Allen Luther ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Pagi -pagi sekali, pria itu sudah duduk manis di meja makan keluargaku. Dengan tangan memegang cangkir yang menguarkan aroma kopi, Allen menyapaku. Cengiran lebar menghiasi bibirnya, membuat aku kesal.
Aku meletakkan buku-buku dengan kasar di atas meja, lalu meraih cangkir dan mengisinya dengan kopi. Tak lama Mama muncul dari dapur dengan piring berisi beberapa potong roti bakar. Aku tidak perlu bertanya mengapa pria setengah bule ini ada di rumahku, kuyakin ini adalah rencana Mama yang berkomplot dengan Allen.
Mama menarik kursi di sebelah Allen--tepatnya di depanku--lalu berpaling pada Allen dan bertanya, "Gimana rotinya? Enak?"
Allen mengangguk dan menjawab dengan mantap. "Enak banget, Tante. Boleh nambah, kan?"
Dasar setengah bule penjilat, rutukku dalam hati. Benar-benar pagi-pagi sudah merusak mood-ku saja.
Aku menyesap kopi di cangkirku lalu mengaduh saat lidahku meletup karena kopi yang masih panas. Mama dan Allen menertawaiku dengan tatapan geli. Aku melemparkan pelototan tajam pada Allen. Tapi, pria itu malah menantangku dengan kedipan genit yang membuat perutku mual. Dasar edan! Kalo nggak ada Mama udah kurontokin tuh giginya.
Aku mengedarkan pandangan, merasa ada yang kurang. Saat teringat, aku segera menoleh pada Mama dan bertanya, "Papa mana, Ma? Kok dari tadi nggak kelihatan?"
"Udah berangkat dari tadi. Ada rapat lagi katanya."
Aku tersentak. Lalu, "Duuuh ... Papa gimana, sih? Kan kemarin malam Ara udah bilang mau numpang ke sekolah. Sekarang gimana nasib Ara nih?"
Mama tersenyum lebar. Aku merasakan aura tidak menyenangkan di balik senyum itu.
"Tenang aja. Mama ada solusinya. Ara bisa berangkat ke sekolah bareng Allen," jawab Mama enteng dan sukses membuat mulutku terbuka lebar. Lalu Mama menoleh pada Allen dan bertanya, "Gimana, Nak Allen, nggak keberatan kan anterin Ara ke sekolah?"
Allen menatapku. Di balik mata birunya aku melihat percikan kemenangan. "Nggak kok, Tan. Lagipula kami searah."
Mama bertepuk tangan puas. "Masalah beres."
Aku sudah tidak tahan lagi. Kepalaku merasa mendidih. Sudah cukup aku menahan kesabaranku sejak melihat pria bule k*****t itu tadi.
"Beres apanya?! Ara nggak mau, Ma. Ara naik taksi aja!" sentakku keras. Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan Allen menang. Tidak akan pernah.
Aku mengangkat pergelangan tanganku, melihat jam. Mataku hampir meloncat dari sarangnya ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh lewat. Tubuhku langsung merosot lemas. Percuma saja menelpon taksi di jam seperti ini, aku pasti akan terlambat sampai ke sekolah. Padahal baru seminggu lalu aku berjanji pada Pak Herdian untuk tidak datang terlambat lagi.
Kepalaku berdenyut sakit. Aku memijatnya dengan frustasi.
"Susah mendapatkan taksi di jam seperti ini, Ra. Bisa-bisa kamu telat ntar," ucap Mama seolah bisa membaca isi kepalaku. "Udah bareng Allen aja. Seperti yang Allen bilang tadi, kalian juga searah," lanjutnya kemudian.
"Gimana, Ra?" tanya Allen dengan senyum geli yang sengaja dia tunjukkan padaku.
Duuuh ... mimpi apa sih aku semalam sampai sial begini? Lihat aja, entar malam aku bakal bilang sama Papa kalo aku nerima tawarannya untuk beli mobil baru.
Aku memejamkan mata. Dengan pasrah mengangguk. Cuma sekali ini aku kalah. Lain kali aku pasti menang. Aku harus menang.
"Kalo gitu kami berangkat sekarang deh, Tante," kata Allen setelah menelan kunyahan terakhir roti bakarnya. Allen menyeruput kopinya. "Ntar takut jalanan keburu macet," lanjutnya sambil berdiri.
"Ah, iya. Tante titip Ara, ya, Nak Allen."
"Beres, Tan. Aku pasti anterin Ara sampai tujuan dengan selamat," Allen tersenyum lebar sementara bibirku makin cemberut. Titip? Astaga Mama, apa dikiranya aku ini barang, ya?!
Dengan perasaan dongkol aku mendorong kursi--hingga menimbulkan bunyi berderit yang memilukan--dan berdiri. Aku memungut buku-bukuku di atas meja, lalu melenggang pergi menuju carport. Tidak biasanya aku pergi begitu saja tanpa berpamitan. Tapi, kali ini aku benar-benar marah. Aku yakin, Mama sengaja melakukan ini. Bisa jadi Mama juga yang menyuruh Papa berangkat pagi-pagi.
Di carport hanya ada satu mobil yang terparkir. Nissan Livina. Aku yakin itu mobil pria setengah bule itu. Terdengar bunyi alarm mobil, ternyata Allen dan Mama berjalan di belakangku. Aku membuka pintu belakang mobil, tapi langsung di sela oleh Mama.
"Kok di belakang, Ra? Di depan dong!"
"Maaaa ...!" jeritku. Sungguh aku bisa-bisa mernjadi gila karena ulah Mamaku ini.
Mama membuka pintu depan, lalu mendorong tubuhku masuk. Aku sudah siap melemparkan protes tapi keburu di potong Mama.
"Allen itu bukan supir kamu. Jadi, Ara harus duduk di depan."
Aku mengernyit bingung. Lha ... apa hubungannya duduk di belakang dengan sopir?
Mama menutup pintu mobil. Dari balik jendela mobil aku melihat Allen berpamitan pada Mama, lengkap dengan ciuman tangan. Aku mendengus melihat pemandangan itu. Ternyata aku terlalu ,menganggap enteng pria setengah bule itu. Allen bukanlah lawan yang bisa kuremehkan. Dia cukup tangguh.
Tak lama Allen masuk ke dalam mobil. Dia menatapku lewat mata birunya itu. Jujur, mata biru itu tetap saja memberikan reaksi yang tidak menyenangkan terhadap jantungku. Tiba-tiba Allen memajukan tubuhnya ke arahku. Aku tersentak kaget. Refleks aku melayangkan tinju, tapi Allen berhasil menangkapnya dengan mudah. Bibir pria itu mnelekukkan senyum penuh kemenangan.
Aku berusaha memberontak. Tapi, pegangan Allen terlalu kuat. Pria itu semakin maju. Aku semakin gelisah. Belum lagi aroma pewangi pakaian yang bercampur dengan musk yang menguar dari tubuh Allen membuat kepalaku pening. Tidak hanya itu Jantungku berpacu kencang. Aku menahan napas agar debar jantungku tidak terdengar oleh Allen.
"Aku pasti akan memenangkan pertarungan ini," bisiknya di telingaku. Sapuan hangat napas Allen membuatku merinding. Sial! Kenapa aku harus bereaksi seperti ini?
"Nah sekarang sudah beres," katanya kemudian sambil menarik tubuhnya menjauh dariku. Aku melihat apa yang barusan Allen lakukan. Ternyata pria itu memasang selt belt di tubuhku. Aku mengembuskan napas yang sejak tadi kutahan. Aku memalingkan wajah, Tidak ingin Allen menyadari sapuan merona yang menghiasi pipiku.
Sial! Bisa-bisanya aku tadi berpikir Allen akan menciumku. Kiara, dia itu musuh kamu. Lawan kamu. Tidak seharusnya kamu berpikiran seperti itu!
Mesin mobil menyala. Allen menekan klakson satu kali. Lalu, perlahan mobil mulai meninggalkan pekarangan rumahku. Di depan pintu rumah, Mama melambai pada kami.
Aku memejamkan mata. Benar-benar merasa pusing dengan apa yang terjadi sepagian itu. Sementara itu, aroma tubuh Allen masih mempermainkan indera penciumanku. Membuat perasaanku sungguh kacau balau.
***
Aku sedang menulis materi--menggambar benda-benda untuk melakukan perhitungan operasi penjumlahan--di papan tulis. Tiba-tiba seorang siswa memanggilku.
"Ada apa, Ebi?" tanyaku pada anak berwajah temban bernama lengkap Hairil Habibi, tapi dipanggil Ebi.
"Daffa sakit, Bu."
Aku mendekati meja Ebi dan Daffa. Ketika sudah dekat, aku melihat Daffa menelungkupkan wajah di atas meja, dengan lengan tangan sebagai tumpuan. Buku di atas meja dibiarkan terbuka dan pensil tergeletak tak tersentuh. Aku berdiri di samping Daffa. Kujulurkan tangan menyentuh lehernya. Rasa panas seketika menyengat punggung tanganku.
Astaga! Aku terperanjat dalam hati. Suhu tubuhnya benar-benar panas. Buru-buru aku kembali ke mejaku, mengambil ponsel di dalam tas, lalu mencari nomor Fara. Hari ini rekanku itu piket. Aku menempelkan ponsel di telinga. Terdengar nada sambung.
"Fara, tolong ke kelasku. Ada anak yang sakit. Suhu tubuhnya panas banget. Cepat, ya," kataku tanpa sempat mengucapkan halo. Untunglah Fara langsung tanggap dan mengiyakan permintaanku.
Setelah telepon ditutup, aku mengedarkan pandangan. Anak-anak menatapku dengan raut takut dan khawatir. Mungkin mereka semua heran melihat kepanikanku. Jujur saja, aku selalu tidak terbiasa menghadapi murid yang sakit. Makanya aku meminta tolong Fara.
Tak lama, Fara datang. Dia langsung menghampiriku dan bertanya, "Siapa yang sakit?"
"Daffa."
Aku segera membawa Fara mendekati Daffa. Fara memeriksa Daffa yang terlihat lemas. Wajahnya begitu pucat, seputih kertas. Mata Daffa terpejam dan dia tampak menggigil.
"Astaga, Ra. Ini panas banget. Kita harus bawa ke rumah sakit."
Aku meremas tangan yang basah. Rumah sakit selalu menjadi momok bagiku. Aku tidak suka rumah sakit. Aroma obat-obat membuat kepalaku pusing. Wajah-wajah panik, rintihan kesakitan, membuatku ingin muntah. Tapi, Daffa ini muridku. Aku yang bertanggung jawab terhadapnya. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.
Aku memejamkan mata. Mencari kekuatan dan berkata, "Aku akan bawa Daffa ke rumah sakit sekarang."
Fara mengangguk. "Biar aku panggil Pak Dodi untuk bawa Daffa ke mobil kamu."
Aku tersenyum penuh terimakasih pada Fara.
Sepeninggalan Fara aku mengemasi buku-buku dan alat tulis Daffa. Lalu aku masukin ke dalam tas bergambar angry bird warna merah milik Daffa. Setelah semuanya beres, Fara kembali bersama seorang bapak berpakaian satpam.
"Ini anaknya, Bu?" tanya Pak Dodi yang kujawab dengan anggukan. Pak Dodi menggendong tubuh mungil Daffa. Bocah kecil itu merintih pelan. Melihat wajah pucat Daffa membuat jantungku berdegup cepat.
"Aku titip anak-anak, ya, Far," kataku seraya menyambar tasku di atas meja.
Fara mengangguk. "Kamu serahin urusan di sini sama aku, Ra"
Aku segera mengikuti Pak Dodi yang menuju mobilku. Oh iya, itu mobil baru yang berhasil kudapatkan dari Papa. Mobil lamaku benar-benar harus dipensiunkan. Aku tidak mau kejadian beberapa hari lalu terulang--pria setengah bule itu mengantarkanku ke sekolah.
"Makasih, ya, Pak," ucapku setelah Pak Dodi membaringkan Daffa di kursi belakang.
Pak Dodi tersenyum. Dan, aku segera masuk ke dalam mobil. Aku meraih jaket yang kutinggalkan di mobil lalu menyelimuti Daffa.
Aku menarik napas dan mengembuskannya perlahan. Kemudian memutar kontak mobil dan menyalakan mesin. Tak lama kemudian mobil pun meninggalkan perkarangan sekolah.
***
Aku menatap nanar nomor telepon di buku data diri anak didikku. Lalu aku beralih ke nama pemiliknya. Ada tusukan yang menyerang dadaku.
Aku menyandarkan tubuh di sandaran bangku tunggu. Lalu melemparkan pandangan ke pintu ruangan tempat Daffa ditangani pihak medis. Tatapanku kembali beralih ke buku di tanganku. Tidak ada cara lain, aku harus menghubunginya.
Aku menyalin 12 digit di buku itu ke ponsel. Dengan jari gemetar aku menekan tombol dial. Mataku terpejam selama mendengar nada sambung.
"Halo."
Sapaan itu menimbulkan badai di dadaku. Suara itu ... tak berubah. Masih tetap berat, seperti selama ini selalu kuingat. Suara milik Aditya Maherdika.
"Halo. Ini dengan siapa?"
Aku menggigit bibirku. Mendadak bingung. Sekarang apa yang harus aku lakukan?
"Kalau anda tidak menjawab telepon akan saya tutup."
Dengan segenap kekuatan aku mendorong lidahku untuk bersuara. "Ma-maaf. Saya Kiara, wali kelas Daffa."
Hening. Tak ada sahutan di ujung telepon sejenak. Lalu aku mendengar desahan berat.
"Iya, Bu Kiara. Ada apa? Apa sesuatu terjadi dengan Daffa?"
Ada kepanikan di suara Aditya. Aku merasa tidak enak menyampaikan kabar buruk ini.
"Maaf, Pak. Sa-saya menelepon membawa kabar tidak baik."
Aku bingung dengan obrolan kami ini. Kenapa semua pembicaraan ini begitu kaku dan formal? Kecanggungan ini, benar-benar begitu asing.
"Apa yang terjadi?"
Aku meremas ponselku.
"Daffa baik-baik saja, kan?" tanya Adit lagi ketika aku tak kunjung menjawab.
"Su-suhu tubuh Daffa tinggi. Saya membawanya ke rumah sakit Harapan Bunda. Sekarang Da-Daffa sedang ditangani dokter," jelasku terbata-bata. Saat ini tenggorokanku terasa perih. Seolah ada bola pejal bergerigi yang tersangkut di sana.
"Saya segera ke sana."
Tut ... tut ... tut ...
Sambungan diputus begitu saja. Aku menurunkan ponsel dari telinga. Lalu menatap benda itu. Pandanganku memburam. Tanpa bisa kucegah, air mata jatuh dan membasahi pipiku.
***
Aku menatap wajah pucat Daffa. Mata bocah itu terpejam. Napasnya mulai terdengar teratur. Kata dokter, Daffa sudah diberi obat dan saat ini sedang tertidur.
Tadi, setelah menangani Daffa, dokter menemuiku. Dokter ingin membicarakan tentang Daffa. Tapi, aku segera menjelaskan bahwa aku hanya gurunya Daffa. Dokter mengerti. Sebelum pergi dokter berpesan, jika orangtua Daffa sudah datang, segera menemuinya. Ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai kondisi Daffa. Dan, aku mengangguk mengiyakan disertai ucapan terimakasih.
Melihat selang-selang infus yang terhubung di pergelangan mungil Daffa, aku tahu kondisi Daffa cukup parah. Entah penyakit apa yang diderita bocah kecil ini. Mungkin dokter membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Melihat kondisi Daffa yang seperti ini, entah kenapa membuat dadaku nyeri. Rasanya sulit sekali untuk bernapas.
Sementara itu, sesuatu yang lain mengganggu pikiranku. Aditya akan ke sini. Kami akan bertemu lagi. Sungguh, aku belum siap untuk bertemu dengannya. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Daffa sendirian. Aku memijat pelipisku letih. Keadaan ini, sungguh benar-benar menyulitkan.
Suara derit pintu membuatku menahan napas. Langkah-langkah kaki terburu-buru mengusik pendengaranku. Aku memejamkan mata dan meraup udara sebanyak mungkin. Dia datang, lirihku.
"Daffa!"
Aku membuka mata dan sosok Aditya berdiri di hadapanku. Rautnya cemas. Tangannya mengusap wajah Daffa dengan sayang. Tetapi Aditya tidak datang sendirian. Dia bersama seseorang.
Aku tidak butuh waktu lama untuk menilai bahwa wanita itu cantik. Wajahnya lonjong, hidung mancung, bibir penuh dipoles lipstik berwarna peach, mata bulat dengan bulu mata lentik. Tubuh wanita itu tinggi dan langsing. Rambut hitamnya ikal dan panjang. Aku seperti melihat seorang Putri Indonesia.
Seperti Aditya, wanita itu juga cemas. Bahkan air mata merebak di pipinya yang mulus. Maskaranya luntur karena air mata, tapi dia sama sekali tak peduli. Tanpa bertanya aku tahu siapa wanita itu. Mamanya Daffa. Dan juga ... istrinya Aditya.
Kenyataan bahwa seseorang yang akhirnya memiliki Aditya adalah wanita sesempurna itu membuatku merasa sangat kerdil. Kepercayaan diriku mengerut. Jika kami berdua disandingkan, lelaki manapun pasti akan memilih wanita itu. Mungkin, itulah yang terjadi pada hubungannku dengan Aditya bertahun-tahun lalu.
Ternyata semua pria sama saja. Kecantikan selalu menjadi harga mutlak yang mereka pilih.
"Bu Kiara ...."
Aku mengangkat wajah. Tatapanku bertemu dengan Aditya yang tadi memanggilku. Aku menelan ludah menyadari tatapan itu masih saja sama seperti dulu--tenang, meneduhkan, juga menghanyutkan. Aku mengepalkan tangan ketika merasakan dadaku bergemuruh akibat sepasang mata milik Aditya.
"Terimakasih sudah mengantarkan Daffa ke rumah sakit," ucap Aditya begitu formal dan kaku. Kecanggungan yang terjadi membuat dadaku nyeri.
Aku mengangguk. Mati-matian aku berusaha menggerakkan lidahku. Ada sesuatu hal pentinh yang harus kukatakan.
"I-itu kewajibanku," jawabku terbata. "O-oh, ya. Dokter tadi berpesan, ka-kalau kalian datang segera menemui dokter yang tadi menangani Daffa. Ada hal yang perlu dibicarakan, katanya. Na-namanya dokter Anggo."
"Baiklah. Sekali lagi terimakasih."
Lalu Aditya menyentuh bahu wanita yang berdiri di sampingnya itu dan berkata, "Mis, aku temui dokter dulu."
Wanita yang dipanggil Mis itu mengangguk. "Semoga Daffa baik-baik aja," jawab wanita itu penuh harap.
Aditya meremas bahu wanita itu, menenangkan dan mengangguk. "Aku juga berharap begitu."
Aku menyaksikan interaksi itu dalam diam. Kedekatan mereka, seperti pisau yang menyayat hatiku. Mataku terasa perih. Aku menarik napas dalam-dalam mencegah airmataku untuk tidak turun. Aku tidak ingin terlihat menangis. Aku tidak ingin terlihat lemah. Terutama di depan Aditya.
"Ka-kalau begitu saya permisi dulu," pamitku. Aku harus segara pergi dari sini. Melihat Aditya begitu akrab dengan wanita lain, meski aku tahu itu istrinya, tetap saja membuat perasaanku hancur. Sudah pernah kubilang, kan, meski pria itu menghilang bertahun-tahun, cintaku padanya masih tetap tersimpan rapi di hatiku. Anggap saja aku bodoh karena masih memelihara cinta itu. Tapi, kalian harus tahu, terkadang cinta bisa begitu berkuasa pada diri kita. Dan, aku salah satu orang yang dikuasai cinta. Aku tidak bisa melenyapkan perasaanku begitu saja pada Aditya.
Tanpa menunggu jawaban mereka, aku menyeret tubuhku menjauh dari sana. Aku meremas tali tas, memohon kekuatan agar isak tangisku tak pecah. Tapi baru beberapa langkah aku keluar dari kamar inap Daffa. Panggilan seseorang membuat tubuhku membeku.
Aku memejamkan mata dan menggigit bibirku. Ada rasa asin yang terkecap oleh lidahku. Mungkin itu darah karena aku terlalu kuat menggigit bibirku. Atau itu air mata yang jatuh tanpa kusadari. Entahlah ... saat ini pikiranku benar-benar berantakan. Satu-satunya yang kusadari saat ini hanya langkah kaki yang semakin dekat padaku dan berhenti di hadapanku.
"Kiara."
Ya Tuhan ... suara itu ... kenapa cara dia menyebut namaku masih saja sama? Kenapa hatiku tetap saja menyukai cara dia menyebut namaku? kenapa tidak ada yang berubah dengan perasaanku? Padahal Kau sendiri tahu, bahwa keadaan tak pernah lagi sama. Semua sudah berubah. Dia sudah ... menikah. Dan punya anak! Kenapa kau membuat perasaanku kembali berharap padanya?
"Kiara."
Suara itu memanggilku lagi. Perlahan aku membuka mata. Dan, wajah Aditya memenuhi pandanganku.
Aditya tersenyum. Senyum pertama kali sejak kami berjumpa lagi. Senyum yang sekali lagi tidak pernah berubah. Senyum yang selalu menimbulkan gemuruh di dadaku, bahkan sampai detik ini.
"Aku mau mengucapkan terimakasih karena kau sudah membawa Daffa ke tempat yang tepat."
Aku membasahi bibirku yang kering dengan ujung lidah dan menjawab, "Ka-kau sudah mengucapkan itu tadi."
Aditya mengangguk. "Ah, iya. Tapi, aku mau mengucapkannya sekali lagi. Terima kasih."
Aku menatap wajah Aditya dengan berbagai perasaan yang bergumul.
"Kalau begitu, aku mau menemui dokter sekarang. Sekali lagi terimakasih, Kiara."
Tanpa menunggu aku menjawab, Aditya sudah berbalik, dan melangkah pergi. Aku menatap punggung Aditya yang menjauh.
Entah darimana datangnya kekuatan itu aku mengejar Aditya. Aku memanggil pria itu. Aditya berhenti dan berbalik. Dia menatapku dengan ekspresi bingung.
"Ke-kenapa?" tanyaku dengan suara bergetar.
Aditya diam. Pria itu menunduk, memalingkan wajah dariku.
"Apa karena dia lebih cantik?"
Aditya tersentak. Tapi dia sama sekali tidak melihatku.
"Maaf." Akhirnya Aditya bersuara juga. "Aku benar-benar minta maaf atas masa lalu yang terjadi pada hubungan kita."
Hanya itu yang diucapkan Aditya. Pria itu tampak gelisah dan tak nyaman dengan keadaan kami saat ini. Ada helaan napas berat yang tertangkap pendengaranku.
"Aku benar-benar minta maaf. "
Setelah mengatakan itu Aditya kembali memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Kali ini aku hanya menatap punggung itu menjauh dan lenyap dan terhalang dinding setelah berbelok. Kakiku tak mampu lagi mengejar pria itu, dan memintanya untuk tetap tinggal. Karena jauh di dasar hatiku, aku menyadari dugaanku sepertinya benar. Aditya meninggalkanku karena wanita itu lebih bersinar daripada aku.
Aku menyandarkan tubuh di dinding rumah sakit yang dingin. Sedingin hatiku saat ini. Aku memejamkan mata. Rasa hangat menjalari pipiku. Sial, lagi-lagi aku menangisi Aditya.
Seharusnya apa yang aku rasakan ini membuatku membenci Aditya. Nyatanya, aku tidak pernah bisa melakukan itu. Aku tidak bisa membenci Aditya. Meski dia sudah menyakitiku sejauh dan separah ini.