Sean yang melihat itu dari sorot lampu senternya seketika menelan ludah.
“Itu darah manusia yang baru berumur beberapa hari, Bear.”
Larissa mendadak kelu. “A-apa? Bear, kita harus pergi dari sini. Ayo, kita tidak bisa menaruhkan diri kita.”
Bear mengangguk dengan napasnya yang terasa berat. “Iya. Ayo kita pergi dari sini!”
Larissa kembali menggenggam tangan Bear. Mereka melangkah dengan hati-hati, tidak mau kalau sampai ketahuan orang lain yang ada di gedung.
Bear memberi tahu Sean dan Larissa untuk mematikan senternya, sedangkan ia akan menyalakan senter dengan cahaya yang rendah. Sean dan Larissa tidak menanyakan alasannya kepada Bear. Mereka paham, penerangan yang terlalu jelas berpotensi mengundang perhatian orang lain. Seharusnya mereka menyadari ini sejak awal.
Pikiran buruk terus menerus menghantui mereka. Bagaimana kalau ternyata dari tadi ada orang lain yang membuntuti mereka?
Menuruni anak tangga menjadi hal yang sangat memberatkan. Mereka ingin memiliki kekuatan menghilang atau berteleportasi, agar secepat mungkin sampai ke lantai dasar.
Bear menarik gagang pintu untuk keluar sekolah setelah tiba di lantai satu. Tetapi Bear mematung sejenak.
“Ada apa, Bear?” tanya Sean.
Bear menoleh ke arah teman-temannya. Ekspresinya terlihat sangat cemas, dadanya kembang kempis. Tentu saja itu membuat dua temannya juga merasakan hal yang sama.
“Gagang pintunya, ha-hangat.”
Atmosfer di sana langsung berubah semakin memburuk saat Bear mengatakan itu. Larissa rasanya ingin pingsan. Bagaimana kalau ternyata ada orang di luar? Lalu saat mereka membuka pintu, mereka semua ditangkap dan ... dibunuh.
“Bear. Kamu yakin?”
“Aku yakin. Gagang pintunya juga basah. Seperti ada keringat ....”
“Bear, aku takut,” lirih Larissa lagi.
Sean memberanikan diri untuk melangkah maju, mengintip melalui kaca jendela yang ditutupi gorden. Sebelum dilimpahi banyak pertanyaan, ia sudah lebih dulu berdesis untuk menyuruh dua temannya diam.
Ia menyibak sedikit kain gorden dan tidak melihat sesuatu apa pun di sana. “Sepertinya aman.”
Sean lantas kembali menuju teman-temannya dan menyuruh Bear untuk menarik gagang pintu. Sejauh ini mereka belum menemukan masalah apa pun.
“Benar. Aman.”
Mereka lalu maju selangkah demi selangkah. Larissa menggenggam tangan Bear lebih kuat dan Sean memegang pundak Larissa lebih keras. Mereka berhasil keluar dari gedung sekolah mereka, tetapi tiba-tiba terdengar suara petikan jari.
Belum sempat mereka menanyakan apa pun, lampu senter Bear mati total. Suasana menjadi gelap segelap-gelapnya, seolah tinta yang tumpah mengotori kapas putih. Bahkan bulan dan bintang ikut-ikutan buta malam ini. Keadaan benar-benar berubah drastis.
***
Grey sangat bahagia saat mendengar perkataan kekasihnya. Walau di sisi lain ia tidak ingin merusak apa pun, termasuk impian Darke.
Kali ini Grey duduk di tepi danau berwarna hijau tosca. Menikmati angin malam yang memantulkan cahaya bulan. Ia menunggu Darke datang. Namun, langkah kaki Darke seolah memendek. Grey tidak kunjung mendapati Darke datang di hadapannya.
Darke tidak pernah mengingkari janji. Hal ini membuat perasaan Grey tidak tenang. Masalah apa yang sekiranya dihadapi oleh kekasihnya?
Saat Grey telah berdiri dan hendak berbalik untuk mencari Darke, sosok yang ditunggunya datang. Seketika itu tubuh Grey menegang, ia langsung meneteskan air mata. Tubuh Darke berdarah-darah. Pakaiannya robek, tercabik-cabik. Wajahnya bonyok, rahangnya yang kokoh lebam kebiruan, alisnya dibasuh oleh darah.
Grey segera berhambur memeluk Darke meski tidak tahu alasan prianya terluka.
“Mengapa lama sekali?”
Darah di tubuh Darke mengalir dan tumpah pada pakaian putih yang dikenakan oleh Grey. Namun, wanita itu tidak peduli.
“Maafkan aku, Grey. Aku datang dengan penampilan yang buruk.”
Grey melepas rengkuhannya. Wanita itu menggeleng lembut. Sangat lembut hingga sejuknya mengalahkan angin yang berembus menyeka anak rambut keduanya.
“Darke, apa yang terjadi?” Grey menatap lekat netra yang kini berhadapan dengannya. Rasanya seperti darah mengalir lebih cepat dan jantung berdebar dengan hebat. Ini bukan kali mereka saling bertatapan, tetapi debar itu tidak pernah berpindah walau semili.
Lalu tanpa aba-aba Darke mengubah semuanya. “Grey. Sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi.” Perkataan Darke tentu saja menikam perasaan Grey. Baru kemarin Darke membuatnya terbang, baru tadi mereka berpelukan dan bertatapan, dan setiap hari mereka saling bertukar surat.
“Maksudmu?” Grey bertanya dengan penuh keraguan. Keraguan atas apa yang ia dengar juga keraguan atas apa yang ia tanyakan.
Darke menangkup dagu Grey dengan tangannya yang kasar dan dipenuhi darah kering. Angin dingin yang menerpa pahatan tubuhnya yang sempurna, tak ia hiraukan. “Grey. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Karena itu, aku mohon menjauhlah dariku mulai sekarang. Jangan pernah datang ke danau ini lagi. Jangan pernah berkirim surat lagi. Karena sekeras apa pun kita memupuk benih kita, kita tidak akan pernah bisa memanennya.”
“Apa alasanmu berkata seperti ini, Darke? Apa yang kamu bicarakan?” Suara Grey mulai sumbang. Ini terlalu mendadak. Grey sebenarnya ingin menceritakan mengenai apa yang terjadi padanya beberapa bulan belakangan. Ia ingin menceritakan tentang kemungkinannya hamil. Namun, dalam situasi seperti ini Grey sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menceritakan apa pun. Darke memberinya kejutan lebih dulu. Benar-benar mengejutkan.
“Ratu Edelia akan mencelakaimu, Grey. Dia tidak bisa menerima keputusanku. Aku tidak mau kamu dalam bahaya. Pergilah yang jauh, menikahlah dengan pria lain, hiduplah bahagia. Biarkan aku menanggung risikonya.”
Grey menggeleng. Dia tidak pernah keberatan berada dalam bahaya asal Darke selalu bersamanya. “Korbankan saja aku, Darke. Aku lebih baik mati di pangkuanmu daripada hidup jauh dari pandanganmu.”
Darke menatap gadisnya dengan lekat. Membiarkan suara angin yang beradu dengan riak danau sebagai musik romantis sekaligus musik perpisahan mereka malam ini.
“Jangan menyiksaku seperti ini.” Darke mendekatkan wajahnya pada Grey. Napas mereka saling beradu, saling menghangatkan. “Jangan membuatku terlalu mencintaimu hingga aku tidak mau melepasmu. Jangan membuatku menyesali hidup karena kehilanganmu. Jangan menyiksaku dengan cinta yang seperti ini.”
Darke menempelkan bibir miliknya pada bibir lembut milik Grey, hingga mata wanita itu memberat menahan perasannya. Ia lalu memejam perlahan. Ciuman itu terasa begitu lembut tetapi juga menyesakkan, menautkan keduanya dengan satu irama jantung. Namun, begitu terlepas tidak ada yang dapat mencegah jika tautan itu tak akan pernah ada lagi.
Grey benar-benar takut membuka matanya. Takut kalau Darke menghilang. Takut kalau Darke pergi. Takut kalau Darke meninggalkannya. Satu-satunya yang bisa lakukan adalah meloloskan tangis yang menderu bersama suara napasnya.
Darke menarik wajahnya, melepaskan tautan mereka. Namun, Grey benar-benar tidak bisa membuka matanya.
Lelaki itu mengusap rambut Grey, menikmati tiap helainya. “Sangat cantik,” bisiknya lirih. Ia lalu menyentuh dahi dan hidung Grey dengan telunjuknya. Grey semakin dibanjiri air mata. Rasanya seperti setiap sentuhan Darke membuat air matanya mengalir. “Selalu cantik, ya, Grey. Selalu bahagia dan selalu jadi wanita kuat seperti yang aku kenal. Aku sangat mencintaimu.” Kecupan Darke pada keningnya menjadi sentuhan terakhir yang diberikan lelaki itu pada Grey malam ini—ah, atau untuk malam-malam selanjutnya juga. Karena setelah itu Darke benar-benar pergi.
***
Sean mengerjapkan matanya beberapa kali, tetes air justru mengalir dari sudut matanya. Sean rasanya benar-benar sedih, hancur, dan rapuh karena mimpi itu. Begitu matanya terbuka, Sean merasa terkejut dengan apa yang ia lihat.
“Kamarnya Larissa?” Ia memutar kepala ke samping, ada Bear yang tertidur dengan mulut terbuka. Sean lalu menggerakkan kakinya dan merasakan ada sesuatu yang keras.
“Aw!” Larissa terbangun saat seseorang menendangnya. “Sean! Apa yang kamu lakukan?”
Sean kebingungan. Bukankah sebelumnya mereka berada di sekolah? Mengapa sekarang mereka terkapar di kamar Larissa? Ia sontak bangun lalu menggoyang bahu Bear hingga sahabatnya itu ikut terbangun.
Dengan suara serak Bear melontarkan pertanyaan kepada Sean, meski nyawanya belum terkumpul sempurna. “Ada apa, Sean?”
“Kita di mana?”
Bear memutar matanya, menatap langit-langit kamar dengan lampu menyala. Ia lalu melirik ke samping kiri, ada rak berisi tanaman plastik. Ia lalu beranjak duduk dan melihat meja belajar milik Larissa. Seketika ia membesarkan matanya.
“Larissa! Bagaimana kita ada di kamarmu?”
Gadis yang saat ini baru duduk menunduk dengan rambut yang menjuntai ke depan, ikut mengingat sesuatu yang menjanggal. Ia mengibaskan rambutnya, menatap lamat-lamat ruangan yang ia tempati sekarang. “Hah! Iya, mengapa kita di sini? Siapa yang membawa kita? Ini bukan mimpi, kan?”
Sean menggeleng yakin. “Kita benar-benar ke sekolah, itu bukan mimpi.”
Mereka mengingat betul detail kejadian yang menimpa mereka tadi malam. Seingat mereka saat akan keluar gedung sekolah, ada suara petikan jari. Sesaat setelah semuanya menjadi hitam pekat. Bangun-bangun mereka sudah berada di sini.
“Oh, iya. Aku bermimpi lagi.” Sean menatap ujung kakinya saat berbicara. Ia juga masih merasa sangat hancur mengingat mimpi itu. Seolah dia habis menonton film atau membaca buku yang akhirnya tragis.
Bear masih mengenakan kaca matanya sekarang, ia tidak melepas benda itu saat tidur. Ia lalu bertanya saat mendengar perkataan Sean. “Apa mimpimu?”
“Akhirnya aku tahu kalau nama pria itu adalah Darke.”
“Darke? Seperti pelesetan dari kata dark, gelap,” komentar Larissa. “Lalu apa yang membuatmu begitu kacau, Sean?” Tidak bisa dipungkiri masih ada kesedihan yang menggantung di wajah lelaki itu.
“Mereka berpisah karena Darke tidak ingin Grey celaka. Katanya Ratu Edelia tidak bisa menerima keputusan Darke yang memilih kekasihnya daripada perjanjian mereka. Namun, yang aku heran adalah Darke menemui Grey dalam keadaan babak belur. Aku tidak tahu alasannya.” Menurut pendapat Sean, jika memang Ratu Edelia mengincar Grey, Darke tidak perlu dihajar seperti itu. Sean lalu menceritakan semua kisah di mimpinya dengan utuh.
“Darke babak belur? Siapa yang membuatnya babak belur? Apa Ratu Edelia itu?” Bear sebenarnya memikirkan hal yang sama dengan apa yang Sean pikirkan. Namun, dia hanya bingung apa pemikirannya bisa diterima.
“Jika Ratu Edelia membuatnya babak belur mengapa ia justru mengkhawatirkan Grey? Iya aku tahu dia pasti khawatir dengan nasib kekasihnya, tetapi tetap saja aku merasa ada hal yang disembunyikan Darke.”
Bear dan Sean tidak menyangka kalau Larissa juga berpikiran sama.
“Aku merasa kalau Darke justru ingin menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi mengapa harus berpisah dengan Grey?” Sean kembali menuangkan pemikirannya.
“Dan tidak bisakah Grey mengakui tentang prediksi kehamilannya? Mungkin Darke akan berubah pikiran. Benar kan, Bear, Sean?”
Dua sahabat laki-lakinya mengangguk. Mereka setuju dengan pendapat Larissa.
Bear kembali mengingat mengenai gambar bulan sabit sungsang. Apa Darke adalah orang yang ia kenal? “Menurutmu siapa Darke?”
Sean dan Larissa menatap mata Bear dengan ragu-ragu. Sejak awal mereka sudah menyiapkan satu nama.
“Laminad pertama” Keduanya menjawab serempak. Dengan ambisi pria itu untuk membangun sekolah mereka dapat menyimpulkan bahwa Darke adalah pendiri LBS sekaligus kepala sekolah yang pertama.
“Apa kalian tahu kediaman Laminad? Dia mungkin menyimpan ringkasan sejarah keluarganya di rumah.”
“Laminad terlalu menutup dirinya, Sean. Tidak ada yang tahu dia tinggal di mana. Bahkan mungkin guru-guru juga tidak.” Bear melepas kaca matanya lalu menghela napasnya lagi.
Mereka terdiam dalam kebingungan. Mereka seperti tidak mendapat petunjuk apa pun.
Di tengah kerumitan mereka dalam berpikir, tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai kaca pintu balkon kamar Larissa. Saat itu masih dini hari, pukul tiga pagi. Mereka semua serempak menaikkan bola mata untuk melihat ke arah pintu balkon.
Larissa yang merupakan tuan rumah berinisiatif untuk bangkit berdiri dan beranjak menuju pintu balkon. Bear dan Sean ikut berdiri karena penasaran.
Larissa menyibak sedikit gorden merah mudanya untuk mengintip ada apa di luar. Ternyata tidak ada siapa pun karena memang kamar Larissa ada di lantai tiga. Di antara kamar yang lain hanya kamarnya lah yang memiliki balkon. Larissa nekat untuk membuka pintu.
Begitu pintu terbuka ia menemukan gulungan kertas berwarna kekuningan yang diikat dengan pita berwarna biru. Mereka bertiga saling tatap sebelum akhirnya Larissa mengambil gulungan itu.
“Siapa yang melemparkan ini ke sini? Menggunakan apa?” Larissa celingak-celinguk memandangi sekitarnya. Siapa orang iseng yang mengirimi mereka hal seperti ini? Belakangan semakin sering kejadian aneh yang mereka hadapi. Semua bermula semenjak kejadian di gedung mati.
Bear menarik lembut tangan Larissa, menyuruhnya masuk. Di sini angin cukup dingin, berkesiur membuat kain gorden bergoyang.
Tiga remaja tersebut lalu kembali ke tempat tidur Larissa. Entah bagaimana besok mereka harus menjelaskan mengenai dua orang pria yang menginap di asrama perempuan. Pasti akan semakin berembus kebencian pada mereka bertiga.
Bear mengambil alih kertas itu. ia lalu menarik salah satu ujung dari pipa hingga terlepas. Ia membukanya dengan perlahan.
Besok pagi pergilah menuju arah matahari terbit. Pergilah terus hingga menemui laki-laki berjubah hitam, berbadan tegap dan tinggi, berkulit putih cerah, dan menggunakan masker hitam. Ia akan memberimu petunjuk selanjutnya. Jangan lupa siapkan perbekalan yang cukup karena kalian akan melakukan perjalanan yang melelahkan.
Tiga pasang mata yang ada di ruangan itu saling tatap. Sean menatap Bear, Bear menatap Larissa, Larissa menatap Sean. Lalu secara bergantian mereka menatap satu sama lain. Ini jelas bukan kebetulan. Juga bukan perbuatan manusia iseng. Terlepas dari apa yang sebenarnya dimaksud oleh surat kaleng ini, baik Bear, Sean, dan Larissa meyakini bahwa ini petunjuk dasar yang akan mereka bawa untuk menemukan rahasia yang disembunyikan sekolah. Apa benar sekolah dikutuk karena bunga itu? Atau memang keadaan yang membuat mereka bertiga seolah-olah bertanggung jawab atas semua kejadian di sekolah. Mereka hanya ingin menuntaskan perkara ini.