Zefanya duduk di sebuah kursi kafe yang terletak di seberang rumah sakit. Ketika dia masih menjaga ibunya dulu, dia akan ke sini bersama Raka jika mereka memiliki waktu luang. Namun kini, yang duduk di hadapannya bukanlah dokter itu, melainkan sepupunya: Nathan. "Apakah kamu masih merasa tidak nyaman berada di dekatku?" tanya Nathan. Pria itu memperhatikan Zefanya yang tengah menundukkan kepala menatap tangannya yang saling bertaut di meja, tanda bahwa wanita tersebut sedang gugup atau pun canggung. Zefanya mengangkat wajahnya untuk menatap Nathan, kemudian menggeleng pelan. "Aku hanya merasa, ini aneh," tutur Zefanya. Nathan menghela napas dalam. Sementara netranya sama sekali tak pernah lepas dari wajah ayu Zefanya yang tampak agak pucat sekarang. "Apakah kamu masih marah padaku?" tan

