Satu Pekan

1088 Words
Haruka masuk tanpa mengetuk pintu rumah. Sudah biasa, sebab tidak akan ada yang menyapa jika ia tak mendatangi ruang tengah. Ya, pendengaran neneknya kurang bagus untuk bisa mendengar seseorang yang datang. Namun, sepertinya kali ini wanita dengan rambut putih sempurna sadar dengan kedatangan Haruka. Entah benar sadar atau sebuah ketidaksengajaan. "Kau baru pulang?" tanya sang nenek dari belakang. Sedangkan Haruka masih berusaha melepas tali sepatu. Pria yang baru masuk segera mengangguk. "Iya, Nek," jawabnya singkat. "Bermain dengan temanmu?" Nenek kembali bertanya. Haruka terdiam sejenak, meski akhirnya ia tetap mengangguk jujur. "Ya. Aku pergi dengan teman," ucap pria itu. Sebenarnya ia tidak ingin menyebutnya teman, tapi tak ada kata lain yang bisa digunakan. Lagipula, neneknya tidak akan paham jika menggunakan kata yang berbeda. Awalnya Haruka berpikir jika sang nenek akan marah karena pulang terlambat dan tidak bisa mengurus wanita tua yang sudah repot. Akan tetapi, agaknya respon yang diberikan nenek sedikit tidak terduga. Di balik wajah keriputnya, wanita tua itu tersenyum. Apakah ada hal baik yang sudah terjadi di rumah? Tidak ada. Hanya saja, "Sepertinya kamu memiliki teman yang menyenangkan. Syukurlah kalau begitu." Ya, selama ini nenek khawatir dengan cucu satu-satunya yang tidak pernah terlihat memiliki teman. Jangankan teman, berbicara dengan anak-anak lain rasanya Haruka enggan. Meski sudah mendengar dengan jelas penuturan syukur dari sang nenek, Haruka belum ada niatan untuk menjawab. Ia segera bangkit, dan masuk tanpa membalas satu katapun pada wanita itu. Sikap yang ditunjukkan oleh Haruka membuat wanita tua di sana menarik napas dalam. "Apa kau menjadi seperti ini karena ulah orangtuamu?" tanya sang nenek yang berhasil membuat langkah cucunya terkunci. Haruka mematung, terdiam dengan perasaan yang tiba-tiba berubah. Belum mendapat jawaban, nenek berjalan pelan menuju Haruka. Hingga setelah berhasil menyamai, wanita tua itu melanjutkan, "Maafkan nenek. Semua salah nenek hingga orangtuamu bertindak sejauh itu." Ada garis bersalah di antara lipatan keriput saat mengatakannya. Belum ada satu katapun yang terlontar dari bibir Haruka. Perasaannya seketika berubah, ada kebencian, amarah, kesedihan, dan luka yang tercampur rata. Ia tidak mau ketika pikirannya mengembara ke masa kecil, terutama di rumah ini. Mendengar sang nenek secara terang-terangan mengungkitnya, membuat pria itu hampir berteriak. Beruntung ia segera sadar. Setelah menghela napas panjang, Haruka menoleh. "Apa Nenek sudah makan?" tanyanya dengan suara yang sengaja ditekan, supaya terdengar pelan tanpa bentakan. "Jika belum, aku akan membuatkan sup," lanjutnya. Lalu tanpa menunggu pria itu bergegas meletakkan tas, dan berdiri di depan perapian. Ia sama sekali tidak peduli dengan dua orang dewasa yang sengaja pergi meninggalkannya. Lagipula, ada sang nenek yang sudah susah payah membuatnya hidup hingga sekarang. * Sudah satu pekan Sakura dan Haruka pergi sesuai daftar keinginan. Tak banyak yang terjadi, semua terasa berulang. Terutama tentang perahu kertas dan harapan. Itu berarti sudah tujuh hari keduanya menuliskannya di dalam kertas, lalu bersamaan melepas. Pagi ini kelas terdengar begitu ramai dari luar. Namun ketika Haruka dan Sakura masuk, tiba-tiba keadaan menjadi sangat hening. Jika pandangan mengedar ke penjuru ruangan, bisa dilihat beberapa siswa berbisik-bisik dengan tatapan mengerikan. Akan tetapi entah Sakura yang tidak paham atau Haruka yang tidak peduli, keduanya langsung duduk tanpa memikirkan tatapan yang tertuju pada mereka. Saat Sakura duduk, secara otomatis Nami mendekat. Terlebih saat ia mendengar kabar tentang temannya itu. "Kau tidak berkencan dengan Haruka, kan, Sakura?" bisik Nami tepat di telinga. Sakura terperanjat. "Astaga. Kau mengagetkanku!" pekiknya terkejut. Namun Nami tidak peduli, pengakuan Sakura jauh lebih penting untuk saat ini. "Katakan saja, Sakura. Apa kau berkencan dengan Haruka atau tidak?" Gadis yang penasaran masih menuntut penjelasan. Mendengarnya kedua alis Sakura menyatu. "Kau mendengar kabar semacam itu darimana? Jangan mudah termakan gosip yang tidak jelas sumbernya, Nami," jawab gadis itu masih santai. Nami segera menggeleng. "Ada yang melihat kalian pergi makan berdua kemarin," lapornya dengan nada heboh. "Ha?" Kali ini mata Sakura yang membulat tak percaya. Akan tetapi ia tidak memberikan penjelasan apapun. Sakura terdiam, entah apa yang kini dipikirkan oleh gadis itu. "Jangan-jangan kau benar melakukannya?" Nami lebih tak percaya, "ayolah, Sakura. Kau tidak tahu bagaimana orang-orang membicarakanmu karena hal ini!" lanjutnya. Gadis yang masih duduk di kursinya menoleh, menatap Nami yang terlihat lebih khawatir daripada dirinya sendiri. Sakura tersenyum. "Lalu apa yang salah, Nami?" Ia masih bersikap santai. Nami mendelik. Bukan ia yang berlebihan, tapi Sakura yang terlewat biasa saja menanggapi hal ini. "Kenapa Haruka?" tanyanya. Dahi Sakura mengerut. "Maksudnya?" "Dari sekian banyak pria kenapa harus Haruka yang antisosial itu, Sakura? Apa matamu bermasalah? Atau isi dari kepalamu yang tidak benar?" Nami mencoba meraih dahi Sakura, tapi segera ditepis oleh gadis di depannya. "Nami! Kau tidak sopan berbicara seperti itu," tutur Sakura. Nami menghela napas kasar. Lalu mendekatkan bibir ke telinga Sakura. Ia berbisik, "Kau harus menjauhinya jika tidak ingin orang-orang membicarakanmu seperti ini, Sakura." Sementara di kursi depan, seseorang tengah menyimak pembicaraan di belakangnya sedari awal. Ia sengaja tertidur di atas meja, menunjukkan sikap tidak peduli. Tetapi sebenarnya ia mendengar semua yang Nami dan Sakura katakan. Sebuah helaan napas kasar keluar dari bibir Haruka. "Merepotkan sekali," lirihnya. Bel pulang berbunyi setelah setengah hari menuntut siswa mengikuti pelajaran. Seperti biasa, Sakura akan dengan riang menghampiri meja Haruka. "Ayo berangkat, Haruka," ucap gadis itu bersemangat. Namun Haruka tetap bergeming di tempat. Ia tidak berdiri apalagi beranjak seperti sebelumnya. Pria itu berniat menghentikan semuanya. "Haruka. Apa kau tidak mendengarku?" Sakura kembali bertanya. Haruka terdiam, meski setelah beberapa saat menoleh, menatap gadis di sampingnya. "Aku tidak mau melakukannya lagi, Sakura," ucap pria itu tegas, "kau pergi saja dengan yang lain," lanjutnya memperjelas penolakan. Akan tetapi, bukankah sudah jelas jika Sakura tidak akan menerima penolakan dari awal. Sakura menghela napas panjang. "Apa kau memikirkan perkataan anak-anak itu?" Haruka menggeleng. "Sama sekali tidak." jawabnya. Mendengarnya membuat Sakura tersenyum senang. "Baguslah. Aku juga tidak. Jadi ayo, nanti kita terlambat." Gadis itu mencoba menarik tangan Haruka, tapi segera ditepis. "Aku tetap tidak mau, Sakura. Pergilah dengan orang lain daripada dengan pria antisosial sepertiku." Satu buangan napas panjang dilakukan oleh Sakura. Ia berhenti, menatap Haruka beberapa saat sebelum akhirnya berkata, "Ah, jadi kau memang memikirkannya." Haruka tidak menjawab, ia masih bergeming di atas kursi. Menunggu Sakura pergi. Namun Sakura bukanlah gadis yang menurut. Terlebih ketika ia ingin bersenang-senang seperti sekarang. "Haruka." Suara Sakura terdengar serius, "perkataan orang-orang tidak akan berdampak apapun jika kita tidak mendengarkannya." "Kau berpikir seperti itu?" Sakura mengangguk. "Iya. Jadi ayo kita segera pergi atau akan terlambat." Kali ini ia berhasil menarik pria itu untuk bangkit. "Tapi aku tetap tidak mau pergi." Haruka berusaha menolak. Lagi-lagi harus diingat bahwa tidak ada penolakan dalam kamus Sakura. Gadis itu terus berjalan, menyeret Haruka dengan sekuat tenaga. "Kau akan membiarkanku membuang waktu satu tahun dengan sia-sia?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD