Sebelumnya, saat di pantai.
Sakura mengedarkan pandangan ke luasnya laut. Sesekali bibirnya tersenyum cerah. Sedangkan Haruka, pria itu sudah beranjak membeli es kelapa seperti yang ia tawarkan.
Namun langkah yang berhenti secara tiba-tiba di samping Sakura membuat gadis itu mematung ketakutan untuk sesaat. Sebelum akhirnya lelaki paruh baya segera memperkenalkan diri, menenangkan seorang gadis yang sedari tadi ingin ia temui.
"Apa kau teman Haruka?" tanya lelaki itu.
Sakura yang masih gelisah tak menjawab. Di kepalanya langsung muncul pertanyaan kenapa lelaki di depannya bisa mengetahui tentang Haruka? Apakah mereka sedang dikuntit?
Sadar dengan kegelisahan gadis di sana, lelaki itu segera menjelaskan sebelum Sakura berteriak.
Sembari mengeluarkan kartu nama, lelaki dengan baju rapi itu berkata, "Perkenalkan. Saya Taguchi. Kuharap kau tidak takut, saya bukan orang jahat."
Sakura terdiam. Dengan gamang ia meraih kartu nama yang disodorkan. Matanya menatap ke wajah lelaki dan kartu nama secara bergantian. Namun ada yang tidak asing dari perkenalan lelaki itu.
"Taguchi?" gumam Sakura pelan. Ia mencoba mengingat, di mana pernah mendengar nama itu sebelumnya. Apakah itu nama seseorang yang ia kenal?
Beberapa saat Sakura masih bergeming. Hingga sepertinya satu kepingan memori tiba-tiba muncul di kepalanya. Kedua mata gadis itu membulat. Kepalanya terangkat tidak percaya.
"Taguchi? Mungkinkah Anda ..." ungkap Sakura ragu.
Seulas senyum ditampilkan oleh lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Taguchi. Ia mengangguk. "Apa kau sudah tahu siapa saya?" tanyanya penuh harap. Akan lebih mudah meminta bantuan jika gadis di depannya percaya padanya.
Namun Sakura masih tidak yakin. Dengan ragu gadis itu kembali berkata, "Apa Anda memiliki hubungan kerabat dengan ayah Haruka?" Ia mengatakan seraya berpikir. "Ah, atau mungkin Anda kakek Haruka?" Sakura memekik, nampak kesenangan karena bisa menebak.
Tetapi siapa yang tahu, jika tebakan gadis itu hanya membuat lelaki di depannya menepuk jidat dalam hati.
"Apa saya nampak setua itu?" ucap Taguchi dengan senyum canggung sedikit kecewa. Namun itu bukanlah hal penting untuk sekarang.
Taguchi tersenyum ke Sakura. "Sebenarnya saya adalah ayah dari Haruka," ucapnya lantang.
Mendengarnya membuat mulut Sakura membentuk huruf O sempurna. Ia sangat terperanjat. Apakah lelaki di depannya ini adalah seorang penipu. Akhir-akhir ini banyak kasus penculikan anak di bawah umur. Mungkinkah Taguchi adalah salah satunya?
Perasaan cemas seketika menjalar. Ia sendirian sekarang. Sementara posisinya juga tidak menguntungkan karena tertutup oleh pedagang, dan Haruka tidak bisa melihatnya.
Sakura gemetar, jantungnya berdegup kencang. Ia ingin percaya dan berpikir baik, tapi teringat kartu nama bisa saja dipalsukan.
Seolah sadar dengan ketidakpercayaan gadis remaja yang nampak gelisah, Taguchi kembali merogoh sesuatu dari dalam dompet. Setelahnya menunjukkan foto berukuran kecil yang nampak sudah lama tapi masih terjaga.
"Maaf jika membuatmu takut. Apa ini bisa membuatmu percaya?"
Dengan ragu Sakura melihat secarik foto dari tangan lelaki yang mencurigakan. Sesaat matanya memicing, ada satu anak yang terlihat tidak begitu asing baginya.
Lagi-lagi mata Sakura membulat saat menyadari sesuatu. "Haruka kecil!" pekiknya tidak sengaja. Ya, dia ingat betul bagaimana wajah teman masa kecilnya, dan gambar di foto itu sama persis.
"Kau mengenalinya?" tanya Taguchi dengan perasaan sedikit lega. Ia berharap gadis itu juga sadar jika lelaki dewasa di sana adalah dirinya.
Sakura mengangguk. "Ya. Aku bertemu dengan Haruka dengan wajah seperti ini," ucapnya seraya menunjuk gambar. Sesaat kemudian gadis itu tersadar. "Oh, lelaki dewasa ini apakah Anda?" tanyanya, bergantian menatap lelaki dan foto.
Kali ini Taguchi yang mengangguk.
"Lalu ini. Apakah ibu Haruka?" tanya Sakura lagi.
Taguchi mengiyakan. "Namun dia sudah meninggal delapan tahun yang lalu," ucap lelaki itu dengan wajah sendu.
Mendengar itu, perasaan tidak enak segera menjalar di dalam hati Sakura. Mungkin kali ini ia bisa mempercayai lelaki itu.
"Saya minta maaf soal itu," ungkap Sakura tidak enak. Namun sepertinya tidak masalah bagi Taguchi. Wajar bagi orang lain menanyakan sesuatu yang belum mereka ketahui.
Setelah memberi jeda beberapa detik. Sakura teringat akan hal lain. Ia menoleh. "Lalu kenapa Anda bisa berada di sini? Apakah khawatir dengan Haruka hingga menyusulnya?" tanyanya memastikan.
Taguchi tersenyum kecil. Pertanyaan gadis di depannya benar-benar sangat polos. Namun setelahnya lelaki ini menggeleng.
Ia menghela napas panjang. "Sebenarnya kami sudah tidak tinggal bersama," ungkap Taguchi menjelaskan secara singkat.
Tentu saja, Sakura akan menuntut penjelasan lebih lanjut. Ia tidak tahu kenapa ayah dan anak tidak tinggal bersama. Ayahnya memang pindah karena bercerai dengan ibunya. Namun yang gadis itu pikirkan, dengan siapa Haruka tinggal jika ibunya sudah meninggal.
Secara singkat tetapi jelas, Taguchi mulai menceritakan bagaimana pekiknya hubungannya dengan sang anak. Haruka sudah tidak mempercayainya lagi semenjak delapan tahun lalu.
Berkali-kali helaan napas panjang keluar dari bibir lelaki itu. Dari sana saja sudah bisa dilihat, jika ia frustasi. Lalu sekarang, ia ingin meminta bantuan Sakura.
"Jadi Anda ingin saya menyampaikan hal itu pada Haruka?" tanya Sakura memastikan.
Taguchi mengangguk. "Sebenarnya saya sudah melihat kalian saat di tempat makan pagi tadi. Namun rasanya belum siap, jadi mengikuti sampai ke sini. Maafkan saya," jelasnya kemudian.
Sakura terdiam. Sepertinya sekarang ia sedikit paham dengan masalah yang dihadapi antara ayah dan anak ini. Meski belum secara detail. Dan Sakura merasa jika Haruka bisa menerima kembali sang ayah jika mendengar kebenaran yang terjadi.
Dengan niat ikhlas ingin membantu, Sakura setuju. "Baiklah. Saya akan membantu sebisa saya," ucapnya.
Tentu saja, saat mendengarnya Taguchi mengucap terima kasih penuh dengan bahagia. Ia menyerahkan secarik kertas berisi nama penginapan, dan memberitahu Sakura jika seorang wanita akan memberi mereka harga spesial. Selain itu, di sanalah rencana akan dilaksanakan.
Taguchi segera beranjak setelah menyerahkan secarik kertas. Melihat Haruka sudah kembali, ia harus segera bersembunyi. Terlalu cepat untuk menemui putranya.
Lalu saat di penginapan, Sakura sungguh menjalan rencana yang sudah ia sepakati. Meminta Haruka untuk datang ke taman, dan akan menemui sang ayah di sana.
Namun yang ia tidak tahu, jika bantuan yang diberikan justeru membuat masalah semakin pelik. Sakura belum pernah melihat Haruka semarah itu sebelumnya.
Saat keadaan semakin menegang, Sakura memutuskan untuk pergi, tidak ingin tahu dan ikut campur lebih jauh.
Akan tetapi, belum jauh Sakura beranjak, telinganya menangkap kalimat samar yang berhasil membuat langkahnya terhenti. Sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan, bahkan untuknya yang sebelumnya tidak tahu apa-apa.
"Ibumu menghabisi nyawanya sendiri." Begitulah kira-kira yang Sakura dengar.
Dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Sakura bersembunyi di balik tiang. Lututnya lemas. Ia tidak menyangka jika permasalahan Haruka dengan sang ayah cukup pelik. Namun, menguping bukanlah hal yang baik. Setelah menenangkan diri sesaat, gadis itu memutuskan untuk benar-benar pergi dan kembali ke kamar.