Piket Meja Makan

2306 Words
“Bear. Ssst! Bear, pinjam penghapus.” Sean yang duduk di bangku barisan kedua bersama Ge, memanggil Bear yang duduk di bangku paling depan. Bukan karena dia tidak punya penghapus, tetapi ia sengaja merecoki Bear yang sedang fokus mengerjakan soal ulangan matematika. “Sean, kerjakan soalmu,” bisik Ge. Bukan Sean namanya kalau dengan mudah menurut perkataan orang lain. Dia tetap memanggil Bear, dengan tujuan membuat mood Bear memburuk. “Bear, pinjam penghapus. Bear! Bear! Bear! Penghapus-penghapus apa yang tidak bisa digunakan buat menghapus? Penghapus habis, hiyaaa!” Sean mengoceh sendiri. Beruntungnya guru pengawas ujian memiliki masalah pendengaran yang cukup akut, ia tidak akan menyadari bahwa ada salah satu anak yang berisik. Jangankan dari jarak agak jauh, mengobrol jarak dekat saja suka salah paham dan akhirnya marah-marah sendiri, untungnya tahun depan bapak ini akan pensiun. Sedangkan teman-teman yang lain sudah terlalu imun dengan kelakuan Sean yang seperti itu. “Bear, bajumu bolong!” “Astaga Bear, kamu sangat tampan!” Ingin sekali Bear menggeplak kepala Sean dengan bangku, tetapi ia harus tetap serius dengan soal ulangannya. Lelaki itu kini hanya mampu mengendalikan napasnya agar tidak terbawa emosi. “Bear, penghapus ih.” Merasa jengah, Bear akhirnya memberikan penghapus itu. Saat Bear memutar tangannya untuk menyerahkan penghapus ke meja Sean, Sean berseru, “Pak! Bear mau beri saya sontekan!” Sontak penghapus yang dipegang oleh Bear jatuh ke lantai. Dan Pak Mohtar, guru pengawas mereka, menaikkan daun telinganya. Bear bersumpah tidak akan membiarkan Sean selamat. “Eh, dia bohong, Pak! Saya mana ada beri dia sontekan!” Bear memasang wajah panik ketika Pak Mohtar sudah berdiri di hadapannya. “Saya lihat tangan kamu tadi ya!” “Sean meminjam penghapus saya, Pak!” Bear bersikeras, ia melirik tajam Sean yang pura-pura polos. “Buat apa aku meminjam penghapus kamu? Aku ada penghapus.” Sean mengangkat penghapusnya yang tergeletak di atas meja. Pak Mohtar berkacak pinggang, menatap anak SMP di hadapannya dengan penuh intimidasi. “Pak Mohtar, Bapak tahu betul saya seperti apa, kan, Pak.” Bear berusaha meyakinkan Pak Mohtar. “Saya tunggu kamu di ruang guru setelah pulang sekolah.” Setelah Pak Mohtar mengatakan itu, Larissa justru mengacungkan tangan tiba-tiba. “Ini lagi, ada apa tunjuk tangan?” Pak Mohtar bertanya ketus. Karena tahu pendengaran Pak Mohtar buruk, Larissa hanya berdiri dari bangkunya yang berada di depan, dekat pintu. Ia duduk sendirian di sana.  Gadis itu lalu menghampiri Pak Mohtar dan berjinjit untuk mendekatkan mulutnya dengan telinga Pak Mohtar. “Saya sudah selesai,” katanya berbisik, lalu meletakkan lembar jawaban di meja Pak Mohtar. Asli, guru lelaki itu merasa merinding saat udara halus berembus ke telinganya waktu Larissa berbisik, ia mematung sesaat. Setelah mengumpulkan jawabannya, Larissa dengan muka datar membereskan tasnya dan kembali menghampiri Pak Mohtar. Dia kembali berjinjit. Pak Mohtar tahu apa yang akan dilakukan Larissa, dia menekan pundak gadis itu hingga tidak jadi berjinjit. “Apa maksud kamu berjinjit? Mau meniup kuping saya?” Tentu saja Larissa menggeleng dengan tampang datarnya. “Bukan. Saya mau pamit pulang.” Tanpa menunggu jawaban dari Pak Mohtar gadis itu melenggang menuju pintu. Ah, Larissa. Gadis itu selalu tidak peduli dengan orang di sekitarnya. Bahkan ketika temannya terlilit kasus menyontek, ia terlihat abai. Bukan urusan aku, orang kalau aku kesulitan juga tidak ada yang peduli. Itu pendapatnya. Bukan cuma sekali atau dua kali, dia sudah melakukan ini berkali-kali. Banyak yang bilang kalau Larissa tipe manusia anti sosial, pendiam, tertutup, sekaligus aneh. Namun, orang-orang tetap menyukai sifat apa adanya. Ia sama sekali tidak merasa perlu menjadi orang lain. Ia spesial dan unik, itu kebanggaan baginya, buka tekanan sosial. Pak Mohtar memijit pangkal hidungnya. Ia juga bukan kali ini menghadapi Larissa. Sialnya, Larissa adalah satu di antara banyak siswa yang sangat potensial dan disukai guru. Gadis itu menguasai hampir menguasai semua mata pelajaran terapan, seperti fisika dana keturunannya. Saat akan melanjutkan ceramahnya untuk menyuruh Bear ke ruangannya, Larissa berhenti di ambang pintu. Ia tiba-tiba berteriak, “Sean yang bohong, Pak!!!” Lalu setelah itu ia menutup pintu kelas rapat-rapat dan pergi menjauh dari kelasnya. *** Siapa yang menyangka dua orang yang dulunya selalu berdebat dan berseteru kini justru menjadi teman sekamar yang sangat akrab. Tambahkan juga Larissa yang dulu selalu bersikap apatis, sekarang menjadi sangat perhatian dan peduli kepada teman-temannya terutama Bear dan Sean. Justru yang berubah adalah Ge, anak yang dulunya selalu ceria dan ramah kepada siapa pun, teman sebangku Sean dan teman curhat bagi Bear. Mereka kini sangat jauh. Bukan jauh secara fisik, tetapi jauh secara psikis. Juga Andrew, teman mereka yang suka duduk di jendela kelas, yang peduli dengan teman-temannya, yang kini justru  harus meninggalkan sekolah untuk sementara waktu gara-gara hal aneh. Terlalu banyak yang berubah selama beberapa hari ini. Terlalu cepat waktu yang berganti. Mereka tidak siap melepas semua itu. Namun, apa boleh buat? Sama seperti anak panah yang melesat, waktu yang sudah berlalu tidak bisa ditarik mundur. Dan, setiap waktu menyimpan rahasianya sendiri-sendiri. Maka biarkanlah satu harapan mereka ini terkabul: Jangan pisahkan mereka bertiga dengan sesuatu apa pun. Bear dan Sean bersiap-siap untuk menuju ruangan makan asrama. Mereka sudah menghubungi Larissa, dan sekarang pukul tujuh malam, mereka akan ke sana. Bear hanya mengenakan piama biru kesayangannya, sedangkan Sean mengenakan piama putih. Mereka terlalu menggemaskan untuk memakai piama seperti itu. Dan, ini gara-gara ide konyol Sean. Tunggu saja Larissa, dia juga menggunakan piama warna merah muda dengan rambut yang dikepang satu. Demi apa pun Larissa terlihat sangat manis dan cantik. Sesuai namanya, Larissa, salah satu satelit yang mengelilingi planet cantik Saturnus. “Ini memalukan sekali. Kita lebih anak-anak daripada anak SMP,” bisik Bear protes. “Sesekali, Bear.” Sean menimpali. Alasan Sean menyuruh mereka memakai piama ini karena ia rindu dengan suasana saat mereka lomba dulu. Mereka juga mengenakan piama ini, terlihat satu paket yang manis. “Yang penting lucu.” Larissa balas menimpali. “Eh, jangan lupa untuk mencari keberadaan Ge. Kita di sini bukan cuma mau menumpang makanan.” Jika bukan untuk menemukan keberadaan Ge, mereka malas sekali harus makan di sini. Terlalu ramai. Apalagi tatapan orang kepada mereka, itu sangat membuat ketiganya risi. “Itu yang kemarin menang lomba.” “Itu yang fasilitas kamarnya lengkap.” Soalnya hanya mereka bertiga yang mempunyai balkon kamar dan bathup di kamar mandi. “Mereka yang diceritakan Ge.” “Orang-orang iri,” ketus Larissa yang tentu saja segera diamini oleh Sean. Bear memasang muka tembok untuk kali ini. Mereka memantapkan langkah untuk menempati tempat duduk mereka. Orang-orang yang duduk di sekitar mereka mulai menggeser kursi untuk menjauh beberapa centimeter. Sebenarnya orang-orang itu tidak sampai sebegininya, tetapi gara-gara perkataan Ge tempo hari otak mereka seperti dicuci. Tiga remaja itu dianggap berbahaya. Hingga makanan-makanan sudah tiba di hadapan mereka, tidak tampak gelagat Ge dan teman-temannya sama sekali. Apa mereka juga tidak suka makan di sini. “SELAMAT MAKAN!” Api unggun di cerobong asap dinyalakan sebagai bentuk simbolis acara makan malam dibuka. Itu tugas dari salah satu siswa piket. Sedangkan yang memimpin acara adalah seorang perempuan yang merangkap juru masak asrama. Perempuan itu memakai apron berwarna merah muda dan topi khas juru masak berwarna senada. “Jika ingin melihat Larissa saat berumur, lihat saja Miss Feli,” bisik Sean tetapi masih mampu didengar oleh Larissa. Bear terkekeh kecil. Secara fitur wajah juru masak itu dengan Larissa jelas berbeda. Larissa langsing sedangkan wanita itu agak berisi. Pokoknya berbeda. Acara makan malam itu tidak berhasil mempertemukan mereka dengan Ge. Padahal mereka ingin sekali menceritakan apa yang mereka alami beberapa waktu lalu. Barangkali Ge mengetahui sesuatu. Mereka memutuskan untuk berkunjung ke kamar Larissa yang nyaman. Taman vertikalnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Larissa memilik satu tempat tidur, satu lemari sekaligus meja belajar dan meja rias, satu rak buku, dapur kecil di samping tempat tidurnya yang dibatas rak hias berisi tanaman plastik, kamar mandi, dan pastinya balkon dengan taman vertikal yang cantik. Di sana ada beberapa jenis bunga anggrek. “Apa Ge tidak ada di kamarnya?” Sebenarnya pertanyaan ini sudah dilontarkan Larissa melalui aplikasi berkirim pesan milik mereka. “Tidak. Aku bahkan sudah bertanya dengan orang-orang di sana walaupun sebagian mereka hanya menatapku aneh,” aku Bear. “Tetapi kemudian aku mengonfirmasi bahwa Ge belum kembali ke asrama sejak malam kemarin.” “Malam kemarin?” Larissa bertanya panik. “Di mana markas Ge dan teman-temannya, ya. Apa kita tidak punya petunjuk lain? Aku merasakan sesuatu yang aneh.” “Larissa jangan bicara yang aneh-aneh. Perasaanmu biasanya selalu benar,” pungkas Sean. Bukan apa-apa, selama ini apa yang dikatakan Larissa memang selalu jadi kenyataan bahkan ketika mereka lomba dulu ada salah satu pertanyaan yang berhasil Larissa tebak dengan benar sedangkan peserta lain salah semua. Saat itu ada sebuah apel yang dijatuhkan dari ketinggian tiga meter. Di bawahnya ada pisau tajam yang menghujam ke atas. Mereka diberi pertanyaan apakah buah apel akan tertancap ke pisau atau tidak, lalu alasannya apa. Semua orang menjawab dengan mengangkat papan bertuliskan iya atau tidak. Larissa saat itu bilang kalau jawabannya tidak. Mereka lalu menuliskan alasan dan mengumpulkannya. Lalu saat pembuktian, apel pun dijatuhkan dan berhasil menancap pada pisau. Semua peserta yang menjawab iya tersenyum bahagia sedangkan yang menjawab tidak memasang wajah cemberut termasuk Bear dan Seaniel. Hanya Larissa yang terlihat santai seolah jawabannya benar. Saat itu Bear dan Sean bertanya-tanya, dan Larissa berkata bahwa hanya jawaban mereka yang benar. Tentu saja dua laki-laki itu bingung karena bukti sudah menjelaskan bahwa jawaban mereka salah. Kemudian juri mengumumkan siapa yang menjawab dengan benar. Mengejutkannya hanya tim Larissa, Bear, dan Sean yang dinyatakan benar. Semua orang kebingungan. Juri lalu mempersilakan Larissa untuk memberikan alasannya. “Benda itu memang menancap di pisau. Tetapi itu bukan apel, itu replika buah apel.” Dan, ketika apel itu dilepaskan dari pisau, ternyata Larissa benar. Itu hanya gabus berat yang dibuat mirip dengan apel. “Gudang.” Bear lalu teringat sesuatu. “Kita pernah ditarik masuk ke dalam gudang. Bagian depannya memang berantakan dan sempit, tetapi kita belum tahu dalamnya, kan? Boleh saja saat itu mereka menyusun tumpukan kardus untuk menutupi sesuatu di sana.” Larissa dan Sean segera tersadar. “Yang terpenting, itu adalah gudang yang dinilai angker, tetapi mereka justru sempat membawa kita ke sana. Aku rasa akan ada sesuatu yang bakal kita temui di sana.” “Tapi, bukankah agak menyeramkan pergi ke sekolah malam-malam begini. Kita masih bisa mencarinya besok,” tawar Bear. “Kamu bisa tidur dalam rasa penasaran seperti ini? Kalau aku tidak bisa. Misalnya kalian keberatan, aku akan melakukannya sendiri.” Bear lalu berdiri dari kursi belajar Larissa. Larissa juga berdiri dari tempat tidurnya. “Aku akan tetap ikut Bear.” “Eh, aku juga akan ikut. Aku tadi hanya bertanya.” Sean membela diri. Saat ini posisinya seperti sosok yang tidak setia kawan. Padahal maksud pertanyaannya bukan seperti itu. “Aku akan ikut bersama kalian, apa pun risikonya.” Sean ikut berdiri mantap dari tempat tidur pemilik kamar. *** Larissa menyimpan beberapa buah senter, dan ketiganya masing-masing membawa satu. Saat akan memasuki gerbang sekolah, mereka hanya perlu melakukan pemindaian sidik jari karena mereka diberi akses 24 jam. Gedung besar itu terlihat seperti gedung tua berumus 200 tahun, walaupun memang itu kenyataannya. Penambahan ornamen dan desain masa kini ternyata tidak cukup untuk menutupi kemagisan sekolah. Gedung lima lantai dan warna dasar putih dan lantai marmernya kini seperti gedung berhantu. Mereka membuka pintu masuk dengan kemudahan akses mereka. Suasana benar-benar sepi. Hanya beberapa lampu yang dinyalakan saat malam hari, misalnya lampu di bagian depan. Sisanya dibiarkan gelap. Mereka menaiki anak tangga dengan hati, menahan debar jantung mengencang. Angin malam menelisik dan menyibak anak rambut. Larissa yang terkenal apatis harus mengakui bahwa apa yang mereka lakukan saat ini cukup menegangkan. Beruntung Bear selalu meremas tangannya, memberikan rasa hangat dari tangannya yang sebenarnya kedinginan. Sean berada di belakang Larissa, memegang pundak gadis itu. Intinya, baik Bear maupun Sean tidak ingin membiarkan sesuatu terjadi pada Larissa. Meskipun mereka sendiri ketakutan. Kelas mereka berada di lantai dua, di bagian belakang. Kretang! Ketiganya refleks berteriak kacau saat sebuah kaleng jatuh diterpa angin. “Harusnya mereka membuang kaleng di tempat sampah, bukan di atas kursi.” Sean berkata dengan suara bergetar. “Bear, Sean. Aku takut.” Mata Larissa jelalatan melihat keadaan sekitar. Bear menelan liurnya berkali-kali. Dia menyesal saat berkata akan pergi sendirian jika dua temannya tidak mau ikut. Walau itu hanya gertakan, tetapi tidak bisa dibayangkan kalau Sean dan Larissa benar-benar menjawab tidak mau ikut. “Pegang tanganku yang kencang Larissa. Kita sudah hampir sampai digudang itu.” Saat benar-benar tiba di depan pintu gudang, Bear menarik gagangnya. Terlepas dari semua rasa takut, di sini Bear lah yang paling berani. Bear bertanya pelan. “Mengapa tidak dikunci.” Dan, itu membuat Larissa benar-benar ingin menangis. Sean yang semula hanya memegang bahu Larissa, kini memeluknya dari belakang untuk menenangkan dirinya sendiri dan menenangkan Larissa. Kriiiiit! Bear mendorong pintu ke depan sambil mengatur napasnya pelan-pelan. Begitu pintu terbuka, mereka tidak menemukan siapa pun selain kotak-kotak kardus yang berserakan. Ia melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam gudang tanpa menghasilkan suara sedikit pun. Bear mengintip dari sela-sela tumpukan kardus dan tetap tidak menemukan siapa pun. Ia lalu menendang kardus itu hingga berjatuhan. Mereka segera melihat beberapa buah kursi dan meja yang berantakan. Sean bahkan tidak sengaja menginjak remahan keripik yang menandakan ada seseorang yang pernah makan di sini. Larissa sudah mulai menemukan ritme yang nyaman untuk bernapas. Dia mulai merasa tenang. Selama ini ia berani tinggal di kamar sendirian, sekarang saat ada dua laki-laki yang menjaganya, ia rasa bukan waktunya untuk takut lagi. Bear menyenter seisi ruangan. Ia lalu menemukan genangan air yang sudah agak mengering di bawah meja. Ia melepas genggamannya dari tangan Larissa. “Ada apa Bear?” tanya Larissa dengan lirih. “Aku ingin mengecek sesuatu.” Bear lalu mengorek genangan yang sudah agak kering itu. Sean yang melihat itu dari sorot lampu senternya seketika menelan ludah. “Itu darah manusia yang baru berumur beberapa hari, Bear.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD