Di sebuah restoran mewah. Anita tengah makan malam bersama Nando. Sejak mereka bertemu tadi. Nando terus saja mengoceh tentang banyak hal. Mulai dari cerita prestasi saat dia masih sekolah, bagaimana ia bergaul dengan teman-temannya yang katanya high class sampai akhirnya menceritakan keluarganya yang kaya raya. Pokoknya semua yang dia kisahkan hal-hal manis yang terjadi dalam kehidupannya. Anita sampai berulang kali memalingkan wajahnya. Karena merasa bosan mendengar kisah Nando yang penuh kesombongan.
'Andai gue bisa memilih. Gue lebih nyaman jalan dengan Mulin yang apa adanya. Bukan lelaki yang suka mengumbar kelebihannya seperti ini,' batin Anita seraya mengalihkan pandangannya ke arah samping. Mata Anita pun terus menatap air mancur yang ada di luar jendela kaca yang tak jauh dari meja yang dipesannya itu. Hingga sesaat kemudian sekilas ia melihat sosok Mulin berada di pantulan kaca itu. Seketika Anita pun langsung menoleh ke arah yang berlawanan. Mencari sosok yang sempat tergambar di kaca jendela dengan begitu jelasnya. Namun, Anita tak menemukan sosok itu di sisi lainnya. Hanya ada pengunjung lain dan beberapa waitress yang sedang melakukan aktivitasnya seperti biasa.
'Heh. Sepertinya gue udah mulai berhalusinasi deh? Sampai-sampai terus mengkhayalkan Mulin ada di tempat ini. Sadar, Anita. Sadar. Bisa-bisa loe gila beneran ntar,' ujar Anita sambil menepuk kedua pipinya secara bergantian. Melihat hal itu Nando pun merasa aneh. Ia menatap wanita yang sedang dikencaninya itu dengan kening yang berkerut sempurna.
"Anita. Kamu kenapa?" tanya Nando yang berhasil membuat Anita langsung menghentikan gerakannya.
"Oh. Eng… enggak papa kok. Tadi cuma ada nyamuk doang," elak Anita dengan nada terbata.
"Heh. Di tempat semewah ini ada nyamuk?" tanya Nando heran, tapi berhasil membuat Anita gelagapan.
"Oh, iy… iya mungkin. Nyamuk nyasar terus jadi nyamuk high class kali. Jadi, nongkrongnya nggak di kebun lagi, tapi di restoran mahal kayak gini," balas Anita berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Hahaha. Kamu ini pinter banget sih bercandanya. Bikin gemes deh," kata Nando sambil mencubit pipi Anita yang tirus.
"Aw," pekik gadis itu. "Sakit tau," protesnya.
"Hehehe. Maaf-maaf. Ayo makan lagi spaghetti bolognese nya. Kalau Mama aku yang buat bisa seenak ini juga lho. Kamu pasti suka!"
"Oh, gitu ya," timpal Anita malas-malasan. Sebenarnya dia tak ingin menyahut. Cuma, dia tidak ingin Nando semakin banyak bertanya tentang apa yang baru saja terlintas di benaknya. Meskipun sebenarnya Anita masih sangat penasaran dan tak bisa menyangkal jika sosok yang dilihatnya tadi tampak sangat asli. Bukan hanya sebuah ilusi semata.
Sedangkan di tempat lain. Faisal Arkani sedang menyeret Mulin keluar dari sebuah restoran mahal. Hingga sampai di sebuah sudut parkiran yang cukup sepi. Faisal pun menghentikan langkahnya. Lalu menghempaskan tangan Mulin yang sedari tadi diseretnya.
"Loe liat apa yang loe lakuin barusan, hah?!" sembur lelaki itu penuh amarah. "Tuh cewek jadi melihat elo, kan? Gimana kalau akhirnya identitas loe ketahuan, hah? Abis kita Mulin. Abis semua rencana kita!"
"Bang! Tapi, gue nggak bisa bohongin perasaan gue sendiri, Bang. Gue butuh dia dan selalu saja gue kepikiran dia saat bersama dengan Aqila ataupun Grace. Dan saat melihat dia jalan bareng cowok lain. Hati gue Bang. Hati gue yang mengarahkan gue untuk ikut ke tempat ini dan muncul sebagai diri gue sendiri. Bukan orang lain," timpal Mulin dengan nada yang sama. Faisal pun melirik rambut dan penampilan Mulin yang terlihat acak-acakan sama seperti saat mereka pertama kali bertemu. Bahkan, ia juga memakai baju yang sama dengan yang dikenakannya saat terakhir bertemu Anita.
"Tapi, loe ingetkan kalau hal ini bisa membahayakan rencana kita?!"
"Iya, Bang. Gue tau. Gue sangat tau konsekuensinya. Tapi, kalau yang menemui Anita itu si Julian. Sementara sekarang loe bisa liat sendiri. Apa loe pikir Aqila masih mengenali Julian dalam penampilan gue yang seperti ini?" tanya Mulin yang langsung membuat Faisal Arkani berpikir keras sesaat. Ia menatap tubuh Mulin dari atas sampai bawah. Memang benar kata Mulin tadi. Penampilannya sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sosok Julian yang rapi, bersih dan elegan. Bahkan, wajahnya sudah sedikit berbeda dengan aslinya sudah ditutupi dengan masker kain.
"Loe dapet baju itu dari mana?"
"Gue minta Andro menyimpannya tempo hari. Dan kemarin gue yang mengambil benda ini darinya di markas. Saat elo nggak ada di sana." Faisal menatap wajah Mulin lekat-lekat. Tampak ada semburat raut wajah memohon di setiap lekukannya.
"Baiklah. Gue izinkan loe mengintai wanita itu. Tapi, ingat jangan terlalu dekat. Dan pastikan penampilan loe bukan penampilan Julian. Selain itu, wajah loe juga harus di samarkan. Karena akan sangat berbahaya jika dia sampai curiga," pesan Faisal dengan nada penuh penekanan.
"Baik, Bang. Gue pasti akan mengingatnya baik-baik."
"Oke. Kalau begitu gue pergi dulu." Sebelum pergi Faisal menepuk pundak Mulin beberapa kali. Mulin pun langsung mengangguk sebagai balasan dari ucapan Faisal barusan. "Ingat terus pesan gue. Jangan sampai bikin gue kecewa. Mengerti?!"
"Mengerti, Bang."
"Bagus." Setelah mengucapkan hal itu Faisal segera meninggalkan Mulin sendiri di tempat itu.
Kembali pada Anita yang sudah benar-benar muak mendengar cerita Nando yang hanya berputar-putar saja.
"Jadi, saat itu gue sampai ngalahin tuh temen gue yang sok jago beladiri. Makanya saat mulai bertugas kemarin, gue langsung dapat jabatan setinggi itu. Kamu pasti heran juga, kan? Nggak nyangka gitu anak baru seperti aku bisa mendapatkan posisi sepenting itu di Rutan tempat kita tugas bersama," kata Nando dengan nada yang menggebu-gebu. Anita pun langsung memasukkan spaghetti bolognese terakhir ke dalam mulut.
"Selesai," ujar wanita cantik itu sambil meletakkan kedua sendok dan garpu di tangannya ke atas piring yang kosong. Mendengar ucapan Anita Nando pun langsung terdiam sambil menatap Anita yang sedang mengusap bibirnya dengan tissue.
"Wah. Cepet banget habisnya. Kamu pasti suka kan? Ini memang makanan kesukaan keluarga aku. Maklum, Mama sama Papa biasa hidup di Italia. Jadi, paling sering makan beginian. Kamu mau nambah? Biar aku pesenin lagi," ujar Nando. Ia pun segera balik badan dan hendak angkat tangan kanannya untuk memanggil Waitress. Namun, seketika Anita langsung menahannya.
"Jangan-jangan! Aku sudah kenyang!" ujar Anita cepat. Nando pun kembali memutar badannya hingga berada di posisi semula.
"Beneran kamu nggak mau nambah lagi. Ada topping lain yang nggak kalah enak lho!"
"Iya beneran. Perutku udah penuh. Nggak bisa nampung makanan lagi. Dan kayaknya aku harus pulang sekarang deh. Udah malem, aku udah ngantuk juga," timpal Anita sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
"Kamu tungguin aku makan bentar ya. Punyaku juga hampir habis nih," kata Nando sambil mengelus punggung tangan Anita. Kemudian ia pun menyendok beberapa helai spaghetti dari gundukan yang masih utuh di atas piringnya. Anita yang seorang cewek pun tampak geram melihat cara makan Nando yang terlihat sok elegan itu. Setelah mengunyah spaghetti itu dengan cukup lama. Nando malah kembali meletakkan sendok di tangannya. Lalu melanjutkan cerita. "Sampai mana kita tadi?" tanya Nando yang langsung membuat Anita menepuk keningnya sendiri.
'Ah. Gue nggak bisa gini terus nih. Gue harus bisa pergi dari sini,' batin Anita sambil terus berpikir.
"Oh, iya. Aku ingat. Sampai aku yang baru bertugas ke Rutan dengan posisi tinggi ya? Oke. Aku lanjutin! Jadi–"
"Bentar-bentar," potong Anita cepat. "Aku ke toilet bentar ya. Aku tiba-tiba pengen pipis nih," ujar Anita sambil berpura-pura menahan rasa kebeletnya.
"Oh, iya. Mau aku anterin?" tawar Nando.
"Kamu gila ya. Emang kamu mau ngapain di toilet cewek?" timpal Anita sambil beranjak dari duduknya.
"Ya, maksudnya nggak sampai masuk juga. Cuma aku tunggu di depan pintu aja. Takut kamu digangguin sama cowok lain. Kan cewek secantik kamu biasanya banyak yang gangguin sama cowok tengil kayak gitu," sahut Nando.
"Nggak perlu. Lagian disini kan ada keamanan. Jadi, kalau ada apa-apa ya tinggal panggil mereka aja."
"Iya juga sih."
"Ya, udah ya. Aku udah nggak tahan," ujar Anita lalu berlari kecil menjauh sambil memegangi tas selempangnya. Saat Anita merasa jaraknya dengan Nando sudah cukup jauh. Ia pun segera membuka kedua high heels yang dipilihkan Mamanya. Sebelum akhirnya ia berlari kencang keluar dari tempat itu. Seperti orang yang sedang dikejar hantu Anita berlari secepat kilat menuju jalan raya untuk mencari taxi. Sayangnya di tengah jalan ia menabrak seseorang.
Brukk!
"Hati-hati dong kalau jalan jangan pakai lari-larian segala. Kayak dikejar hantu aja loe!" bentak lelaki yang ditabrak Anita.
"Eh, maaf. Maaf. Gue nggak sengaja," ujar Anita dengan nada ketakutan.
"Eh, Sob. Liat deh. Cewek ini cantik juga lho!" ujar teman lelaki itu.
"Bener juga. Eh, manis. Loe kenapa lari-larian malem-malem gini. Mending ikut Abang aja yuk! Abang traktir makanan enak deh," ujar lelaki yang ditabrak Anita sambil berusaha merangkul pundak Anita. Namun, Anita segera menepisnya.
"Jangan kurang ajar ya!" bentak Anita berusaha melawan.
"Oh, galak juga ternyata ya. Hahaha."
"Aduh, Cantik. Jangan galak-galak dong. Kan kita cuma mau kenalan doang," sahut rekan si lelaki itu.
"Iya. Apaan sih galak gitu? Emang namanya siapa Cantik?" kata si lelaki pertama sambil berjalan mendekat. Anita pun hendak melangkah mundur untuk menghindari lelaki itu. Namun sayangnya punggungnya membentur sesuatu.
"Jangan dekati dia. Gadis ini milik gue!" ujar seseorang di belakang Anita dengan nada tegas sambil memeluk tubuh Anita dari belakang.
Gluk!
Anita pun kesulitan menelan ludahnya.
'Suara ini? d**a bidang ini? Lengan yang berotot ini?' ujar Anita dalam hati. Wanita itu hanya bisa mematung mendengar suara itu. Ia sampai tidak sadar jika kedua lelaki itu pergi begitu saja. d**a Anita seketika bergemuruh tak karuan, darahnya berdesir-desir dan lidahnya terasa kelu. Anita mematung hingga tak sadar orang itu sudah melepas pelukannya.
'Mulin,' batin Anita. Ia pun berusaha menguasai tubuhnya. Perlahan ia memutar badannya untuk menatap lelaki itu. Sayangnya, saat ia membalikkan badannya. Ternyata orang itu sudah tidak ada di belakangnya.
"Kemana dia?" gumam Anita sambil celingukan ke kiri dan kanannya.
"Anita!" panggil Nando sambil berlari ke arah wanita itu. Namun, Anita tak begitu ngeh dengan panggilan itu. "Ngapain loe disini?" tanya lelaki itu setelah berada di samping Anita.
"Hah?" balas Anita yang baru sadar kehadiran lelaki itu di sebelahnya.