Bear dan Sean beristirahat di kamarnya. Mereka ditemani oleh Andrew dan Larissa. Saat hari mulai gelap, Bear terbangun. Dia memegangi perutnya karena kelaparan. Larissa segera mengambilkannya air putih dan roti tawar yang dia bawa dari kamarnya. “Bagaimana? Masih lemas?”
Bear mengangguk. “Sedikit. Tulangku sakit semua.” Bear lalu melirik ranjang di sebelahnya. “Sean bagaimana kabarnya? Sudah bangun?”
“Tadi bangun sebentar untuk minum. Habis itu tidur lagi,” jawab Andrew. “Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Eh iya, Bear mau makan apa? Nanti aku ambilkan makanan di bawah.”
“Terserah, An. Apa pun, perutku lapar.”
“An, kalau berkenan, bisa sekalian ambilkan aku dan Sean? Terserah makanan apa pun.”
Andrew mengangguk hangat, senyumnya juga terlihat tulus. “Akan hadir dalam beberapa menit. Tunggu ya!” Andrew kemudian bangkit dan menarik gagang pintu. Dia langsung menghilang tanpa jejak.
“Bunga itu, kita sudah membuatnya mati.” Bear bergumam dengan tatapan lurus ke depan.
“Itu adalah bentuk perlawanan diri, Bear. Kita tidak bisa membiarkan Sean mengalami hal buruk.”
Bear tidak menampik perkataan Larissa. Mereka tidak memiliki pilihan lain. Entah bunga apa itu sebenarnya. Bentuknya mirip bunga edelweis tetapi dengan mahkota dan kelopak tiga kali lebih lebar, warnanya lebih ke arah kuning daripada putih, tangkainya berwarna gelap.
Saat itu mereka belum menyadari kejadian buruk di lantai dasar. Hingga setengah jam berlalu, Andrew tidak kunjung datang. Larissa mulai merasakan keanehan dan perasaan cemas kepada Andrew. Apalagi lelaki itu tidak membawa ponselnya.
“Aku khawatir dengan Andrew. Aku akan turun ke bawah, kalau perlu sesuatu telepon aku, ya.”
Bear mengangguk dan mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja.
Larissa lantas turun menuju lantai dasar dengan elevator. Begitu pintu elevator terbuka, Larissa dibuat panik karena kerumunan manusia memenuhi area pengambilan makanan. Seharusnya jam segini mereka bergegas menuju ruang makan asrama, bukannya mengambil makanan di area pengambilan makanan. Biasanya area pengambilan makanan hanya diisi oleh murid yang sedang sibuk dan tidak sempat makan besar di ruang makan asrama.
Saat Larissa mencoba merobek barikade murid-murid lain, gadis itu kaget melihat Andrew melempar piring dan segala properti di sana seperti orang kerasukan. Beberapa petugas keamanan berusaha menahannya agar tidak semakin bringas.
“Siapa yang membunuh bunga edelia!!! Siapa yang membunuhnya?!” Andrew berteriak dengan tangan yang sudah dikunci oleh dua petugas keamanan. Namun, energinya besar. Ia membuat dua petugas terlempar ke belakang lalu berlari mengambil piring dan melemparkannya ke sembarang arah. Barisan barikade mulai kacau. Satu per satu lari mengamankan diri dari keonaran yang dibuat oleh Andrew.
Hanya Larissa yang berani maju ke depan meskipun beberapa temannya memperingatkan. Gadis itu tetap yakin.
“Siapa yang membunuh bunga edelia!!! Kalian akan menerima akibatnya!!!”
Andrew melempari lampu-lampu dengan pecahan piring dan gelas.
Larissa takut-takut mendekat sambil mengambil patahan kayu. Ia berjalan pelan dari arah belakang Andrew lalu memukul lehernya. Seketika Andrew ambruk dan tubuhnya melemah.
***
Kejadian malam itu menjadi topik hangat di seantero asrama. Andrew yang mendadak brutal seperti orang kesurupan.
Usai kejadian aneh di lantai dasar asrama, Larissa memutuskan untuk membeli makanan dari luar asrama. Dia lalu kembali ke kamar Bear dan Sean. Di sana Sean sudah menyadarkan diri.
“Ada masalah apa Larissa?” Sean mendengar keributan dari anak-anak asrama yang kembali ke kamar masing-masing. Seolah ada pesta atau suatu hal yang terjadi.
“Andrew ke mana?” tanya Bear. “Bukankah kamu ingin menghampirinya?”
Larissa menggerakkan kepalanya naik dan turun. “Iya benar. Tetapi justru itu. Andrew seperti orang kerasukan.”
“Kerasukan??” Sean dan Bear bertanya nyaris bersamaan.
“Dia melempar barang-barang di tempat pengambilan makanan. Dia merusak barang dan berteriak kalau dia membutuhkan jiwa manusia.”
“Sial, aku merinding,” celetuk Sean. Dia lalu mengusap tengkuknya yang seperti ditiup angin.
“Sekarang dia di mana? Sudah baikkan?”
Larissa terdiam sejenak sambil menautkan jemarinya. “Aku memukulnya hingga pingsan.”
“Kamu memukul Andrew? Lalu bagaimana?” Nada suara Bear terdengar meninggi.
“A-aku tidak punya pilihan. Aku hanya menggunakan feeling bahwa ia hanya bisa dihentikan dengan dipukul belakang lehernya.”
Sean menangkupkan dagunya. Dia tiba-tiba memikirkan kejadian di gedung mati. Apa gara-gara bunga itu?
“Aku juga berpikir demikian, Sean. Tetapi hentikan, itu bukan kesalahan kita.”
“Eh, kamu mengetahui apa yang aku pikirkan, Bear?”
“Hmm? Kamu bukannya tadi berbicara?”
Sean menggeleng. Menyadari ada yang aneh, Larissa yang semula duduk di kursi beralih menuju ranjang Bear. Larissa menatap Bear dengan saksama sehingga Bear merasa tidak nyaman.
Apa yang aku pikirkan, Bear?
“Aku tidak tahu kamu memikirkan apa.”
Larissa lalu menegakkan tubuhnya.
“Ini hanya kebetulan kan?” Gadis itu menatap manik mata milik Bear dengan mendalam, membuat cowok itu kebingungan.
“Iya, kebetulan,” pungkas Bear dengan penuh keraguan.
Larissa mengembuskan napasnya dengan berat, berusaha melupakan dugaannya. Sekarang yang jadi masalah adalah apa yang menimpa Andrew.
“Mungkin Andrew kelelahan, jadi mentalnya sedang buruk. Paling besok pagi dia akan baik-baik saja.”
“Semoga saja, Sean. Ya sudah, lebih baik kalian makan malam dulu.” Larissa lantas mengambil kantong berisi makanan dari atas meja Bear, lalu mengeluarkan tiga bungkus nasi goreng. “Kebetulan ada yang jualan keliling kawasan sekolah, jadi aku langsung beli.”
“Terima kasih, Larissa. Aku makan ya?” Bear membuka nasi gorengnya, mengizinkan uap panas dari dalam bungkusan terbang ke wajah. Aromanya yang wangi bercampur aroma sate ayam bakar dan usus langsung mendominasi kamar mereka.
***
Matahari kembali terbit dari sebelah timur. Sinarnya mulai merekah merobek udara pagi yang dingin. Larik-larik cahaya mulai menjelajahi kawasan LBS, menyeruak dari balik-balik gorden yang terbuka. Sean meregangkan tubuhnya. Dia akhirnya bisa bangun lebih pagi dari Bear setelah Sabtu dan Minggu kemarin berhibernasi. Hari Senin ini biarlah dia yang mengumpulkan baju kotor dalam keranjang dan mengambilkan Bear sarapan pagi.
“Bear, mau sarapan apa?” tanyanya.
Bear yang sudah terbangun tetapi masih enggan meninggalkan bantal dan selimutnya lalu menjawab, “Apa pun yang kamu makan.”
Sean hanya berdehem untuk menjawabnya. Ia lalu memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang dengan nomor 201 lalu menarik gagang pintu kamarnya. Saat itu dia melihat Andrew duduk di bangku panjang depan kamarnya. Lelaki itu menunduk dengan rambut berantakan. Berhubung beberapa hari ini ia belum melihat kondisi Andrew, Seaniel akhirnya berinisiatif untuk menghampiri temannya itu.
Ia meletakkan keranjang di samping bangku lalu duduk di Andrew dan merangkulnya.
“Melamun, An? Ada masalah?”
Andrew tetap diam tanpa pergerakan sedikit pun. Sean mulai curiga, dia lalu menepuk-nepuk pundak Andrew. “An? Mengapa diam? Biasanya kamu selalu menyapaku lebih dulu. Ada masalah?”
Merasa ada yang tidak beres pada Andrew, Sean mengangkat dagu temannya itu hingga rambutnya yang berantakan tidak begitu menutupi mata. Sean refleks melepas tangannya dari dagu Andrew begitu melihat mata laki-laki itu agak merah dan tatapannya kosong. Sean tidak bisa menemukan seri yang biasanya muncul dari wajah Andrew. Tatapan ramahnya, suaranya yang berat dan hangat, dan perilakunya yang sangat baik dengan semua temannya. Kali ini Andrew bukan seperti Andrew.
“Hai, Sean,” ucap Andrew dengan begitu dingin dan datar. Matanya kosong menatap ke depan.
Sean meneguk air liurnya sendiri yang menyangsang di kerongkongan. Ia lalu bergegas berdiri dan meraih keranjang pakai kotornya dan pergi dengan tergesa-gesa tanpa aba-aba.
Usai mengantar pakaian kotor ternyata Bear sudah berada di ruang pengambilan sarapan untuk mengantre. Sean berdiri di belakangnya. “Aku kira kamu malas keluar kamar.”
Bear menoleh ke belakang dan melihat ada Sean di sana. “Aku sedikit kelaparan, aku pikir akan lebih baik makan langsung di sini.”
Sean hanya mengangguk polos.
Setelah mengambil roti bakar dengan selai cokelat, mereka kemudian duduk di kursi kosong.
Selagi Bear menggigit rotinya dengan tangan, Sean justru memikirkan keadaan Andrew. “Bear, ketika tatapan seseorang kosong, apa yang sebenarnya terjadi?”
Bear masih fokus mengunyah makanannya lebih dahulu. Setelah tertelan sempurna barulah ia menjawab, “Kejang absans, mungkin?”
“Maksudmu gejala epilepsi? Itu kan hanya berlangsung beberapa detik, kalau sampai bermenit-menit bagaimana?”
“Mungkin banyak muatan yang lepas di otaknya.”
“Bear aku serius. Menurutmu mengapa seseorang yang ceria bisa berubah menjadi dingin?”
Bear menggigit bibir bawahnya seraya berpikir. “Ketakutan?”
“Ketakutan? Hmmm, masuk akal.”
“Sebenarnya siapa yang kamu bicarakan?”
“Andrew.” Sean menjawab dengan mendekatkan mulutnya ke telinga Bear. Namun, percakapan mereka terpaksa berhenti karena satu per satu murid LBS mulai turun untuk mengambil sarapan. Sean dan Bear bersepakat untuk tidak membahas apa-apa lagi. Mereka melanjutkan sarapan mereka lalu bergegas siap-siap sekolah.
***
Larissa duduk di bangkunya, di depan Sean dan Bear, sendirian. Bukan karena Larissa sombong, melainkan karena ia tidak begitu suka orang berisik. Padahal yang seharusnya ia hindari bukan anak-anak lain, tetapi Sean, temannya sendiri yang suka menjadi biang keributan di sekolah.
Kelas mendengungkan nama Andrew sebagai topik percakapan pagi mereka. Itu membuat Sean, Bear, dan Larissa merasa tidak nyaman. Bagaimana pun Andrew teman mereka, dia selalu menjadi tameng ketika kelasnya mendapatkan masalah. Namun, sekarang mereka membicarakan Andrew seolah dia adalah aib.
Begitu Andrew datang, kelas mendadak sepi. Seketika Andrew merasa canggung, ia merasa terpojok meski kakinya belum selangkah pun masuk ke dalam kelas. Andrew mengembuskan napas, dia memilih bangku paling belakang karena tidak nyaman diperhatikan.
Sean memilih untuk beranjak dan menyusul Andrew. Dia lalu duduk di sebelahnya. “Hai, An.”
“Eh, hai, Sean.” Andrew menjawab dengan singkat dan datar. Matanya menatap lurus ke depan, tak berminat menyambung percakapan.
“Kalau ada masalah, jangan sungkan bilang ke aku, Bear, atau Larissa. Kamu tidak perlu memepdulikan omongan orang lain.”
“Iya terima kasih.”
Sean menepuk pundak Andrew dan tersenyum menenangkan. Andrew hanya menoleh sekilas dan kembali menundukkan kepala.
Sean lalu beranjak berdiri dan kembali ke kursinya.
“Bagaimana, Sean? Andrew baik-baik saja?” tanya Bear khawatir.
Sean menggeleng putus asa. “Dia masih belum bisa terbuka. Doakan saja yang baik-baik.”
Ketika Sean dan Bear bercakap tentang Andrew, Larissa justru terdiam melihat pantulan bayangan dari papan tulis putih di depan kelas. Matanya terkunci sehingga tidak menyadari apa-apa.
Keadaan mulai berubah ketika Andrew menendang meja. Mukanya memerah dan napasnya menderu. Seluruh mata langsung tertuju kepada Andrew yang sudah seperti banteng mengamuk. Kali ini dia hanya menggeram dan mengerang.
Sebuah meja patah kakinya begitu ditendang oleh Andrew. Teman-temannya kebingungan, mereka ingin menolong tetapi nurani mereka berkata agar segera mencari posisi yang aman.
Bear dan Sean mencoba mendekat, tetapi Larissa menahan tangannya. Gadis itu tahu kalau Andrew hanya akan bisa ditenangkan jika ia tidak sadarkan diri. “Kalian tidak bisa mendekatinya dengan tangan kosong.” Larissa lalu mengambil buku tebal milik Sean dan berjalan mendekati Andrew dengan disusul Bear dan Sean.
Suasana kelas mulai ricuh. Andrew membanting semua yang ada di hadapannya. Tas bergelimpangan, kursi patah remuk, meja terbalik, teman-temannya kini berlarian ke luar kelas.
“Sean, Bear, Larissa!! Ayo keluar!! Di sini tidak aman.”
Namun, mereka bertiga mengabaikan saran teman-temannya. Mereka justru mendekati Andrew dan Larissa melemparinya dengan buku. Larissa kira Andrew akan pingsan seperti terakhir kali ia melakukannya. Ternyata tidak, situasi tidak menjadi lebih baik, Andrew justru menatap ketiganya dengan mata memerah seperti memikul dendam yang besar sekali. Tangannya lalu menunjuk ke depan. “KALIAN YANG MEMBUNUH BUNGA EDELIA!!!” Teriakan Andrew menggema dengan kencang, seketika angin berembus kuat membuat pintu dan jendela tertutup. Lampu-lampu mati, menjadikan ruangan yang hanya berisi empat orang itu berubah gelap. Mereka terisolasi dari dunia luar bersama dengan ketakutan mereka.
Kain gorden berkelempai terkena angin. Saat itu urat tangan Andrew mengeras seperti hendak meledak. Tubuhnya menjadi lebih besar. Ia lalu berlari hendak mengayun tinju kepada Larissa, tetapi Bear mendorong gadis itu hingga terguling. Andrew menabrak kisi jendela, tetapi ia segera bangkit seolah energinya kian bertambah. Ia lalu berlari ke arah Bear, bukan untuk menghajarnya tetapi untuk meninju dinding di dekat lelaki itu. Runtuhan bangunan berguguran, beruntung Bear segera berlindung menggunakan tas yang bergelimpangan. Namun, bongkahan yang cukup besar mengenai punggungnya, Bear seketika tersungkur ke depan.
“Andrew hentikan!!” Larissa berteriak ketika Andrew hendak mendekatinya. Gadis itu didesak mundur hingga terpojok di sudut lemari kelas. Larissa jatuh terduduk, dia tidak bisa menghindar lagi.
“KALIAN MEMBUNUH BUNGA EDELIA!!!”
“KAMI TIDAK MEMBUNUHNYA! KAMI HANYA MENYELAMATKAN DIRI!”
“AARGGHHH!” Andrew mengayunkan tangannya hendak menghantam kepala Larissa. Namun, gadis itu langsung membuka pintu lemari dan menyelinap ke dalamnya. Kini dinding kelaslah yang terkelupas dan berlubang menerima hantaman Andrew.
Di dalam lemari, Larissa berusaha menstabilkan deru napasnya. Dia yakin, kapan pun Andrew bisa membanting lemari ini dan membuatnya tewas seketika. Larissa hanya bisa berdoa bersama dengan kidung yang dinyanyikan Andrew melalui erangannya.
Brak! Brak!
Sekarang Larissa menangis merasakan guncangan di dalam lemari.
Brak! Sekali lagi Andrew menghantam lemari, kayu-kayunya mulai remuk. Bahkan kayu jati pun tidak cukup untuk menahan amarah Andrew.
Brak! Pintu lemari terbuka, tetapi Larissa justru menutup matanya. Dia terlalu takut menghadapi kematian ini sendirian. Seharusnya ia tidak melempari Andrew dengan buku. Seharusnya mereka bisa segera berlari ke luar kelas, bukannya mencelupkan diri dalam masalah di kelas ini.
Anehnya, Larissa tidak mendengar hantaman apa-apa, dia sempat berpikir apakah rohnya sudah pergi sehingga tidak merasakan sesuatu apa pun. Namun, belaian pada rambutnya membuka Larissa yang duduk mendekap lutut, mengangkat kepalanya. Sean datang menenangkannya. “Andrew sudah pingsan.”
Larissa bisa melihat tubuh Andrew terkulai lemas di lantai dengan wajah pucat.
“Apa yang terjadi padanya? Kamu melukainya?”
Sean menggeleng. “Dia pingsan sendiri saat aku memeluknya dari belakang.”
Bear yang punggungnya cedera merangkak mendekati teman-temannya. Punggungnya bajunya sampai robek, lukanya cukup serius.
Setelah menenangkan Larissa, Sean lalu membantu Bear untuk menerima penanganan medis. Ia juga meminta pihak sekolah untuk mengamankan Andrew untuk beberapa waktu.