"Siapa itu?" ulang lelaki itu yang ternyata berjalan semakin dekat. Perlahan. Ia mengangkat tangannya dan menyiapkan senapan yang kini ia genggam. Saat lelaki tersebut melongokkan kepalanya. Tiba-tiba….
Mulin langsung melayangkan tinjunya pada wajah lelaki itu. Kemudian saat si anak buah Hitman Abraham itu sedang kehilangan kesadaran. Dengan gerakan cepat Mulin langsung menarik tangannya. Membantingnya ke lantai. Lalu memiting tangannya agar melepaskan senapan yang ada di tangan lawannya. Mulin segera memperkuat tarikan tangannya untuk mematahkan tulang si anak buah Hitman.
"AAARGHHMMMM…." Mulin pun langsung menutup mulut lelaki itu dengan tangannya. Agar tidak bersuara. Tak hanya itu Mulin juga langsung memukul tengkuk lelaki itu dengan senapan yang berhasil ia rampas. Lawan Mulin akhirnya terjatuh tidak berdaya di atas lantai yang masih kasar. Mulin pun menyeringai. Untungnya, tangan Mulin yang terluka masih bisa diajak bekerja sama. Jadi, Mulin pun bisa mengatasi lelaki itu.
Setelah menjatuhkan korban. Mulin segera menarik tubuh lelaki itu ke tempat ia bersembunyi. Mulin segera melucuti pakaian lelaki itu untuk ia gunakan menyelinap.
Sreeeet!
Tak lupa ia juga merobek kaos dalam lelaki itu. Kemudian ia balutkan di tangannya yang terluka. Agar darahnya tidak terus menerus keluar. Akan sangat berbahaya. Jika sampai orang-orang itu melihat darahnya yang berceceran.
Setelah ia memakai pakaian lelaki itu. Ia juga menggunakan topi dan masker kain bergambar wajah yang digunakan oleh si anak buah Hitman Abraham. Karena memakai masker adalah salah satu kewajiban anak buah Hitman Abraham saat sedang beroperasi. Jadi, dengan mudah Mulin akan menyelinap masuk ke tengah-tengah mereka nanti.
Mulin pun keluar dari persembunyiannya dengan berpenampilan seperti laki-laki tadi. Meskipun sebenarnya ia lebih tinggi beberapa senti darinya. Namun, semua itu tak akan membuatnya dengan mudah bisa dikenali.
Dengan langkah was-was dan sedikit deg-degan. Mulin berjalan dengan mantap menuju pintu gerbang. Puluhan penjaga pun sudah berkeliaran di sekitar sana. Untuk mengamankan tempat itu dari orang-orang yang berniat merecoki pekerjaan mereka seperti yang sudah pernah terjadi saat pengiriman barang beberapa saat yang lalu.
Mulin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia pun langsung menelan ludahnya sendiri. Saat melihat puluhan bahkan ratusan anak buah Hitman yang berjaga di tempat itu. Ia pun tak bisa membayangkan bagaimana jadinya. Bila dia sampai tertangkap oleh mereka. Mendadak bulu kuduk Mulin pun merinding mengingat hal itu.
'Sebenarnya ini tak sebanding dengan apa yang gue dapatkan,' batin Mulin. Memang benar Faisal menggaji Mulin dengan harga fantastis setiap hari untuk menjalankan setiap misinya. Namun, jika Mulin harus mati dan Abimana yang sudah kaya itu menolak uangnya. Maka sia-sialah pengorbanan Mulin selama ini. Namun, Mulin harus tetap bersabar. Ini semua juga ia lakukan untuk masa depannya yang cerah bersama Anita. Setidaknya jika wanita itu masih tetap menunggunya. Bukan mencari pengganti Mulin dan segera menikah dengan yang lain.
Kembali pada sosok Mulin yang masih berjalan biasa menuju kerumunan orang yang ada di pintu gerbang.
"Gimana sayap kiri, Bro? Aman?" tanya seorang lelaki sambil menepuk pundak Mulin. Tentu saja Mulin kaget dan hampir melonjak. Untuk saja ia bisa menguasai tubuhnya. Sehingga ia bisa bersikap seperti biasa-biasa saja.
"Aman. Loe tenang aja," timpal Mulin dengan nada yang dibuat semirip mungkin dengan suara lelaki tadi.
"Kenapa tangan loe? Perasaan barusan masih biasa-biasa saja," ujarnya saat melihat tangan Mulin yang terluka.
"Oh, ini. Barusan gue terkena paku secara nggak sengaja," jawab Mulin. Saat ia menatap ke belakang lelaki itu. Tampak sebuah Pesawat terbang Kargo sudah menunggu.
'Itu dia sasaran kita,' gumam Mulin dalam hati. 'Namun, sebelum itu. Gue harus bisa membuat si Bos dan Andro masuk ke dalam area ini,' ujar Mulin dalam hati.
Orang yang tengah bicara dengan Mulin pun langsung mengerutkan keningnya.
'Sejak kapan di tempat ini ada paku berserakan. Bukankah sebelum acara ini digelar. Sudah dilakukan pembersihan area ini. Dan Jangankan paku, bekas langkah mereka saja sudah tidak ditemukan lagi sekarang,' batin lelaki itu mulai curiga. Bahkan, ia juga menatap lekat-lekat wajah dan badan Mulin yang tampak berbeda dari tingkah rekan seprofesi orang itu biasanya. Mulin mengetahui hal itu. Lantas ia segera mencari ide untuk mengembalikan kepercayaan orang itu lagi.
"Eh. Mari kembali bekerja! Mereka sudah mulai berdatangan," ujar Mulin mengalihkan perhatiannya. Si lelaki yang sedang menatap Mulin intens pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah gerbang. Tepat dimana sebuah kontainer berjalan masuk ke dalam area tersebut.
"Oh, iya benar. Ayo, kira sambut mereka," ajak lelaki itu sambil berjalan mendekati gerbang. Mulin pun langsung mengikutinya dari belakang.
'Yes! Itu juga yang gue mau kok Bang,' sorak Mulin dalam hati. Dengan langkah biasa-biasa saja mereka berjalan mendekati kontainer yang sudah berada di depan pintu. Mulin pun melongok sedikit kepalanya untuk mencari sosok teman-temannya yang masih bersembunyi di balik semak belukar itu. Tak lama mata Mulin pun menangkap sosok Faisal ada di balik semak kiri dan Andro ada di semak yang lain. Saat pandangan mata Mulin bertemu dengan Faisal. Ia pun langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. Seakan memberikan petunjuk jika ia akan segera melancarkan aksi selanjutnya.
Di balik semak Faisal pun menganggukkan kepalanya. Meskipun sosok yang ia lihat jauh berbeda dengan penampilan Mulin saat meninggalkannya. Namun, dia tau jika orang itu adalah anak buah andalannya itu. Karena cuma Mulin yang akan diam saja saat melihatnya ada di tempat itu.
Kontainer yang sudah selesai diperiksa pun langsung dipersilahkan masuk ke dalam area. Sementara kontainer selanjutnya langsung bergerak mendekat untuk mendapatkan jatah pemeriksaan juga. Mulin pun langsung menepuk salah satu diantara orang-orang yang akan memeriksa kontainer itu.
"Gantian, Bro! Gue tau loe capek," ujar Mulin saat lelaki itu menoleh.
"Oke," timpalnya seraya berlalu.
Mulin pun menyingrai saat melihat orang itu menjauh. Kemudian ia pun segera berjalan menuju salah satu sisi mobil peti kemas itu. Mulin pura-pura mengecek mobil itu layaknya para anak buah Hitman yang lain. Namun, sesekali ia menoleh ke belakang untuk melihat kesiapan kedua rekannya. Mulin pun stand by di belakang mobil raksasa itu. Kemudian ia pun segera membuka pintu kontainer menggunakan alat yang sudah diberikan oleh Faisal sebelum sampai di tempat itu.
"Hei. Ngapain dibuka segala? Nambah-nambahin kerjaan aja," protes salah satu anak buah Hitman yang lain.
"Gue rasa bagian dalam pun perlu diperiksa. Agar kontainer ini benar-benar bersih dari hal-hal yang tidak Bos kita inginkan," balas Mulin. Lelaki itu pun langsung memandang Mulin sinis.
'Dasar penjilat,' batinnya sambil melayangkan tatapan tak suka pada Mulin. Namun, lelaki itu segera menjauh dan melanjutkan pekerjaannya untuk memeriksa tempat lain. Sementara Mulin, langsung memerintahkan kedua rekannya untuk segera naik ke dalam kontainer itu. Andro dan Faisal pun bergegas melakukan apa yang diinginkan oleh Mulin. Mereka akhirnya bisa masuk ke dalam mobil kontainer itu. Namun, saat Mulin sedang mengunci mobil itu kembali. Tiba-tiba ada yang berteriak kencang.
"Ada penyusup! Ada penyusup!" teriaknya sambil menunjukkan drone yang berhasil ia dapatkan. Seketika mata Mulin pun langsung membulat sempurna.
'Itu kan milik si Didit,' batin Mulin panik.