bear. Beruntung lelaki itu refleks mundur dan jatuh ke belakang, anjing itu melewati kepalanya. Tidak sampai situ, anjing lain hendak mengejarnya. Posisi Bear sekarang sangat tidak menguntungkan. Namun, Sean berlari dengan kencang dan melemparkan ranselnya ke anjing itu. “Akhirnya perbekalan kita berguna!” Sean berseru. Ia lalu mengambil cepat tasnya sebelum anjing lain mengejar. Bear sudah bisa berdiri tegak, begitu ada anjing yang hendak menerkamnya dia menendang binatang itu dengan kakinya. “Sean di belakangmu!” Bear berteriak. Sean yang sedang memukul kawanan anjing dengan tasnya dikejutkan dengan kehadiran anjing lain dari arah belakang. Ia melirik dengan sudut matanya. Saat anjing itu berlari kencang untuk menerkam kakinya, Sean melompat. Anjing itu menabrak anjing-anjing yang lain. Beberapa ekor anjing lain mulai menyalak, menatap mereka berdua. Larissa yang berada empat meter dari posisi dua temannya berteriak, “Mundur sekarang!! Kalian tidak bisa mengalahkannya!” Sean dan Bear saling tatap. Ketika kawanan anjing hendak menyerang mereka—ada yang berlari dan ada yang melompat—Bear dan Sean menarik kaki dari area itu. Sean tersandung. Seekor anjing membuka mulutnya dengan sangat lebar, hendak menyantap bulat-bulat kepala Sean. Bear tidak bisa mendekat ke sana karena anjing lain mengejarnya. “Lemparkan saja tas itu ke mulutnya, Sean!” teriak Bear. Sean segera melempar tas besar itu kepada anjing yang sudah melompat dengan mulut besarnya. Anjing itu tersedak tas. Sean buru-buru lari dan menyusul Larissa. Kini Bear yang ada dalam masalah. Dia berputar ke mana pun untuk menghindar dari kawanan anjing. Ia tidak bisa membawa anjing itu menuju teman-temannya karena ia terus dikejar. Adapun beberapa anjing lainnya menunggu di dekat tembok, tidak membuka jalan bagi Sean dan Larissa masuk. Sean dan Larissa ingin menolong tetapi mereka tidak bisa berbuat apa pun. Bear berhenti, menstabilkan napasnya. Anjing-anjing itu tidak kehabisan stamina. Sekarang Bear sudah berada di bagian samping tembok, cukup jauh dari posisi kedua temannya. Di belakangnya sebuah jurang menuju dasar gunung menghalangi gerak kakinya. Tanah berbatu tempatnya berpijak sangat licin, ia bisa tergelincir dan jatuh ke bawah. Anjing itu bukan anjing biasa. Sejak pertama kali melihatnya, ia sudah merasa ada yang aneh. Ketika Bear berhenti anjing itu ikut berhenti, mematung di tempat. Kawanan itu berjalan pelan dengan mulut yang lebar. Bear memperhatikan sinar bulan di atas kepalanya, lalu memperhatikan bayangan dari enam ekor anjing di depannya. Ia juga memperhatikan bayangannya sendiri. “Bayangan mereka berlawanan dengan arah sinar bulan,” gumam Bear dengan napas tersengal-sengal. Dia dapat menyimpulkan sesuatu sekarang. Dari banyak anjing itu, hanya ada satu anjing sungguhan. Sisanya adalah bayangan anjing yang dihidupkan. Bayangan itu tidak bisa membunuh, hanya menakuti atau memojokkan, tetapi tetap melukai tamu yang datang. Bear mengeluarkan ponsel dari sakunya sambil menatap awas kawanan anjing. “Larissa, Sean! Temukan anjing yang arah bayangannya searah sinar bulan! Itu anjing yang asli, sisanya bayangan!” Setelah mengucapkan pesan itu seekor anjing menyalak dengan keras dan hendak menerkam Bear lagi. Bear segera loncat ke belakang, membiarkan tubuhnya jatuh dari atas puncak gunung. Dari tempat yang berbeda, Sean dan Larissa sudah menemukan anjing yang Bear maksud. Ia berada di barisan paling kanan. Terlihat bahwa anjing itu sedari tadi hanya diam dan bermalas-malasan, tetapi ternyata dia lah anjing yang asli. “Aku memang tidak jago memanah, tetapi aku jago bermain katapel sejak kecil.” Sean mengeluarkan katapel dari dalam tasnya. Dia lalu mengambil bongkahan batu yang cukup besar, membungkusnya dengan jerami dedaunan rumput kering yang ada di sekitar mereka meskipun jarang. Lalu menuangkannya dengan bahan bakar pemantik. Sean menyalakan korek gasnya dan mendekatkannya pada bola api hingga terbakar. Dia tidak peduli tangannya terluka. “Lakukan sekarang, Sean!” Sean menarik karet tahan api yang ada di katapelnya lalu melepaskannya. Bola api itu melesat dan masuk ke dalam mulut anjing itu. binatang itu lalu meraung hebat hingga tanah bergetar “AAAAARRRRRRGGGHHHHH!!!!” Anjing-anjing lain ikutan terbakar, bulunya berguguran, dagingnya tanggal-tanggal. Dalam hitungan detik ratusan anjing yang menunggu tembok itu lenyap. Larissa membantu Sean menyiram tangannya yang terbakar dengan air mengalir. Sean memejamkan matanya, menahan pedih. Tadi rasanya tidak sesakit ini, tetapi beberapa saat setelahnya, tangan Sean benar-benar terasa seperti terbakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD