Sekolah meminta kejujuran dari tiga serangkai mengenai apa yang mereka perbuat di gedung terlarang. Mereka tidak mengaku.
Setelah Andrew dipulangkan ke rumahnya untuk sementara waktu, situasi sekolah mulai pulih seperti semula. Aktivitas harian tidak menemukan kendala berarti. Namun, rasanya ada kehilangan setelah berhari-hari tidak melihat wajah Andrew. Hari itu, sebelum Andrew dipulangkan, ia sempat berbincang dengan Bear, Sean, dan Larissa. Dengan perasaan terpukul, ia menangis di tepi bangkar UKS. “Aku tidak bermaksud menyakiti siapa pun, aku tidak ingin kalian terluka.”
Sean memijat lutut Andrew, berharap menenangkannya. “Kita tidak menyalahkanmu. Kita paham situasinya, An. Kamu tidak perlu bersedih.”
Bear yang telungkup di bangkar satunya dengan punggung terluka memperhatikan teman-temannya. “Aku terluka karena bangunan sekolahnya yang kacau, ini bukan salahmu.” Tentu saja ini hanya hiburan dari Bear, dia tahu betul sekuat apa pondasi bangunan sekolah.
“Aku kira sedang naik wahana saat berada di dalam lemari, itu pengalaman yang menyenangkan.” Larissa juga ikut menghibur seolah air matanya yang barusan kering tidak menyisakan apa pun.
“Aku berjanji, ini untuk terakhir kalinya aku mengganggu kalian. Laminad bilang, aku akan dikarantina jika kondisiku tidak membaik setelah dipulangkan.”
Itu keputusan yang baik, sekolah mengambil langkah lebih jauh untuk kepentingan muridnya. Namun, setelah tiga hari berlalu tidak ada kabar apa-apa mengenai Andrew.
“Malam ini kita ada piket meja makan, jangan sampai lupa.” Bear mengemaskan barangnya ke dalam tas setelah bel pulang berbunyi. Ia juga sudah menyiapkan kantong berisi pakaian olahraganya yang kotor sisa pelajaran tadi pagi.
Hanya Sean yang terlihat masa bodoh dengan atasan batik merah dan bawahan celana olahraga biru. Baginya pakaian apa pun bukan masalah besar. Dia juga tidak pernah menyusun buku-bukunya dengan rapi di dalam tas. Maka jangan heran jika ujung bukunya selalu tertekuk bahkan robek. “Iya. Siang ini mau ke perpustakaan? Aku mau mengembalikan beberapa buku.” Buku yang dimaksud Sean adalah buku Lord of The Rings berbahasa Korea dan India. “Aku juga mau meminjam buku Jostein Garder, menurutmu lebih baik Dunia Anna atau Dunia Shopie?”
“Perasaan aku baru melihat kamu membaca buku itu beberapa hari yang lalu.”
“Ah, itu versi Inggris. Aku mau baca yang versi bahasa Indonesia. Aku ingin tahu sebaik apa penerjemah mengubah tatanan bahasa buku itu. Ah, jadi menurutmu aku harus meminjam yang mana?” Kelas sudah mulai sepi tetapi mereka berdua masih berada di sana. Larissa sendiri entah sedang ke mana, dia bahkan sudah menghilang sesaat setelah bel berdering.
“Dunia Anna sepertinya bagus, tentang mimpi, kan? Anna remaja terhubung sebagai neneknya sendiri di masa depan. Filosofis yang bagus. Aku juga merasa topik lingkungan yang dibawanya relevan dengan masalah saat ini.”
“Iya benar. Tetapi aku lebih menyukai Shopie yang mendapat hadiah ulang tahun yang aneh, banyak topik filsafat yang dibawa di sana. Wah, aku seperti dibawa keliling dunia dengan buku setipis itu.” Sean menyandarkan kepalanya ke kursi.
Bear berusaha mencerna apa yang Sean maksud dengan kata tipis. “Jika yang kamu maksud buku tipis adalah buku yang cukup untuk membuat gegar otak dalam sekali pukul, aku setuju.”
“Sudahlah, Bear. Kamu terlalu banyak bicara, ayo bergegas ke perpustakaan! Selepas itu kita membeli makanan instan di pusat perbelanjaan.”
Bear bersungut ketika Sean bangkit lebih dulu dan bertindak seolah dirinya yang lambat. Padahal Sean sendiri yang terlalu banyak bicara. Dasar menyebalkan!
***
Perpustakaan itu berada di barat daya kawasan Laminad Boarding School. Di depannya ada danau buatan dengan kursi-kursi kayu bercat putih. Bangunannya berbentuk limas segiempat dengan kaca-kaca biru menyelimuti. Dulu Bear selalu protes bahwa perpustakaan sebesar ini hanya akan memberi dampak buruk bagi lingkungan, tetapi ternyata tidak. Kacanya dilapisi stiker surya yang menyerap energi matahari untuk diubah menjadi energi listrik. Pendesain bangunan ini adalah alumni LBS yang cukup serius membahas pembaruan dari efek fotolistrik.
“Bear, Sean!” Larissa melambaikan tangannya begitu keluar dari perpustakaan. Tangan kirinya memeluk buku butuh tentang botani. Larissa ingin mengatasi masalah di taman vertikalnya.
“Hei!!” Sean menyapa Larissa, lalu menarik tangan Bear untuk menghampirinya. “Buku botani?” Sean memerhatikan buku yang dipinjam Larissa.
“Iya. Aku ingin mencari tahu mengenai tanaman hiasku. Aarrgh, menyebalkan. Bear sama Sean mau meminjam buku juga?”
“Ah, Sean yang mau meminjam buku. Aku hanya menemani.”
Larissa hanya mengangguk mengerti. “Baiklah, aku pulang duluan, ya? Aku ingin segera mengatasinya.”
Bear dan Sean mengangguk. Dia mempersilakan Larissa untuk pulang lebih dulu. Namun, Bear tiba-tiba menghentikan langkah Larissa dan membuat gadis itu berbalik badan.
“Ada apa, Bear?”
“Jangan lupa malam ini ada piket meja makan.” Bear sangat berhati-hati mengenai hal ini sekarang. Ia tidak mau masuk dalam masalah lagi.
“Kamu sudah mengingatkan kami juga kemarin. Sangat perhatian,” sindir Sean.
Larissa justru terkekeh. “Tidak masalah, Sean. Bear hanya tidak mau kita masuk dalam masalah. Baiklah, sampai jumpa nanti malam.” Setelah Larissa melambaikan tangan, mereka pun resmi berpisah untuk urusan masing-masing.
Perpustakaan adalah ruangan yang besar dan nyaman. Terdiri dari lima lantai dengan ubin dari pualam putih. Saat masuk ke ruang satu mereka harus melewati pemindaian keanggotaan perpustakaan melalui fitur wajah.
Bear dan Sean memasuki ruangan perpustakaan di lantai satu. Itu adalah ruangan untuk buku-buku umum. Aroma tinta dan kertas menguar di udara, situasi yang menenangkan. Banyak siswa lain berkeliling untuk menemukan buku yang menarik. Ada juga yang berkutat dengan mesin pencari untuk menemukan lokasi buku sesuai nomornya. Sean sudah lumayan hafal bagian-bagian di perpustakaan. Novel-novel terletak di bagian depan, disusun sesuai tahun terbit, lalu disusun lagi sesuai pengarangnya. Ruangan itu sangat besar. Satu kali keliling ruangan mungkin setara dua kali mengelilingi lapangan sepak bola.
“Katanya di sini ada buku-buku yang pengarangnya anonim, ya?”
Sean sedang berhadapan dengan buku karangan Jostein Garder. Dunia Anna, Dunia Shopie, apa Garder tidak mau membuat satu buku lagi berjudul Dunia Sean? Ah, pasti sangat menyenangkan.
“Buku anonim banyak ditemukan di mana-mana. Bahkan buku yang ada nama pengarangnya terkadang juga tidak diketahui pasti siapa pengarangnya. Misalnya William Shakespeare. Banyak perdebatan mengenai siapa sebenarnya penulis ini. Bahkan penulis terkenal sekelas J.K. Rowling saja masih diperdebatkan apakah dia adalah penulis tunggal serial buku itu, atau hanya seorang wanita bayaran yang membranding serial Harry Potter agar terlihat fenomenal.” Sean menatap Bear sebentar lalu kembali ke bukunya. “Aku harus dihadapkan pada seorang anak kecil dan seorang remaja enam belas tahun.” Ia kembali dilema pada buku yang ia pinjam.
“Menurutmu apa mungkin seseorang sengaja merahasiakan identitasnya?” tanya Bear penasaran.
“Apa tidak mungkinnya? Terkadang ada beberapa hal yang menyebabkan seorang penulis merahasiakan apa yang mereka tulis. Pertama, tekanan sosial. Dulu seorang penulis dikenal sebagai seorang cendekia, mereka pintar dan mampu membawa pengaruh besar. Makanya penulis zaman dulu sering menghasilkan mahakarya hebat yang bahkan diakui hingga sekarang. Namun, terkadang hal ini membuat mereka sedikit tertekan karena apa yang mereka tulis akan membawa dampak pada kehidupan sosialnya. Mereka diperlakukan khusus. Mungkin niat dasarnya baik, tetapi perlakuan khusus membuat seseorang seperti diasingkan di lingkungannya sendiri. Eksklusivitas tidak selalu melahirkan hal baik karena pada dasarnya, setiap manusia lebih menyukai kesederhanaan. Tetapi ya begitulah, banyak yang belum tahu apa keinginannya sendiri.” Kali ini Sean menatap Bear lebih lama, dan dia mengambil dua buku yang membuatnya bingung itu sekaligus. “Aku akan baca dua buku ini. Ayo kita lanjut ngobrol di depan danau.”
Bear pun mengangguk menyetujuinya. Mereka segera menyudahi proses administrasi lalu keluar dari perpustakaan besar itu. Mereka duduk di salah satu kursi putih kosong, menikmati riak air danau yang memantulkan sinar matahari yang tak begitu terik siang ini.
“Sean, tidakkah kamu merasa diasingkan karena label yang disematkan oleh sekolah? Maksudku, aku, kamu, dan Larissa hampir tidak bisa akrab dengan siapa pun. Hingga akhirnya, kita harus membatasi ....”
“Kemampuan kita, kan? Hahaha.” Sean tertawa hambar untuk menyikapi perubahan ekspresi Bear yang mulai merasa tidak nyaman. “Aku bahkan merasa lebih hebat ketika masih SMP ketimbang sekarang. Dulu aku punya banyak teman, aku sering diperlakukan seperti seorang adik. Orang-orang memahamiku walaupun aku menyakiti mereka. Tetapi makin ke sini, aku harus menjadi kakak untuk diriku sendiri.”
Bear mengangguk. Ternyata Sean merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan. “Ternyata setiap orang punya kecenderungan untuk menutupi diri mereka, ya?”
“Heem. Tetapi di depan kalian, aku bisa menjadi apa pun yang aku mau. Aku tidak merasa ada yang perlu aku tutupi.”
“Sebenarnya aku juga merasa begitu. Meskipun ada beberapa hal yang masih membuatku takut dalam bicara. Aku merasa terlalu kaku.”
Sean merangkul pundak Bear, mengiriminya energi positif. “Aku merasa kamu adalah pemimpin yang baik, Bear. Lakukan apa pun yang kamu suka, bahkan kalau itu menyakiti aku maupun Larissa, aku rasa kami tidak akan keberatan. Apa pun itu, terbukalah.”
Anak laki-laki ini terkadang memang menyebalkan, tetapi dia bisa begitu indah menyusun kata-kata. Tidak heran kalau ia dijuluki master linguistik.
“Sean, aku mau bertanya satu lagi.”
“Tidak perlu meminta izin. Katakan saja.”
“Kamu baru menjelaskan satu contoh alasan penulis merahasiakan identitasnya. Apa ada alasan lain?”
Sean mengangguk dan tersenyum. “Ada pastinya. Tetapi sebelum ke sana, ayo kita ke pusat perbelanjaan dan membeli makanan instan!”
***
Tidak semua murid menyukai makan malam di ruang makan. Lebih tepatnya mereka malas turun asrama untuk berkumpul dalam aula besar dan mewah. Padahal di sana disajikan beraneka ragam makanan yang menggugah juga suasana yang elegan dan klasik. Lampu kristal menyala di tengah ruangan dan meja kursi disusun memanjang. Ada jendela besar dengan gorden merah di ujung-ujung ruangan, juga cerobong asap di bagian belakang.
Bear, Sean, dan Larissa sudah berada di ruangan itu sejak sejam yang lalu. Tentu tidak hanya ada mereka bertiga. Setiap harinya ada sekitar lima puluh orang yang bertugas. Baik yang menyalakan lampu, mengelap piring, gelas, sendok, dan garpu, menyalakan cerobong asap, membentang permadani, menyusun meja dan kursi sesuai nomor, menyiapkan makanan, dan pekerjaan minor lainnya.
Meski sebagian kursi jarang diisi, tetapi mereka harus tetap menyiapkannya. Makanan yang tersisa dari total kuota akan di bawa ke ruang pengambilan makanan dan orang-orang malas itu akhirnya turun ke bawah untuk menikmati makanannya.
Bear, Sean, dan Larissa mendapat tugas membentang permadani dan menyalakan lilin berbentuk trisula di tengah meja makan. Lagi-lagi mereka tidak dibiarkan bergabung bersama anak lain. Mereka dibiarkan bertiga saja. Bear jadi mengingat apa perkataan Sean tadi siang di pusat perbelanjaan.
“Sebenarnya ada banyak alasan seorang penulis merahasiakan identitasnya, salah satunya untuk menjadikan karyanya sebagai pusat perhatian. Sesuatu yang mengandung sedikit unsur misteri dan konspirasi selalu mencuri perhatian lebih, bukan?”
“Sama seperti sekolah kita, ya? Kita semua tahu pendirinya adalah Laminad pertama, tetapi kita tidak pernah tahu siapa Laminad sebenarnya dan alasan dia mendirikan sekolah ini.”
Saat itu Sean mengangguk. “Bisa saja begitu. Alasan lain, sesuatu akan menjadi superpower saat pemiliknya tidak diketahui. Makanya hampir semua super hero merahasiakan identitasnya. Kita bertiga mungkin akan lebih bisa berkembang jika tidak ada yang tahu tentang kita. Kita bisa mengembangkan diri sepuasnya tanpa khawatir orang-orang memperlakukan kita berbeda. Dalam kasus kita, aku merasa alasannya terlalu kompleks.”
“Kita berusaha menutup identitas dan mengurung kemampuan kita tetapi sekolah justru memperlakukan kita berbeda. Kita ingin berkembang tetapi itu akan terlalu mencolok. Kita diam saja tetapi bakat kita terpendam. Itu juga yang membuatku sering bingung, Sean. Bahkan aku sempat berpikir bahwa yang dilakukan Ge terhadap kita adalah sesuatu yang wajar.”
Sean langsung menyangkal, dia menggeleng. “Apa yang dilakukan Ge tidak wajar. Dia dulu bukanlah tipikal anak yang usil, tetapi semuanya berubah begitu saja. Aku merasa ada yang salah dengannya.”
Sean menendang tulang kering Bear hingga laki-laki itu terjatuh. “Apa yang kamu lakukan, Sean? Mengapa menendang kakiku?”
“Kamu dari tadi hanya melamun. Bagian permadanimu masih belum rapi.”
Bear berdecak, ia lalu merapikan bagiannya.
Setelah itu mereka lanjut menyalakan beberapa lilin besar di atas meja. Lilin itu berwarna putih dan mengeluarkan aroma mawar yang harum.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, mereka bertiga duduk di anak tangga ruang makan. Jika divisualisasikan, ruang makan terletak di bagian belakang asrama. Ruangan itu adalah sebuah bangunan satu lantai dibuat meninggi dari tanah dan dihubungkan dengan tangga. Bear, Sean, dan Larissa duduk di anak tangga itu sekarang. Mereka menyaksikan bangunan asramanya juga lapangan voli.
Tak lama kemudian, seorang murid yang sepertinya masih SMP terburu-buru menghampiri mereka. “Ini Kak Bear, Kak Sean, dan Kak Larissa, kan?” tanya anak itu tiba-tiba.
“Iya, ini aku Larissa. Dan mereka juga orang yang kamu sebutkan. Ada apa, ya, Dek?”
Anak itu agak terengah-engah, sepertinya dia habis lari ke sini. “Laminad mencari kalian. Saya coba ke asrama tetapi tidak ketemu sama kakak-kakak, katanya sedang piket meja makan. Jadi saya ke sini.”
Bear menautkan alisnya. “Ada masalah apa?”
“Tidak tahu, Kak. Saya hanya disuruh memanggil kakak-kakak.”
Bear lalu mengangguk dan menatap kedua temannya. Dia mengisyaratkan pertanyaan berangkat sekarang? Sontak Sean dan Larissa mengangguk. Mereka lalu bangkit berdiri dan menepuk celana mereka yang kotor.
“Terima kasih, ya, Dek. Kamu masuk saja dulu, sebentar lagi jam makan. Kalau mau minum juga silakan ambil, ya,” ujar Larissa halus. Dia juga tersenyum kepada anak itu.
***
Laminad jarang sekali memanggil muridnya secara pribadi. Kalau itu sudah terjadi, berarti ada masalah besar yang mereka perbuat.
Bear, Sean, dan Larissa setengah berlari menuju gedung sekolah. Sejujurnya ini sangat menguras tenaga, mereka baru selesai mengerjakan piket dan harus berpindah tempat menuju gedung lain. Terlebih mereka belum makan malam.
Ruangan pribadi Laminad adalah ruangan besar yang berada di lantai enam bangunan sekolah. Jarang sekali murid yang diundang masuk ke sana, kecuali mereka bertiga. Makanya tak heran orang-orang banyak yang menyangka bangunan ini hanya lima lantai karena secara fisik memang begitu, tetapi secara praktis berbeda. Selama ini Bear, Sean, dan Larissa masuk ke dalam ‘ruang rahasia’ besar dengan rak buku itu hanya kalau mendapat prestasi dalam sebuah kompetisi. Masalahnya mereka tidak mengikuti kompetisi apa pun belakangan ini.
Ada anak tangga di belakang lemari besar ruang kepala sekolah. Itulah satu-satunya akses menuju ruangan pribadi Laminad. Entahlah, anak tadi bertemu dengan Laminad di mana.
Memang agak membingungkan saat bicara mengenai ruang kepala sekolah dan ruangan pribadi Laminad. Sederhananya, ruang kepala sekolah adalah ruang untuk keperluan administrasi kepala sekolah, sedangkan ruangan pribadi Laminad adalah ruangan pribadinya.
Kini, ketiganya sudah berada di depan pintu ruangan pribadi Laminad. Bear menggenggam lonceng berbentuk bulan sabit sungsang berwarna emas lalu mengguncangnya. Pintu itu baru berderit terbuka setelah tiga kali percobaan.
Aroma yang menelisik indra penciuman mereka adalah aroma yang sama dengan aroma perpustakaan. Bear melangkah paling depan, untuk masalah ini dialah yang paling berani. “Selamat malam, Laminad.” Bear mencondongkan kepala untuk melihat keberadaan Laminad. Laki-laki dengan perawakan 40 tahun, berbadan tegap, ramping, berahang tegas, bermata tajam cemerlang, beralis kokoh dan tebal, juga senyum yang mistis itu menatap kehadiran mereka dengan dingin.
“Masuk, Anak-anak!” Suaranya serak-serak basah dan dalam.
Ketiga remaja itu lalu mendekat ke arah meja Laminad. Ruangan bernuansa putih hitam itu seperti menyudutkan mereka hari ini.
“Ayo duduk! Biasa saja, jangan cemas.”
“Iya, Pak,” sahut Larissa. Ia lalu yang pertama kali duduk karena lututnya sudah bergetar, disusul oleh Bear dan Sean.
“Maaf mengganggu waktu makan malam kalian. Di sini saya hanya ingin bertanya beberapa hal ke kalian. tidak usah berlama-lama, ya. Kasihan juga kalian pasti terburu-buru datang ke sini.”
“Baik, Pak.” Bear menjawab.
“Mengenai gedung mati lantai lima, apa kalian melakukan sesuatu di sana?”
Asli, tiga pasang mata milik mereka langsung membeliak mendengar pertanyaan itu. Ini pastilah berkaitan dengan bunga aneh itu.
“Bagaimana? Mungkin Bear bisa bantu saya menjawab.”
Dada Bear sepertinya berdebar lebih cepat dibanding biasanya. Namun, ia cukup lihai mengendalikannya. Ia menatap mata Laminad dengan saksama hingga ia bisa melihat perubahan ukuran pupil matanya. Bear seperti dibawa masuk ke dalam sana, melalui lensa dan kornea milik Laminad.
Mereka pasti yang merusak bunga itu. Tetapi mengapa bisa? Mereka hanya remaja kelas sepuluh.
Bear merasakan keraguan sekaligus prasangka dari Laminad. Butuh beberapa detik bagi Bear untuk menentukan jawaban yang baik. “Sesuatu yang aneh? Kami hanya menemukan lampu-lampu antik di sana, apa itu yang Bapak maksud?”
Lampu antik? Mengapa jadi membahas lampu?
“Iya, Pak. Apa yang dikatakan Bear benar. Kami tidak menemukan sesuatu yang aneh di sana kecuali lampu dengan ornamen tulang.” Larissa menimpali dengan ekspresi meyakinkan.
“Saya rasa juga tidak ada hal aneh, Pak. Memangnya ada apa?”
“Ah, bukan apa-apa, Sean,” jawab Laminad kikuk. Dia seperti orang kebingungan. Mungkin di mata orang lain tidak begitu kentara, tetapi di mata Bear jelas sekali ada kejanggalan di ekspresinya.
Kalau aku bertanya lebih jauh, mereka akan curiga padaku. Baik, sepertinya ini harus dicukupkan. Aku harus lebih berhati-hati.
“Ya sudah, itu saja yang mau saya tanyakan. Soalnya gedung mati sangat jarang terjamah oleh manusia, saya jadi khawatir saat mengetahui ada yang dihukum membersihkan gedung itu. Baik, cukup. Kalian boleh melanjutkan aktivitas kalian. sekali lagi terima kasih banyak.”
“Iya. Kami pamit, Laminad,” tutup Bear. Mereka lalu menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Setelah itu, ketiganya beranjak dari kursi kayu dan berbalik badan untuk meninggalkan ruangan.
Bear, Sean, dan Larissa menampilkan satu ekspresi yang seragam setelah keluar ruangan: kebingungan.