107. Tugas Terakhir

2066 Words

Air mata masih meluruh di pipi Zefanya, teringat bagaimana raut wajah Nathan saat dia meminta ampun padanya. Sorot mata Nathan yang dulu ia kenal. Ekspresi wajah Nathan yang hangat dan lembut seperti beberapa tahun silam. Sesaat, Zefanya terpukau seolah ia kembali dilemparkan pada kisah masa lalu yang belum usai. Ia memegangi dadanya yang berdebar. Getaran halus, perasaan yang hangat sekaligus menyakitkan. Zefanya lalu menggeleng pelan. Tidak, keputusan yang ia ambil sudah tepat. Bagaimana pun, ia tidak ingin lagi terlibat dengan Nathan, Raka, atau siapa pun dari keluarga Wifesa. Ia sudah memutuskan dengan mantap. Zefanya keluar dari lift. Lalu terdiam saat melihat sesosok wanita berdiri seolah tengah menunggunya. Zefanya lekas menghapus sisa-sisa air matanya dan memamerkan senyum kecil

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD