Bab 4 - Penghuni Dark Forest

1979 Words
Seekor naga dewasa berwarna hijau lumut dengan ukurannya yang terbilang cukup besar tengah meraung-raung seperti meminta sesuatu kepada seorang gadis yang sedang tertidur di bawah pohon besar, di tengah gelapnya Dark Forest. Gadis itu, yang memiliki rambut berwarna pirang kemerahan mulai membuka kelopak matanya perlahan, menunjukkan bola mata indahnya yang berwarna kecokelatan. Ia merubah posisi tidurnya menjadi terduduk sambil mengumpulkan kesadarannya. Ia menoleh pada naga tersebut yang kini sedang membentur-benturkan hidungnya pada pipinya. Kemudian ia berkata, “Ini masih terlalu pagi untuk sarapan, Drake. Mengapa kau membangunkanku?” Naga itu, Drake, semakin meraung-raung dengan keras. Diikuti dengan teman-temannya yang jumlahnya sekitar sepuluh ekor. Seketika, gadis itu menjadi terjaga penuh. Raut wajahnya terlihat was-was. Matanya menelusuri setiap sudut-sudut hutan seperti mencari sesuatu yang mengganggu ketenangan para naga. “Kali ini apa?” tanyanya pada sang naga. “Troll? Atau monster yang berbentuk aneh? Drake, si naga yang sepertinya adalah pemimpin mereka kembali meraung-raung seperti memberi jawaban atas pertanyaan gadis itu. “Sama sepertiku?!” serunya terkejut. “Itu tidak mungkin. Tidak ada seorang pun warga kota yang berani melewati perbatasan. Apalagi ke sini?” Mendengar jawaban gadis itu, Drake meraung marah. Kemudian diikuti oleh naga-naga lainnya. Sepertinya ia marah karena gadis itu tidak mempercayainya. “Woa, woa, woa, santailah sedikit,” katanya sambil mundur beberapa langkah. “Baiklah, ayo kita periksa.” Gadis itu kemudian menaiki tubuh Drake dengan cekatan. Seperti sudah sangat terbiasa. “Empat ekor dari kalian ikuti kami. Sisanya tunggu disini. Jika terjadi sesuatu, panggil peri hutan!” perintahnya pada koloni naga itu. Kemudian ia dan Drake, beserta empat naga lainnya mulai berjalan menyusuri hutan. Sebenarnya mereka bisa saja terbang untuk menuju lokasi lebih cepat, tapi bukan ide yang bagus jika harus terbang di tengah hutan yang di padati pohon rindang seperti ini. Juga mungkin akan sangat mencolok bagi musuh. Terlebih jika musuhnya adalah makhluk Negeri Fanworld yang memiliki kepintaran juga akal yang tidak tertandingi oleh monster-monster penghuni hutan. Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Drake berhenti begitu juga dengan naga lainnya. Tidak ada yang bersuara sedikit pun. Gadis itu mengerti. Mereka telah mencium bau musuh yang berada sangat dekat. Mereka sedang berusaha mencari musuh itu menggunakan pendengaran mereka. Tiba-tiba anak panah yang dilapisi kabut hitam pekat melesat dan mengenai sayap kiri Drake. Ia meraung keras. “Drake!” pekik gadis itu tertahan karena takut terdengar oleh musuh. Bagaimanapun ia tidak boleh terlihat. Para nagalah yang harus berperan. Untungnya posisinya saat ini berada diatas punggung Drake, tertutup oleh dedaunan rindang juga batang pohon besar. Sehingga musuh tidak mungkin melihat keberadaannya jika posisinya berada di atas pohon. Sebelum ia berisiko terlihat lagi, dalam sekejap ia mulai mengaktifkan mode tempurnya. Rambutnya telah berubah warna menjadi oranye menyala. Juga bola matanya telah berubah warna senada dengan rambutnya. Tangannya mengepal mengeluarkan api. Kemudian ia menyentuhkan telunjuknya ke kepala Drake. Seketika, Drake yang tadinya berwarna hijau lumut kini pun telah berubah warna menjadi merah kecokelatan. Juga dengan naga-naga lainnya. Mereka telah bertransformasi menjadi naga api. Drake memimpin mereka mencari asal anak panah itu di lesatkan. Ia menyemburkan api ke sekelilingnya. Dibantu oleh naga lainnya. Dalam sekejap hutan menjadi lautan api sepanjang lima ratus meter. Anak panah yang sama kembali melesat. Hampir saja mengenai salah satu dari empat naga itu. Jika saja temannya tidak menyemburkan api, mungkin anak panah itu akan telak mengenai jantungnya. Gadis dengan rambutnya yang dipenuhi kobaran api itu, menengadahkan kepalanya ke atas. Ia yakin sekali anak panah itu berasal dari atas. Dan ya! Itu dia si pembuat onar! Pemuda berbalut jubah hitam yang tengah memegang busur di tangannya. Sekantong penuh anak panah menggantung dipunggungnya. Pemuda itu mencoba melesatkan panahnya lagi. Awalnya memang anak panah itu terlihat biasa. Namun saat tengah melesat di tengah udara, ada asap hitam pekat yang tiba-tiba menyelimutinya, seperti ikut berperan dalam p*********n. Entahlah kekuatan macam apa itu, tapi firasatnya mengatakan kalau itu pasti berbahaya. Karena dari tadi, gerakan Drake tidak seperti biasanya. Ia terlihat lebih lemah dari biasanya. “Drake, apa kau baik-baik saja?” tanya gadis itu cemas. “Kau terlihat mengkhawatirkan. Apa sebaiknya kau pulang ke sarang? Aku akan menunggangi yang lain.” Drake meraung-raung marah seperti tidak mengizinkan gadis itu berjuang tanpanya. “Baiklah jika itu maumu,” kata gadis itu. “Lihat, dia di atas sana. Bisakah kau terbang. Aku akan menyerangnya dengan kekuatanku melalui dirimu.” Drake mengangguk. Kemudian mengepakkan sayapnya dengan sekuat tenaga mencapai dahan pohon besar yang menjadi tumpuan sang musuh. Di perjalanan terbang ke atas yang hanya berdurasi selama lima detik, gadis itu menatap cemas pada salah satu sayap Drake yang mulai berubah warna seperti semula. Hijau lumut. Sementara bagian yang lainnya masih berwarna merah kecokelatan. Aneh, ia tidak pernah mendapati kejadian seperti ini ketika melawan monster hutan lain, yang bahkan terlihat lebih mengerikan dari pada seseorang yang tengah dihadapinya saat ini. Setelah sampai diatas, gadis itu menutupi tubuhnya dengan api. Sekarang, ia tidak terlihat seperti manusia. Melainkan api yang berkobar-kobar di atas tubuh seekor naga. Biasanya, api itu akan terlihat oleh orang lain seperti mahkota sang naga. Entah bagaimana menyebutnya masuk akal, yang ia tahu, teknik ini adalah salah satu teknik sihir yang diajarkan oleh Parry si peri hutan. Pemuda itu berkata, “Oh, jadi kau pemimpinnya, ya?” Drake meraung marah. Si gadis menyalurkan kekuatannya sehingga terlihat seolah-olah Drake lah yang menyerang. Ia membuat Drake seolah-olah menembakkan bola-bola api. Begitu juga dengan naga lainnya, namun dengan ukuran yang lebih kecil juga jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang dikeluarkan oleh Drake. Pemuda itu mengeluarkan tameng dengan pendar berwarna hitam pekat yang melindungi tubuh bagian depannya. Bola-bola api seketika lenyap terserap oleh tameng hitamnya. Kemudian dua ekor naga terbang menuju bagian belakang tubuh pemuda itu. Sang gadis penunggang Drake segera menyalurkan energinya pada dua ekor naga tersebut. Kemudian yang terjadi berikutnya adalah, semburan api yang cukup besar telak mengenai pemuda itu. Terutama pada bagian kakinya. Pemuda itu menoleh ke belakang dan mengerang marah. Ia terlihat menyerang kedua naga itu dengan kekuatannya yang berpendar hitam. Entahlah itu apa, tapi gadis itu sangat yakin kalau kekuatannya tidak berhubungan dengan elemen. Melainkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar elemen. Dua naga itu tidak berhasil menghindar. Serangannya membuat mereka kembali ke warnanya yang semula. Dua naga itu tumbang. Tidak bernyawa lagi. Drake meraung marah. Ia terus berusaha melukai si pemuda itu. Namun tidak bisa. Jika serangannya mengenai sasaran, beberapa menit berikutnya, luka bakarnya mulai memudar. Gadis api itu tidak percaya dengan makhluk yang dihadapinya saat ini. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana lagi cara untuk melenyapkannya. “Drake, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membunuhnya. Ini sangat aneh. Ia seperti bukan makhluk Fanworld yang diceritakan Parry. Perintahkan dua naga yang tersisa untuk terbang setinggi mungkin, kemudian langsung menuju sarang dengan cepat,” katanya berbisik putus asa. Drake kembali meraung-raung kepada dua ekor naga lainnya. Mereka pun segera mengikuti perintah tuannya dengan cepat. Drake terbang paling belakang. Entahlah, gerakannya seperti jauh lebih lambat dari biasanya. Mungkin karena sayap kirinya yang terluka. Tapi walau begitu, gadis itu bersyukur karena mereka masih bisa lolos dari sang musuh. “Drake, maafkan aku,” ucap gadis itu sedih. “Aku telah membuat dua temanmu mati.” Drake meraung seperti tidak setuju akan ucapan gadis itu. “Setelah ini aku akan menemui Parry. Aku akan mencari sesuatu yang dapat mengobati sayapmu,” katanya cemas. Ia terus menatap sayap kiri Drake yang mulai menghitam dengan perlahan. Ia sangat cemas akan keadaan sahabatnya. Apakah lambat laun Drake akan bernasib sama seperti dua naga itu? Tidak, tidak, batinnya sambil menggeleng cepat, kemudian melanjutkan perkataannya yang belum selesai tadi dengan suara kecil yang hampir tidak terdengar. “Sebelum terlambat.” ☆☆☆ “Parry?” panggil seorang gadis berambut pirang kemerahan. “Keluarlah, aku ingin mengatakan hal penting padamu.” Sesaat kemudian terlihat makhluk bersayap yang besarnya hanya seukuran ibu jari dengan pendar merah muda yang cantik, keluar dari batang pohon besar yang menjulang tinggi di dekat sarang naga. Ya, ia adalah Parry si peri hutan. “Apa yang ingin kau katakan, Inna?” tanyanya. “Dua ekor naga telah mati,” jawab Inna lemah. “Mereka telah terbunuh oleh kekuatan yang aku tidak tahu itu apa.” Parry menatap tidak percaya. “Sungguh?” tanyanya. “Kau tidak pernah gagal dalam memberantas musuh. Mengapa kali ini kau membiarkan mereka mati?” “Tidak,” sergah Inna cepat. “Sungguh aku telah mengeluarkan seluruh kemampuanku. Tapi itu tidak ada apa-apanya. Tubuhnya akan sembuh kembali dalam waktu singkat jika terkena seranganku.” “Itu sangat mustahil!” sergah Parry masih tidak percaya. “Kau tahu alasan mengapa aku  menyembunyikanmu di tempat ini selama enam belas tahun, padahal jika aku mau aku dapat membawamu ke kota saat menemukanmu tergeletak di bawah pohon ini! Itu karena aku mendeteksi kekuatan yang amat besar dari dirimu. Dan aku yakin sekali, tidak ada kekuatan yang sebesar kekuatanmu di Negeri Fanworld, Inna. Jika ada sekali pun mereka pasti mendapat kekuatan itu dari iblis!” “Parry, kumohon percayalah padaku.” Inna memelas. “Kau bisa langsung melihat bangkai mereka yang menghitam disana. Kau bahkan bisa langsung melihat sayap kiri Drake yang juga mulai menghitam agar kau memercayaiku.” “Sungguh?!” Inna menghembuskan napas pelan kemudian ia memanggil Drake dan memintanya untuk menunjukkan sayapnya pada Parry. “Lihat!” serunya antusias. “Tidak ada luka sedikit pun tapi sayapnya mulai menghitam. Bisakah kau jelaskan kekuatan apa ini, Parry? Dan bagaimana cara menyembuhkannya? Aku sangat cemas akan keadaannya. Drake tidak terlihat sehat.” Inna kembali menatap Drake cemas. Begitu pun dengan Parry. Ia terbang dan berdiri diatas sayap Drake yang mulai menghitam tersebut. Kemudian ia menyentuhnya untuk mendeteksi kekuatan apa yang berada di sayapnya. Sesaat berikutnya, Parry terbelalak kaget. Kemudian ia berkata dengan raut cemas. “Inna, ini adalah sihir terlarang yang seharusnya sudah musnah sejak lama dan tidak dapat dijangkau oleh siapa pun. Namun, entah bagaimana orang ini mendapatkan kekuatan tersebut. Ini sangat berbahaya. Kekuatannya bersifat negatif. Kekuatan tersebut akan membuat tuannya menjadi sangat jahat. Inna, dimana kau menemukan orang ini? Aku dan peri hutan lainnya harus segera menemukannya.” “Aku tidak tahu. Saat aku bertemu dengannya, dia sudah berada di atas pohon. Dia pasti sudah pergi sekarang. Aku tidak tahu persis di mana tempat tinggalnya. Apa menurutmu dia berasal dari kota?” “Entahlah, aku tidak yakin.” Inna terdiam sesaat. Dalam benaknya bertanya-tanya apakah orang itu akan menemukan sarang ini lalu menghabisi mereka? Tidak, jika itu terjadi maka naga akan punah. Padahal mereka adalah hewan yang sangat baik juga cerdas jika mereka diperlakukan dengan baik pula. Mereka akan sangat membantu dalam peperangan. Mereka juga tidak berbahaya seperti yang ada dalam pikiran rakyat Fanworld. Api adalah kekuatan Inna yang disalurkan ke mereka. Sejatinya mereka hannyalah naga biasa yang sama sekali tidak berbahaya. Hanya saja, Inna melakukan itu untuk melindungi populasi koloni naga yang masih tersisa. Inna kembali menatap Drake cemas. Entah perasaannya saja atau sayap kiri Drake seperti bertambah hitam? Sebenarnya apa isi dari anak panah itu? “Parry, Kurasa cepat atau lambat makhluk itu akan menemukan sarang naga. Lalu apa yang harus kulakukan? Dan bagaimana dengan Drake? Aku sungguh tidak tahu harus berbuat apa, Parry,” ucapnya hampir putus asa. “Tenang Inna,” jawab Parry lembut. Suaranya itu sedikit menenangkan hati Inna. “Aku memang masih belum tahu apa yang harus kau lakukan. Tapi, aku punya saran untuk Drake.” “Apa itu?” tanya Inna antusias. “Cepat katakan, Parry!” “Mungkin elf dari keturunan murni dapat menyembuhkannya. Tapi soal sarang itu, aku benar-benar tidak tahu harus memindahkan mereka ke mana. Kau benar, tempat ini sepertinya sudah tidak aman lagi untuk mereka.” “Berarti, aku harus ke kota?” “Ya, sepertinya begitu.” “Tapi, apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui kekuatanku?” tanya Inna cemas. “Jangan sampai ada yang mengetahuinya. Pergilah dengan menyamar kau adalah rakyat biasa yang tidak memiliki kekuatan.” “Baiklah, aku akan berangkat besok pagi.” ☆☆☆
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD