Halusinasi Hari Ayah

2410 Words
Tiga tahun yang lalu. Ge terlihat bingung dengan soal matematika yang sedang dipelajarinya. Padahal nanti bakalan ada kuis lisan. Berhasil masuk ke dalam sekolah paling bergengsi tidak akan melepaskannya dengan matematika. Justru kesehariannya menjadi makin menyedihkan karena begitu nilainya tidak memenuhi kriteria ia bisa langsung di-drop out. Beruntunglah Ge mempunyai seorang teman yang lebih dari sekadar memuaskan dalam memahami matematika. Bear, anak berkaca mata yang sering memainkan jemarinya ketika sedang berhitung. Jika dipandang sekilas, Bear tak lebih dari seorang anak yang iseng menggerakkan jemarinya. Tetapi semua orang akan tertegun saat permainan jari itu menghasilkan perhitungan yang akurat. “Bear, tolong ajarkan aku!” Ge merengek seperti bayi besar, ia menyodorkan buku paketnya kepada Bear. Bear yang tengah menyelesaikan soal-soal jenjang SMA menghentikan goresan tintanya. Iya mengangkat dagu dan memandangi Ge. “Matematika? Ayo, duduk di sini!” Bear tersenyum hangat, menepuk bangku kosong di sampingnya. “Ah senangnya.” Ge menyengir dengan lebar lalu duduk di bangku tersebut. Baginya Bear adalah yang paling pandai di kelas. Apalagi kalau sudah menyangkut soal hitungan, anak itu benar-benar tak tertandingi. Bear mengajari Ge dengan tekun, dia tidak pernah marah, dia sabar. Pujian apa pun layak Ge berikan untuk Bear. Setelah bergulat bersama soal matematika, Ge menyender pada kepala bangku. Dia melipat tangannya ke belakang lalu mengembuskan napas lega. “Bagaimana kamu bisa sehebat itu, Bear? Bagaimana kamu bisa menyelesaikan soal diferensial homogen anak kuliah? Aku menghitung diferensial biasa saja sudah mau mati.” Ge menatap Bear yang kembali mengerjakan buku bank soalnya. “Aku hanya suka dan akhirnya aku terbiasa. Setelah terbiasa aku menjadi bisa.” “Jawaban yang sangat normatif. Eh iya, kemarin waktu aku tidak masuk karena sakit, katanya kamu berkelahi dengan Sean. Apa benar?” Ge tidak pernah mau berkubu dengan siapa pun. Dia adalah teman yang baik buat Bear dan teman yang baik juga untuk Sean. Di sini posisinya ada di tengah. “Dia terus bermain di kelas. Dia berisik dan menggangguku saat sedang belajar.” Bukan keanehan melihat perseteruan Bear dan Sean. Bear bersama kubunya yang tekun dan rajin, sedangkan Sean bersama kubunya yang suka berbuat keributan. “Dan aku mendengar Larissa keluar kelas lalu mengunci kalian semua dari luar. Apa benar?” Bear bergumam hm untuk memberikan Ge jawaban. Astaga, Larissa, anak yang skeptis dengan lingkungannya. Mana bisa dia bertahan dengan ego seperti itu. Teman sekamarnya bahkan merasa canggung untuk sekadar menyapanya. Dia terlalu mengisolasi dirinya, jarang bicara, atau berkomunikasi dengan orang lain. “Lalu apa yang terjadi saat kondisi memanas seperti itu?” “Andrew datang dan melerai kami. Sean bahkan meninjunya. Aku jadi ikut merasa bersalah saat itu terjadi.” Bear membiarkan penanya terguling di atas kertas. Ia ikut bersender di kepala kursi. Bagaimana bisa orang sebaik Andrew diperlakukan dengan tidak layak? Sean harus berutang rasa bersalah kepada anak itu. *** Sean lagi-lagi bergumul dengan bukunya. Kali ini ia sendirian karena Bear sedang turun ke bawah untuk mengurus sesuatu. Saat asyik membaca, notifikasi ponselnya menyala. Awalnya Sean mengira itu notifikasi pesan masuk atau panggilan, ternyata itu adalah notifikasi pengingat bahwa besok adalah hari ayah. Sebagai anak yang penyayang—meskipun kemudian orang-orang menyebutnya manja—saling mengucapkan selamat di hari spesial adalah kebiasaan yang sudah ditanamkan sejak ia masih kecil. Jika dia tidak di asrama, mesti malam ini ia akan membantu ibunya membuat kue ucapan selamat untuk ayahnya. “Wow? Besok hari ayah?” Sean bergumam karena tidak menyangka waktu meluncur secepat itu. Belakangan ia disibukkan dengan kegiatan sekolah sehingga tidak mengingat hari dengan baik. Ia bahkan suka lupa kapan hari Minggu andaikan Bear tidak mengingatkannya. Begitu menyadari bahwa besok adalah hari ayah, Sean lalu menutup bukunya sementara waktu. Ia mendadak teringat kedua orang tuanya, jadi ia memutuskan untuk menelepon. Sudah lebih dari dua minggu ia tidak menghubungi mereka, sangat keterlaluan. Setiap ayah atau ibunya hendak menelepon Sean selalu beralasan kalau ia tengah mengerjakan sesuatu, padahal kerjanya hanya membaca dan mengkritik novel. “Ayah, maaf baru Sean telepon sekarang. Sean benar-benar sibuk.” Kalimat pembuka Sean benar-benar memprihatinkan. Sekecil apa pun kegiatan yang ia kerjakan, ia akan menamainya sibuk. “Iya, Nak. Tidak masalah. Ayah paham, bersekolah di sana pasti sibuk sekali, ya? Apalagi kamu murid yang paling diandalkan di sana.” Ayahnya memang suka berlebihan. Tetapi itu semua tak pelak karena Sean yang selalu membanggakan dirinya apabila tengah berkumpul bersama keluarga. Pantas saja kalau kemudian kakaknya iri dan selalu mengganggunya. “Iya, Yah. Setiap hari selalu ada tugas, aku tidak dibiarkan tidur dengan nyaman. Ah, menjadi bintang sekolah memang harus tahan banting.” Bear lalu masuk dengan membawa keranjang pakaian loundry. Dia hampir saja hendak berseru, “Itu pakaianmu, pemalas!” Tetapi begitu ia melihat Sean sedang menelepon, Bear hanya bergumam dan menghela napasnya. Ia lalu meletakkan keranjang pakaian di samping kamar mandi. “Bear mana, Sean? Ayah mau bicara.” Berhubung Sean menyalakan fitur pengeras suara, jadi Bear segera tahu kalau ayahnya Sean mencarinya. Ia yang baru saja hendak berbaring di tempat tidur bergegas duduk kembali dan menerima telepon dari Sean. Sean dengan mata melototnya memberi isyarat dengan gerakan bibir. “Jangan bicara yang aneh-aneh!” Bear hanya mencebik lalu menjawab panggilan. “Halo, Om? Bagaimana kabarnya?” Berdasarkan pengamatan dari luar ayahnya Sean seperti mengatakan, “Eh, Bear! Baik. Di sini kami sekeluarga baik. Om harap kalian berdua juga baik-baik saja.” Ayah Sean lalu membuat suara setengah berbisik. “Apa kamu tahu, Bear? Sean bahkan tidak menanyai kabar Om.” Sean selalu lupa menanyakan kabar anggota keluarganya. Ini fakta nomor kesekian yang perlu dicatat. “Dasar Sean. Dia memang selalu begitu Om ....” Sean memelototi Bear lagi. “Maklumlah Om, dia bintang sekolah. Dia selalu diandalkan di sini, dia sangat sibuk hingga tidak sempat menanyakan kabar orang lain.” Kali ini Sean menyerahkan dua jempolnya kepada Bear. Dia menyengir kuda dengan bangga seolah cengirannya adalah prestasi membanggakan. Percakapan Bear dan ayahnya Sean berlangsung beberapa menit. Meskipun Bear lebih tampak seperti orang bingung dan canggung. Beberapa kali dia terdiam seolah tidak ada respons yang keluar dari ponsel. Setelah itu, Sean kembali mengambil alih telepon genggam. Ia lalu berbicara dengan ibu dan kakaknya. Setelah habis kurang lebih satu jam, Sean mematikan ponselnya. “Astaga, sudah satu jam lebih! Mereka menghipnotisku sampai aku tidak sadar waktuku terbuang sia-sia.” Bear yang tengah berusaha memejamkan mata, segera membuka matanya lebar-lebar saat mendengar kalimat terakhir Sean. “Ada apa dengan waktumu Sean? Aku sepertinya salah dengar.” “Waktuku terbuang sia-sia, Bear. Satu jam waktu yang cukup untuk membaca beberapa bab buku.” Bear sontak menegakkan badannya. “Bagaimana bisa kamu bilang kalau berbicara dengan keluargamu hanya buang-buang waktu? Ini sangat tidak bisa dibenarkan. Kamu memilih bukumu daripada keluargamu.”  “Eh.” Sean kaget. “Aku tidak bermaksud begitu. M-maksudku, ah sudahlah. Mengapa kamu yang jadinya repot? Kalau kamu memang peduli dengan keluargamu, mengapa kamu tidak pernah menelepon mereka? Nah, kan, kamu hanya bisa menghakimi orang lain. Padahal kamu sendiri seperti tidak punya keluarga, menyedihkan.” Sean lalu berbalik badan, malas untuk melihat Bear. Sedangkan Bear membeku di depan tidurnya. Perkataan Sean ... ada benarnya. *** Besok paginya adalah akhir pekan, lebih tepatnya hari Sabtu. Sean bangun pagi-pagi dengan perasaan bersalah. Apa yang ia katakan pada Bear tadi malam? Mengapa ia merasa bersalah? Seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Oleh karena itu, Sean berinisiatif menyiapkan sarapan untuk Bear. Dia menuju dapur kecil di depan kamar mandi. Ia membuka lemari sekaligus meja kompor mereka, lalu mengambil dua buah mie instan. Ia juga sudah membeli telur saat ke pusat perbelanjaan kemarin. Mie instan original untuk Bear, dan mie instan rasa rendang untuknya. Sean mengisi panci dengan dua gelas air lalu mendidihkannya. Ia kemudian memecahkan sebutir telur di dalam air yang setengah mendidih. Begitu permukaan telur cukup keras, Sean memasukkan mie instan original ke dalamnya. Setelah milik Bear selesai, Sean melakukan hal yang sama untuk mienya. Tak lama setelah mienya masuk ke panci, Bear pun bangun. Lelaki itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengambil kaca mata di atas meja. Hidungnya mengendus aroma mie instan yang wangi. Seketika perutnya berbunyi. Sebanyak-banyaknya makanan enak di dunia, mie instan goreng rasa original tidak pernah gagal memalingkan orang-orang. Aromanya yang kuat memenuhi satu kamar. “Kamu masak mie, Sean?” Suara Bear terdengar serak. Dahak-dahak barangkali melekat di kerongkongannya saat ini. “Eh, iya.” Sean menoleh sebentar. Setelah miliknya selesai, Sean lalu membawa dua piring mie menuju tempat tidurnya. Tetapi sebelum itu ia mampir sebentar menyodorkan salah satu piring ke depan muka Bear. “Untukmu.” Bear agak tergagap saat tiba-tiba Sean memberinya mie. “Tumben. Habis mimpi tadi malam?” “Makan atau aku lempar?” “I-iya aku makan.” Bear menerima mie itu dan menghirup aromanya yang wangi. Ia lalu memelintir mie dengan menggunakan garpu dan memasukkannya ke mulut. Mereka menghabiskan makanan hingga tandas tanpa menyelipkan percakapan apa pun. Setelah itu Bear meminta piring kotor milik Sean. Dia bilang kalau dia yang akan mencucinya. Saat sedang mencuci di wastafel, seseorang meneriaki nama Bear dan Sean dari bawah. Bear mencuci tangannya yang berlumur sabun lalu keluar menuju balkon. Tampak Larissa melambaikan tangannya dari lapangan voli. “Bear!!! Sean!!! Turun!!!” Sean mendengar suara itu. ia akhirnya juga bergegas turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke balkon. “Ada apa, Larissa?!” jerit Bear. “Turun saja dulu!! Nanti aku jelaskan!! Ayo cepat!!” Larissa melambaikan tangannya lagi. “Dia punya ponsel, tetapi dia justru memilih cara yang merepotkan.” “Jangan banyak bermonolog, Sean. Ayo kita turun!” Sean mendesah malas. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya dengan frustasi. Meski malas dia tetap ikut bersama Bear untuk bertemu dengan Larissa. “Ada apa?” Setelah tiba di lapangan voli, Bear langsung bertanya tanpa basa-basi. “Kita dicari lagi. Arghh, malas.” Sontak Bear dan Sean berucap, “Hah?” dengan kening mereka yang berkerut. Mereka bertiga melanjutkan di kursi panjang tepi lapangan. Di sana Larissa menceritakan apa yang terjadi. “Aku ditelepon oleh nomor asing pagi tadi. Dan kalian tahu dia siapa? Laminad.” Larissa mengusap rambutnya dengan frustasi. “Dia ingin kita bertiga datang menemuinya pagi ini di lobi sekolah. Jadi ayo, sekarang kita berangkat!” Sean mengangkat tangannya. “Sebentar. Kita dipanggil untuk masalah apa?” “Pasti masalah bunga itu. Terakhir kali kita terselamatkan karena kita mengaku tidak menemukan sesuatu yang aneh. Tetapi setelah rumor dari Ge menyebar, kita tidak bisa mengelak dari apa pun sekarang. Sekarang lebih baik kita menemui Laminad lebih dulu untuk mengetahui duduk perkaranya.” *** Larissa kali ini berjalan di barisan paling belakang, sedangkan Bear yang ada di depan. “Laki-laki adalah pemimpin, Bear.” Itu alasannya. Padahal biasanya Larissa selalu berargumen, “Ladies first, Bear.” Benar-benar definisi perempuan tidak pernah salah. Baru saja mereka menginjakkan kaki di lobi sebesar lobi hotel itu, suara batuk laki-laki dari kursi di salah satu sudut ruangan mengejutkan mereka. Bear mengajak mereka untuk mengikutinya. Mereka melintasi meja penjaga—seperti resepsionis sekolah—juga lemari berisi banyak sekali piala. Ubin dari pualam putih memantulkan bayangan mereka. “Selamat pagi, Laminad.” Bear menundukkan kepala sebagai tanda hormat, diikuti oleh yang lainnya begitu tiba di meja bundar. Hanya ada satu meja di sana, bersama empat buah kursi. Sepertinya Laminad sengaja menyiapkannya untuk pertemuan. “Pagi, Bear, Sean, dan Larissa. Silakan duduk!” Laminad sebagaimana sebelumnya memiliki tatapan yang dingin dan suara yang serak-serak basah. Dengan hanya melihatnya bulu kuduk bisa merinding. “Mengapa kalian berbohong saat kemarin saya bertanya mengenai sesuatu yang aneh di gedung mati? Seharusnya kalian jujur agar kita bisa menemukan solusinya lebih cepat.” Laminad tidak berbasa-basi sama sekali. Ia langsung menembak tiga remaja itu dengan pertanyaannya. Tadi malam, Laminad IV mengutus beberapa guru untuk meninjau lokasi di gedung mati. Ia agak terganggu dengan rumor yang beredar. Setahunya bunga edelia tidak akan ditemukan oleh sembarangan orang. Bunga itu tidak menampakkan dirinya kepada siapa pun kecuali kepada mereka-mereka yang dianggap berbahaya. Tiga siswa kemarin yang ia temui memang spesial, tetapi ia tidak menyangka kalau mereka bisa berbuat kekacauan seperti ini. Ia kira mereka hanya anak-anak genius seperti yang sering ia jumpai, ternyata berbeda. Usai mendapatkan konfirmasi bahwa benar adanya bercak darah di lantai lima gedung mati, juga sisa batang tanaman yang sudah kering, Laminad akhirnya memutuskan untuk memanggil Bear, Sean, dan Larissa lagi. Dan di sinilah mereka kini berada. “Saya tidak merasa aneh saat ada tumbuhan yang mati di gedung itu, Laminad. Makanya saya menjawab tidak ada keanehan selain lampu itu.” “Berhenti mengelak dan berpura-pura tidak mengetahui apa pun. Saya tahu betul kalau kalian bukan hanya menghadapi tanaman mati. Tetapi kalian yang sudah membuat tanaman itu mati.” Bear melirik ke sampingnya. Dia bisa merasakan kegelisahan Sean dan Larissa saat ini. Bear, bilang kalau dia tidak pernah memperingatkan kita mengenai bunga, mengapa justru sekarang baru diingatkan? “Terus salahnya di mana, Laminad? Anda tidak ada memberi tahu kami tentang bunga itu. jadi apa salah kami membunuhnya?” Laminad terdiam sejenak. Apa yang Bear katakan cukup untuk membantahnya. “Saya hanya kecewa karena kalian sudah berbohong, saya hanya minta kalian jujur.” Anak ini susah untuk ditaklukkan dia akan terus bertanya hingga aku tidak bisa menjawabnya. “Baik Laminad. Kami mengaku salah karena telah berbohong. Sekarang apa yang kamu inginkan dari kami?” Laminad hampir membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi ia tidak sengaja melihat kilatan dari mata Bear, dan refleks mengedipkan matanya saat menyadari adanya gejala aneh. Cara Bear menatapnya sangat berbeda. Ada pergerakan dinamis pada pupil matanya. Ia harus menghindari kontak mata dengan Bear dalam kurun waktu tertentu. Baik, sekarang alternatif penting yang sudah Laminad persiapkan akan segera digunakan. Dia akan memprovokasi tiga muridnya dengan menceritakan kisah singkat mengenai bunga edelia. “Bunga itu bisa membawa kutukan. Apakah kalian akan membiarkan bunga itu merenggut korban lagi?” “Kutukan?” refleks Sean. Bahkan kepala sekolahnya membahas hal konyol seperti ini juga. “Sekolah sekeren ini masih menyimpan bunga kutukan? Buat apa?” “Sean. Kalian hanya anak SMA yang tidak mengetahui apa-apa. Manusia hidup berdampingan dengan hal-hal magis. Mau atau tidak mau, kita hidup bersebelahan dengan benda mistis seperti itu. Saya juga kalau bisa ingin menghindari ini, tetapi apa boleh buat, sudah kejadian.” Ruangan lengang itu membuat percakapan mereka kerdam. Larissa memberanikan diri untuk membuka mulutnya. “Jadi apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi hal ini?” “Hanya ada satu cara.” “Apa?” tanya ketiganya serempak. Laminad pura-pura mengembuskan napasnya. Ia bertingkah seolah ia pun keberatan untuk mengatakan ini. “Temukan lokasi bunga itu akan tumbuh selanjutnya. Dan serahkan ke saya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD