Bear dan Larissa melihat adanya pendar cahaya itu. Bear lalu mengamit tangan Larissa dan mengajaknya menuju sumber cahaya. Setelah melihat sesuatu apa itu, napas mereka tertahan. Ini, benar-benar di luar dugaan.
“I-itu anak tangga?” Larissa mengacungkan telunjuknya ke kolom yang berpendar. Di sana ada anak tangga yang sepertinya menuju sebuah ruangan, dari sanalah cahaya itu berasal.
Sean menyisihkan kotak laci tadi dan membiarkan mereka melihat kolom itu lebih jelas. “Bagaimana kalau kita masuk ke sana?” Namun, untuk melakukan itu mereka perlu membongkar buku di rak, lalu melepas raknya. Mereka tidak bisa masuk melalui kolom setinggi tiga puluh centimeter.
Ketiganya lalu memutuskan untuk membongkar rak, setidaknya hingga tubuh mereka bisa masuk ke dalam kolom.
Setelah tingkatan rak paling bawah dikosongkan, Bear lalu menarik papan rak. Rak-rak ini cukup portabel, raknya bisa dibongkar pasang. Melepas satu tingkat rak sudah cukup untuk membuat spasi jaraknya bertambah dua kali lipat. Larissa melakukan percobaan pertama. Ia duduk berselonjor pada anak tangga, lalu meluncur turun seolah sedang berada di perosotan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Bear dan Sean.
Mereka menepuk celana yang kotor begitu tiba di sebuah ruangan dengan dinding bata merah berlumut. Warnanya terlihat kusam dan ... kosong. Hanya ada lemari tua setinggi dua meter di sayap kanan bangunan. Itu pun gagangnya sudah runggas. Beruntungnya penerangan di sini cukup baik, lampunya menyala sebagaimana mestinya.
“Becek,” Sean mengangkat kedua kakinya bergantian, mengamati bagaimana tapak sepatunya menginjak lantai yang basah dan kotor. Ia meringis. “Dan bau.”
Larissa ingin sekali menjawab, “Ruangan seperti apa yang kamu harapkan? Kamar hotel?” Namun, Larissa menahan mulutnya untuk tidak mengatakan apa-apa.
Bear memutar kepalanya, ah kaca mata yang ia kenakan berembun. Ia lalu melepas lalu mengelapnya sebentar. “Ada ruangan sebesar lapangan bulu tangkis di sini?” Bear bertanya retoris, tidak bermaksud menerima jawaban apa-apa.
Di depan mereka ada sebuah pintu yang entah akan membawa mereka ke mana. Namun, Bear memutuskan untuk mengambil langkah yang kemudian diikuti oleh dua temannya yang lain.
“Bagaimana jika ada monster?” Sean bertanya asal.
“Bear, biarkan Sean yang di depan. Dia bilang akan menghadapi monster.”
Sean melotot ke arah Larissa. “Aku tidak ada bilang begitu.”
“Sean ayo buka pintunya!” Bear sudah minggir, membiarkan Sean meraih gagang pintu.
Lelaki kurus itu mengerah malas, tetapi tetap menuruti permintaan teman-temannya.
Krieeet! Pintu terbuka. Sean menyembulkan kepalanya sedikit untuk mengintip ruangan apa yang terhubung melalui pintu ini. Ia tampak agak kebingungan. Yang ia lihat adalah sebuah terowongan dengan cahaya samar-samar. Lampunya menggantung di ketinggian empat meter, tersusun jarang-jarang.
“Bagaimana, Sean?” Bear bertanya karena Sean hanya mematung tidak jelas.
“Eh, iya.” Sean lalu membuka pintunya lebih lebar sehingga temannya yang lain bisa ikut melihat apa yang barusan ia lihat.
“Ini terowongan bawah tanah, kan?” Alasan Larissa bertanya seperti itu karena ruangan yang mereka tempati sekarang adalah ruangan memanjang yang dibatasi oleh bebatuan alami. Bahkan lantainya juga dari batu yang tidak rata.
“Hm,” gumam Bear. Ia lalu melangkah maju lebih dulu. “Ayo!” katanya datar.
Sean dan Larissa lalu membuntutinya.
Terowongan ini memanjang, memiliki beberapa persimpangan, dan memiliki udara yang lembap dan dingin. Tak mengherankan jika kemudian nyamuk-nyamuk beterbangan, apalagi kehadiran manusia di sini seperti mangsa yang menggiurkan bagi mereka. Stalaktit tumpul menghujam ke bawah dari langit-langitnya, sedangkan stalagmit bertebaran di dinding-dinding terowongan.
“Bear, mau kamu bawa ke mana kita berdua?” Larissa menatap khawatir tempat mereka sekarang. Itu bahkan lebih tidak mengenakkan dibanding ruangan anonim saat mati lampu.
Bear tidak mau menjawab, dia hanya menggunakan perasaannya.
“Bear, instingmu lemah.” Sean ikut berkomentar. Dia sudah terlihat santai sekarang karena memang seperti itulah perangai aslinya.
“Bad attitude control of tongue.” Ini ungkapan lebih keren untuk mengatakan seseorang berisik.
Saat terus menerus menelusuri terowongan, tiba-tiba Bear menendang sesuatu yang menimbulkan suara kerontang kecil. Ia refleks melihat ke bawah dan menemukan benda solid berwarna putih kekuningan. Bear nekat mengambil benda itu. “Eh, kalian ingat ini?”
Bear dan Larissa mendekati kepalanya, ikut melihat benda itu.
“Metacarpals?” Tulang itu adalah tulang di ruas pertama jari kelingking. Ini tulang yang sama dengan tulang yang mereka temukan di bola lampu gedung mati.
“Iya, metacarpals,” sahut Larissa menimpali Sean. Ia lalu menjelajahi matanya ke sekitar, lalu menemukan pantulan cahaya. Gadis itu mendekat ke sana dan menemukan tulang belulang yang lain. “Tulang hasta. Ukurannya seperti tulang hasta anak perempuan usia remaja.” Ia menunjukkannya kepada Bear dan Sean.
“Mengapa ada tulang-tulang tangan manusia di sini? Tempat apa ini?” gumam Bear.
“Jika kita mencari tulang-tulang ini, mungkin kita akan menemukan sesuatu.”
***
Ge, El, dan Zay memutuskan untuk menetap di markas mereka yang tak lain adalah salah satu gudang di sekolah. Gudang itu pernah mereka gunakan untuk menahan Bear dan teman-temannya tempo hari. Di sekolah ini setidaknya ada lima belas gudang, dan gudang ini yang paling jarang entah apa sebabnya. Mungkin karena setiap malam banyak orang yang mendengar percakapan di sana, padahal itu berasal dari Ge dan gengnya.
El menatap layar komputer dengan serius. Papan keyboardnya menyala warna merah. Dia sedang menjalankan pemrograman untuk menyadap beberapa informasi sekolah.
“Penyadap suara kita kemarin sudah diketahui Laminad. Menurutmu apa kita akan aman?” Zay yang kakinya dipenuhi luka bertanya sembari meringis. Tadi malam ia berlari terbirit-b***t dari perpustakaan karena takut dipergoki orang lain.
“Yang penting mereka bertiga sudah kalian tempatkan di tempat yang aman.” Ge masih fokus pada sheet daftar rencananya.
“Mengapa kita harus khawatir dengan mereka? Mereka tidak membahayakan kita.”
“Mereka memang tidak membahayakan kita, tetapi mereka yang dalam bahaya!”
El dan Zay tidak memahami maksud perkataan Ge. Bukankah selama ini Ge yang ingin mencelakai Bear, Sean, dan Larissa? Mengapa sekarang ia justru terlihat khawatir?
“Sekolah ini memiliki terowongan bawah tanah, Ge!”
“Hah? Benarkah?” Ge meninggalkan laptopnya yang terbuka.
Zay hanya mengamati dari kursinya. Tadi malam tidak sesakit ini, tetapi sekarang rasanya ngilu.
El lalu menunjukkan gambar yang terpampang di layarnya. “Kamu lihat, warna hitam artinya kekosongan, warna putih artinya ada massa di situ. Di dalam tanah harusnya tidak terdapat kekosongan sebesar ini, ini pasti sudah mengindikasikan adanya ruang di dalam tanah.”
El mengganti mode pemrogramannya yang semula hanya menampilkan warna hitam dan putih menjadi warna biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah. “Ruangan itu dingin, makanya didominasi oleh warna biru. Tapi kamu bisa liat di sini, ada warna jingga kemerahan yang terus bergerak, ini sepertinya makhluk hidup yang menghasilkan panas.”
Ge memahaminya dengan cepat. “Apa mungkin ada manusia di dalam ruang bawah tanah itu?”
El mengangguk serius. “Mungkin, Ge.”
Saat mereka sedang asyik berdiskusi, tiba-tiba pintu gudang didobrak dari luar. Zay yang berada di kursi jatuh tersungkur ke depan karena kaget. El refleks menutup laptopnya. Sedangkan Ge mengambil posisi untuk berdiri paling depan, merentangkan tangan untuk melindungi teman-temannya. “Siapa kalian?” Ge berteriak kepada dua orang berkedok hitam.
Dua orang berkedok tadi tidak memberikan jawaban apa-apa. Salah satunya justru menarik pelatuk dari kantong yang tersangkut di tali pinggangnya. Mulut pelatuk itu terarah ke depan, membuat jeri siapa pun yang melihat.
“Hei! Kalian mau apa?” Ge berteriak lagi.
El di belakangnya sudah kelu. Adapun Zay rasanya ingin pingsan sekarang.
Dor!
***
Mereka bertiga masuk semakin dalam ke terowongan, tidak berhasil menemukan ujungnya. Justru mereka menemukan lebih banyak tulang yang berserakan.
“Ini kuburan atau penjara bawah tanah, ya?” Bear bertanya pelan. Ia mencium tulang yang ada di tangannya.
Dengan bodoh Sean melakukan hal yang sama. “Tidak ada baunya.”
“Bear, lebih baik kita segera mencari jalan keluar. Jangan sampai kita tinggal tulang-belulang juga nantinya.”
Masalahnya mereka sudah bergerak terlalu jauh. Bahkan untuk kembali ke titik awal, mereka sudah lupa rutenya. Terowongan ini tak lain seperti labirin yang berada di bawah tanah.
“Apa kalian memikirkan hal yang sama denganku?”
Jalanan yang mereka lalui mulai tergenang air. Lampu-lampu semakin jarang, terowongan semakin sempit.
Larissa melirik ke arah Sean. “Apa yang kamu pikirkan?”
Semakin jauh kaki mereka melangkah, semakin asing suasananya. Gerak kaki mereka terhenti saat mereka melihat jalan buntu di hadapannya. Ada jeruji besi yang seperti mengurung sesuatu di sana.
Ketiganya menatap linglung apa yang dilihatnya.
“Aku berpikir bahwa apa yang Ge katakan benar.”
Auuuuummmm!!! Terdengar suara teriakan dari dalam jeruji itu. Suara yang sangat nyaring hingga tempat mereka berpijak sekarang ikut bergetar.
“Aku mendengar suara monster,” gumam Bear. Mereka dapat melihat dengan jelas adanya bayangan yang bergerak dari balik jeruji itu. Dari bayangan itu tergambar dengan jelas gigi taringnya yang beradu. Sepintas suaranya memang mirip suara serigala. Namun, yang justru mereka lihat adalah hewan melata seperti buaya yang ukurannya lima kali lebih besar.
Begitu moncongnya keluar Larissa berteriak dan mundur selangkah. “Bear, Sean! Kita harus lari!”
“Monster itu terkurung.” Bear menjawab seperti orang mabuk. Pikirannya seolah kosong karena bingung dengan apa yang ia lihat.
Larissa memperhatikan genangan air yang ada di hadapannya. Ia lalu menarik tangan Bear dan Sean dengan paksa. “Ayo lari!!!”
Seketika Bear dan Sean tersentak, tersadar dari lamunan mereka.
Baru sepuluh langkah bergerak, terdengar suara berkerontang di belakang mereka. Larissa menoleh ke belakang. Sialan! Jeruji itu runtuh. Buaya raksasa dengan taring setajam pedang itu mengaum lagi.
“Ayo ke sini!” Bear menarik tangan Larissa untuk mengambil jalur ke kiri, dan tangan Larissa menarik tangan Sean untuk mengikutinya.
Buaya itu bergerak lebih cepat dari yang mereka kira. Hidungnya mengembang saat mengejar di belakang.
Srot! Buaya itu menyemprotkan lendir kekuningan.
“Menunduk!” teriak Larissa. Lendir itu sekarang bersarang di stalaktit.
“Ada apa dengan lendir itu?”
“Nanti aku jelaskan!”
Buaya itu kembali menyemprotkan lendirnya. Sean menarik teman-temannya ke kanan, melipir ke dinding. Semprotan itu kembali meleset. Buaya itu sekarang berjarak sepuluh meter dari mereka. Namun, tembakan lendir dari hidungnya bisa melesat jauh.
“Kita tidak bisa terus menerus lari. Kita harus cari cara untuk menghentikannya.” Bear benar, terus menerus lari hanya akan menunda buaya itu untuk mencelakai mereka. Sama sekali tidak mengatasi masalah.
Srot!
Bear berguling ke kiri, melepaskan tangan dari Larissa. Saat ini mereka harus melindungi diri masing-masing. Dari jarak dekat Bear bisa melihat bebatuan yang terkena lendir mengepulkan asap dan berlubang. Bukan hanya itu, lendir juga mengeluarkan aroma aring. Mencium aroma itu, Bear seperti orang linglung. Pikirannya melambat dan ia kesulitan mengambil keputusan.
“Bear lari!”
Buaya itu hendak menyemprotkan lendir lagi. Sesaat sebelum itu terjadi, Sean memutuskan untuk melompat dan menendang tubuh Bear hingga terguling. Sejujurnya d**a Sean ketar-ketir sendiri karena terlambat sedikit saja ia yang akan kena imbasnya.
Bear mengaduh. “Sialan! Mengapa kamu menendangku?”
Auuummmm!!
Bear terkesiap saat melihat monster di belakangnya. Ia baru tersadar lagi sekarang.
Ketika Bear dan Sean bergerak mundur ke belakang untuk menghindar, Larissa justru mematung di tempat. Dia terfokus melihat genangan air di dekatnya, mengamati setiap riak air.
Jika aku berhasil menyumbat lubang hidungnya, dia akan menelan kembali lendir yang akan ditembakkan. Tetapi bagaimana caranya?
Larissa lalu pura-pura mati, berharap buaya itu akan meninggalkannya.
“Sean, pura-pura mati!” bisik Bear.
Ketiganya kini baring terkapar di lantai yang lembap, membiarkan buaya itu melintasi mereka. Saat sudah mendekat, Bear meraih salah satu tulang dari kantong celananya. Di dalam hati Bear menimbang-nimbang waktu yang tepat.
Ia tidak tahu apa risiko yang akan ia terima jika rencananya gagal. Bear mati-matian mengatur deru napas agar tidak terdengar monster itu.
Auuuuuum!!
Sepertinya gagal. Hidung kiri monster itu mulai mengembang bersiap menembakkan lendir. Bear bisa melihat sedikit menggunakan matanya.
Tepat sebelum monster mengeluarkan racunnya, Bear menggenggam tulang dengan yakin. Dia berusaha berkonsentrasi penuh dan ....
Craaat!
Tulang itu menembus lubang hidungnya. Lendir yang hampir keluar kembali tertelan oleh monster itu. Monster itu meraung, matanya menguning, dan permukaan kulitnya mulai menghijau.
Larissa bangun dari aktivitas pura-pura tidurnya. “Bear! Kamu apakan makhluk ini?”
Gadis itu sebenarnya tidak memerlukan jawaban lagi, dia bisa melihat bagaimana tulang yang Bear genggam menancap di lubang hidung monster itu.
Sean di belakang Bear juga bangun dan menyaksikan bagaimana monster itu meraung-raung.
***
Entah bagaimana caranya, setelah berkeliling selama dua jam, mereka berhasil menemukan pintu keluar. Pintu itu terbuat dari beton yang tebal. Bear menggeser pintu itu dan berhasil menemukan anak tangga menuju permukaan tanah.
Kini mereka berada di halaman belakang perpustakaan. Mereka melalui semacam kotak kayu yang menempel di dinding.
Mereka mengerjapkan mata saat sinar matahari menerpa mereka. Sudah selama ini mereka terpendam di dalam tanah.
“Asli aku mengantuk,” celetuk Sean. “Eh, iya. Bagaimana Bear tahu cara menghentikan monster itu?”
Bear membersihkan sikunya yang lecet-lecet. “Tanyakan pada Larissa. Aku melihat dia memikirkan itu.”
“Hah?” Sean melongo.
“Larissa, bagaimana kamu tahu kelemahan monster itu? Aku sempat membaca pikiranmu tadi.”
Larissa terdiam. Ia masih ragu-ragu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Larissa hanya merasa bisa melihat sesuatu melalui bayangan di genangan air. Hanya itu. Namun, Larissa tidak menceritakan itu. “Hanya feeling.” Larissa juga mengetahui bahwa monster itu akan mengejar mereka setelah melewati bayangan di genangan air.
“Instingmu memang luar biasa. Huah, aku benar-benar ingin beristirahat. Apa rencana kalian sekarang?”
“Aku kepikiran untuk menemukan Ge. Tetapi sepertinya jangan sekarang, aku rasa kita butuh istirahat,” jawab Sean.
“Iya, aku juga lemas. Lebih baik kita beristirahat dulu, nanti malam kita coba bertemu di ruangan makan barangkali nanti bisa menemukan Ge di sana.”
Apa yang Larissa katakan akhirnya disepakati. Masing-masing dari mereka mulai kembali ke asrama untuk beristirahat dan memulihkan diri.