Fillia berjalan menyusuri lorong istana yang mayoritas ber-cat putih dilapisi Wallpaper dengan ukiran pepohonan juga ragam jenis bunga. Ia menatap setiap penjaga yang dilewatinya dengan tatapan berani, seolah menantang mereka. Namun yang ditatap tidak bergeming sedikit pun dari posisinya saat ini. Berdiri tegap lurus seperti patung. Hampir saja tawanya lepas karena melihat ekspresi aneh mereka. Namun tentu saja Fillia berusaha menahannya. Akan jadi apa nanti jika ia menertawai para penjaga?
Ia menghentikan kakinya ketika pintu kayu yang menjulang tinggi dengan bagian atasnya yang melengkung rapih terbentang di hadapannya. Ia segera mendorong pintu itu agar terbuka dan memberikannya celah untuk masuk ke dalamnya.
Rak-rak buku setinggi tiga meter terlihat di sekeliling ruangan tersebut. Juga sebuah meja panjang dengan kursi yang berjejer mengelilinginya berdiri kokoh di tengah ruangan. Perpustakaan Istana. Disinilah Fillia berada saat ini. Tapi bukan buku-buku itu yang ia tuju. Melainkan sebuah pintu kecil yang ada di pojok ruangan, yang tidak lain adalah ruangan Penasihat Hasya, ayahnya.
Diketuknya pintu itu dengan lembut. Terdengar suara berat dari dalam yang berkata, “Masuk.”
“Apa kabarmu, Ayah?” tanya Fillia tersenyum sumringah.
Seorang lelaki yang sudah tampak tua dengan rambut hitam panjangnya yang diselimuti sedikit rambut putih menoleh ke asal suara. Melihat siapa yang datang, ia segera berdiri dari meja kerjanya, kemudian berjalan menghampiri puteri tercintanya dan memeluknya dengan erat.
“Oh, Fillia,” kata Hasya sambil memeluknya. “Kemana saja kau, Nak? Ayah merindukanmu.”
“Maafkan aku karena baru sempat berkunjung,” jawab Fillia merasa bersalah. “Aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang besar akhir-akhir ini.”
Hasya memasang wajah datar. Ia menatap puterinya lamat-lamat. Entah apa arti dari tatapan itu tapi sepertinya ia merasa tidak suka dengan kegiatan Fillia di kota.
“Apa saja yang telah kau perbuat di kota? Apa kau masih terus berusaha menciptakan api?” tanya Hasya was-was. Ia kembali duduk di kursi kerjanya diikuti Fillia yang langsung duduk di hadapannya.
Fillia terlihat ragu untuk menjawab. Namun akhirnya ia berkata, “Eum ... sedikit.”
Ia berhenti sejenak untuk memastikan apakah bagus bila ia meneruskannya.
“Tidak banyak yang telah kuperbuat, Ayah. Mantra api sangat sulit diciptakan,” lanjutnya setelah yakin kalau ayahnya tidak akan menutup telinga. “Aku hanya bisa melakukannya untuk sekedar menyalakan perapian atau api unggun. Itu pun sering gagal dan berakhir cukup ... ya, fatal.”
Hasya menghembuskan napas pasrah sambil menggelengkan kepalanya. Ia masih bersyukur karena setidaknya puterinya itu masih baik-baik saja hingga saat ini. Tapi sayangnya ketenangannya yang hanya tersisa seinci itu luntur ketika ia mendengar ucapan Fillia yang berikutnya.
“Tapi, Ayah,” katanya berapi-api. “Aku telah berhasil menciptakan mantra agar aku dapat melihat di tengah kegelapan, bahkan kegelapan yang sangat pekat sekali pun.”
“Apakah hal itu berguna? Bahkan jika terjadi gerhana, para pemilik kekuatan cahaya akan menciptakan pencahayaan yang sama terangnya dengan lampu bahkan matahari, kau tahu.”
“Tentu saja berguna. Ini akan kugunakan jika aku berada di hu—” Ucapannya terhenti seketika. Ia segera menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua telapak tangannya. Fillia mengutuk dirinya sendiri karena kecerobohannya yang tidak sabaran.
“Hu apa?” tanya Hasya penasaran.
Ia berdeham. Ekspresinya mulai serius sekarang. Kemudian ia berkata dengan hati-hati “Ayah, sebenarnya kedatanganku kesini adalah untuk memberitahukan sesuatu kepadamu. Dan kuharap kau mau memberiku izin dengan tulus.”
“Apa itu? Katakan!” seru Hasya penasaran.
“Aku akan pergi ke Dark Forest bersama Sai dan Lios.”
“Apa?!” Hasya berdiri dari tempat duduknya. Ia tidak menyangka puteri tercintanya akan nekat pergi ke sana.
“Tenang dulu, Ayah. Kumohon ...,” ucap Fillia memelas. “Aku memiliki tujuan yang penting. Tolong dengarkan.”
“Jadi,” Fillia mulai menjelaskan. “Sebulan yang lalu, Sai mengunjungi kerabatnya di desa rakyat biasa yang berada dekat dengan perbatasan Dark Forest. Ia sempat menginap disana semalam. Pada malam hari, ia mendapat sebuah pendengaran yang tidak disangka-sangka.”
Fillia mulai meneruskan ceritanya dengan sangat detil tanpa ada yang di lebih-lebihkan. Ia memulainya dari Sai yang saat itu berada di sebuah pondok kecil di desa rakyat biasa. Sai terbangun dari tidurnya waktu dini hari. Entah mengapa ia tidak bisa tidur saat itu. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati udara malam yang menusuk.
Sai menengok kanan-kirinya yang memang tidak ada orang. Sepi sekali, batinnya. Wajar memang karena disini hanya perkampungan yang jumlah kepala keluarganya masih bisa dihitung dengan jari. Ia berjalan menuju perbatasan. Disana ada dua raksasa yang sedang berjaga. Juga dua penjaga dari istana yang memakai pakaian besi.
Mereka tidak tidur. Mereka masih terjaga sama sepertinya saat ini. Sai tersenyum kepada mereka. Mereka pun membalas senyuman Sai. Ya, mereka sangat ramah memang, tidak seperti kelihatannya. Tapi mereka tentu akan menjadi menyeramkan jika ada orang yang berusaha menerobos melewati perbatasan. Ini pun dilakukan demi kebaikan rakyat Negeri Fanworld.
Sai duduk di bawah sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Ia memejamkan matanya sambil menyandar pada pohon tersebut. Sesaat berikutnya, telinga runcing Sai bergerak-gerak, tanda akan mendapat sebuah pendengaran. Ya, elf dari keturunan murni memang diberkati pendengaran yang sangat tajam. Bahkan lebih tajam dari pendengaran kelelawar sekalipun.
Ia tersentak. Ia segera memasang telinganya baik-baik. Ia menoleh pada Dark Forest yang berada di depannya. 'Suara itu berasal dari dalam sana. Sepertinya jauh sekali,' batinnya.
“Kurasa disini cukup aman untuk menjadi tempat persembunyian kita.” Terdengar suara berat. Sepertinya lelaki yang sudah cukup tua.
“Mengapa kita harus bersembunyi, Ayah?” Yang ini seperti suara pemuda.
“Bukan kita, Nak. Tapi kau yang akan bersembunyi disini,” jawab suara berat itu lagi.
“Bagaimana jika naga-naga itu menyerangku?” tanya pemuda itu. Terdengar nada cemas pada ucapannya.
“Kau takut? Kekuatanmu bahkan lebih besar dari sepuluh ekor naga yang menyerangmu.”
“Oh, sebesar itukah?”
“Ya. Kau harus bersembunyi karena jika kau keluar, mereka akan mudah mengetahui rencana kita seperti Jack dan Jane. Tapi syukurlah, penyihir dan peri itu telah kuhabisi tak berbekas sedikit pun. Tidak akan ada lagi perusak rencana kita. Dan ingat, gunakan monster-monster itu untuk mengalihkan perhatian. Mereka pasti akan menuruti perintah tuannya.”
“Dan bocah pembuat mantra itu?”
“Tentu saja. Aku akan membawanya untukmu. Dan kau kerjakan yang selanjutnya. Tapi sepertinya itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Bersabarlah.”
Sai terbelalak. Ia segera berlari menuju rumahnya. Tidak peduli sejauh apa pun itu. Ini harus segera diberitahukan pada kerajaan. Apalagi hal ini menyangkut pada kedua sahabatnya.
•••
“Begitulah, Ayah,” ucap Fillia selesai bercerita.
Hasya tetap memasang ekspresi datar. Sebenarnya ia sedikit ragu dengan cerita puterinya ini. Sudah sering sekali Fillia berbohong hanya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi entah mengapa rautnya saat ini terlihat sangat serius. Seperti tidak ada kebohongan di dalamnya. Sangat berbeda sekali dengan Fillia yang dikenalnya sebagai pembuat masalah.
“Aku tahu, mungkin Ayah tidak percaya karena aku tidak punya bukti. Dan lagi aku sering membohongimu. Karena itu aku, Sai dan Lios akan pergi untuk mencari bukti itu,” ujarnya penuh tekad.
“Mengapa kau selalu ingin membahayakan nyawamu?” tanya Hasya sedikit emosi. “Apa kau tidak kasihan melihat ibumu yang selalu cemas dengan keadaanmu?”
“Tentu saja aku tidak tega melihat Ibu seperti itu,” jawab Fillia lesu, “Tapi ini juga sangat penting, Ayah. Ini menyangkut kerajaan, menyangkut misteri kematian orang tua Lios, juga aku. Apa kau tidak berpikir kalau seseorang yang mereka sebut ‘bocah pembuat mantra’ itu adalah aku? Apa yang sedang mereka rencanakan untukku, itu pasti tidak akan bagus. Aku harus mencari jawabannya, Ayah. Sebelum terlambat.”
Hasya kemudian memeluk puterinya erat. Ia tidak tega melihat Fillia seperti itu. Ini jarang sekali terjadi. Rasanya seperti bukan Fillia saja.
“Dengar,” ucap Hasya menegaskan. “Apa pun alasanmu Ayah tidak akan memberimu izin.”
Fillia melepas pelukan ayahnya. Ia menjawab dengan tidak kalah tegas. “Dan aku yakin sekali kau akan tahu hal ini, Ayah. Kau memberiku izin atau tidak aku akan tetap berangkat!”
Fillia lalu beranjak pergi dari hadapan Hasya. “Sekarang, aku permisi.”
Hasya menatap putrinya teduh. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah bisa melarangnya melakukan sesuatu. Tapi ia juga cemas terhadap nasib puterinya itu. Apa yang akan terjadi padanya nanti?
“Fillia,” katanya kemudian yang membuat langkah Fillia terhenti dan menoleh ke arahnya. “Jika itu yang kau inginkan, apa yang bisa Ayah bantu, Nak?”
Fillia tersenyum. Kemudian menghampiri ayahnya lagi.
“Jangan katakan pada siapa pun mengenai hal ini. Karena menurutku, semakin hal ini menyebar, orang itu akan semakin bergerak cepat, Ayah.”
“Baiklah. Hati-hati.”
Fillia tersenyum lebar lalu memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang. “Terima kasih, Ayah. Aku berjanji akan kembali dengan selamat.”
Fillia melepas pelukannya kemudian pergi dari hadapan ayahnya. Sementara Hasya sendiri menatap miris kepergian puteri tercintanya.
“Semoga kepergianmu akan membawa kabar tentangnya. Selamat jalan,” gumam Hasya pelan setelah Fillia tidak terlihat lagi dalam pandangannya.
•••