Harapan yang Kosong

1132 Words
Haruka membawa Sakura duduk untuk menenangkan diri di bawah pohon rindang. Napas yang perlahan stabil membuat rasa cemasnya sedikit berkurang. Meski tidak bisa dipungkiri jika pria itu masih trauma akan sepuluh tahun lalu. "Kau yakin tidak ingin pergi ke rumah sakit?" tanya Haruka sedikit cemas. Sementara tangannya terus menepuk punggung Sakura pelan. Dengan napas yang mulai teratur, gadis di hadapan Haruka menggeleng. "Tidak. Aku baik-baik saja," ucapnya. Seulas senyum tampil di antara bibir pucat. Namun Haruka masih khawatir. Sepuluh tahun lalu dengan gejala yang sama, Sakura harus pergi dibawa oleh ambulan. Lalu sekarang, ia sangat takut jika kejadian seperti dulu kembali terulang. "Aku akan segera mengantarmu pulang." Di saat yang sama, Haruka memasang punggung agar gadis di belakangnya bisa naik. Pria itu akan menggendongnya. Tetapi bukannya langsung meraih punggung pria di depannya, Sakura justeru hanya bergeming di tempat. Ia tertawa, entah apa yang lucu. Merasa Sakura tidak segera naik, Haruka menoleh. "Tunggu apalagi. Naiklah, aku akan mengantarmu," ujar pria itu mengulang. Namun masih dengan tawa yang tersisa, Sakura menggeleng. "Tidak. Aku tidak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini," ungkapnya. Mendengar itu kedua alis Haruka menyatu. "Apa maksudmu?" Sakura terdiam sebentar. Matanya sendu menatap Haruka. Setelah beberapa saat, gadis itu tersenyum lalu berkata, "Maksudku, aku belum ingin pulang." Ia mengatakannya dengan memukul pundak Haruka. Setelahnya bangkit, membersihkan rok dari rumput kering yang menempel. "Ayok, kita akan melewatkan festival jika terlalu sore," lanjut Sakura sembari meraih tas punggung dan menggendongnya. "Apa kau tetap mau membawaku di atas punggungmu?" Gadis itu bercanda, sedikit menantang sepertinya. Dengan cepat Haruka ikut bangkit. Tidak sengaja, tangannya refleks memukul ujung poni Sakura. "Kau pikir tubuhmu ringan?" ungkap pria itu tak mau kalah. Dan di detik selanjutnya beranjak pergi. Mendengarnya membuat Sakura memajukan bibir. "Dasar pria ini. Padahal dia tadi yang sangat khawatir dan dengan sukarela menawarkan punggungnya," gumamnya kesal. Namun tak mau tertinggal, ia bergegas mengejar pria yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkannya. * Libur musim panas dimulai. Sakura tersenyum senang menatap kalendar yang terpajang di atas nakas. Ada satu tanggal yang sudah dilingkari di bulan ini, lengkap dengan tinta merah dan keterangan bertuliskan liburan musim panas. Masih satu pekan lagi, tapi rasanya ia sudah tidak sabar ingin segera sampai di hari tersebut. Sementara di atas kasur, beberapa pakaian tergeletak berjejer, seperti lemari dipindahkan ke ranjang. Gadis itu sangat bersemangat, sampai-sampai ia harus memilih baju terbaik untuk digunakan pada momen sekali seumur hidup. Tak lama pintu terbuka. Seperti biasa, sang ibu datang dengan nampan berisi obat kapsul. "Wah. Anak mama semangat sekali mau pergi ke pantai," ungkap Hana tersenyum lebar. Padahal dalam hati terdangkal, wanita itu tak bisa menutupi rasa cemas dengan keadaan putrinya. Sakura yang bersemangat semakin antusias ketika ibunya tak banyak berkomentar dan tidak melarang. "Iya, Ma. Aku sudah tidak sabar," ucapnya. Mendengar itu, Hana hanya bisa mengangguk. Ia paham bagaimana perasaan Sakura yang tidak pernah pergi ke pantai. Bukan ia tidak ingin mengajak sang putri ke tempat-tempat semacam itu, hanya saja tidak ada waktu yang pas. Mengingat kondisi Sakura yang sama sepanjang tahun. Kali inipun, beruntung sebab dokter memberikan gadis itu obat tambahan. Semacam pereda nyeri kalau-kalau jantungnya kambuh sewaktu-waktu. Sayangnya, dosis yang sangat tinggi sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi terus menerus. Namun tidak ada pilihan, Sakura harus menikmati sisa umur yang sebentar. "Kalau begitu, kau harus tetap sehat sampai hari itu tiba. Kau juga harus berjanji pulang dengan keadaan baik-baik saja," ucap Hana penuh perhatian. Sebuah kekhawatiran yang ditutupi oleh senyum mengembang. Sakura mengangguk mengiyakan. Untuk kesempatan yang sangat jarang, gadis itu sama sekali tidak keberatan meminum obat, bahkan jika jumlah butir terus bertambah. "Aku hanya perlu rutin meminum obat-obat ini," ungkap gadis berusia enam belas tahun dengan ringan. Tak perlu menunggu waktu terus berjalan, Sakura segera melahap satu persatu obat hingga tak bersisa. Usai meminumnya, ia kembali meletakkan gelas yang sudah kosong di atas nampan. Melihat putrinya bersemangat, seketika perasaan senang bercampur sayatan tiba di dalam hati Hana. Ia belum pernah melihat Sakura tersenyum seperti itu, tapi ia juga perih sebab tak bisa melihatnya untuk waktu yang lama. Lagi-lagi perasaan bersalah muncul. Jika gadis itu terlahir seperti anak yang lain, mungkin ia tidak perlu menanggung pahitnya obat selama hidup. Namun apa yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Tidak ada yang salah ataupun pantas untuk disesali. Menunjukkan kesedihan di depan Sakura justeru akan membuat gadis itu kehilangan semangat. Hana tersenyum meski sayatan di hati semakin melebar. "Kau jadi pergi hari ini?" tanyanya kemudian. Masih dengan semangat yang sama, Sakura mengangguk. "Ya. Aku akan menghanyutkan perahu kertas," ungkap gadis itu. Mendengarnya sang ibu hanya mengangguk pelan. "Ingat, berhati-hatilah dengan air di sana." Ia berkata sembari mengelus lembut puncak kepala putrinya. Lagi-lagi Sakura langsung paham. Ia mengangguk mantap dan berujar, "Tenang saja, Ma. Aku akan baik-baik saja bersama Haruka." Sementara di luar, seorang pria tengah berdiri dengan punggung bersandar di dinding yang sudah kusam. Ia tengah menunggu seseorang, tapi entahlah sebab pria itu berdiri cukup jauh dari gerbang gadis yang ditunggu. Ialah Haruka, dengan pakaian santai dengan topi hitam menutup sebagian mata. Sedangkan tangannya sibuk memainkan ponsel. Sebentar lagi harusnya gadis yang ditunggu datang. Benar saja, tak lama suara nyaring seorang gadis memanggilnya. Saat Haruka menoleh, nampak Sakura berjalan cepat menghampiri dengan semangat. "Kau sudah lama menunggu?" tanya Sakura begitu sampai. Haruka menggeleng. "Aku baru sampai," ucapnya. "Jadi ... kau sudah membawanya?" tanya gadis itu lagi. Kali ini Haruka mengangguk. "Tentu. Aku tidak ingin dipukul lagu olehmu," ungkapnya, "apa kau sadar jika tanganmu itu lebih keras dari batu?" Mendengarnya membuat dahi Sakura mengerut. "Apa kau bisa sehari saja tidak mengatakan hal yang menyakitkan seperti itu?" ucapnya tidak terima. Namun Haruka sama sekali tidak peduli. Bahkan jika Sakura menganggap kalimatnya menyakitkan, pria ini tetap merasa apa yang dikatakan adalah hal biasa. Apa salahnya mengatakan kejujuran? Meski sebenarnya sedikit dilebih-lebihkan. Tanpa menimpali lebih, Haruka bergegas pergi, melepas punggung dari dinding dan melangkah menuju tempat yang menjadi rutinitas selama satu tahun ke depan. Sungai, tentu saja. "Haruka. Kau tidak menuliskan apapun di kertas itu, kan?" ucap Sakura begitu mereka meletakkan perahu masing-masing di atas air. Haruka terkejut, meski dengan segera menutupi. Benar, ia memang belum pernah sekalipun menuliskan harapan di perahu kertas selama beberapa bulan ini. Baginya hanya cukup menemani Sakura, untuk harapan yang dibawa pria ini hampir tidak percaya. Akan tetapi, tentu saja Haruka tidak bisa terus terang. Hal itu hanya akan membuat gadis di sebelahnya merasa tak baik. "Kata siapa? Jangan berlagak tahu," ujar Haruka, ia berbohong. Respon yang diberikan Sakura setelahnya tidak terduga. Gadis itu menoleh lalu tertawa. "Aku hanya bercanda." Haruka menatap Sakura dengan perasaan bersalah. Berbohong kecil seperti ini bukanlah sebuah kejahatan, tapi entah kenapa ia merasa telah berbuat jahat terhadap gadis di sebelahnya. Namun tak lama setelah tawanya berhenti, terdengar Sakura menarik napas dalam. "Sebenarnya tidak masalah jika kamu melepaskan kertas kosong. Lagipula yang aku perlukan hanyalah teman," gumamnya lirih, tapi masih jelas terdengar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD