EMPAT

1755 Words
Suara ketukan pintu membuat konsentrasiku pada layar laptop pecah. Padahal aku sedang menyusun silabus, RPP dan LKS untuk bahan ajar besok. Tak lama kemudian, aku mendengar suara Mama memanggil. "Ara, ayo turun! Tamu kita udah datang, tuh." Aku mengembuskan napas gusar. "Ara nggak mau ketemu mereka, Ma." "Jangan buat Mama dan Papa malu dong. Ayo keluar." Aku memilih bukam. Bukankah sejak awal aku sudah menunjukan sikap keberatan mengenai acara makan malam ini? Jadi, jangan salahkan aku kalau mengurung diri di kamar. "Oke, kalo Ara nggak mau keluar, akan Mama buka paksa pintu ini." Ancaman Mama berhasil membuatku bangun dari ranjang. Menjadi anaknya membuatku cukup tahu bahwa ancaman Mama bukan sekadar gertakan. Kali ini sepertinya aku harus mengalah. Aku akan turun dan ikut makan malam konyol itu. Tapi, jangan harap aku menerima perjodohan itu. Sampai kapanpun tidak akan pernah. Aku memutar anak kunci, menurunkan handle pintu, dan menariknya agar pintu terbuka. Yang kulihat pertama kali saat pintu terbuka adalah sosok Mama yang melotot marah padaku. "Mama kan udah minta Ara untuk siap-siap." "Ara juga udah jutaan kali bilang sama Mama kalo Ara nggak setuju dengan perjodohan ini." "Sekarang ganti baju, terus dandan," perintah Mama tegas. Tentu saja aku menolak. Aku akan tetap mengenakan blus longgar rajutan dan celana selutut ini. "Sesekali nurut sama Mama kenapa sih, Ra? Heran kamu ini kok susah banget dibilangin. Ara itu bukan anak kecil lagi yang musti mama omelin baru nurut. Ara udah dewasa. Seharusnya ngerti kalo apa yang Mama lakuin itu selalu demi kebaikan Ara juga." "Itu Mama tahu Ara udah dewasa. Seharusnya Ara yang nentuin mana yang terbaik buat hidup Ara. Ara nggak suka dijodohin gini. Emangnya Ara perawan tua yang nggak laku apa?" Mama memijit pelipisnya. Mungkin pusing menghadapi kekeraskepalaan aku ini. "Oke, terserah Ara mau mau ganti baju atau nggak. Yang penting Ara harus ikut turun dan makan malam bersama. Jangan kecewain tamu kita yang udah ngeluangin waktu untuk acara ini," ucap Mama lelah. Aku mengangguk. "Tapi, tolong rapiin dulu rambutnya." Aku meraih rambutku yang tergerai, mengumpulkannya, lalu memilin di atas kepalaku untuk dicepol. Setelah itu aku mengikuti langkah Mama menuruni anak tangga menuju meja makan. Di meja makan, Papa sudah duduk bersama tiga orang--dua pria dan satu wanita--yang sama sekali tidak aku kenal. Mereka serentak menoleh ketika mendengar langkah kaki kami--aku dan Mama. Wanita berwajah lembut dengan rambut disanggul tinggi dan ketat--kalau tidak salah Mama sebut namanya Kumala--berdiri dan berjalan mendekatiku. Bibir tipisnya yang terpoles lipstik merah darah menyunggingkan seulas senyum. Mau tidak mau aku membalas senyum itu. "Ini yang namanya Kiara?" tanya Tante Kumala yang kujawab dengan anggukan. "Kamu cantik banget, Sayang," lanjutnya seraya memelukku. Aku berdiri kaku mendapat sambutan yang sungguh tidak pernah kubayangkan. "Ayo sekarang kita duduk," ajak Mama. Tante Kumala melepas pelukannya, tapi masih tetap memegang tanganku. Beliau menarikku ke arah meja makan. Aku terlalu syok dengan perlakuan Tante Kumala sehingga menurut saja ketika ditarik. Tante Kumala memintaku duduk di sebelahnya. Aku tersenyum jengah dan terpaksa mengiyakan. "Kiara kenalkan, saya Kumala. Mama kamu pasti udah cerita tentang saya. Lalu, ini ...," Tante Kumala menunjuk pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu tersenyum dan menatapku lewat mata biru cemerlangnya. Kuakui pria itu tampan, meski kutaksir umurnya tak jauh berbeda dengan Papa. Tanpa perlu bertanya aku tahu pria itu bukanlag orang Indonesia. "Ini suami saya, Tedd Luther." "Senang bisa bertemu dengan gadis semanis Kiara," kata Om Tedd, yang fasih bahasa Indonesia ternyata. Dibilang manis oleh pria seusia Papa dan baru kenal pula membuatku tersipu malu. Demi sopan santu yang sudah diajarka kedua orangtuaku sejak kecil, aku membalas senyum Om Tedd dan berkata, "Senang juga bisa bertemu Oom." "Dan dia ...," Tante Kumala menunjuk pria muda yang duduk di samping Om Tedd. "Dia Allen. Allen Luther. Anak kami semata wayang." Dari Om Tedd aku mengalihkan pandangan ke sosok yang ditunjuk Tante Kumala. Di sana duduk pria--sekali lagi aku harus mengakui--memiliki paras yang tampan. Rahang persegi dengan dagunya yang terbelah terlihat kokoh. Bibir tipis, hidung bangir, alis mata tebal. Pria bernama Allen Luther itu memiliki rambut berwarna walnut dipotong cepak. Mata birunya--yang sudah pasti diturunkan dari ayahnya--menatapku tanpa kedit. Malam ini pria itu tampak begitu rapi dalam balutan kemeja biru yang lengannya digulung hingga siku, tampak pas dengan kulitnya yang putih. Kacing atasnya dibiarkan tidak terpasang. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku dari d**a bidang dan berbulu milik Allen yang terekspos. Aku mengerjap, merasa tidak asing dengan pria bernama Allen Luther ini. Tapi, sedalam apapun aku menggali ingatan, aku sama sekali tidak ingat kapan dan dimana pernah bertemu Allen. Ah, biarlah! Mungkin perasaanku saja, putusku akhirnya. "Terimakasih untuk undangan makan malam ini. Sungguh kami sangat senang," kata Tante Kumala berseri-seri. "Ah, Jeng Kumala ini. Seharusnya kami yang berterima kasih karena Jeng sekeluarga mau meluangkan waktu menghadiri undangan kami," jawab Mama. Tanpa sadar aku memutar bola mata. Entah kebapa basa-basi ini terasa begitu didramatisir. Aku tahu, Mama adalah ratu drama di keluargaku, suka melebih-lebihkan sesuatu. Melihat kepribadian Tante Kumala, aku tidak heran mereka bisa begitu cocok. Lalu mataku berserobok dengan mata biru cemerlang milik Allen Luther. Pria itu menyengir dan mengedip padaku. Eh, apa tadi itu dia sedang menggodaku? Astaga! Aku mendengus dan membalasnya dengan pelototan. Sementara Allen terlihat mati-matian menahan tawa. "Lebih baik kita makan sekarang," ajak Papa. Sebagai tuan rumah, Mama melayani tamunya dengan baik. Bahkan untuk Allen, Mama sendiri yang mencidukkan nasi, mengambil ayam goreng, cumi asam manis, cah kangkung dan kerupuk udang. Semantara aku, ya terpaksa melayani diriku sendiri. "Terimakasih, Tante," ucap Allen dengan suara yang dalam dan berat. "Makan yang banyak, ya," jawab Mama. Sambil menyuapkan nasi ke dalam mulut, aku berdoa dalam hati. Semoga makan malam ini segera berakhir. Aku ingin secepat mungkin kembali ke kamar, melanjutkan menyusun perangkat ajarku yang belum selesai. Saat aku memikirkan pekerjaanku, aku merasa diawasi. Aku mengangkat wajah dan lagi-lagi menemukan sepasang mata biru itu menatapku. Tatapannya lembut dan teduh, seperti lautan yang selalu kusukai. Gelanyar aneh menyerang dadaku, membuatku merasa gugup. Buru-buru aku membuang muka. Dalam hati mengutuki pria yang memiliki mata--meski berat hati aku harus mengakuinya--menawan tersebut. *** Ternyata harapanku tidak terkabul. Setelah makan malam berakhir, Mama mengajak Papa, Tante Kumala dan Om Tedd ke ruang santai. Sialnya, Mama memintaku untuk menemani Allen. Dan, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya dengan tampang cemberut. "Ara dan Allen ngobrol aja di gazebo samping," usul Mama. Aku menarik napas dan memejamkan mata. Ini pasti rencana Mama, pikirku. Aku mendorong kursi ke belakang dan berdiri. Allen melakukan hal yang sama. Saat aku melewati Papa saat menuju gazebo, mata kami saling bertatapan. Papa tersenyum menenangkan, seolah berkata semua akan baik-baik aja, dan aku mengangguk. Gazebo itu tidak terlalu luas. Hanya mampu menampung sebuah ayunan dari besi dan meja kecil berbahan kayu. Di atas meja kayu tersusun rapi beberapa majalah milikku. Gazebo ini memang sering kugunakan sebagai tempat bersantai sambil membaca. Aku segera duduk di atas ayunan, dan Allen mengambil tempat di sebelahku. Aku tidak berkata sepatah katapun. Mataku memandang pohon-pohon palem yang di tanam di depan gazebo sebagai peneduh. Samar-samar aku mencium aroma bunga sedap malam yang dibawa angin. Suara percikan air dari kolam air pancur di samping gazebo mengisi kekosongan di antara kami. Diam-diam aku memerhatikan Allen dari sudut mataku. Pria itu menatap ke arah kegelapan malam. Tidak ada eksperi apa-apa yang bisa kutangkap di sana. Cengiran konyol yang tadi membuatku mengkal juga sirna. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang sedang dipikirkan Allen? Apakah sebenarnya dia juga tidak menyetujui perjodohan ini? Kalau tidak, apakah kami bisa bersekutu menentang keinginan orangtua kami? Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan untuk bertanya pada Allen mengenai perjodohan ini. Lagipula aku mulai tidak nyaman dengan kebisuan yang memerangkap ini. Aku membasahi bibir dengan ujung lidah, kemudian berdehem pelan. Allen menoleh. Dan, aku mengutuk dalam hati ketika mata biru menawan itu menatapku dengan intens. Aku berusaha sekuat hati mengendalikan degup jantungku yang menggila karena sepasang mata biru milik Allen. "Begini, apa kamu tahu tentang sesuatu yang direncanakan orangtua kita?" Allen tidak langsung menjawab. Mata pria itu tampak menerawang sekejap. "Tentu aja," jawabnya. Suara Allen yang terdengar begitu santai membunyikan alarm kewaspadaanku. Aku menduga Allen menyetujui perjodohan ini. Kalau sudah begini, kami tidak akan bisa bekerja sama. Tapi nggak ada salahnya mencoba, kan? kata sebuah suara di kepalaku. "Kamu setuju?" "Nggak." Allen menjawab dengan cepat membuat aku terlonjak pelan. Dia terkekeh saat melihat reaksiku. Tunggu dulu, dia menjawab apa tadi? Dia jawab nggak kan? Ada perasaan lega yang perlahan-lahan memenuhi dadaku. Untuk pertama kalinya, aku tersenyum tulus pada Allen. Tapi, ternyata aku terlalu cepat merasa lega. Kalimat selanjutnya dari Allen membuat senyumku yang baru mekar layu saat itu juga. "Tapi, itu awalnya. Sekarang, setelah mengetahui kalau wanita itu adalah kamu, aku pikir perjodohan ini tidak terlalu buruk." Aku melotot. Jika mataku ini pisau, aku yakin Allen bakalan mati mengenaskan oleh tatapanku ini. "Ja-jadi kamu setuju?" Senyum Allen semakin lebar. Matanya birunya mengerling menggoda padaku. Membuat perutku bergejolak pengin muntah. "Sepertinya begitu." Sial! Kalo begini, aku nggak bisa ajak Allen bekerjasama. "Apa kamu masih waras?!" sentakku marah. Allen berpikir sesaat, lalu "Sepertinya mulai sedikit terganggu," jawabnya seraya memutar mutar jari telunjuknya di kepala. Aku mendengus. Merasa sangat kesal melihat Allen menganggap ini semua sesuatu yang bisa dibuat bercanda. Padahal ini sesuatu yang serius. Sesuatu yang dapat menentukan masa depan mereka. "Aku tanya sekali lagi, apa kamu serius dengan perjodohan ini?" Cengiran Allen menghilang. Kini dia menatapku dengan serius. Aku buru-buru memalingkan wajah. Mata biru itu selalu memberikan reaksi yang tidak kuinginkan. "Ya. Aku setuju." Sekarang sudah jelas. Pria itu tidak berada di pihaknya, melainkan berdiri di pihak lawan. Sepertinya, aku memang harus berjuang sendirian melawan rencana konyol ini. Pembicaraan ini sudah selesai. Semua sudah jelas. Tidak ada gunanya aku berbasa-basi dengan seseorang yang sudah jelas-jelas mendelegasikan diri sebagai lawanku. Aku berdiri, Allen ikut berdiri. Tubuhnya yang tinggi dan berisi, begitu menjulang di hadapanku. Pria itu tersenyum lebar. Dan, hatiku benar-benar panas melihat dirinya yang begitu senang dengan keadaan ini. Aku harus memberinya pelajaran. Ugh! Senyum di bibir Allen lenyap. Pria itu membungkuk seraya memegang perutnya yang tadi sasaran tinjuku. Aku menatap puas melihatnya kesakitan. "Sampai kapanpun aku nggak akan setuju dengan perjodohan ini!" kataku. "Kalau kamu tidak ingin aku melakukan sesuatu yang lebih dari ini, aku peringatkan kamu untuk segera mundur," ancamku kemudian. Allen terkekeh. Dia menantapku dengan kerlingan jailnya. "Ini sungguh menarik," ucapnya. "Aku nggak akan mundur." Kami berdiri berhadapan. Dengan mata saling menatap. Mulai detik ini, resmi sudah kami menjadi lawan. "Aku pasti akan menggagalkan perjodohan ini." "Dan aku...," Allen menjawab dengan kesungguhan yang baru kali ini kulihat, "...nggak akan menyerah dengan mudah." Aku menatap Allen tajam. Bertekad tidak akan membiarkan pria itu memenangkan pertarungan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD