Tuan Taguchi

1055 Words
Haruka kembali dengan dua buah kelapa utuh di tangan. Hal yang sedikit berbeda mungkin bagian atas tempurung kelapa muda itu sudah dibuang. Tentu saja untuk menambahkan beberapa es dan gula. Sementara Sakura, melihat Haruka sudah kembali ia segera menyembunyikan kartu nama yang barusan ia terima dari seseorang. Memasukannya ke dalam saku, lalu tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. "Wah. Kau benar-benar membawa dua kelapa utuh," ucap Sakura, mencoba menutupi perasaan canggung yang baru terjadi sesaat lalu. Belum langsung menjawab, Haruka kembali duduk di tempat awal ia datang. Lalu menyerahkan satu batok kelapa pada Sakura dan berujar, "Kau menunggu lama?" tanyanya khawatir, sebab tadi cukup antri di sana. Namun dengan cepat Sakura menggeleng. "Tidak," ucapnya seraya memalingkan wajah, menyeruput es kelapa untuk menutupi jika ada yang sedang ia tutupi dari Haruka. Beruntung, sepertinya Haruka tidak menyadarinya. Pria itu minum dengan santai, sesekali berhenti dan menatap anak-anak di depan. Beberapa digandeng olah dua orang dewasa, dan beberapa yang lain bermain dengan anak sebaya. Tanpa sadar Haruka tersenyum. Membayangkan betapa menyenangkannya pergi berlibur dengan keluarga. Ia memang masih memiliki sang nenek, satu-satunya keluarga yang ia akui. Namun mengajak wanita setua neneknya hanya akan membuat wanita itu kerepotan. Lagipula, belum tentu juga neneknya akan mau diajak berpergian. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan air dari batoknya. Didukung dengan terik matahari yang cukup kuat, rasanya wajar jika satu kelapa habis hanya dalam hitungan menit. Haruka meletakkan batok kelapa kosong di sisi kaki, disusul oleh Sakura yang ternyata juga sudah menghabiskannya. "Kau masih ingin berjalan dari ujung ke ujung?" tanya Haruka. Sakura terdiam sejenak. Ia memang sangat ingin melakukannya, tapi tubuh lemah miliknya sepertinya tidak mengizinkan. Setelah mempertimbangkan, gadis itu menggeleng pelan. "Tidak. Katamu itu akan memakan waktu seharian," ucapnya. "Tentu saja," potong Haruka cepat. Ia tidak ingin Sakura kembali berubah pikiran. Setelah memberi jeda beberapa detik, pria itu melanjutkan, "Jadi apa rencanamu setelah ini?" Gadis di sebelah Haruka nampak berpikir sejenak. "Bagaimana jika langsung mencari penginapan?" tanyanya sembari menoleh, meminta persetujuan pria di sampingnya. Sedikit heran dengan rencana Sakura yang tiba-tiba, dahi Haruka mengerut. Meskipun ia tetap akan mengiyakan perkataan gadis itu. "Ya. Itu ide bagus. Aku akan mencari beberapa referensi tempat penginapan di sini," ujar Haruka seraya mengambil ponsel dari dalam saku. Ya, pria itu mencoba mencari penginapan terdekat melalui ponsel pintar miliknya. Namun belum sempat Haruka membuka internet, Sakura sudah lebih dulu menyela. Gadis itu menghentikan tangan pria di sebelahnya. "Aku yang akan memutuskan kita menginap di mana malam ini," ucapnya tiba-tiba. Tentu kedua alis Haruka langsung menyatu. "Kau sudah memutuskan mau menginap di mana?" tanyanya tak yakin. Dengan mantap Sakura mengangguk. "Iya," jawabnya. "Oke. Jadi di mana?" Sakura mengambil secarik kertas dari dalam tas. Di sana terdapat tulisan nama sebuah penginapan bintang tiga. "Di sini. Katanya fasilitas lengkap dengan harga terjangkau," ujar gadis itu. Haruka yang belum yakin kembali bertanya, "Darimana kamu tahu?" "Ah, itu ... aku sempat mencari-cari sebelum berangkat. Dan dilihat dari ulasan pengunjung, penginapan di sana cukup baik untuk harga yang tidak terlalu mahal," lanjut Sakura menjelaskan. "Kau pasti sangat bersemangat sampai mencari penginapan sebelum berangkat," ucap Haruka. Dari kalimat itu, sudah bisa dipastikan jika ia setuju. Mungkin mempertimbangkan repot juga jika harus mencari satu persatu, lebih baik mengiyakan saran Sakura, meski ia sendiri belum tahu bagaimana persisnya keadaan di penginapan tersebut. Haruka berdiri, memasang tas dan barang-barang milik Sakura yang lain. "Kalau begitu, ayok," ajaknya, meminta agar gadis di sampingnya bergegas. Tak ingin membuat temannya menunggu, Sakura mengangguk. Lalu ikut berdiri. Perjalanan menuju penginapan dituntun oleh peta pintar dari fitur bawaan ponsel. Berbekal nama dan alamat, mereka akan dengan mudah menemukannya hanya dengan mengikuti petunjuk arah di peta. "Mungkinkah itu penginapannya?" tanya Sakura begitu melihat papan dengan nama persis seperti di peta. Haruka mengamati sebentar. Daripada hanya melihat nama, akan lebih baik jika mereka juga memastikannya melalui gambar. Setelah diamati beberapa saat, pria itu mengangguk. "Kita akan lihat ke dalam," ucapnya memberikan solusi. Sakura setuju. Dengan semangat ia mengekor Haruka yang berjalan di depan. Ditatapnya secarik kertas yang ia dapat dari seseorang saat di pantai tadi. Tiba-tiba perasaan haru juga bersalah mampir di dalam hatinya. Gadis itu tidak yakin dengan pilihan ini, tapi tidak ada cara lain. Mungkin yang sedikit ini bisa membuat Haruka bahagia. Nuansa rumah tradisional menyambut mereka begitu sampai. Beberapa karyawan terlihat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Beruntung, satu wanita paruh baya datang menyabut mereka. Tanpa basa-basi, Haruka segera menyampaikan maksud kedatangannya ke penginapan. Ia seketika ragu, melihat tempat DNA fasilitas yang sangat baik, rasanya tidak masuk akal jika dilabeli dengan harga murah. Namun dengan cepat wanita itu mengiyakan, bahwa di sana sedang ada promo. Sehingga pengunjung tidak perlu membayar mahal. Mendengar itu, Haruka tersenyum lebar. Betapa beruntungnya mereka datang ke sana hari ini. Begitulah kira-kira pikiran pria itu. Namun sayangnya senyum itu harus memudar ketika karyawan yang lain datang dan memberitahukan jika kamar yang tersisa hanya satu, itupun ruangan terbesar dengan harga yang cukup mahal. Mungkin karena sedang dalam momen libur musim panas, atau karena ada promo hingga hampir semua kamar penuh. Beberapa saat Haruka dan Sakura dilanda kecewa. Mungkinkah mereka harus berjalan dan mencari penginapan yang lain? Akan tetapi malam hampir tiba, tidak tega jika membiarkan Sakura berjalan dengan udara yang dingin. Akan tetapi lagi-lagi sepertinya keberuntungan tengah berpihak pada mereka. Wanita pertama membiarkan kedua remaja itu untuk membayar dengan harga awal, tapi ia tidak bisa mengubah kenyataan jika hanya ada satu saja kamar yang tersisa. Awalnya Haruka akan menolak. Ia berpikir tidak baik jika hanya berdua di dalam kamar bersama Sakura. Namun belum sempat ia menyampaikan penolakan, gadis di sebelahnya sudah menjawab lebih dulu. "Tidak masalah. Kami akan menerimanya," ucap Sakura yang langsung membuat kedua mata Haruka membulat. "Apa yang kau pikirkan?" pekik Haruka setengah berbisik. Sakura segera mendekatkan bibir ke telinga Haruka. "Apa kau tidak lihat ada pengunjung lain yang datang. Aku tidak mau berjalan lagi mencari penginapan." Mendengarnya membuat Haruka langsung mengedarkan pandangan, benar saja beberapa pengunjung datang sesaat setelah mereka. Akhirnya mau tidak mau ia mengiyakan. Tidak apalah jika nanti ia harus tidur di atas sofa. Setidaknya lebih baik daripada terlelap beratapkan langit. Tanpa pikir panjang, keduanya langsung diantar ke kamar utama. Sebuah ruangan besar lengkap dengan televisi dan sofa. Begitu mereka masuk, hal pertama yang dilakukan Haruka adalah membersihkan badan. Sementara Sakura ingin membereskan barang lebih dulu. Saat ia merogoh kantong, sebuah kartu nama ditemukannya. Sakura menatap nama yang tertera dengan tatapan penuh keraguan. "Taguchi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD