Musim panas, hari keenam puluh lima.
"Sebenarnya apa yang kau tulis? Aku penasaran." Sakura mengayunkan kaki di atas aliran sungai. Sementara di sampingnya duduk seorang pria yang masih sibuk melipat kertas.
Haruka bergeming. Ia tetap diam meski gadis di sebelah tak bisa diam.
"Kenapa kau baru membuatnya sekarang, Haruka? Aku jadi haru menunggu seperti ini," lanjut Sakura terus mengeluh.
"Kau kan lihat tadi aku tidak sempat membuatnya di sekolah," timpal Haruka seadanya. Benar, ia harus mengerjakan ujian ulang untuk nilai yang belum tuntas sebelum libur musim panas.
Sakura membuang napas panjang. Pandangannya beralih pada daun yang menggantung, sementara kakinya masih senang menggelayut di atas sungai.
"Ngomong-ngomong, apa rencanamu di liburan musim panas besok, Haruka?" tanya Sakura tiba-tiba. Ia baru teringat jika sebentar lagi mereka akan menapaki libur yang cukup panjang.
Pria di samping gadis itu masih tenang. Di sela kesibukan membuat perahu kertas, bahunya terangkat sekilas. "Entahlah. Tidak ada rencana," ucapnya.
Mendengarnya, Sakura terdiam. Ternyata bukan hanya dirinya yang tidak memiliki rencana di libur musim panas. Memang ia sudah membuat daftar keinginan, hanya saja sepertinya momen ini ia lewatkan.
Sakura beralih memandang sungai yang mengalir tidak terlalu deras. Jika dibandingkan dengan awal musim panas, sepertinya hujan tidak memberikan banyak pengaruh pada aliran di sana. Musim panas, apa yang biasa ia lakukan sebelumnya?
"Biasanya orang-orang melakukan apa jika musim panas?" Sakura menoleh menatap pria di sampingnya.
Haruka yang baru selesai merakit perahu kertas nampak berpikir sejenak. Sudah lama ia tidak bersenang-senang di musim panas. Namun bukan berarti pria itu tidak pernah melakukannya seumur hidup.
Setelah memikirkannya sebentar, Haruka menjawab, "Pantai?" Ia menatap Sakura, meminta pengakuan dari gadis itu. "Bukankah pantai tempat yang sangat cocok untuk menikmati musim panas?" lanjutnya setelah gadis di sampingnya hanya diam.
Namun bagi Sakura yang sama sekali tidak tahu hanya bisa diam seraya membayangkan betapa menyenangkannya pergi ke pantai selama liburan. Biasanya ia hanya akan duduk di taman sebentar, lalu kembali pulang saat udara atau suhu mulai tidak bersahabat.
"Selain pantai? Apa orang-orang melakukan hal lain?" tanya gadis itu masih penasaran.
Haruka kembali berpikir. Sepertinya beberapa bulan bersama dengan Sakura membuatnya terbiasa dengan pertanyaan dan penjelasan yang sebenarnya sangat sederhana. Jika di awal kebersamaan ia akan cuek menanggapi, kali ini agaknya semakin hangat.
"Melakukan perjalanan?" ucap Haruka setelah menemukan opsi lain untuk menghabiskan waktu liburan.
Mata Sakura terlihat semakin antusias. "Perjalanan?"
"Ya." Haruka mengangguk. "Perjalanan beberapa hari ke beberapa tempat. Biasanya orang-orang akan pergi dengan teman-teman," lanjut pria itu.
Mendengar itu, gadis di sebelah Haruka nampak lebih bersemangat. Terdengar sangat menyenangkan untuknya, meski ia yakin tidak akan bisa melakukannya, meski sekarang pun.
"Apa kau pernah melakukan perjalanan selama liburan?" tanya Sakura penasaran.
Haruka menoleh, ia menatap Sakura lalu tersenyum dengan bibir terangkat sebelah. "Apa menurutmu aku memiliki teman untuk melakukannya?" ucapnya, tapi di detik berikutnya melanjutkan, "aku tidak pernah melakukan perjalanan."
Kepala Sakura mengangguk-angguk. Tentu ia setuju jika tidak hanya dirinya yang belum pernah melakukan perjalanan panjang selama liburan. Bahkan anak-anak seperti Haruka juga sepertinya belum pernah merasakannya. Hidup selalu menawarkan banyak pilihan. Namun terkadang keadaan tidak memihak pilihan yang kita buat.
Keheningan menyapa, membiarkan suara arus sungai menjadi jeda di antara keduanya. Haruka yang tidak tahu harus berbasa-basi apalagi, sedangkan Sakura pun masih asyik dengan dunia singkatnya.
Hingga setelah beberapa saat, Sakura kembali menoleh. Matanya berbinar seolah baru terpikirkan ide yang brilian.
"Kau bilang belum ada rencana liburan kali ini, kan, Haruka?" tanyanya antusias. Sedangkan Haruka hanya mengangguk samar menjawab pertanyaan.
Melihat jawaban dari pria di sebelahnya, Sakura terlihat semakin bersemangat. "Kalau begitu, kau mau pergi ke pantai bersamaku?"
Beberapa saat Haruka mematung. Lidahnya tak kuasa menjawab pertanyaan yang membuatnya terdiam seketika. Apa dia tidak salah dengar?
"Aku ingin sekali pergi ke pantai. Melihat laut dan melakukan apapun yang belum pernah kulakukan," lanjut Sakura. Sepertinya gadis ini sangat serius dengan ucapannya.
Akan tetapi Haruka masih belum yakin. Bagaimana ia bisa pergi dengan Sakura jika kondisi gadis itu mengkhawatirkan?
"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal, Sakura," pekik Haruka.
Bibir gadis di sampingnya maju beberapa senti. "Apanya yang tidak masuk akal? Bukankah sebaiknya kita pergi ke pantai saat musim panas?" protesnya.
Haruka menoleh, ditatapnya Sakura dengan tajam. "Apa kau yakin akan diizinkan pergi?"
Dengan mata yang bulat, Sakura mengangguk. "Ya. Aku yakin mama akan membiarkanku pergi. Lagipula bisa saja ini jadi yang terakhir untukku," ujar gadis itu, sedikit memohon agar Haruka setuju.
Namun pria di sampingnya masih bergeming. Ia tidak yakin akan menolak atau meng-iya-kan. Sementara dirinya juga enggan beranjak, tapi tak tega menolak.
"Mau, ya?" Sakura masih mencoba membujuk.
Setelah terdiam beberapa saat, satu helaan napas sangat panjang dikeluarkan oleh Haruka. Dahinya mengerut. "Apa kau yakin memberiku pilihan itu?" tanyanya tak yakin.
Sederet gigi tampil di balik senyuman riang Sakura. Dengan penuh percaya diri gadis itu menggeleng. "Tidak. Sebenarnya kau hanya memiliki satu jawaban. Yaitu setuju," ungkapnya.
Haruka hanya bisa pasrah, meski dalam hati ia mengeluh sejuta kali. Akan tetapi entah kenapa semakin ke sini ia semakin tak bisa menolak permintaan gadis di sebelahnya. Apakah hanya sebatas rasa iba? Lagipula waktu yang berjalan baru dua bulan. Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan.
"Oke sudah diputuskan. Kita akan ke pantai. Ah, aku sangat tidak sabar," ucap Sakura bersemangat, sementara kakinya kembali diayunkan.
Tanpa sadar, mereka hampir melewatkan momen melepas perahu kertas. Setelah sadar jika belum melakukannya, keduanya lantas menghanyutkan harapan di atas aliran sungai di bawah. Tentu dengan permohonan yang tak saling disebutkan.
Sakura menatap perahu miliknya dengan tatapan sayang. "Bisakah aku mengubah harapan untuk musim panas kali ini?" lirihnya pelan.
Mendengarnya Haruka mengiyakan. "Kau bisa. Lagipula kita masih memiliki tiga ratus hari lagi," timpalnya sedikit menghibur.
"Kau benar." Sakura tersenyum penuh arti.
Tak lama, keduanya memutuskan untuk beralih dari tepi sungai. Masih ada beberapa hal yang harus mereka selesaikan hari ini.
Haruka berdiri lebih dulu. Jika dirasa mereka sudah duduk cukup lama di sana. Disusul oleh Sakura yang juga turut menegakkan tubuh.
Namun entah karena terlalu cepat bergerak, atau ada hal lain, tiba-tiba d**a Sakura terasa sangat sakit. Sontak membuatnya refleks memegang bagian yang menutup jantung. Sementara tubuhnya juga turut oleng, ia hampir terjatuh jika Haruka tidak segera menangkapnya.
"Sakura. Kau baik-baik saja?"