Dua hari lagi hukuman mereka akan direalisasikan. Sebuah mimpi buruk yang menyebalkan. Namun, apa pun itu mereka akan baik-baik saja.
Saat ini Bear mendorong trolinya sedangkan Sean sibuk memilih beberapa telur organik. “Yang bulat atau yang lonjong?” tanya Sean dengan konyol.
“Yang bulat.”
“Baiklah.”
Bear lanjut mendorong troli setelah Sean memasukkannya telur yang ia pilih. Mereka lalu memasuki lorong khusus mie instan. Ada banyak varian mie instan di sana, dari mie goreng hingga mie rebus. Sebagaimana anak asrama pada umumnya, mie instan adalah menu mewah yang enak disantap, apalagi dimakan bersama nasi hangat. Tetapi tolong jangan lakukan hal ini di depan Bear, dia akan memperingatkan siapa pun yang makan mie instan bersama nasi putih.
“Varian baru, Bear. Coba lihat!” Sean menyodorkan varian mie goreng rasa baru di saat Bear tengah memilih varian mie instan original kesukaannya.
“Iya sudah. Sana ambil.”
Sean mengerucutkan hidung mendengar tanggapan masa bodoh dari Bear. Ketika sedang asyik memilih beberapa bungkus mie instan, seseorang menendang troli mereka hingga tumpah. Bear mengangkat kepalanya dan menyaksikan Ge sedang menatap mereka sambil merogoh saku celana.
“Apa lagi?”
Ge hanya menggeleng polos, dan sialnya ia cocok berekspresi seperti itu. Orang yang baru mengenal Ge akan mengira dia adalah anak baik yang taat aturan. Namun, semuanya berubah setelah mengenalnya lebih jauh.
Saat pertama kali masuk ke asrama, tepatnya saat Bear dan kawan-kawan masih kelas tujuh, Ge adalah anak pertama yang mengenalkan dirinya kepada mereka. Ge tersenyum begitu senang karena bisa masuk sekolah asrama paling bergengsi di dunia. Hanya saja semua itu berubah ketika ia dinyatakan menghilang selama seharian penuh lalu ditemukan di selasar gedung mati dalam keadaan pingsan. Perilakunya buruk, dia juga selalu menghasut teman-temannya bahwa sekolah mereka adalah sekolah yang buruk. Bear adalah orang pertama yang menentangnya, lalu mengatakan bahwa Ge sudah tidak waras dan senang berhalusinasi. Semenjak itu Ge mulai menjauh dari Bear dan kawan-kawan.
Awalnya Ge memang hanya sekadar menjauh, belum tumbuh benih kebencian di dalam dirinya. Namun, setelah melihat perlakuan sekolah yang berbeda kepada Bear, Sean, dan Larissa, dia merasa benci akan hal itu. Mengapa? Karena semenjak kejadian dia menghilang, banyak perubahan yang dia rasakan, dan itu bukan hal yang menyenangkan baginya. Di momen tertentu, hatinya bisa luluh dan melembut, tetapi di momen lain dia bisa bersikap lebih kasar dan menjengkelkan. Dia bisa saja bersikap masa bodoh, tetapi begitu dia bertindak maka seluruh dunia bisa membencinya.
“Bukan apa-apa, kakiku hanya pegal dan, ya. Tidak sengaja membuat belanjaan kalian jatuh.”
“Kamu juga sudah merusak kacamataku, menghajar dan mengerjai kami, mencekal kami, dan sekarang mengganggu kami ketika sedang berbelanja? Tidak punya kerjaan.”
“Aku bilang aku tidak sengaja.”
“Kamu pikir aku percaya?”
Ge terkekeh sambil menepuk pundak Bear. “Tidak ada yang menyuruhmu percaya. Oh iya, aku dengar kalian dihukum di gedung mati, ya? Wah, tempat yang seru. Semoga kalian menyesal sudah menganggapku tidak waras.” Ge tersenyum begitu lebar sambil pura-pura tidak sengaja menginjak telur yang jatuh ke lantai.
Bear hanya menahan diri untuk bersabar karena malas berurusan dengan orang sepertinya di sini.
“Hanya diam atas perlakuan seperti itu? Terlihat seperti perundungan,” celetuk Sean.
Bear menatap sosok yang barusan berkata demikian. “Lalu kamu mau melakukan apa? Aku malas mencari keributan.” Bear kemudian mengambil barang-barangnya yang jatuh dan segera membuang pecahan telur ke tempat sampah.
Sean manyun membuntuti Bear. Dia kecewa karena tidak jadi makan mie instant dengan telur.
***
Di kamarnya Larissa segera berganti pakaian. Lalu bergegas mengambil sekop kecil dan semprotan air. Bunga anggrek yang di tanam pada taman vertikalnya layu. Ia lalu mengembuskan napas dengan malas. Tempat ini terasa kering, tetapi kalau sudah hujan jangan ditanya. Airnya tumpah hingga balkon kamar kebanjiran.
Larissa mencabut bunga-bunga yang sudah mati dan tidak mampu terselamatkan. Dia mengumpulkannya ke lantai sebelum membuangnya ke tempat sampah. Ketika sedang asyik bergelut dengan tanamannya, ponsel miliknya berbunyi. Larissa lalu menepuk dua telapak tangannya dan mengangkat panggilan telepon dari Sean.
“Ini aku, Bear. Sean mau meminta telur. Apakah boleh?”
Samar-samar Larissa mendengar omelan dari Sean karena Bear sudah mencatut namanya.
“Ambil sendiri, ya. Aku malas keluar.”
“Kan tidak diizinkan masuk kalau laki-laki.”
“Ya sudah, tunggu di hall asrama. Kalau sudah di sana kasih kabar ke aku.”
“Sean bilang terima kasih, Larissa,” sahut Bear dengan datar.
“Kamu sendiri tidak mau berterima kasih?”
“Lain kali.”
Lalu Larissa langsung mematikan ponselnya begitu saja karena malas meladeni Bear.
Dua puluh menit setelahnya Larissa turun ke lantai satu menggunakan elevator sambil menenteng dua butir telur dengan kantong plastik setelah Bear mengirim pesan bahwa mereka sudah berada di hall.
Larissa menatap mereka dengan malas dan meletakkan telur di meja.
“Terima kasih, Larissa,” ucap Bear. “Mau makan bersama kami?”
“Sean yang ajak?”
“Bukan. Yang ini aku yang ajak.”
Seketika itu Larissa tersenyum melihat ketulusan Bear. Dia lalu duduk di salah satu kursi dekat Bear dan Sean. “Bawa kartu pelajar?”
Bear dan Sean mengangguk lalu mengambil kartu dari dalam tas dan menyerahkannya kepada Larissa. Larissa lalu melakukan konfirmasi mengenai kunjungan tamu kepada resepsionis asrama. Hal ini harus dilakukan pemilik kamar sendiri, tidak bisa diwakilkan. Setelah mendapat izin mereka bersama-sama naik ke lantai atas untuk menikmati mie instant bersama telur pemberian Larissa.
***
Sabtu, hari-H mereka menjalani hukuman. Larissa duduk di kursi yang terletak di dekat lapangan voli untuk menunggu dua temannya datang. Hari cerah, udara terasa segar. Tidak panas, ataupun hangat, cenderung lembap. Dengan sweeter jingganya Larissa menunggu kehadiran Bear dan Sean.
Setelah beberapa lama menunggu, dua orang laki-laki dengan kaos bermotif sama—gambar menara Eiffel—turun dengan tergesa-gesa. Sean menyengir begitu melihat Larissa sudah menunggu sambil cemberut.
“Maafkan aku, Larissa. Air di kamar mandi kami tidak mengalir jadi kami harus mengangkut air dari kamar mandi bawah. Sialnya Sean tidur dan baru membantuku ketika sudah mau selesai.” Perkataan Bear mampu membuat perasaan Larissa tersentuh. Laki-laki ini sangat bijaksana dan apa adanya.
Sean menginjak sepatu Bear. “Aku tidak bermaksud begitu, Larissa. Aku membaca buku karangan J.K. Rowling, jadi aku terlambat tidur untuk menamatkan dua seri terakhirnya.” Dia menjelaskan dengan baik agar Larissa tidak marah padanya. Nyatanya Larissa tidak peduli.
“Aku tidak mempermasalahkan itu. Ya sudah ayo pergi!” Larissa bergegas memakai tas selempang kecilnya dan berjalan mendahului Bear dan Sean. Dia tidak suka berlama-lama.
Mereka berjalan melintasi trotoar yang di bawahnya ada drainase pengaliran. Jarang ditemukan kendaraan umum di sini. Alasannya tidak ada penghuni lain di kawasan ini selain warga sekolah itu sendiri.
Gedung mati terletak di barat laut gedung utama sekolah. Menurut informasi yang beredar dulunya gedung itu adalah gedung sekolah sebelum dipindahkan seperti sekarang. Di trotoar mereka menemukan beberapa murid yang joging atau jalan santai di pagi hari. Sepertinya hanya mereka yang harus menerima hukuman di akhir pekan.
Tiba di gedung mati mereka disambut oleh penjaga sekolah mereka. Dia menunggu di kursi panjang depan gedung bersama peralatan bersih-bersih.
“Pagi, Pak,” sapa Bear ramah.
“Pagi, Anak-anak,” jawab Bapak itu. “Kalian sepertinya bersemangat, ya? Hehehe.”
“Semangat tidak semangat ya harus semangat, Pak.” Sean menjawab santai lalu segera mengambil sebuah sapu. “Saya ambil, ya, Pak?”
Bapak itu hanya mengangguk dan membiarkan tiga anak itu mengambil sapu, pel, dan pengki (serokan sampah). Namun, sebelum mereka meninggalkan lokasi, bapak penjaga itu memberikan sebuah pesan. Ia menatap ketiga anak dengan serius seolah apa yang keluar dari mulutnya adalah pesan rahasia.
“Di lantai lima gedung ini, ada sebuah bunga yang tumbuh, bentuknya mirip bunga edelweis. Bunga itu tumbuh di tempat yang kering tetapi sering terkena hujan.”
Bear, Sean, dan Larissa masih belum memahami arah pembicaraan bapak itu.
“Jadi?” tanya Bear dengan alisnya menaut.
“Jika kalian menemukan bunga seperti itu, jangan dicabut.”
Bapak itu lalu berdiri dan menepuk bahu Bear. Dia tersenyum juga ke arah Sean dan Larissa yang tampak kebingungan.
“B-bapak itu bilang apa?” Sean menatap Larissa dan Bear bergantian.
“Bunga edelweis tetapi jangan dicabut? Bunga edelwies bukannya tumbuh di sekitar gunung berapi? Mengapa jadi di dalam gedung?” Larissa menjawabnya dengan pertanyaan.
“Aku jadi penasaran. Sekarang ayo kita masuk ke dalam. Kita cari tahu sendiri.”
***
Bersih-bersih bukanlah hukuman yang sulit, kecuali luasnya yang membuat masalah. Mereka bertiga bergiliran untuk menyapu, mengumpulkan sampah, dan mengepel lantai. Alat yang paling disenangi adalah pengki, mereka tinggal mengarahkannya pada sapu yang membawa sampah.
Setiap setengah jam mereka beristirahat di pinggir jendela. Membiarkan angin berembus menghela anak rambut mereka. Mereka masing-masing menghabiskan air di minuman mereka. Banyak ruangan di gedung ini, untungnya sebagian besar terkunci. Sehingga mereka tidak perlu repot-repot membersihkan hingga ke dalam kelas. Pada lantainya ada bekas tapak sepatu yang menguning, juga pada dinding. Itu pastilah kelakuan anak-anak pada masa itu.
Bear menyapu langit-langit koridor lalu tanpa sengaja menyenggol lampu hingga jatuh ke lantai.
“Bear! Menambah pekerjaan saja.”
“Ini langsung kubersihkan.” Bear meminjam pengki yang dipegang Sean lalu membersihkan pecahan kaca dengan hati-hati. Larissa hanya bergumam dan lanjut mengepel lantai.
Saat membersihkan kaca di lantai empat itu, Bear tidak sengaja melihat sebuah tulang kecil yang sepertinya berasal dari bohlam lampu. Ia mengangkat tulang itu dan menatapnya saksama. Tulang itu mirip seperti tulang jari manusia.
Mata Bear membesar. Dia langsung memanggil kedua temannya untuk mendekat. “Sean, Larissa, sini lihat!”
“Apalagi?” Larissa menoleh.
“Apa Bear, mana mau lihat!” Sean berlari kecil ke arah Bear dan melihat benda yang dipegang Bear. Ia terkejut dan refleks berkata, “Metacarpals?” Yang Sean maksud dengan Metacarpals adalah tulang pada ruas pertama jari manusia. Bagian yang paling dekat dengan telapak tangan.
“Tulang jari tangan manusia?”
“Masa iya?” Bear justru balik bertanya.
“Ya sudah, Bear. Jangan dipikirkan. Itu bukan urusan kita. Buruan selesaikan, kita lanjut lantai terakhir, lantai lima.” Larissa melanjutkan aktivitasnya dan memilih untuk menutup diri dari apa yang mereka lihat barusan.
Setengah jam berikutnya lagi, mereka sudah naik ke lantai lima. Mereka membersihkan gedung seperti sebelumnya. Mereka juga tidak menemukan bunga sebagaimana yang dijelaskan bapak penjaga tadi. Barulah, saat Sean hendak membersihkan sawang di jendela, ia tidak sengaja melihat bayangan bunga. Ia lalu menyembulkan kepalanya ke luar jendela dan melihat sebuah tanaman di dinding. Baunya busuk, warnanya gelap, akarnya menembus dinding hingga membuat retakan kecil. Mahkotanya putih kekuningan, menghadap matahari. Sean refleks menutup jendela karena bau menyengat.
Larissa yang melihat tingkah aneh Sean berjalan mendekat. “Ada apa, Sean?”
Sean menunjuk ke arah jendela, dan itu membuat Larissa penasaran. Ia lalu membuka jendela. Begitu jendela terbuka, mahkota bunga itu langsung menyelinap masuk. Larissa refleks melepas jendela dan membiarkan bunga itu terjepit. Aroma busuknya semakin menyengat hingga terasa pahit di kerongkongan. Konyolnya, tangkai bunga yang terjepit itu bertambah panjang dan mendekati Larissa.
Larissa kaget, dia langsung berjalan mundur tetapi bunga itu hendak menyerangnya. Larissa memukulnya dengan gagang pel tetapi bunga itu berhasil menghindar. Bear lalu menarik tangan Larissa untuk berlindung di balik tubuhnya. Laki-laki itu sudah siap dengan alat kebersihannya, dan kontan saja ia memukul bunga itu dengan pengki hingga bunga itu jatuh lemas. “Sean ayo ke sini!!!”
Sean yang bersembunyi di pinggir dinding lalu berlari mendekati Bear dan Larissa tetapi bunga itu kembali segar dan menambat kaki Sean lalu mengangkatnya ke atas. Tubuh Sean seketika sungsang. Dia berteriak sejadi-jadinya. “Bear!!! Larissa!! Tolong aku!”
“Sean!!” Bear hendak mendekati bunga itu untuk membantu Sean, tetapi Larissa menghentikan langkahnya.
“Kita harus membuat bunga itu mati, Bear. Tidak bisa asal sembarang mendekat.”
“Bagaimana caranya?”
“Robohkan dindingnya, bunga itu tumbuh melalui dinding.” Larissa menunjuk retakan kecil pada dinding.
“Ya Tuhan! Tolong!” Semakin keras Sean berteriak, semakin tinggi bunga itu mengangkatnya. Kini Sean sudah jejak ke langit-langit. “Bagaimana???!! Bear, Larissa!! Jangan diam saja.”
“Jangan banyak berteriak, Sean! Bunga itu akan semakin mengangkat tubuhmu. Tunggu sebentar, aku dan Larissa akan menyelamatkanmu!”
Melihat Bear dan Larissa justru meninggalkannya, Sean semakin berteriak. Dia bahkan sampai menyumpah dengan keringat yang terus menetes. “Sialan kaliaaaaaan!! Jangan pergi!!!!”
Bear dan Larissa bergegas menuju lantai empat. Mereka berlari menuju jendela dan melihat bunga yang tumbuh itu dari bawah. Mereka tidak berani bergerak bebas dari dalam, maka mereka harus menghancurkan bunga itu dari luar.
Bear segera menghancurkan salah kursi panjang ringkih dengan cara menendangnya. Lalu mengambil kayu yang paling panjang.
“Bagaimana melakukannya dari bawah? Kamu akan memanjat, Bear?”
Satu-satunya hal yang bisa Bear lakukan mendengar pertanyaan Larissa adalah menelan ludahnya. “Siapkan apa pun di dasar gedung, agar saat aku jatuh, aku tidak mati.”
Larissa mengangguk dan berlari menuju dasar gedung. Adapun Bear, dia membuka jendela lebar-lebar lalu berdiri di pinggiran jendela. Jika dia tergelincir maka dia akan jatuh dari lantai empat.
Bear mengarahkan kayu panjang itu ke dinding tempat bunga itu tumbuh, tetapi itu cukup sulit. Dia harus menjaga keseimbangan tubuhnya bersamaan menjaga keseimbangan dari kayu. Bear lalu kembali masuk ke dalam gedung, dia memikirkan benda lain yang bisa membantunya. Saat melihat ke atas, ia menyadari sesuatu. Dia langsung mengarahkan kayu menuju bohlam lampu
dan membiarkannya jatuh ke lantai. Pecahan beling terbesar ia sangkutkan pada kayu panjang itu dengan menggunakan tali dari kain pel. Setelah memastikan ikatannya cukup kuat, ia kembali menuju jendela dan berpijak pada tepian dengan lebar tak lebih dari 30 cm. Satu tangannya berpegang pada kisi jendela, sedangkan tangan satunya yang memegang tongkat ia arahkan ke pangkal batang tanaman. Sulit sekali mengarahkan ujung beling ke pangkal batang tanaman, apalagi dengan satu tangan, sekalipun lantai lima tidak memiliki pinggiran jendela seperti tempat ia berdiri sekarang untuk menghalangi pandangannya. Akhirnya ia melepas pegangan dari kisi jendela dan mengarahkan ujung beling itu menggunakan dua tangan. Ia menusuk batang tanaman hingga keluar getah semerah darah. Batang itu lalu terputus.
***
Sean ditemukan pingsan dengan wajah pucat. Bear lalu menggendong tubuhnya setelah Larissa memberikan air minum yang sempat ia ambil dari keran di dasar gedung. Mereka menuruni anak tangga hingga lantai dasar. Bear beristirahat sebentar. Tubuhnya juga lemas.
“Bunga apa itu? Menyeramkan sekali.” Bear terengah-engah. Kaki bergetar dan matanya mulai berkunang-kunang. “Larissa. Bisa tolong panggil tim kesehatan sekolah? Aku tidak mampu lagi. Sepertinya aku juga akan pingsan.”
“Baik, Bear. Akan aku carikan. Jangan pingsan dulu, ya? Sabar, sabar!” Larissa bergegas lari mencari bantuan, meninggalkan Bear yang sudah kehabisan napas.
***