Liburan

1018 Words
"Kau lapar?" tanya Haruka begitu mereka turun dari kereta. Bukan tanpa sebab ia bertanya demikian, sebab suara dari perut Sakura cukup keras terdengar. Setelah mabuk selama perjalanan dan menumpahkan hampir seluruh isi perut, wajar bagi Sakura jika perutnya kembali terasa kosong. Gadis itu meringis. "Kau mendengar rupanya," ucapnya malu. Tanpa berkata lebih jauh, Haruka segera bertindak. Ia meraih tas jinjing yang dibawa Sakura. Lalu melangkah keluar dari stasiun. "Hei, tasku mau kau bawa kemana?" tanya Sakura begitu pria di sampingnya merebut tas di tangan. Namun Haruka sama sekali tidak berniat menjawab. Pria itu terus beranjak, tidak peduli dengan gadis yang berusaha mencegah, bertanya mereka akan pergi ke mana. Hingga setelah keluar beberapa ratus meter dari stasiun, beruntung ada salah satu tempat yang Haruka tuju. Sebuah rumah makan yang sudah buka sepagi ini. "Kita mau makan di sini?" tanya Sakura. Mendengarnya membuat Haruka menoleh. "Tidak. Kita akan bekerja," ucapnya singkat, "jelas kita mau makan!" lanjutnya sedikit emosi. Di detik berikutnya langsung masuk tanpa persetujuan dari Sakura. "Aku hanya bertanya. Kau tidak perlu emosi seperti itu," lirih Sakura, tapi tetap beranjak mengekor pria yang sudah lebih dulu masuk. Sebuah meja dengan dua kursi di lantai dua menjadi pilihan Haruka dan Sakura. Bukan karena mereka ingin, tapi sebagian tempat sudah penuh, beruntung baru saja sepasang pengunjung keluar, jadi keduanya bisa menempati yang kosong. "Tempat ini memiliki banyak sekali pengunjung. Aku jadi penasaran bagaimana rasa masakan di sini," ungkap Sakura pertama kali. Haruka yang tengah melihat-lihat menu menimpali, "Kurasa bukan karena rasa makanannya. Sekarang sedang musim liburan, dan tempat ini strategis dekat dengan pantai serta destinasi wisata yang lain," ujar pria itu menjelaskan. Mendengar itu Sakura mengangguk, sepertinya perkataan Haruka kali ini benar. Terlebih saat ia membuktikannya sendiri. Tempat ini sangat indah, bahkan pantai dengan pasir putih terlihat jelas dari balik jendela di lantai dua. Memandang laut yang sangat luas, tanpa sadar senyum Sakura terulas. "Ah, indah sekali," gumamnya pada diri sendiri. Haruka menoleh, turut menatap kemana arah pandangan gadis di depannya. Hanya dalam satu detik pria itu langsung setuju, pantai di sana memang sangat indah. Namun untuk sekarang daripada menikmati pemandangan di luar .... "Kau mau makan apa?" Haruka menyadarkan Sakura. Benar, daripada menikmati pemandangan yang tidak bisa mengenyangkan, lebih baik mengisi perut lebih dulu, baru nanti datang ke pantai bermain sesuka hati. Sakura terperanjat. "Oh, kau sudah selesai memesan?" tanyanya, dan Haruka langsung mengangguk. Tak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk memesan makanan. Entah karena sangat lapar, atau memang Sakura doyan makan. Begitu pesanan diantar, satu meja penuh hingga terasa sangat sempit bahkan untuk sekadar meletakkan minuman. "Kau yakin akan makan semua ini?" Kedua mata Haruka membulat tak percaya. Di saat ia hanya memesan satu porsi ramen katsu dan segelas air, sedangkan gadis yang lebih kecil darinya memesan hampir setengah dari menu yang ada. Memang tidak banyak makanan yang ditawarkan, tetapi memesan beberapa porsi untuk satu orang rasanya tidak masuk akal. Sakura menatap Haruka polos. Lalu ia mengangguk. "Ya. Aku harus menikmati waktu-waktu di sini. Terutama untuk makanan," ucapnya. Sementara Haruka, pria itu masih menatap meja yang penuh penuh dengan ketidakpercayaan. Melihat pria di hadapannya terdiam, Sakura sadar jika ada yang Haruka sedang pikirkan. "Apa yang salah? Aku bahkan belum memesan semua makanan," ungkapnya. Mendengarnya, sontak Haruka mengangkat kepala, dengan suara pelan ia berujar, "Jika kau lakukan itu, mungkin mataku akan lepas dari tempatnya," ujar pria itu. Akan tetapi, agaknya Sakura memang sudah bertekad untuk menghabiskan semua makanan yang ia pesan. Satu persatu piring dan mangkuk kosong. Meski beberapa kali ia membaginya dengan Haruka, tapi perbandingan makan terbanyak tetap jatuh padanya. "Selain tempatnya bagus, makanan di sini juga lumayan ternyata," ucap Sakura, sedangkan di hadapannya tersisa mangkuk terakhir. Haruka hanya bisa menggeleng pelan. Baru kali ini ia melihat seorang gadis makan begitu banyak. Namun jika diperhatikan, pria ini merasa Sakura cukup imut saat makan dengan lahap. Tanpa sadar, senyum kecil tampil di wajahnya. Hingga keduanya sudah selesai menyapu habis makanan yang terhidang. "Haruka. Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Sakura setelah mengelap mulut dengan tissue. Menanggapi perkataan Sakura, Haruka hanya mengangguk, membiarkan gadis di depannya pergi menyelesaikan urusan. Perut siapa yang tidak penuh setelah memakan makanan sebanyak itu? Haruka tentu paham. Beberapa saat berlalu, tetapi Sakura belum juga kembali. Sembari menunggu gadis itu, pandangan Haruka mengedar ke luar. Selain pantai, ada taman hiburan yang tak jauh dari sini. Pria itu menarik napas dalam. Jika diingat, terakhir kali ia pergi ke taman hiburan saat berusia enam tahun. Sebelum akhirnya ia ditinggal dengan neneknya. "Apa ada taman hiburan di sana?" Sakura datang tanpa disadari, membuat Haruka terkejut. "Kau ingin ke sana?" lanjut gadis itu. Setelah terkejut beberapa saat, Haruka menggeleng. "Tidak. Aku tidak menyukai taman hiburan," ucapnya. Mencoba paham, Sakura hanya mengangguk dan diam. Sepertinya sudah saatnya bagi mereka untuk beranjak dari tempat makan tersebut. Namun saat keduanya berdiri, tidak sengaja lutut Haruka mengenai meja. Sialnya, saus yang tersisa terjatuh dan mengotori celana yang ia kenakan. "Ah, s**l!" umpat Haruka, kesal dengan dirinya sendiri. "Tunggu sebentar, aku akan membersihkannya di toilet." Setelah mengatakan itu, ia bergegas pergi. Sedangkan Sakura kembali duduk. Haruka melangkah terburu-buru ke dalam toilet. Ia hanya butuh wastafel untuk membersihkan noda saus yang terlihat sangat kentara. Beruntung, hanya ada dua wanita di sana, hingga ia tidak perlu mengantri hanya untuk berdiri di depan kaca. Pria itu membasahi saus, mengucek dengan kuat seraya menggerutu dalam hati. Noda merah di celana miliknya susah hilang, meski ia sudah berusaha membersihkannya. Walaupun mau tidak mau ia harus kembali dengan pakaian yang basah, dan warna merah masih jelas. Namun sebelum pria itu keluar dari toilet, tidak sengaja telinganya menangkap dua wanita di sana berbincang. "Kau lihat gadis yang baru keluar tadi? Aku kasihan, dia terlihat kesakitan dan meminum obat sangat banyak." Begitulah kira-kira yang Haruka dengar dengan samar. Langkah Haruka tertahan sejenak untuk menyimak, ia berpikir jika gadis yang tengah dibincangkan adalah Sakura. Akan tetapi dengan cepat pria itu menepis asumsi buruk tersebut, dan beranjak pergi dari sana. Sesampainya di meja, Haruka segera mengajak Sakura untuk pergi. Tentu setelah ia membayar biaya makan tadi. Sementara di sudut ruangan, tanpa ada yang sadar, seseorang tengah memperhatikan kedua remaja yang beranjak pergi meninggalkan rumah makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD