Katya memusatkan atensi pada Nathan. Tatapannya lurus tak terbaca. Menanti kalimat apa yang akan diucapkan Nathan selanjutnya. Hingga, saat Nathan bersuara, Katya bergeming sempurna. “Aku tidak bisa melanjutkan rencana untuk menikah palsu denganmu, kamu pasti kesal. Tapi aku meminta bantuanmu untuk berbicara dengan Zefanya,” ucap Nathan, sama sekali terlihat tenang. Tidak tahu bahwa ada luka tak kasat mata yang tercetak jelas di hatin Katya karena permintaan tersebut. “Dia pasti akan mau mendengarkanmu,” pria itu melanjutkan ringan. Katya menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan ke belakang. Senyum getir terlihat bias di wajahnya. “Apa yang harus aku bicarakan padanya?” Nathan diam sejenak, tampak merenung. “Bahwa aku benar-benar ingin bersamanya. Aku mencintainya.” Tatapan mata Katy

