Perjalanan di Atas Rel

1059 Words
"Kau jadi pergi?" ucap seorang wanita tua, sembari menatap cucunya yang tengah bersiap. Haruka menoleh sekilas, ia mengangguk. "Iya, Nek," ungkapnya. Beberapa detik sang nenek tidak menimpali. Namun matanya masih lekat menatap Haruka yang kini menepuk-nepuk tas punggung, tanda pria itu sudah selesai bersiap. Rampung dengan persiapan, Haruka berbalik. Ketika didapatinya sang nenek masih berdiri di sana, ia bertanya, "Apa tidak masalah jika aku pulang besok?" Ia mengatakan dengan hati-hati. "Tidak masalah. Nenek bisa menjaga diri sendiri. Kau bersenang-senanglah," ujar wanita dengan anggukan kepala. Melihat tanggapan tersebut, Haruka tersenyum tipis. Entah ia senang karena akan pergi dengan Sakura, ataukah sebab wanita tua di depannya yang nampak lebih riang dari sebelumnya. Akan tetapi yang Haruka sepertinya belum ketahui, bahwa ada kekhawatiran besar yang neneknya rasakan. Dari sorot mata wanita itu sudah bisa menjelaskan semuanya. Namun karena disamarkan oleh senyum, agaknya Haruka tidak bisa cepat menyadari. Hingga setelah beberapa saat terdiam dengan cemas, sang nenek tak bisa menahan satu pertanyaan. Bukan ia ingin ikut campur, wanita itu hanya ingin memastikan. "Haruka," panggilnya dengan pelan. Setelah dilihat sang cucu menoleh, ia melanjutkan, "Kau benar-benar ingin pergi ke pantai di perbatasan kota?" tanyanya. Haruka mengangguk mantap. "Iya, Nek. Apa Nenek ingin sesuatu dari sana?" jawab pria itu. "Ah, tidak. Hanya saja kenapa kalian tidak pergi ke pantai yang dekat-dekat saja?" Sang nenek kembali bertanya. Sejenak Haruka berpikir. Ia juga tidak yakin dengan alasan kenapa mereka memilih destinasi pantai di perbatasan kota. Entahlah, sepertinya ia menyarankan hanya karena ingin, atau saat itu pantai tersebut yang terlintas. "Kami hanya ingin pergi ke sana," ungkap Haruka, "apa ada yang Nenek khawatirkan?" Ia mulai curiga. Namun dengan cepat wanita di depannya mengelak. "Tidak. Nenek hanya sedikit cemas. Kamu belum pernah berpergian sejauh itu." Mendengarnya Haruka tersenyum. "Tenang saja. Aku sudah cukup besar sekarang." Sepertinya benar, jika Sakura adalah gadis musim semi yang bisa mengubah hati seseorang. Haruka menjadi Haruka sepuluh tahun silam. Sementara di rumah yang lain. Seorang gadis tengah bersiap mematut diri di depan cermin. Senyum yang mengembang menandakan hatinya sedang berbunga. Alih-alih musim panas, agaknya musim semi yang lebih pantas untuknya. Sakura menarik napas dalam. Tubuhnya masih kokoh berdiri di hadapan bayangan. Pakaian musim panas dengan topi, gadis itu benar-benar sudah siap untuk pergi bersama Haruka. Namun di sela riasan yang sedang Sakura lakukan, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dengan pelan. Itu Hana. "Kau sudah memasukkan obat?" tanya Hana begitu masuk, matanya langsung mengamati ransel yang Sakura bawa. Gadis berusia enam belas tahun menoleh lalu mengangguk. "Ya. Aku sudah memasukannya, Ma," ucapnya. Tetapi alih-alih merasa tenang, kecemasan Hana justeru semakin besar. Ia menyesal mengizinkan Sakura pergi. Masih mungkinkah jika ia mencegahnya? "Sakura," panggil Hana pelan. Sakura yang sudah siap dengan ransel di punggung berhenti sebentar, menatap sang ibu seraya memberi isyarat jika ia akan mendengarkan. Sejenak Hana memberi jeda. Kalimat di dalam sana cukup berat untuk keluar, tapi akan membuatnya lebih sesak jika ditahan. Haruskah ia jujur dengan kecemasan terhadap Sakura? Beberapa saat tak ada tambahan dari sang ibu. Sakura mendekat. "Ada apa, Ma?" tanyanya, tetapi wanita yang kini berada di depannya masih diam. "Apa Mama mencemaskan ku?" lanjut gadis itu setelah membaca garis khawatir di mata sang ibu. Hana bergeming. Meski tak lama ia akhirnya jujur, "Sebenarnya mama sedikit khawatir. Bagaimana kalau kalian pergi ke tempat-tempat di dekat sini saja?" Ia mencoba membujuk Sakura. Namun Sakura yang sudah membulatkan tekad segera menggeleng. "Mama ingin aku membatalkan rencana liburan musim panas yang sudah ku nanti jauh-jauh hari?" tanyanya sedikit tidak terima. Napas dibuang dengan panjang oleh Sakura. Setelahnya gadis itu berkata, "Mama tenang saja. Lagipula aku tidak pergi sendiri." Ia mencoba menenangkan sang ibu. Mendengar keinginan yang tidak bisa diganggu-gugat, Hana akhirnya pasrah. Meski sungguh ia ingin mencegah, atau kalau perlu ikut pergi bersama dua remaja itu. Namun wanita ini juga sadar, jika sikap seperti itu hanya akan membuat putrinya tidak nyaman. "Baiklah. Kau boleh pergi." * Bising roda kereta beradu dengan rel terdengar sangat keras. Namun bukan hanya besi raksasa itu yang berisik, hampir seluruh orang di stasiun tak kalah riuh, berebut pintu masuk dengan keluar. Harusnya mereka bisa sedikit bersabar, lagipula nomor di kursi tetap tidak akan berubah walaupun datang paling awal. Di antara kerumunan, Haruka dan Haruka lebih memilih untuk mundur. Mungkin bagi seorang pria mudah untuk berdesakkan, saling mendorong. Namun untuk perempuan, jelas keadaan seperti ini sama sekali tidak menguntungkan. Itulah sebabnya, Haruka lebih memilih mundur hingga longgar alih-alih menerobos kerumunan. Perjalanan mereka baru akan dimulai, tapi wajah Sakura sudah nampak lelah. Bibir yang tadi sedikit merah, kini berganti pucat. "Kau merasa tak enak badan?" tanya Haruka memastikan begitu keduanya duduk di kursi dalam kereta. Besi panjang baru saja bergerak, tentu sakit di saat seperti ini akan menyulitkan mereka. Sakura yang sudah nampak pucat menggeleng pelan. "Aku hanya sedikit pusing," tuturnya. Seketika perasaan panik menjalar ke dalam diri Haruka. "Kau membawa obatnya, kan?" Gadis di sampingnya menggeleng. "Ini bukan sakit seperti biasa. Rasanya pusing dan sedikit aneh," lanjut gadis itu menjelaskan. Mendengarnya, Haruka semakin cemas. Ia berpikir jika keadaan Sakura lebih parah. Bahkan gadis di sampingnya belum pernah merasakan gejala seperti ini. Mungkinkah penyakitnya semakin menjadi? Namun belum selesai Haruka menyimpulkan kepanikan dalam kepala, Sakura sudah lebih dulu menyela. Gadis itu kembali berujar, "Ini terjadi sesaat setelah kereta bergerak. Dan rasanya aku seperti diayun dengan kencang. Kepalaku pusing," lanjutnya. Haruka terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna gejala yang terdengar tidak asing di telinga. Hingga setelah beberapa detik, matanya membulat. "Apa kau merasa mual dan ingin muntah?" Ia memastikan. Dengan pelan Sakura mengangguk. Ia semakin tak berdaya, menyenderkan kepala pada jendela. Sadar dengan apa yang dialami oleh temannya, Haruka menepuk jidat. "Kau mabuk kendaraan rupanya," ungkap pria itu. Namun Sakura sudah tidak peduli. Kepalanya terasa semakin berputar, untuk bernapas saja rasanya sangat menyakitkan. Beruntung, Haruka memiliki cukup banyak pengalaman tentang hal itu. Dulunya ia juga mabuk saat naik kendaraan, tapi setelah bersekolah SMP dengan naik bus antar-jemput setiap hari, perlahan ketergantungannya dengan obat mabuk berkurang, dan sekarang sudah benar-benar hilang. Haruka mengeluarkan minyak angin dari dalam tas. Ia tidak tahu apakah Sakura boleh meminum obat lain dengan kondisinya. Jadi, hanya ini yang bisa Haruka lakukan. Perlahan Haruka mengoleskan minyak angin di lengan gadis itu, leher, juga menyuruh Sakura agar membaluri perutnya sendiri, sedangkan pria ini akan berbalik. Setelah cukup lama, akhirnya Sakura mengangkat kepala. "Kau merasa baikan?" Sakura mengangguk lemas. "Ah, menyedihkan sekali. Aku baru pertama kali naik kereta dan ini yang terjadi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD