Bab. 2 Pernikahan Daffa dan Kinan

1155 Words
Hari yang ditunggu Kinan dan Daffa pun akhirnya datang juga. Semua persiapan pernikahan pun sudah rampung dilaksanakan. Termasuk dekorasi ruang tamu yang akan menjadi saksi bisu prosesi akad nikah Daffa dan Kinan yang sudah direncanakan dengan sangat matang. Tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit, Daffa mulai memasuki ruang akad nikah. Lelaki yang berpakaian ala pengantin pria modern dengan jas, rompi dan celana berwarna soft pink berpadu dengan kemeja berwarna putih itu perlahan berjalan menuju Pak Penghulu yang sudah standby di depan meja berselimut cover table berwarna putih dan pink. Seperti nuansa yang dipakai Kinan dan Daffa untuk mendekorasi pesta pernikahan mereka. Di sana si Penghulu duduk bersama Bapak Kinan sebagai wali. Sementara Kinan sendiri sengaja belum dibiarkan keluar sebelum Daffa mengucapkan akad nikah dan mereka dianggap sah. Beberapa kerabat dan orang-orang terdekat Daffa mengiringinya dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Kecuali Daffi atau Mulin. Lelaki yang memiliki wajah serupa dengan pengantin pria itu merasa tak nyaman dengan keadaan ini. Apalagi dia baru saja keluar dari dalam penjara dengan kasus yang bersangkutan dengan keluarga ini. Tentunya ia masih merasakan banyaknya orang yang tidak suka akan kehadirannya disini. Terlebih lagi, ia harus bertemu dengan ribuan tamu undangan dari berbagai macam kalangan. Sebenarnya Mulin tidak terlalu setuju. Kebebasannya dari penjara harus mendapatkan perayaan besar yang dibuat bersamaan dengan pesta pernikahan Daffa dan Kinan. Namun, kedua insan itu sudah bertekad bulat serta tak mau rencana baiknya itu digagalkan. Mereka beralasan jika Mulin adalah bagian dari keluarga mereka. Jadi, apapun yang sudah terjadi di masa lalu, mereka simpan sebagai pelajaran berharga. Sedangkan esok hari, mereka ingin semua orang mengakui dan menerima Mulin sebagai bagian dari keluarga Abimana. Kembali pada rombongan pengiring Daffa yang berhenti melangkah tiba-tiba. Sehingga, mau tak mau lamunan Mulin pun buyar. Lalu saat mereka membelokkan badannya ke arah barisan kursi para tamu. Mulin pun ikut melangkah ke arah yang sama. "Itu bukannya kembaran Daffa yang jahat itu ya?" ucap salah satu tamu yang duduk di belakang Mulin pada orang disebelahnya. Meskipun bibirnya sudah di tutupi dengan dompet, tapi suaranya yang cukup keras membuat Mulin bisa mendengarnya. "Oh, iya ya, Jeng. Ngapain ya dia disini?" balas orang di sebelahnya itu. "Menurut kabar burung yang beredar sih. Katanya, dia sudah keluar dari penjara dan sekarang tinggal di rumah ini," kata si orang pertama dengan mata yang melirik ke arah Mulin dengan tajam. "Aduh. Kok mau ya? Si Daffa dan Abimana menampung orang yang sudah jelas jahatnya kayak dia," sahut orang kedua. Orang pertama pun mengangkat kedua pundaknya bersamaan. Seakan dia juga tidak mengetahui alasan yang tepat dari tindakan Abimana yang mereka anggap bodoh itu. Di depan sana Mulin hanya bisa mengepalkan tangannya menahan amarah yang mulai membara di dalam d**a. Sungguh, ia tidak ingin merusak acara Daffa dan Kinan yang sedang berlangsung khidmat. Dan tanpa rasa bersalahnya kedua orang itu masih saja meneruskan obrolan mereka. "Kasusnya dia kan penipuan ye kan, Jeng. Jadi, kalau saya sih. Sudah pasti bakal jauhin diri saya sama orang-orang yang suka nipu. Abis biasanya penipu itu kelihatannya aja polos, tapi aslinya…. Ck. Ck. Ck. Bisa jadi musuh dalam selimut," ujar wanita pertama yang bergaun putih itu tanpa rasa bersalah. "Betul banget. Jangan sampai deh kita dibodoh-bodohi sama orang-orang seperti dia," sahut si wanita satunya yang memakai gaun biru. Kali ini kesabaran Mulin benar-benar sudah melewati batas. Mendadak ia pun berdiri dengan cepat. Sampai-sampai kursi yang didudukinya mundur sedikit ke belakang. Kedua wanita tadi seketika terdiam. Entah mengapa mereka merasa jika Mulin marah karena obrolan mereka barusan. Beberapa orang yang ada di dekat Mulin pun seketika menoleh ke arah Mulin yang sudah berdiri. Namun, ketika mereka melihat yang melakukan hal itu adalah Mulin mereka malah mengacuhkannya begitu saja. Hanya Pak Is dan Bu Jum yang duduk tak jauh dari tempat duduk Mulin yang masih memperhatikan kepergian Mulin yang terlihat tidak nyaman. "Tuan Daffi kenapa, Pak?" tanya Bu Jum bingung. "Nggak tau, Bu. Coba sebentar biar Bapak yang cari tau," kata Pak Ia lalu berjalan keluar dari barisan kursi tamu itu. Pak Is pun segera mengejar langkah Mulin yang berjalan ke arah toilet tamu. Saat melihat Mulin masuk ke dalam salah satu bilik. Pak Is baru bisa bernafas lega. Huft. "Oh, mau ke toilet. Kirain dia mau kemana?" gumam Pak Is lalu ia segera berbalik badan untuk mengikuti acara akad nikah Daffa yang sedang berlangsung. "Saya terima nikah dan kawinnya. Kinanti binti Suparno Atmojo dengan maskawin seperangkat alat sholat beserta uang senilai dua puluh lima juta dua ratus lima puluh dua ribu lima ratus dua puluh lima sen rupiah dibayar tunai," ujar Daffa dengan tangan yang sedang menjabat tangan Pak Penghulu. "Sah. Sah?" tanya Pak Penghulu pada semua orang yang ada di ruangan itu. "SAH!!" jawab semua orang dengan kompak. "Alhamdulillahirrabbil 'alamin," balas Pak Penghulu sebelum ia membacakan doa untuk Daffa dan Kinan. Di saat itu pula Pak Is kembali ke kursinya di samping sang istri. "Gimana, Pak?" tanya Bu Jum. "Ke toilet, Bu." "Oh. Kirain dia ngambek. Kok berdirinya kasar banget sih." "Iya. Bapak aja kaget tadi." Di belakang Mulin berjalan ke arah kamarnya lewat tangga belakang. Ia memang tak ingin kembali ke dalam ruangan tadi daripada merusak keindahan suasana pernikahan saudara kembarnya. Namun, belum sempat sampai di dalam kamar ia malah berpapasan dengan Kinan, Anjani dan Dari yang hendak menemui Daffa di ruang akad mereka. "Mas Mulin kok kamu ada disini? Bukannya acaranya belum selesai ya?" tanya Kinan bingung. Ia yang sudah memakai gaun pengantin berwarna kombinasi soft pink dan putih yang sangat elegan, dipadu dengan make up cukup tebal yang terlihat menawan serta tatanan rambut yang semakin mendukung kecantikan Kinan yang tiada duanya. Tak lupa kakinya memakai selop berenda dengan warna senada dengan gaun yang dipakai Kinan sekarang. Sejenak Mulin terdiam. Ia terpesona dengan kecantikan Kinan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Karena, dulu saat mereka menikah siri pun Kinan tak terlihat secantik ini. "Eh. Iya, Ki. Cuma aku merasa kurang enak badan. Jadi, aku memilih lebih baik tiduran saja di kamar," jawab Mulin berbohong. "Aduh. Acara ini kan bentar lagi selesai, Mas. Lagian ini acara paling penting dalam hidup aku dan Mas Daffa. Masak sih kamu nggak mau ikutan menghadiri acara ini?" rayu Kinan sedang Anjani dan Sari yang mengapit kedua lengan Kinan hanya terdiam seribu bahasa. "Aduh. Gimana ya? Aku merasa nggak enak badan banget nih." Mulin menggosok tengkuknya sendiri untuk membuat Kinan percaya. "Nggak. Pokoknya aku nggak mau tau. Sekarang Mas Mulin harus ikutan kita turun," ucap Kinan sambil berjalan menghampiri Mulin lalu menarik tangannya agar segera mengikuti. Mulin pun tak punya pilihan lain selain mengikutinya begitu saja. Sementara itu, Sari dan Anjani yang masih berdiri mematung di tempat mereka ditinggal Kinan tadi saling melempar pandang satu sama lain. Sari pun mengangkat kepalanya ke arah Anjani. Seakan ia ingin bertanya tentang perilaku si Kinan. Namun, Anjani hanya mengangkat kedua pundaknya bersamaan. Seperti hendak mengatakan jika ia juga tidak tau harus bagaimana lagi. Setelah itu, Anjani pun berlalu ke arah yang sama dengan Kinan pergi. Lalu si Sari segera menyusul.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD