Penyelidikan mengenai bocornya rahasia perusahaan terus dilakukan. CCTV perusahaan diperiksa dengan seksama. Team IT perusahaan juga melacak asal kebocoran informasi itu.
Ternyata ada seseorang yang mengambil data-data perusahaan lewat laptop Satria di kantor. Setelah pengecekan lewat CCTV diketahui bahwa ada bagian rekamannya yang dihapus.
Hari dan jam bagian rekaman CCTV dihapus adalah tepat saat Satria pulang cepat setelah insiden Carla yang duduk di pangkuan Satria. Carla menjadi orang yang paling dicurigai apalagi setelah mendengar pengakuan seorang Office Boy yang melihat Carla keluar dari ruangan Satria saat semua pegawai sudah pulang.
Satria mendial nomer Carla. Ia ingin bertemu dengan Carla dan mengorek informasi darinya. Mereka berjanji untuk bertemu keesokan harinya di sebuah restoran.
Satria mengutarakan semua rencananya pada Sarah. Awalnya Sarah menolak mentah-mentah namun setelah diizinkan untuk menyaksikan s
ecara langsung ia menyetujui dengan terpaksa.
Satria telah membooking sebuah restoran milik temannya. Alat perekam dan kamera sudah terpasang di beberapa titik strategis. Sarah menunggu di mobil sambil melihat layar yang menayangkan kejadian di dalam restoran.
Carla datang dengan memakai minidress ketat yang menampilkan kaki jenjangnya dan bahunya yang terbuka.
"Hai pak Satria, udah lama nunggu?" Carla langsung duduk di kursi yang telah disiapkan pelayan.
"Baru sebentar kok"
"Sepi banget ya restorannya?"
"Oh itu, saya booking restoran ini khusus untuk pertemuan kita biar nggak ada yang ganggu." Satria memberi kode pada pelayan untuk pergi.
"Ah... pak Sat pengen privacy ya"
"Ya bisa dikatakan begitu"
"Ada apa nih pak Sat ngajak ketemuan, saya kan bukan pegawai bapak lagi."
"Karna bukan pegawai saya lagi manggilnya jangan bapak dong" Satria berusaha melembutkan suaranya.
Merasa mendapat angin Carla semakin genit. "Mas aja deh biar sama kayak bu Sarah"
"Ngomong-ngomong soal istri saya, dia lagi ngambek beberapa hari ini. Saya didiemin udah seminggu." Satria pura-pura cemberut.
"Ngambek kenapa mas?" Suara Carla terdengar manja.
"Tadinya kami mau bulan madu kedua gara-gara perusahaan gagal dapet tender akhirnya nggak jadi deh."
"Duh, kasian mas Satria. Nggak dapet jatah seminggu." Carla berdiri lalu duduk di pangkuan Satria.
"Yaa... saya kan laki-laki punya kebutuhan biologis" Satria mengusap paha Carla.
"Jadi itu kenapa mas kemarin telpon aku" Carla mulai mengelus d**a Satria dengan tangan kirinya dan melingkarkan tangan kanannya di leher Satria.
"Kurang lebih begitu"
"Mas menghubungi orang yang tepat, aku bisa kasih mas kepuasan yang mas butuhkan."
"Aku yakin kamu bisa memenuhi kebutuhan aku" tangan Satria menggerayangi tubuh Carla dan mengecup bahu terbuka Carla.
"Aku siap memenuhi kebutuhan mas kapan aja tapi kenapa kemarin-kemarin aku ditolak mentah-mentah?"
"Aku kan lelaki setia."
"Setiap Tikungan Ada? Hihihi..." Carla tertawa manja
"Kamu bisa aja" Satria mencubit hidung Carla.
"Aku bukan cuma bisa muasin mas di ranjang tapi aku juga bisa bikin perusahaan mas dapet tender lagi." Carla menyenderkan kepalanya di bahu Satria.
"Serius kamu?"
"Serius lah asal mas mau jadi pacar aku" Carla mulai membelai rahang Satria.
"Pacar? Kayak ABG aja"
"Ayolah mas, tawaranku serius nih. Aku pengen hubungan yang nyata bukan cuma teman tidur aja."
"Caranya gimana? Kan kamu udah nggak di kantor aku lagi."
"Aku bisa bilang ke perusahaan yang ngasih tender kalau perusahaan saingan mas itu yang nyuri konsep."
"Emang kamu punya buktinya?"
"Punya tapi Mas jangan marah ya. Janji nggak marah?"
"Janji. Aku janji nggak akan marah, masa sama calon pacar mas marah."
Cup!
Carla mengecup bibir Satria.
Di dalam mobil yang terparkir di luar, Sarah sudah tidak sabar untuk melabrak Carla yang merayu suaminya namun Tasya sang sekretaris menahannya sampai mendapat bukti yang akurat.
Carla tersenyum manja menatap Satria. "Aku yang ambil data perusahaan terus aku jual."
"Hah? Jadi kamu pelakunya?"
"Ih.. mas kan janji nggak marah. Jangan melotot gitu."
"Oh sorry aku kaget aja. Kamu kenapa begitu?"
"Maaf ya mas aku ngelakuin hal itu, abis aku kesel mas nolak aku terus. Mas tuh satu-satunya cowok yang pernah nolak aku."
"Carla!" Sarah datang setengah berlari lalu teriak penuh emosi.
"Bu Sarah?" Carla buru-buru berdiri.
Plakk!
Sarah menampar Carla.
"Perempuan jalang!"
Byur!
Sarah menyiram Carla dengan minuman yang ada di meja.
"Security bawa perempuan jalang ini ke kantor polisi!" Sarah memerintah.
Dua orang security datang dan memegang kedua lengan Carla. Carla meronta.
"Mas Satria, tolongin aku!" Mohon Carla.
"Cari aja pengacara buat nolongin kamu. Kami udah dapat bukti yang kuat." Jawab Satria dingin.
"Tempat yang pas buat jalang seperti kamu itu penjara. Bawa dia!" Sarah berkata.
Kedua security segera membawa Carla ke kantor polisi. Carla meronta-ronta namun kedua security itu memegang kedua tangannya dengan sangat kuat.
"Mas ganti baju kamu! Jangan lupa cuci muka dan cuci tangan!" Sarah menyerahkan sebuah paper bag.
"Aku nggak mau ada bekas-bekas perempuan jalang itu di baju dan badan kamu"
Satria berjalan menuju toilet sambil menenteng sebuah paper bag. Satria tidak mengira istrinya bisa galak juga.
Satria sudah mengganti bajunya lalu menghampiri istrinya yang sedang menikmati secangkir teh hangat bersama Tasya.
"Mana baju mas yang tadi?" Satria menyerahkan paper bag di tangannya.
"Tasya, bakar semua baju ini!"
"Baik bu" Tasya mengambil paper bag itu lalu pergi.
Sarah bangkit berdiri mendekati suaminya.
Cup!
Sarah mencium suaminya.
"Itu untuk menghilangkan bekas ciuman perempuan jalang tadi"
Satria balas mencium istrinya dengan ciuman yang lebih mendalam sambil memeluknya.
"Aku suka banget liat kamu yang galak, kamu keliatan hot and sexy"
****