Seperti Wanita Cyprus

2667 Words
“Temukan lokasi bunga itu akan tumbuh selanjutnya. Dan serahkan ke saya.” Bear mendengus tidak habis pikir mendengar perkataan Laminad. Apa yang dimainkan oleh sekolah ini? Tempat yang paling dikenal akademis di seluruh negeri membahas benda-benda tidak masuk akal. “Pak, ini sudah terlalu ....” “Saya tahu ini terdengar konyol. Tetapi kalian menyaksikan sendiri apa yang bisa diperbuat bunga itu.” Mereka bertiga jelas mengingat kejadian di lantai lima gedung mati. Bunga itu radikal dan liar. Sean memberi isyarat kepada Bear dengan memukul pelan pahanya. Bear segera memahami maksud Sean. Laki-laki itu ingin Bear mendengarkan apa kata Laminad. Apa pun yang menjadi usulan sekolah, itu adalah yang terbaik untuk mereka. “Tetapi, Pak. Mengapa harus kami bertiga? Ini hukuman?” Laminad beralih menatap Larissa. “Tentu saya punya alasan lain, bukan hanya sekadar hukuman. Dengan segala kerendahan hati, saya minta bantuan kalian.” Kini Sean dan Larissa menatap Bear. Mereka meyakinkan Bear untuk melakukan yang terbaik demi sekolah. Bear akan menyerah jika teman-temannya sudah memutuskan. Selama mereka menjalaninya bersama, ia yakin semua akan bisa terlewati. Akhirnya Bear mengangguk, dia akan mencobanya. “Saya tidak berjanji ini akan berhasil, tetapi kami akan melakukan yang terbaik.” Kedua netra dingin kecokelatan milik Laminad mulai menghangat. Lengkung bibirnya yang kaku perlahan melunak. Alis tebal dan rahang kokohnya juga menjadi lebih lembut. Ia tersenyum. Laki-laki empat puluh tahun ini adalah penggambaran yang sempurna untuk seorang pria dewasa. “Terima kasih, Bear, Sean, juga Larissa. Kalian berhak memperoleh akses 24 jam di lingkungan sekolah ini. Saya akan memberi kalian dispensasi. Saya harap kalian tidak bermain-main dengan keputusan kalian.” Di penghujung kalimat Laminad, tidak ada yang menyadari bahwa di sana terdapat sebuah penekanan yang mengikat mereka. Baik Bear, Sean, mau pun Larissa hanya berpikir untuk melakukan yang terbaik untuk sekolah. Tanpa mereka berempat sadari juga, seseorang dengan jaket, topi, dan masker hitam, sudah merekatkan alat penyadap suara di bawah meja tempat mereka mengobrol. Setelah Bear, Sean, dan Larissa pamit untuk keluar ruangan, Laminad terdiam di tempatnya. Dia kembali dingin seperti sebelumnya. “Mengapa kalian harus repot-repot meletakkan alat “Mengapa kalian repot-repot meletakkan alat penyadap suara di bawah meja? Kalau ingin tahu banyak hal, temui saja aku.” Tanpa aba-aba Laminad langsung melepas paksa sebuah kotak hitam kecil seukuran bungkus rokok lalu meremukkannya dalam sekali percobaan. *** Larissa berkunjung ke asrama milik Bear dan Sean. Dan, dia benar-benar terharu. “Wah kamar ini benar-benar ....” “Bagus, kan?” tanya Sean iseng. “Berantakan.” Larissa seperti orang cengo di sana. Sialnya dia justru tersenyum. Senyum yang benar-benar merendahkan. “Piring dan wajan belum dicuci.” Larissa menjelajah hingga ke dapur. “Bagaimana bisa kalian memasak di depan kamar mandi?” Ia memutar kepalanya lalu menaikkan alisnya. “Hah?” “Ya bisa. Kalau tiba-tiba sakit perut saat memasak, kami hanya perlu merangkak beberapa kali untuk duduk di kloset.” “Impressive!” Larissa menyindir jawaban Sean. “Kami tinggal berdua di sini, Larissa. Berbeda dengan kamu yang sendirian.” Ini adalah kalimat pembelaan dari Bear. Sean bisa menebak kalimat apa yang akan Bear sampaikan. “Di sini hanya aku yang peduli dengan kebersihan, Sean hanya bisa membuatnya berantakkan.” Akurat, tebakan Sean benar. Tentu ia sudah menyiapkan jawaban. “Tuhan sangat sempurna dalam menciptakan. Semuanya berpasangan. Ada siang ada malam. Ada baik ada jahat. Ada Yin ada Yang.” “Ada Hobear, ada Seaniel. Analogi yang mengesankan.” Larissa mengabaikan wajah masam milik Sean. Dia hanya memutuskan duduk di ranjang Bear—yang lebih rapi dibanding ranjang Sean. Dia mengangguk-angguk sambil memperhatikan ornamen kamar ini. “Sean dengan tumpukan novelnya yang sudah robek, dan Bear dengan TTS-nya yang masih baru. Kalian benar-benar menginterpretasikan perbedaan karakter yang mencolok.” “Larissa, aku pikir kamu ke sini karena ada yang ingin dibicarakan. Jika kedatanganmu hanya untuk menghujat, kamu tahu betul cara untuk keluar.” Larissa tahu betul kalau Sean hanya bercanda, makanya ia tidak tersinggung. “Larissa aku tahu ini sangat berantakan. Tidak layak menerima tamu dalam kondisi seperti ini. Aku akan membereskan kamar ini dulu. Sean! Kamu bereskan tempat tidurmu!” Sean berdecak. Tetapi ia tetap menuruti titah Bear. Dia membereskan tempat tidur, melipat selimut putihnya, juga merapikan buku-bukunya. Bear kembali melanjutkan aktivitas mencuci piring. Melihat teman-temannya membersihkan kamar, Larissa tergerak untuk membantu. Ia mengemaskan meja besar di depan tempat tidur. Meja sekaligus lemari itu menjadi tempat untuk sebuah televisi, alat pengeras suara, dan kumpulan buku-buku. Larissa memindahkan tumpukan buku di meja belajar Sean dan mengemaskannya ke dalam lemari besar dengan rak-rak bersusun. Setelah kamar rapi, mereka bertiga terduduk di lantai. Masing-masing mengembuskan napasnya lega. “Baik, jadi bagaimana? Kalian benar-benar sepakat dengan Laminad?” Bear yang membuka percakapan pertama kali. Baik Bear dan Sean, keduanya menggeleng. “Lalu mengapa kalian setuju?” “Memangnya kita punya pilihan?” celetuk Larissa. “Dengan menolak melakukannya kamu pikir semua akan lewat saja begitu seperti kereta? Tidak, Bear. Terlepas mengenai bunga itu, kita harus mencari tahu tentang nasib Andrew. Dan kita tidak bisa melakukannya dengan berdiam diri. Kalian dengar kan, kita dapat dispensasi dan kemudahan akses 24 jam di sekolah. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui semuanya.” Bear dan Sean tidak bisa menampik bahwa apa yang Larissa katakan benar. Gadis itu memang sangat visioner, pandangannya ke depan menakjubkan. “Lalu bagaimana kita akan memulainya?” Bear paham betul bahwa dalam melakukan sesuatu, permulaan adalah faktor yang sangat penting. Mereka tidak akan mendapatkan apa pun jika mengawalinya dengan kekeliruan. Larissa terdiam. Dia belum berpikir sampai ke situ. “Aku benar-benar ingin menjadi Anna yang bisa berkomunikasi dengan ....” “Aku akan sangat berterima jika kamu bisa melakukan hal itu, Sean,” potong Bear. Seketika Sean memanyunkan bibirnya. “Aku hanya ingin membantu, Bear. Sangat ingin. Tetapi aku tidak tahu apa-apa. Aku bodoh untuk hal semacam ini.” Sean berkata dengan jujur. Dia memang menguasai banyak pengetahuan umum, cerita sejarah, rahasia-rahasia, atau teori-teori konspirasi. Namun, dia tidak setanggap Bear dan Larissa dalam membaca situasi sekitar. Bisa dibilang, untuk masalah ini, dia adalah yang paling bodoh di antara kedua temannya. “Ah sudahlah, aku belum bisa memikirkan apa pun. Untuk sementara waktu, aku meminta kalian untuk memikirkan ide terbaik mengenai bagaimana kita akan mengawali hal ini. Nanti malam tenggat waktunya, kita bisa berkumpul lagi. Untuk masalah tempat akan dibicarakan nanti. Bagaimana?” “Aku setuju, Bear.” “Aku setuju,” jawab Sean lemah. Lagi-lagi, Sean sangat ingin menemukan ide yang baik untuk membantu teman-temannya. Namun, ia belum terpikirkan apa-apa. *** Sebuah ruangan berdinding bata merah yang lembap, ubin dari beton licin, dan rak buku setinggi tiga meter tersimpan rahasia kecil seseorang di dalamnya. Seorang pria dewasa berusia tiga puluh tahun menepuk buku dari kertas perkamen tua yang berdebu. Ada gambar bulan sabit sungsang di sampul kecokelatannya. Ia terbatuk-batuk. Saking tuanya, buku itu bahkan menggunakan bahasa asing yang jarang dipahami. “Akan kamu apakah buku itu?” Ternyata pria tadi tidak sendiri, dia bersama seorang wanita cantik dengan gaun panjang berwarna krim yang anggun. Wanita itu menggunakan hairpiece—hiasan berbentuk kawat emas dengan bentuk tiara atau bunga—khas wanita Cyprus. Mereka berdua berada dalam sebuah perpustakaan sebesar lapangan bulu tangkis. Ia lalu meletakkan buku itu di rak paling atas sekaligus paling dekat dengan posisinya berdiri. “Aku tidak bisa membiarkan wanitaku dalam bahaya. Aku akan menyimpannya di sini dan menghentikan kesepakatan pada Ratu Edelia.” Ratu Edelia adalah sesosok makhluk supranatural yang memiliki kekuatan untuk membuat seseorang merasakan keabadian dalam hidupnya. “Lalu impianmu untuk mendirikan sekolah, untuk membuktikan kepada orang tuamu bahwa kamu anak yang hebat, akan kamu lepaskan begitu saja?” Lelaki itu menatap kekasihnya dengan tatapan yang dalam. Rahang kokohnya meloloskan kata-kata yang membuat gadis tadi tersentak. “Untuk apa mendapatkan pengakuan dari orang yang tidak mengakuiku? Hei, selama ini aku bisa hidup tanpa pengakuan mereka. Itu bukan sesuatu yang penting lagi sekarang.” “Aku tidak bisa hidup sebagai sumber penyesalanmu. Aku tidak mau merusak mimpimu.” “Impianku adalah kita bisa bersama-sama. Kalau kamu harus menghilang, aku tidak akan pernah bisa, Grey.” Wanita yang dipanggil Grey itu terenyuh. Ia lalu membenamkan kepala di bahu prianya yang hangat. Buku dengan gambar bulan sabit sungsang itu tampak berpendar, menghangatkan keduanya dalam kesepakatan-kesepakatan yang tak pernah mereka sangka. “Sean!” “Sean! Hei!” “Sean bangun!” Seaniel tersentak dari tidurnya. Dahinya berkeringat, napasnya sedikit lebih cepat. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, mengamati posisi dia sekarang. “Astaga, aku mimpi.” Sean mengusap wajahnya. Bear hanya mendesah malas. Sean sudah tidur dari tadi siang hingga petang begini. “Ah sudah, mandi sana. Nanti malam kita akan bertemu dengan Larissa.” “Bertemu di mana?” “Belum tahu.” Bear menyisir rambutnya di cermin lemari besar. “Buruan sana mandi, ah!” “Ya, ini mandi.” Sean berjalan gontai menuju kamar mandi. Kepalanya masih dipenuhi dengan simbol bulan sabit sungsang. Ia seperti mengenalnya. *** Keputusan Sean membawa ketiganya berada di dalam gedung berbentuk limas segiempat ini lagi. Lelaki itu bilang ada beberapa hal yang ingin ceritakan, yaitu mengenai mimpinya. “Siapa yang kamu ceritakan, Sean?” Bear bertanya setelah teman sekamarnya menceritakan secara umum mengenai mimpinya. Sean menggeleng. Dia juga tidak tahu siapa orang itu. Dia hanya tahu bahwa perempuan di mimpinya bernama Grey. “Aku merasa mimpi itu sangat dekat denganku. Aku seperti ada di ruangan itu, alih-alih hanya sebagai penonton.” “Perempuan itu siapa namanya?” Larissa mendekatkan kepalanya ke Sean. Saat ini perpustakaan masih ramai. Mereka duduk di salah satu sisi perpustakaan, mengelilingi meja bundar yang dipelitur. “Grey. Tampilannya seperti wanita Yunani Kuno dari Cyprus. Tetapi aku yakin dia bukan wanita Yunani sungguhan, itu hanya kostum. Aku kira wanita itu seorang pemeran.” “Lalu laki-lakinya?” tanya Larissa lagi, dia setengah berbisik. “Dia tampan, maskulin. Tetapi aku tidak mengingat detail wajahnya. Aku benar-benar tidak bisa mendeskripsikan apa-apa.” “Kamu tidak sebaik Anna yang kamu ceritakan, Sean.” Bear berkomentar. Ah, benar. Dia berharap bisa bermimpi menjadi Anna dan dia benar-benar bermimpi. “Bagaimana pun apa yang Sean ceritakan hanya mimpi. Tidak ada yang bisa divalidasi.” Bear menggesekkan jempol dan telunjuknya. Benar kata Larissa, sebuah mimpi tidak bisa divalidasi. Namun, entah mengapa ia yakin dengan mimpi Sean. “Apalagi yang kamu ingat di dalam mimpimu?” Wajah Sean tertekuk-tekuk, apalagi ketika Bear melimpahinya pertanyaan. Jika dia tahu, dia pasti akan menceritakannya. “Aku tidak bisa mengingatnya. Mereka ada di ruang seperti perpustakaan, makanya aku mengajak kalian ke sini.” “Sebentar, Sean. Perpustakaan kamu bilang?” Sean mengangguk canggung. Bear sepertinya ingin memakannya. “Ada buku atau sejenisnya yang kamu ingat?” “Buku? A-aku tidak ingat ... eh sebentar. Buku, ya? Aduh, aku sepertinya hampir mengingatnya.” Sean memukul-mukul kepalanya sendiri. Dia memejamkan mata untuk mengingat semua mimpinya. “Buku cokelat dengan gambar bulat sabit sungsang.” “Bulan sabit sungsang apanya, Sean?” Larissa berseru tertahan. Dia mendekatkan kepalanya lagi kepada Sean. “Bulan sabit yang terbuka ke atas. Itu gambar di sampul bukunya. Itu yang aku ingat.” Larissa melongo, tetapi Bear malah menautkan alisnya. Ia seperti familier dengan bulan sabit. Ketika Bear akan melanjutkan pertanyaan, seorang petugas perpustakaan menghampiri mereka dan menyuruh mereka untuk tidak berisik. “Kita bisa pindah ke ruangan buku-buku anonim,” saran Larissa. “Eh, kamu tahu lokasinya.” Dengan tatapan tak berdosa, Larissa mengangguk dan menjawab pertanyaan Bear. “Tahulah. Ayo kita ke sana!” Ruangan buku-buku anonim adalah sebuah ruangan seukuran setengah dari ruang kelas. Ruangan ini terletak di salah sudut ruangan dengan pintu berbentuk mirip lemari kayu. Orang-orang kebanyakan mengira itu adalah lemari sungguhan, bukan ruang baca yang menyenangkan. “Kamu tahu dari mana ada ruangan seperti ini?” Sean menatap takjub ruangan tempatnya berdiri sekarang. Sebenarnya tidak ada yang spesial, itu ruangan yang sama dengan ruangan baca pada umumnya. Yang menarik ruangan itu jarang diketahui oleh orang-orang. “Gunakan instingmu untuk menemukan ruangan-ruangan hebat. Sekarang ayo duduk!” Mereka lalu duduk di salah satu kursi. Di ruangan ini hanya ada dua buah meja. Di sekeliling mereka ada rak-rak dengan laci di bawahnya. Bear kembali membawa arus percakapan mereka ke titik semula. “Bulan sabit yang terbuka ke atas, kan? Berarti begini?” Bear memperagakan dengan tangannya. Dia membentuk semacam huruf U menggunakan tangan kanannya itu, mengasumsikannya sebagai bulan sabit terbuka ke atas, atau bulan sabit sungsang. Sean mengangguk. Dia membenarkan pertanyaan Bear. “Aku seperti pernah melihat bentuk itu. Tetapi di mana, ya?” Bear bermonolog. Dia menempelkan punggungnya ke kepala kursi, bersandar di sana. Ia lalu memicingkan mata memiringkan kepala. “Bulan sabit sungsang. Di mana aku melihatmu?” “Arrghh, kelakuan orang-orang ini benar-benar membuatku bingung.” Larissa berucap masa bodoh. Bear memejamkan matanya sambil terus mengucapkan ‘bulan sabit sungsang’. Seketika ia terkesiap, membuat dua temannya ikutan terkesiap. “Bulan sabit sungsang? Bukankah, itu bentuk lonceng di pintu masuk ruangan pribadi Laminad?” Bear berseru tertahan, membuat dua manusia lainnya menegakkan badan. “Ah itu, lonceng itu. Iya benar, aku mengingatnya.” Sean tersenyum lebar dengan napas menderu. Mereka seperti mendapat petunjuk melalui mimpi yang dialaminya. Akhirnya ia bisa berguna. “Jadi langkah pertama kita, kita harus menemukan buku dengan gambar bulan sabit sungsang di sampulnya?” Pertanyaan Larissa sontak dijawab Bear dengan anggukannya. “Impressive! Sekarang, aku rasa kita sudahi diskusi ini. Kita harus segera pulang dan membiarkan Sean tertidur lagi. Kita akan mendapat petunjuk baru.” Sejujurnya Bear menyesal membangunkan Sean petang tadi andaikan ia mengetahui lelaki itu bermimpi seperti ini. “Baiklah. Kalau memang seperti itu ceritanya.” Larissa berdiri lebih dulu. Kali ini dia menggunakan istilah ‘ladies first’, atau dalam kata lain dia yang akan berjalan di depan. Namun, begitu Larissa menarik gagang pintu, pintu itu tidak bisa terbuka. Dia mencobanya beberapa kali dan tetap gagal. “Ada apa, Larissa?” tanya Bear. “Pintu ini tidak bisa dibuka.” “Eh, benarkah?” Bear lalu mengambil alih gagang pintu dan menariknya. Benar, pintu tidak mau terbuka. Selanjutnya Sean juga ikut mencoba dan pintu tetap tidak mau terbuka. “Halo yang di luar!!! Bisa tolong kami?!” Sean berteriak sambil menggedor pintu. Bear dan Larissa ikut berteriak dan menggedor pintu, tetapi seperti tidak ada yang menjawab. Malam terus melesat semakin matang, perpustakaan sudah mulai sepi, tetapi ketiganya masih terkurung di dalam ruangan itu. “Apa kita harus bermalam di sini?” Ketiganya duduk di lantai, menempelkan punggung ke dinding. “Bear, Sean, apa yang akan kita lakukan?” “Entahlah.” Bear terdengar putus asa, tidak ada yang bisa membantu mereka. Sean akhirnya berdiri, dia ingin mencari beberapa buku yang menarik untuk membunuh waktu. “Satu atau dua buku akan membantumu.” Saat Sean akan menarik sebuah buku, tiba-tiba lampu mati. Larissa berseru kaget, bahkan Bear juga kaget meskipun hanya pundaknya yang mendadak naik ke atas. Sean menjatuhkan buku ke lantai. Saat akan mengambil buku, Sean menghantam sudut rak buku dan dia langsung terjatuh. “Sean, apa yang kamu lakukan?” Bear hanya bisa berteriak dari posisinya karena ia tidak bisa melihat apa pun. “Jangan bikin aku takut, Sean. Tolong dengan sangat,” pinta Larissa. Sean menjawab, “Iya, maaf. Aku baik-baik saja.” Saat akan bangun, ia tidak sengaja melihat laci meja yang cukup lebar di depannya. Laci itu sepertinya berukuran lebih besar dibanding laci yang lain. Sean bisa melihat itu walau agak samar-samar. Sean dengan iseng menarik laci, dan menggeledah isinya. Ia tidak merasa memegang sebuah buku atau benda apa pun. Bukankah aneh jika laci sebesar ini justru kosong? “Sean, apa yang kamu lakukan?” Bear berteriak lagi. Tetapi kali ini Sean tidak menjawab. Ia malah menarik laci itu lebih jauh, hingga muncul sebuah titik cahaya di sana. Begitu kotak laci terlepas, Sean kembali terduduk ke bawah dan berseru, “Astaga! Bear, Larissa!! Kemarilah! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan!” Bear dan Larissa melihat adanya pendar cahaya itu. Bear lalu mengamit tangan Larissa dan mengajaknya menuju sumber cahaya. Setelah melihat sesuatu apa itu, napas mereka tertahan. Ini, benar-benar di luar dugaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD